Terlambat Mengerti 1
Arini gadis berusia 19 tahun, mahasiswi semester 2 sebuah perguruan tinggi negeri. Diusianya yang sangat belia dia harus menyandang status ibu dari seoarang bayi perempuan hasil pengkhianatan sahabat dengan tunanganya. Keputusan apa yang akan diambil Arini selanjutnya, apa dia akan membuang bayi itu atau menitipkanya di panti asuhan ataukah merawatnya sendiri dengan segala resiko yang harus dihadapi.
Penasaran ceritanya ? yuk ikuti kelanjutanya..
Terlambat Mengerti season 2
Bagaimana nasib cinta Cila dan Agam ketika mereka dihadapkan pada kenyataan bahwa hubungan mereka terhalang tembok kebencian yang tertanam kokoh dihati Agam karena kisah masa lalunya. Akankan Cinta mampu mengalahkan kebencian tersebut, ataukan justru Cinta baru yang akan hadir menghapus luka...
____________________________________
Cover by pexels
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurnia Setiyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Malam itu pun tiba, Iren terlihat sangat anggun dengan balutan dress warna navi, memang sangat tepat dinobatkan sebagai brand ambasador sebuah prodak kosmetik. Acara berlangsung dengan lancar diliput juga oleh beberapa media elektronik.
Hampir semua karyawan hadir pada acara tersebut, namun Arini memilih tetap bekerja di resto. Karena acara tersebut memang bukanlah acara wajib dari kantor.
Di resto, Arini banyak melamun. Perasaannya tidak enak saat itu, dia terus saja mengkhawatirkan Cila jika suatu saat Iren datang dan membawanya pergi.
Wajah murung Arini pun tidak luput dari perhatian Doni. Dengan segera dia menghampiri kekasihnya itu.
"Apa yang kamu pikirkan? Sepertinya ada yang kamu simpan." Doni bertanya dengan penuh perhatian pada Arini.
"Nggak Mas, cuma tiba-tiba perasaanku nggak enak saja," jawab Arini menutupi.
"Sebaiknya kamu pulang saja, istirahatlah!"
"Nggak perlu Mas, aku nggak papa kok nanti juga baikan. Masa pekerja biasa seenaknya pulang pada jam kerja, nanti yang lain curiga." Ucap Arini dengan senyumnya berusaha menutupi kegelisahannya.
"Memang kenapa kalau yang lain curiga, biar saja semua orang di sini tau kalau sekarang kamu itu milikku." Ucap Doni dengan wajah datarnya.
"Mas..., sudah sana kamu balik aja ke ruangan kamu." Arini mendorong tubuh lelaki yang sekarang menjadi kekasihnya.
Resto tutup, dan semua pekerjaan sudah selesai dengan rapi. Arini segera keluar menunggu ojek online. Belum sampai ojek itu datang, sebuah mobil berhenti di depan Arini. Mobil Doni tentunya.
"Masuklah!" perintah Doni.
Arini pun dengan ragu menurutinya. Dia masih belum siap jika pegawai lain tau tentang hubungannya dengan bosnya tersebut.
"Aku kan sudah biasa pulang sendiri Mas, nggak usah repot-repot antar aku pulang," ujar Arini.
"Sekarang mulailah biasakan pulang diantar kekasihmu." Ucap Doni dengan senyum tipisnya.
"Iya..., iya..., aku nyerah saja." Ucap Arini pasrah.
Doni melajukan mobilnya dengan santai membawa Arini ke suatu tempat.
"Lho Mas, ini kan bukan arah ke rumahku. Mas mau bawa aku kemana?" Arini terkejut saat menyadari arah yang dituju bukan arah ke rumahnya.
"Yang jelas aku nggak bawa kamu ke hotel, jadi nggak usah khawatir." Ucap Doni santai.
"Terserah lah." Arini mendengus kesal.
Melihat wajah kekasihnya yang sedang marah itu membuat Doni semakin gemas. Doni menghentikan mobilnya di sebuah lokasi yang terletak di dekat pantai.
"Kita sudah sampai, turunlah!"
"Kenapa malam-malam kesini Mas." Arini merasa enggan untuk turun.
"Karena cuma pas malam, kita punya waktu untuk berdua." Ucap Doni datar.
Arini menuruti perintah Doni, turun dari mobil dan berjalan mengikuti kekasihnya itu. Doni menggenggam tangan Arini dengan erat, saat-saat seperti ini dia sungguh sangat bahagia.
Merekapun sampai di bibir pantai, lalu duduk di atas pasir memandangi deburan ombak malam hari. Semilir angin laut menerpa tubuh mereka, Doni melepas jaket yang dia kenakan lalu memakaikannya pada Arini yang tengah melipat tangannya karena kedinginan.
"Terima kasih Mas," ucap Arini singkat.
"Ombak itu pasang lalu surut, begitu seterusnya. Mungkin hubungan kita juga akan seperti itu. Bertahanlah untuk tetap berada di sisiku apapun yang terjadi." ucap Doni lirih tanpa memandang Arini.
"Aku akan bertahan untuk sesuatu yang telah ku pilih." Jawab Arini dengan menatap Doni.
Doni mengarahkan pandangannya ke wajah Arini, lalu merangkulnya. Dengan nyaman Arini menyenderkan kepalanya pada pundak Doni.
"Tetaplah seperti ini, bersandarlah, jangan simpan apapun sendirian." Ucapan Doni begitu menyentuh perasaan Arini.
"Tuhan, terima kasih telah mengirimkan dia di hidupku. Jangan biarkan aku menyakitinya." Arini membatin tanpa mampu lagi menahan air matanya.
