NovelToon NovelToon
Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)

Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Persahabatan / Cinta Seiring Waktu / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:35k
Nilai: 5
Nama Author: yuya hafira

Rasa kecewa bisa membuat orang berubah, itulah yang dialami oleh gadis bernama Karin. Kecewa pada keadaan dan keluarganya membuatnya memendam kemarahan dan melampiaskannya pada jalan hidupnya sendiri.

Bukan hanya Karin sendiri yang mengalami itu, namun juga ada beberapa orang yang hidup berdampingan dengannya, yang memilih jalan yang sama.

Tapi, akankah seterusnya jalan yang ia tempuh berlalu seperti itu?

Karin : Aku hanya manusia biasa...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuya hafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Khawatir

Di sebuah pemakaman, tampak seorang laki-laki sedang duduk di depan sebuah makam. Pemuda itu tampak seperti berbicara dengan seseorang, namun sebenarnya dia hanya sendirian di sana. Sambil berbicara, tangannya sesekali mengelus nisan yang menancap di atas makam yang ada di depannya itu.

Dengan tatapan mata yang sendu, pemuda itu berucap dengan suara yang pelan. "Oma, Clarence akan pergi. Clarence akan melanjutkan kehidupan Clarence seperti yang Oma mau. Clarence berjanji tidak akan mengecewakan Oma. Clarence akan berusaha walaupun tidak bisa secepat yang Oma minta. Clarence akan berubah, Oma. Clarence akan membuktikan nya pada Oma karena hanya Oma lah orang yang paling Clarence sayangi. "

Pemuda itu tersenyum lembut sambil mengelus nisan itu. "Clarence harap, dia bisa menjadi teman hidup Clarence walaupun tidak seperti yang Oma mau. Clarence akan berusaha menjalaninya dengan baik. Semoga saja dia mau untuk melanjutkannya walaupun hubungan kami sebenarnya hanya sebatas teman. Kalau masalah itu, Oma jangan kecewa,ya? Clarence sendiri tidak bisa memaksakan keinginan itu padanya. Dia menyetujui permintaan Oma saja Clarence sudah sangat berterima kasih. Lagipula, Clarence sendiri seperti ini, bagaimana bisa Clarence meminta dia untuk menjalani pernikahan ini seperti orang pada umumnya?"

Pemuda itu berdiam diri di sana dengan waktu yang cukup lama. Hingga tak terasa baginya tiba-tiba langit sudah mulai menggelap.

"Oma, Clarence pergi dulu. Oma jaga Clarence dari atas sana,ya? Clarence sayang Oma. Selamat tinggal. Clarence akan datang lagi dan berjanji, ketika datang nanti, Clarence akan membawa dia. Clarence akan berusaha, Oma."

Pemuda itu lagi-lagi tersenyum dan akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat peristirahatan terakhir neneknya.

.

.

.

Karin tampak duduk terdiam di Cafe nya sambil menatap ke luar jendela. Gadis itu terdiam dengan tatapan yang sendu. Hatinya merasa ada yang aneh dengan sikap Andara.

"Sudah dua hari berlalu, tapi kenapa sikapnya masih sama? Kenapa dia seolah menjadi pendiam ketika berada di dekatku? Apakah aku membuat kesalahan?"

Karin menghela nafas panjang karena merasa lelah. Lelah karena menunggu sikap Andara yang tak kunjung kembali seperti semula. Ia bingung sendiri, kalaupun ada masalah, kenapa setiap kali ditanya jawabannya selalu sama? "Aku baik-baik saja." Dan Andara menjawabnya sambil tersenyum.

Sementara itu, orang yang membuat Karin merasa sedih saat ini sedang menunggu kabar dari seseorang. Tatapan gadis itu tak bisa lepas dari ponsel yang ia genggam. Tatapannya terlihat khawatir dan juga resah.

"Kenapa dia tidak menghubungiku? Kenapa juga pesan dan panggilanku tidak ia jawab? Apa dia baik-baik saja disana?"

Andara mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke meja. "Apa aku tanyakan saja pada aunty Diana? Tapi dia pasti berpikir kalau kami ada masalah. Haah... Aku benar-benar khawatir pada Roy."

