Novel Ini Juara Favorit Pembaca Terjerat Benang Merah Season 2.
Naadhira Zhafirah. Seorang gadis alumni pondok pesantren. Ia baru saja menyelesaikan Pendidikannya di salah satu pondok pesantren. Namun ia terpaksa menunda niatnya untuk kuliah.
Ayah tiri yang suka bermain judi online sedang berusaha membayar hutangnya, ia melakukan KDRT pada sang ibu, paham akan salah satu ibadah utama adalah birul walidain, Zhafirah akhirnya menikahi lelaki yang menghutangi sang ayah tiri. Demi melunasi hutang sang ayah, ia rela menikah tanpa rasa cinta, menikah dengan lelaki yang bukan idaman hatinya. Ia yang sudah lama memendam rasa pada lelaki lain yang merupakan temannya ketika dipondok pesantren. Akhirnya ia harus rela memendam rasa.
Apa yang akan terjadi dalam kisah hidup Zhafirah? Apakah ia akan bahagia menikah dengan lelaki yang tak ia cintai? Atau ia akan menyerah di tengah jalan? Seperti apakah kisah Hidup Zhafirah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sebutir Debu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Luapan Isi Hati Zhafirah
Dua malam berada di Korea. Arkha merasa frustasi. Zhafirah dengan sengaja menggunakan dress yang pendek. Tidak perlu sebuah linge rie untuk menarik mata sang suami. Tapi karena memang kenyamanan lebih dulu muncul di hati Arkha pada Selena. Tetapi lelaki itu terlalu lama mengenal Selena. Ia lebih mencintai Selena yang terlalu sempurna baginya. Itulah cinta yang terlalu berlebihan.
Baru saja Arkha menerima telpon dari Selena.
Malam itu Arkha tampak memasuki satu stel pakaiannya. Itu adalah hari ketiga CEO Bagaskara itu di Seoul. Tak ada suasana romantis apalagi obrolan hangat di kamar yang sangat mewah itu. Zhafirah melihat baju yang Arkha masukan ke dalam ranselnya. Ia bertanya.
"Mas mau kemana?" Tanya Zhafirah.
Arkha hanya melirik. Zhafirah mendekati Arkha.
"Mas... Mas ingin menemui Selena? Mas ingin menginap bersama istri orang?" Ucap Zhafirah pelan.
Arkha memejamkan kedua matanya. Ia tampak mengumpulkan oksigen begitu banyak dari dalam hidungnya. Lalu ia hembuskan dengan kasar.
"Kamu....! Sudah aku ingatkan bukan. Aku tidak suka kamu ikut campur urusan ku.!" Bentak Arkha.
Zhafirah hanya diam memandang suaminya.
"Tidak bisakah kamu beri aku kesempatan padaku untuk sebentar saja menjadi istri mu yang sebenarnya." Ucap Zhafirah. Arkha menatap istrinya dengan tatapan nya lang.
Ia mendekati Zhafirah.
"Kamu ingin dianggap menjadi istri. Baik. Tapi kamu sendiri rugi. Baiklah kita berikan oleh-oleh pada Mama." Ucap Arkha.
Zhafirah memejamkan kedua matanya. Ia hanya pasrah saat sudah terduduk di sisi kasur empuk yang hanya di tempati Arkha beberapa hari itu. Saat ia sudah terbuai dengan sentuhan sang suami. Sama-sama terbuai dengan kegiatan yang harusnya di lakukan ketika malam pengantin. Tiba-tiba hati Zhafirah hancur berkeping-keping. Di kota Seoul, Zhafirah merasa hancur. Benteng kokoh pertahanannya hancur seketika.
Akrha tiba-tiba berhenti di tengah jalan saat mereka belum sepenuhnya sampai di paripurna.
"Maaf.... aku tidak tertarik pada mu Zha." Arkha mengucapkan itu seraya duduk di sisi Zhafirah seraya mengacak rambutnya. Lelaki itu pun segera pergi sambil menelpon Selena.
Filosofi tisu itu betul menggambarkan kondisi Zhafirah. Bahkan dia belum bisa melakukan tugasnya. Ia sudah di buang.
"Tunggu aku. Aku kesana sekarang. berikan alamatnya. " Ucap Arkha seraya memikul ranselnya.
"Mas.... Tunggu Mas." Ucap Zhafirah
Arkha tak mempedulikan. Ia tetap melangkah untuk meninggalkan kamar itu.
Zhafirah berlari ke arah Arkha. Ia menghadang Arkha tepat di depan pintu.
"Aku mohon mas. Jangan dekati perempuan itu. Kamu sedang mengikuti hawa na f su mu. Aku akan menunggu sampai aku menarik di matamu. Dan katakan aku harus bagaimana agar menarik di mata mu." Ucap Zhafirah seraya menahan isak tangis. Dadanya terasa sesak sekali.
"Minggir! Aku tidak pernah mencintai kamu. Dan sampai kapanpun. Kamu tak mungkin bisa menyaingi atau mengganti Selena di hati ku." Ucap Arkha kesal. Arkha mendorong tubuh Zhafirah dengan kasar ke sisi dinding.
