Kehidupan Nayla dan Azel sudah benar-benar berubah sejak terakhir kali bertemu. Nayla bertemu seseorang, kemudian putus dan tidak bisa move on. Azel menikah dengan seseorang, dikhianati kemudian bercerai.
Satu hari, mereka dipertemukan lagi di sebuah acara keluarga. Pertemuan itu membuat dunia mereka saling jungkir balik. Bagaimana kelanjutan kisahnya?
Cover obtain from pexels, free to use.
IG author : @ingrid.nadya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingrid nadya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Azel : It Hits Me!
“Gila! Lu cupu banget sekarang, bro!” Nathan meninju bahu gue.
“Lima tahun gue gak main futsal woy.”
“Tapi masa satu goal pun gak jebol. Lemah!”
“Makanya lo ngumpan yang bener dong! Ritme permainanmu itu loh, Nak, amburadul!”
Kami saling mencela, namun tertawa-tawa. Kami sekarang sedang duduk di pinggir lapangan futsal dengan nafas yang terengah-engah.
“Damn, we are old, bro.” Nathan mengatur nafasnya.
“Iya nih. Cuma enam game udah tepar begini.”
“Gue mau nanya satu doang sih.”
“Apa tuh?”
“Otot lo tuh hasil steroid, bro? Kok lo capek juga?”
“Enak aja! Udah sebulan nih gak lari-larian. Banyak meeting gue.”
“Alesan. Hahaha.”
Lalu, kami terdiam. Sambil menikmati waktu.
“Gue sama Felis belum nemu juga nih panti asuhannya.”
“Sabar, bro. Semua ada waktunya.”
“Bahkan mau ngadopsi anak aja kita susahnya minta ampun. Bingung gue.”
“Lo gak mau coba usaha alami sekali lagi, bro?”
“Gue sebenarnya masih pengen usaha sekali lagi bro, tapi gue takut Felis kecewa lagi.”
“Iya sih. Felis yang kasihan ya.”
“Bayangin aja kita udah gagal IVF dua kali. Program yang lain udah gak kebayang lah nyoba berapa kali. Kayak apa ya, gue harus menghibur Felis di saat gue juga berjuang mati-matian untuk menghibur diri gue sendiri juga.”
“Gue ngerti, bro.”
“Tapi gue pengen sih, coba sekali lagi. Third time’s the charm.”
“Lo udah coba discuss ini ke Felis?”
“Sampai capek, bro. Semua keluarga uda bujuk dia, tapi dia tetep gak mau. Kayaknya dia masih trauma. Dia selalu takut dianya gagal lagi. Soalnya dua kegagalan kemarin karena rahimnya belum kuat untuk nerima janin. Dia takut ketiga kalinya dia nyoba, gue dan dia gak sanggup nerima. Padahal dia tau, dalam hubungan ini, gue yang gak bisa hidup tanpa dia.”
Wajah Nathan berubah songong, “Gue kan suami setia!”
Dia memang tidak bisa berlama-lama ngomong serius.
“Gaya lo! Pevita pearce sekarang lewat di depan lo juga lo kejer.”
“Jelas dong. Felis? Siapa ya Felis?”
“Nih ini dia! Lo lebih cocok brengsek.”
“Hahaha. Enak aja. Gue bucin beneran loh.”
“Kelihatan sih.”
“Tapi bucinin istri itu enak sih, bro.”
“Lo bener-bener deh. Brengsek!”
“Hahaha. Bikin lo sirik aja.”
“But seriously, lo coba ngomong lagi deh. Soalnya adopsi itu gak gampang, bro. Anak sendiri aja kadang gue marah. Rara yang segitu baiknya kadang ada saatnya dia tantrum juga, tau.”
“Gue tau, bro. Gue cuma kasian aja sama Felis. Dia bahkan gak pernah test pack lagi walaupun dia telat dapat. Dia udah seikhlas itu. Dia pengen banget anak dan dia akan terima siapapun, meskipun itu anak orang lain.”
“But you should support each other ya. Gitu keputusan udah diambil, no turning back, bro.”
“Iya, gue tau, bro. Once gue ngangkat anak, gue tau dia harus gue anggep sebagai darah daging gue sendiri. Dan kalaupun nantinya Tuhan kasih gue rezeki anak dari rahim Felis langsung, gue berjanji akan memperlakukan mereka sama.”
“I know you will.”
“Thanks, bro. Doain ya.”
“Pasti.”
“Balik yuk?”
“Yuk.”
***
Setelah itu, gue dan Nathan langsung balik ke apartemen dia.
“Fel?” Nathan membuka pintu apartemen sambil memanggil istrinya.