"Tapi kalau dia kenapa-kenapa, pasti Aunty akan mengabari ku,kan?"

Akhirnya Andara menyerah dan meletakkan ponselnya di meja. Menonton acara di televisi sendirian karena Karin dan Rika belum pulang dari tempat mereka bekerja.

.

.

.

Roy menatap sekeliling kamarnya sambil menggendong tas besar miliknya. Pemuda itu seolah enggan untuk meninggalkan kamarnya itu. Namun segera ia sudahi kegiatannya dan bergegas turun ke bawah menuju kamar neneknya.

Pemuda itu terdiam sejenak sebelum memasuki kamar yang sudah tak berpenghuni itu. Langkahnya pelan memasuki kamar yang meninggalkan banyak sekali kenangan. Ia menghela nafas panjang dan terlihat sesak.

"Kenapa ini masih terasa berat sekali? Aku masih ingin disini tapi Oma sudah tidak ada. Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana dengan perasaanku ini."

Roy berkeliling di ruangan itu sambil melihat-lihat foto yang terpajang di dinding. Pemuda itu tersenyum namun juga terlihat seperti ingin menangis.

Setelah lama, walaupun ia masih merasa tidak puas berada di sana, ia akhirnya menyudahi semuanya dan berjalan perlahan keluar dari kamar itu. "Selamat tinggal, Oma," ucapnya sambil menutup pintu. Seolah benar-benar ada seseorang yang berada di ruangan itu.

Kemudian Roy mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Mom, aku akan berangkat hari ini." Tatapan dan intonasi suaranya terkesan datar, seolah ia tidak sedang berbicara dengan ibunya.

"......."

"Aku akan berangkat sekarang,Mom. Tak apa jika aku pergi sendirian. Mommy lanjutkan saja pekerjaan Mommy. Aku baik-baik saja."

"......."

"Tidak masalah. Mommy jangan terlalu khawatir. Aku pergi sekarang ya, bye." Pemuda itu tersenyum sekilas sebelum mematikan ponselnya.

Ia berjalan keluar dari rumah itu sambil sesekali melihat ke belakang. "Selamat tinggal dan sampai berjumpa lagi. Akan ku pastikan, saat aku kembali ke sini, aku sudah berada dalam jalanku yang baru." Kemudian Roy benar-benar pergi meninggalkan rumahnya.

.

.

.

Langit yang cerah sudah menjadi gelap. Sangat gelap sehingga membuat ekspresi wajah seorang gadis seolah menjadi lebih mendung. Gadis itu tampak murung, walaupun sedari tadi pagi ia sudah terlihat seperti itu.

Tatapan gadis itu terus tertuju ke luar sana. Menatap ke arah jalan yang berada beberapa meter dari tempat tinggalnya. Seperti menunggu seseorang, itulah kiranya yang bisa ditebak oleh orang lain saat melihatnya.

Gadis itu berdiri di depan kamar kostnya. Berdiam diri sambil memegangi pagar pembatas. Tidak menyadari bagaimana tatapan sedih seseorang yang terus melihatnya.

"Dara..."

Andara menoleh saat Karin memanggilnya dari dalam. Gadis itu menghela nafas panjang setelah terdiam beberapa saat. "Ya?" Responnya dengan suara yang lirih. Tubuhnya tetap tidak berpindah dari tempatnya berdiri.

Akhirnya Karin mengalah dan berjalan menghampiri Andara di luar. "Ada apa? Kenapa kamu sering sekali terlihat murung?" tanya Karin dengan lembut.

Andara menundukkan kepalanya, ia tidak mengubah posisi berdirinya. "Tidak ada. Aku baik-baik saja."

"Jujurlah." Andara tetap diam.

Karin membuang nafas panjang dan mengikuti apa yang dilakukan oleh Andara, yaitu melihat ke arah jalan sambil memegangi pagar pembatas.

"Sikapmu tidak pernah seperti ini, bagaimana bisa kamu bilang tidak ada apa-apa? Aku benar-benar khawatir, Dara. Jujurlah, walaupun kejujuran mu bisa menyakiti ku."

