Pernikahan atas dasar cinta adalah pilihan setiap umat manusia, tetapi bagaimana jadinya jika di dalam kata cinta dan pernikahan itu ada orang ketiga?
Begitulah kisah Bima dan Nadia, kehidupan rumah tangga yang sangat harmonis telah mereka rasakan hingga pada akhirnya Bima memutuskan untuk mendua lalu membuat pernikahan mereka berujung perceraian.
Disaat sedang patah hati, Nadia di pertemukan oleh seorang pria dewasa dan karena kebersamaan mereka akhirnya benih-benih cinta pun mulai tumbuh. Namun, sebuah kejutan mengangetkan Nadia yang mana ternyata pria itu adalah Ayah dari selingkuhan Bima.
Bagaimana kisah Nadia selanjutnya?
So Stay Tune 🥰
Follow Ig: ningsihartono ❣️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Pembalasan Untuk Suamiku
Nadia tengah berada di rumah milik Irena, dia saat ini sangat butuh teman curhat dan yang Nadia percayai hanyalah Irena, teman seperjuangannya sewaktu bekerja di kantor milik Bima dulu. Irena sekarang sudah berumah tangga tetapi dirinya belum juga dinyatakan hamil setelah menjalani satu tahun pernikahan, untungnya suami Iren bisa bersabar dan tidak terlalu menekan Iren agar cepat hamil. Tak hanya suami tetapi juga keluarga tidak terlalu memaksakan Irena karena mereka bilang jika anak itu adalah anugerah dari Allah dan pasti akan tumbuh jika waktunya sudah tepat.
Hubungan Nadia dan Iren sangatlah akrab dari dulu hingga saat ini, mereka sering berkomunikasi bahkan melakukan pertemuan.
Nadia dan Iren sedang duduk di meja dekat kolam renang.
"Ada apa, Nad? Apa kamu ada masalah dengan suamimu?" Iren menebak.
Nadia melirik Iren sejenak. "Bagaimana kamu bisa tahu, Ir?"
"Aku hanya menebak setelah melihat dari raut wajahmu, jika ada masalah kamu bisa bercerita padaku." ucap Iren dengan tulus seraya memegang tangan Nadia yang terletak di atas meja.
Nadia menghela nafas sejenak. "Ini masih tentang masalah perubahan sikap Mas Bima."
Iren sudah bisa menebak dan dia hanya diam saja.
"Kamu tau 'kan jika dia sering sekali pergi ke luar kota dengan dalil pekerjaan, aku heran dan curiga karena setiap dia pulang dari luar kota pasti sikapnya berubah, Ir." Nadia berbicara sambil menunduk.
"Apa kamu udah mencoba bertanya tentang perubahan sikap Pak Bima?"
"Aku sudah bertanya tetapi jawabannya tetaplah sama yaitu bosan melihat aku yang sangat sering memakai minyak gosok." Nadia berkata lirih.
Iren mengelus pundak Nadia untuk menguatkan.
"Kamu jangan terlalu memikirkan hal-hal buruk, Nadia. Kamu juga harus ingat kalau kamu itu lagi hamil dan gak boleh setres, kasihan anak kamu nantinya." Iren menatap Nadia dengan iba.
"Bagaimana aku tidak memikirkan hal itu ketika Mas Bima sudah jarang dirumah. Dia selalu saja pergi ke luar kota bahkan sekarang dia juga sedang dalam perjalanan ke luar kota." Nadia meneteskan air mata, dia tidak sanggup. menahan kesedihan yang sangat mendalam di hatinya.
"Nad, jangan nangis dong." Iren pun ikut bersedih.
"Aku harus apa, Ir? Apa yang harus aku lakukan?" Nadia sangat frustasi.
'Sayangnya aku sudah tidak lagi bekerja di perusahaan pak Bima jadi aku tidak tahu gerak geriknya saat ini, kasihan Nadia. Dia pasti sangat tertekan memikirkan suaminya.' batin Irena dalam hati.
"Kamu harus lebih memantau suamimu, tanyakan padanya apa yang terjadi dan mengapa dia berubah."
Nadia hanya mengangguk.
"Jadi sekarang kamu dirumah sendirian?"
Nadia kembali mengangguk.
"Kenapa kamu tidak menginap dirumah Ibumu saja?" Iren bertanya dengan terus menatap Nadia.
"Aku tidak ingin merepotkan Ibu dan aku yakin jika nanti pasti Ibu akan banyak bertanya." Nadia menghapus air matanya.
"Bagaimana jika kamu menginap saja dirumahku sampai suamimu pulang, aku gak tega melihat kamu dirumah sendiri dalam keadaan hamil, Nadia." penawaran yang Iren berikan.
"Enggak-enggak, aku gak bisa menerima permintaan kamu, Ir. Aku gak enak sama suami kamu."
"Nad, aku sudah menganggap kamu sebagai saudara kandungku sendiri dan bukan hanya sekedar teman. Sebaiknya kamu menginap disini ya? Aku akan berbicara pada Mas Arka, aku yakin dia pasti akan memahaminya dan setuju jika kamu menginap disini." Iren terus membujuk Nadia agar mau menginap dirumahnya sampai Bima pulang.
"Ir, aku sangat berterima kasih atas kebaikan kamu tetapi maaf karena aku tidak bisa menerima permintaanmu itu. Aku mohon mengertilah, Ir." Nadia menatap Irena dengan berkaca-kaca.
Irena tidak sanggup menahan kesedihannya, dia beranjak dari kursi dan berdiri di samping Nadia lalu Irena segera memeluk Nadia agar Nadia bisa tetap kuat dan tabah menjalani cobaan dari Allah.
•
•
**TBC
HAPPY READING
JANGAN LUPA JEJAKNYA DI KOLOM KOMENTAR 🙏🥰
🏵️🏵️🏵️
YUK MAMPIR KE NOVEL TEMAN OTHOR 🌹**
**Blurb:
Rahim Sengketa
Author Asri Faris
Seorang laki-laki muncul di hadapan Ajeng. Tidak amat tampan tetapi teramat mapan. Mengulurkan keinginan yang cukup mencengangkan, tepat di saat Ajeng berada di titik keputus-asaan.
"Mengandung anaknya? Tanpa menikah? Ini gila namanya!" Ayu Rahajeng
"Kamu hanya perlu mengandung anakku, melalui inseminasi, tidak harus berhubungan badan denganku. Tetap terjaga kesucianmu. Nanti lahirannya melalui caesar." Abimanyu Prayogo
Lantas bagaimana nasab anaknya kelak?
Haruskah Ajeng terima?
Gamang, berada dalam dilema, apa ini pertolongan Allah, atau justru ujian-Nya**?