Zhafirah terduduk di balik pintu kamar. Ia menangis sejadi-jadinya. Malam itu ia merasakan sakit, malam itu ia ingin menyerah.
"Hiks..... Hiks... Tega kamu mas... Tega.... "
Satu malam itu Zhafirah menangis sejadi-jadinya di kamar itu. Bagaimana ia harus bertahan. ia ditinggal untuk mendapatkan haknya sebagai istri dan hak itu justru diberikan pada perempuan lain.
Sejak malam itu, komunikasi diantara mereka sudah tak ada lagi. Zhafirah lebih memilih membaca Mushaf nya di malam hari. Sedangkan Arkha pergi hampir setiap malam. Lelaki itu akan kembali dalam keadaan kusut. Bau alkohol bahkan begitu menyengat. Pagi itu adalah pagi terakhir sepasang suami istri itu berada di Korea. Zhafirah bahkan tidak ke mana-mana. Ia melakukan rutinitas biasa. Bahkan pagi itu, bibir Zhafirah tak mampu mengatakan yang sebenarnya di panggilan video call Bu Indira yang masuk ke ponselnya.
"Jadi berangkat hari ini Zah? " Tanya Bu Indira.
"Ya Ma. Insyaallah nanti malam berangkat. Mas Arkha baru tidur. Tadi ada meeting sampai siang." Ucap Indira.
Bu Indira tertawa senang. Namun setelah sambungan telepon itu terputus. Zhafirah justru beringsut dari sisi Arkha. Ia menatap suaminya.
"Apakah aku masih harus bertahan disisi mu. Saat kamu lebih memilih tidur bersama perempuan lain. Bukan aku, aku istri halal mu. Apakah pernikahan ini masih harus dipertahankan disaat justru kamu terus menyakiti ku." Ucap Zhafirah dalam hatinya.
Zhafirah sebenarnya merasa aneh. Karena Arkha beberapa malam ini tak menghubungi Selena.
"Ah... ya tidak mungkinlah dia akan menghubungi Selena. Dia sudah berbuka puasa bersama Selena, Zha." Ucap Zhafirah yang baru saja ingin sekali membuka ponsel suaminya itu. Ia kembali teringat malam dimana dirinya ditinggal Arkha saat untuk pertama kalinya ia merasakan sen tuh han yang hangat dari sang suami.
Kembali hati Zhafirah teriris setiap kali ia mengingat malam pahit itu.
Saat malam hari Zhafirah melihat Arkha dari pantulan cermin. Ia sedang memasang jilbabnya. Zhafirah bisa melihat Arkha sedang sibuk menatap ponselnya. Dari tatapan sang suami. Arkha terlihat gusar.
"S1al. Awas kamu Selena! Kurang ajar." Gerutu Arkha menatap ponselnya. Lelaki itu membuang ponselnya dengan kasar ke tempat tidur.
Zhafirah yang ingin menyampaikan isi hatinya. Ia ingin bercerai dengan Arkha. Tetapi melihat mimik wajah Arkha. Ia mengurungkan niatnya.
"Tunggu di Indonesia Zha." Ucap Zhafirah dalam hatinya.
Namun tiba di Ibukota Jakarta. Keesokan harinya, Ikatan batin antara Guru pada Murid seolah ada ikatan yang tak dirasakan orang lain. Di kediaman Zhafirah kedatangan tamu sang guru. Umi Siti ternyata bertemu dengan Bu Indira di salah satu acara kerabat Bu Indira. Maka siang itu ia mengajak Guru dari Zhafirah untuk singgah di kediamannya.
Zhafirah begitu ingin meminta petuah sang guru. Disinilah peran guru begitu penting. Sepandai-pandai seseorang, maka akal dan rasa di hati mengalahkan sesuatu keputusan terbaik karena tak ada bimbingan. Zhafirah siang itu berniat untuk ikut mengantar sang guru untuk pulang.
"Boleh Ma?" Tanya Zhafirah pada sang ibu mertua.
"Pergilah. Sekalian tadi beli madu untuk kamu dan Arkha yang Umi Siti bilang." Ucap Bu Indira.
Tiba di pondok pesantren. Zhafirah meminta sang sopir menunggu. Ia akan masuk kedalam dan membeli madu sesuai pesan Bh Indira. Itulah kehebatan Guru. Batin yang menyambung, cukup melihat gesture dan tatapan mata santrinya. Ia tahu ada kegundahan di hati Zhafirah.
"Ono opo Nduk? Kamu bisa membohongi mertuamu. Orang-orang lain. Tapi tidak dengan Umi. Enam tahun kamu menemani Umi. Umi tahu kamu luar dalam." Ucap Umi Siti.
Ia mengusap punggung tangan Zhafirah. Istri Arkha itu masih begitu Takhdim pada sang guru. Ia menunduk saja. Namun suaranya terisak. Ia menangis di hadapan sang guru.
"Zha, kalau lelah tetirah. Bukan menyerah. Kalau ingin cerita, Umi bisa jadi tempat mu bercerita. Apa kamu lebih nyaman curhat di media sosial daripada sama Umi. Apa Umi ndak kamu anggap guru lagi?" Tanya Umi Siti yang Sudah memiliki tiga anak.
penantian panjang zha akhir nya berbuah manis
Alhamdulillah