Andara menatap wajah Karin yang terlihat sedih. Jujur, Andara merasa tak tega melihatnya. Tapi hal yang ia khawatirkan saat ini tak mungkin untuk dikatakannya pada Karin. "Aku hanya masih merasa sedih."

Karin menatapnya dengan bingung dan juga khawatir. "Ada apa? Apa yang membuatmu sangat sedih?"

Andara menghela nafas panjang dan menatap ke arah jalan saat ia mengatakan sedikit hal yang membuatnya terganggu. Ya, hanya sedikit dari sekian banyaknya yang ia rahasiakan.

"Sebenarnya, aku ke Surabaya saat kamu mengira aku berada di rumah ku." Karin masih menatapnya dengan tenang. Dia tampak tidak terkejut sedikitpun.

"Orang tuaku mengajakku ke sana untuk menjenguk sahabat lama Oma ku. Beliau sedang sakit. Namun saat beberapa hari kami di sana, sahabat lama Oma meninggal dunia. "

Hening.

Hening seolah waktu berhenti berputar. Hening seolah seluruh dunia mendengarkan apa yang diucapkan oleh Andara.

Karin saat ini terlihat terkejut. Gadis itu mulai bisa mengira alasan apa yang membuat Andara terlihat begitu sedih.

"Aku masih merasa sedih, Karin. Aku sedih melihat Oma ku kehilangan sahabatnya. Aku sedih karena melihat ia menangis. Tapi aku juga merasakan kesedihan yang lainnya. Aku takut, Oma ku akan pergi seperti sahabat lama nya. "

.

.

.

.

bersambung....

1
Kia Shoji
Lanjutan nya kak...
Nenieedesu
sudah aku favoritkan kak jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak di novel aku kak "gadis cantik milik bos geng motor"
Nenieedesu
bagus kak semangat terus
Nenieedesu
haduh cantik cantik suka sama sejenis
✨¥ulia∆rz
karya yang sangat luar biasa. kisah cinta terlarang yang tentu saja kurang diterima oleh masyarakat. tapi mereka para pelakunya bisa sadar dan memilih jalan yang benar
✨¥ulia∆rz
syukur lah kalau kamu sadar
✨¥ulia∆rz
apapun itu tetap saja tidak dibenarkan
✨¥ulia∆rz
lebih baik mereka tidak baik-baik saja nanti tapi dalam jalan yang lurus. daripada mereka baik-baik saja tapi belok
✨¥ulia∆rz
ya, mak jleb gak tuh😅
kalo orang lain berubah jadi buruk karena perkataan seseorang, belum tentu seseorang itu mau bertanggung jawab
✨¥ulia∆rz
iya. tapi kenapa juga kamu gak bilang sekalian ama mereka kalau kalian udah nikah
✨¥ulia∆rz
ngintip nih ceritanya? 😂😂
✨¥ulia∆rz
mungkin saja memang seperti itu.
✨¥ulia∆rz
awalnya mau ngedandanin, ujung-ujungnya kok begitu 🙈🙈
✨¥ulia∆rz
kasian sekali roy, dijadikan kelinci yang rupanya 😂😂😂
✨¥ulia∆rz: typo kelinci percobaan.

kok jadi kelinci yang?
total 1 replies
✨¥ulia∆rz
sikap mu yg membuatmu ku tersenyum. memang lucu
✨¥ulia∆rz
galak juga ya Andara ini😅😅
jijik atuh neng kalo dicolok mah
✨¥ulia∆rz
dua kucing jantan dong🤣🤣
siapa nih yang suka ngeliatin kucing jantan berantem? 😂🙏
✨¥ulia∆rz
waduh, bahaya neng. anak orang ntar koid😅😂😂
✨¥ulia∆rz
langsung aja ya neng, gak pake ngoceh dulu🤣🤣
🏡s⃝ᴿ ѕ⍣⃝✰𝑰voᷠnͦeͮ𝐀⃝🥀࿐
Semangat Karin,temukan kehidupan normalmu dan semoga kedepannya kamu menemukan orang yang tepat yang tulus mau menerimamu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!