Well, Duda can’t relate.
Kadang-kadang kangen sih, tiap buka pintu rumah ada yang dicari.
Lah gue? Yang dicari mbak buat bikinin teh.
“Apa mereka lagi pergi ya?” Nathan berbicara sendiri.
Kami pun berjalan ke ruang tengah apartemen itu.
Dan disana lah gue menemukan pemandangan indah yang mungkin gak bakal bisa hilang dari otak gue seumur hidup.
Rara tertidur di pelukan Nayla. Pulas sekali
Demi Tuhan!
“Kok Nayla disini ya?” Nathan mengembalikan kesadaran gue.
“Nyenyak banget lagi berdua kayaknya.”
Gue masih tidak bisa berkata apa-apa.
“Haus gak lu, Zel? Gue ambilin minuman dulu ya.”
“Boleh.” Hanya itu kata yang bisa gue ucapkan. Pikiran gue terlalu sibuk mencerna pemandangan yang ada di hadapan gue sekarang.
Setelah Nathan menghilang ke dapur, gue berjalan ke depan Nayla dan Rara. Ntah apa yang merasuki gue, tapi tangan gue bergerak sendiri untuk mengelus kepala Nayla.
And it hits me hard!
Untuk pertama kalinya gue menyadari perasaan gue ke Nayla. Setelah sebulan gue berusaha menghindar, akhirnya gue sadar gue menyukai Nayla. Dan mungkin lebih.
Hal ini membuat gue takut setengah mati.
Tapi di sudut hati gue yang lain, ntah kenapa, hal itu sekaligus memantik api harapan kecil. Bahwa gue sanggup membahagiakan Nayla.
Gue berjanji dalam hati gue akan berusaha memenangkan dia. Seberat apapun yang akan gue hadapin nanti, gue gak peduli. Siapapun yang saat ini berada di dalam hati Nayla, akan gue kalahkan. Karena gue pengen pemandangan di hadapan gue sekarang jadi pemandangan yang akan gue lihat setiap gue pulang kerja nanti.
Nay, salah lu sendiri kenapa buat gue semantep ini.
Saat gue dengar langkah kaki Nathan mendekat, gue cepat-cepat menjauh dari Nayla dan Rara.
Jika gue sudah bertekad seperti ini, gue tau salah satu yang terberat yang akan gue hadapi adalah Nathan sendiri.
“Mau dibangunin gak mereka?”
“Gak usah dulu deh, Bro.”
Dalam hati, biar pemandangan ini gue nikmati sebentar lagi.
Kami pun duduk di karpet depan sofa tempat Nayla dan Rara tidur. Gue masih disibukkan dengan pikiran gue sendiri, sampai Nathan mengambil remote sambil berbisik ke gue.
“Lu masih mau tetap nonton Barbie atau boleh gue ganti?”
“Enak aja! Gue gak nonton!”
Nath, nath, lu gak tau aja sekarang di otak gue ada siapa. Kalau lu tau, lu bakal mukul gue habis-habisan. Dan pasti gue akan diusir sekarang juga dari apartemen ini.
“Dih, daritadi bengong mulu lihatin film Barbie. Bahan fantasi lu uda kartun sekarang?”
“Gila lo!” Gue tertawa.
“Dih ketawanya nervous. Beneran lo ya?”
“Yang aneh sih lo, bro. Kok lo tau ada versi kartun?”
“Dih.”
“Nath. Nath. Uda punya bini, masih aja kerja sendiri. Gue aja gotong royong sama orang lain.”
“Si *****. Hahaha.”
“Wah, ada siaran ulang Barca nih, Bro!” kata Nathan.
Gue berusaha mengumpulkan fokus gue ke acara sepak bola itu. Meskipun pikiran gue kacau banget.
“I’m home!” Suara Felis yang lumayan kencang menyentak kami semua. Gue bisa merasakan Nayla dan Rara mulai terbangun.
“Eh, kalian berdua uda pulang?” Felis menyapa kami berdua.
Dan terbangunlah Nayla dan Rara.
Nayla mengerjap-ngerjapkan matanya, seperti sedang berusaha mengembalikan kesadarannya. Matanya sedikit terbelalak ketika melihat gue. Seperti panik, dia langsung merapikan rambut dan bajunya.
“Hey, Sleeping Beauty. Uda bangun?” kata gue, sengaja menatap Nayla terlebih dahulu. Tapi tangan gue terulur kepada Rara. Bisa gue tangkap sekilas gerakan Nayla yang salah tingkah.
Rara langsung berlari ke pelukan gue, dan perhatian gue pun beralih sepenuhnya ke Rara.
Nay, boleh gue berharap?
***