Setelah cukup lama mereka diam berdua, mereka memutuskan pulang. Doni mengantar Arini sampai di rumahnya.
"Terima kasih Mas, aku turun." Pamit Arini sambil membuka pintu mobil.
Doni menahan tangan Arini, lalu menatap dan menyentuh lembut wajahnya hingga sentuhan itu jatuh di bibir Arini. Doni mendekatkan wajahnya hingga hampir tidak ada jarak. Arini yang merasa canggung langsung menunduk, akhirnya Doni hanya mengecup kening Arini.
"Maaf Mas, aku mau turun." Arini menjauhkan tubuhnya dari Doni lalu melangkah keluar dari mobil. Doni hanya terdiam menerima penolakan kekasihnya itu.
Arini segera masuk ke dalam rumah, merabahkan dirinya di sebelah putrinya yang sudah tertidur lelap.
Saat Arini sibuk di dapur menyiapkan sarapan pagi, sang ibu menghampirinya.
"Apa tadi malam kamu pergi dengan Doni?"
"Iya Bu," Arini menjawab dengan pelan.
"Kamu berhak bahagia Arini. Doni orang yang baik, bukalah hatimu untuknya dan lupakan semua yang sudah berlalu."
"Iya Bu, aku sudah membuka hatiku untuk Mas Doni aku akan belajar mencintainya."
"Baguslah Nak, ini demi Cila juga." Bu Mira memeluk anaknya itu dengan hangat.
Di rumahnya, Doni duduk bersama ibu dan kakaknya menikmati sarapan pagi. Sepertinya ada yang mau dibicarakan oleh ibunya.
"Ibu sudah dengar dari kakakmu, apa kamu yakin mau melanjutkan hubunganmu dengan perempuan itu?" tanya sang ibu dengan nada kesal.
"Iya," jawab Doni singkat.
"Bagaimana kalau keluarga besar kita tahu, kamu menikahi perempuan yang telah memiliki anak?" Bu Rini mulai tampak marah.
"Bu, tenanglah," Mirna mencoba menenangkan ibunya.
"Bagaimana Ibu bisa tenang melihat adikmu itu tidak becus mencari calon istri."
"Cukup Bu, jangan menilainya dari satu sisi. Bahkan Ibu sama sekali tidak mengenalnya. Dengan atau tanpa restu dari Ibu, aku akan tetap menikahinya." Doni meletakan sendok yang dipegangnya dengan kasar lalu pergi begitu saja.
Mirna masih terus menenangkan ibunya. Dia menceritakan sosok Arini dengan harapan dapat merubah jalan pikiran ibunya tersebut.
Arini mulai sibuk di kantornya, tiba-tiba Sari atasannya memanggilnya.
"Arini, bisa ke ruangan ku sebentar." Pinta Sari sambil berjalan.
"Baik Bu," Arini segera mengikuti atasannya itu ke ruangannya.
"Hari ini bocah tengil itu tidak masuk, aku benar-benar kewalahan." Sari sangat kesal dengan salah satu bawahannya itu.
"Siapa yang Ibu maksud," tanya Arini penasaran.
"Siapa lagi kalau bukan Sinta yang suka seenaknya sendiri, padahal ini kan tanggung jawabnya."
"Jadi apa yang bisa saya bantu Bu?"
"Sekarang aku limpahkan semua tugas ke kamu saja ya, hari ini kamu persiapkan semua keperluan untuk pengambilan gambar artis kita besok pagi."
"Lalu bagaimana dengan pekerjaanku Bu."
"Itu mah beres, tenang saja. Pokoknya yang penting sekarang juga kamu siapkan semuanya, nanti aku catat semua keperluan yang harus kamu siapkan lengkap dengan alamatnya." Tegas Sari.
Arini pun mengiyakan perintah atasannya itu. Ada beberapa tempat yang Arini tuju, mulai dari butik kebaya, toko sepatu, hingga toko aksesoris perhiasan yang semuanya dari perancang terkenal di Jogja.
Arini juga harus menghubungi Fotographer, make up artis bahkan booking lokasi untuk pengambilan gambar besok pagi. Semua disiapkan secara mendadak karena Sinta belum menyiapkannya dari beberapa hari lalu.
Untunglah semua teratasi dengan baik, semua persiapan sudah selesai tinggal pelaksanannya besok.
Arini tiba di kantor cukup pagi, dia segera memberikan kebaya dan perlengkapannya pada sang make up artis. Kemudian dia menata barang-barang lain yang akan dibawa ke lokasi pengambilan gambar. Karena temanya adalah khasanah budaya lokal maka lokasi yang dipilih adalah Candi Prambanan.
Arini bersama Sari berangkat lebih dulu meninjau lokasi tersebut. Setelah semua dirasa sudah siap, Arini duduk menepi menunggu sang artis datang.
Matahari mulai terasa menyengat kulit, merasa haus Arini pergi membeli air mineral dan beberapa makanan ringan. Sekitar lima belas menit Arini kembali, terlihat dari kejauhan si artis sudah datang dan proses pengambilan gambar sudah dimulai.
Semakin dekat Arini melangkah, semakin jelas wajah sang artis. Arini tersentak kaget, tubuhnya tiba-tiba lemas ketika artis yang dilihatnya adalah Iren.
"Kenapa harus seperti ini Tuhan." Arini segera menjauh dari lokasi itu menghindari pertemuannya dengan Iren.
****
happy reading
pacaran menjauh menderita
sampe lika liku laki2 SAH ttp aja gt, lgsg baca end aja deh
cila itu anak tiri tantemu loh
cila ke agam
utk cinta sejati akan tau balik ke t4 nya..
yo wes lah obati agam aja lha
penyelamat jika ada apa pun.