Setelah mati di tangan suami tercintanya, Vano. Xena tiba-tiba terbangun tepat 4 tahun sebelum kematiannya dan setahun sebelum Olive Meninggal.
Banyak keanehan yang terjadi pada dirinya, ia merasa dirinya memiliki jiwa yang lain di dalam tubuhnya.
Memasak, Meretas dan hal lainnya. Yang dulu tidak bisa ia lakukan, justru terlihat mudah ia kuasai dengan ingatan lain di kepalanya.
Apa yang sebenarnya terjadi pada Xena? Ingatan siapa yang ada di kepalanya?
Banyak sekali pertanyaan yang terngiang di kepalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiindy ArAs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Olive bingung
Sedan mewah hitam metalic itu berhenti di sebuah Villa. Galang mematikan mobilnya dan membuka pintu belakang. Ray pun menggendong Xena keluar menuju ke Villa tempat lokasi pemotretan.
Di sana masih tersedia kamar kosong yang awalnya untuk Riska. Jadi Ray memutuskan untuk membawa Xena ke sana, mengingat apa yang terjadi antara Xena dan Vano. Tidak mungkin ia membawa Xena ke Vila bajingan itu.
Galang hanya terdiam dan mengikuti Ray yang membawa Xena ke kamar. Dengan hati-hati Ray membaringkan Xena yang sudah tertidur pulas setelah lelah menangis.
Ia mengelus kepala Xena, membenahi anak rambut yang menutupi wajahnya. Kemudian ia menyelimuti tubuh Xena dan keluar bersama dengan Galang.
"Apa yang terjadi?" tanya Galang.
"Lebih jelasnya aku tidak tahu, tapi jika tebakanku benar, mungkin Xena memiliki trauma yang cukup berat" ucap Ray menghela nafasnya berat lalu duduk di sofa tamu Villa.
"Trauma?" tanya Galang terkejut mendengarnya.
"Hmm... Aku mendengar Xena menyebutkan sudah pernah merasakan di pukul sebelumnya" ucap Ray hatinya mencelos sakit saat mengatakannya.
Ia ingat betul bagaimana cara Xena mengatakannya. Bagaimana tubuhnya bergetar saat ia peluk dan menangis sembari memegang kepalanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu Xe, hatiku sakit melihatmu seperti ini. Jika boleh, aku ingin membantu kamu keluar dari trauma yang kamu alami" ucap Ray dalam hati.
"Xena pernah di pukul? Kapan? Siapa yang melakukannya?" ucap Galang terkejut dan sangat marah mendengarnya.
Meskipun ia dan Xena baru-baru ini kenal, namun ia merasa seperti dekat dengan kakaknya Vierra saat berdekatan dengan Xena. Rasanya begitu nyaman seperti hubungan batin antar saudara.
Maka dari itu, ia sangat terkejut dan marah saat mendengar Xena trauma dan kemungkinan pernah di pukul yang mengakibatkan traumanya itu muncul.
"Aku juga belum tahu pasti, sebaiknya kamu bersikap seolah tidak tahu saja. Aku pikir Xena pandai menutup dirinya karena rasa sakit di hatinya, entah karena apa itu aku tak tahu. Jadi tidak nyaman jika kita menanyakannya, itu akan memicu traumanya kembali muncul" ucap Ray.
"Baiklah, tapi Ray.... Apa kamu benar-benar menyukai Xena? Apa kau mencintainya?" tanya Galang
"Aku tidak tahu Lang. Jujur saja aku menyukainya sejak pertama bertemu. Aku sangat nyaman dengannya, jantungku berdetak kencang saat bersamanya, aku juga selalu memikirkannya setiap saat. Aku tidak tahu apa ini cinta atau hanya sekedar rasa suka, tapi aku tidak mau melepas kesempatan apapun itu. Aku akan menemukan jawaban perasaan ini di masa depan. Saat ini aku hanya ingin dekat dan melindunginya saja. Biarkan perasaan itu mengalir dengan sendirinya. Lagi pula jika itu Cinta, akan butuh perjuangan untuk meyakinkan Xena agar menerimaku. Yang pasti, Xena adalah wanita pertama yang membuatku tertarik" ucap Ray
PLUK!
Galang menepuk pundak Ray dan tersenyum.
"Jalani saja, jika memang kalian berjodoh itu tidak akan lari kemana. Tapi aku harap kau tidak menyakitinya, Ray. Karena aku sudah menganggapnya seperti saudariku sendiri, meski kami baru saling kenal" ucap Galang.
"Aku tahu dan aku tidak akan melakukan hal yang menyakitinya" ucap Ray serius.
"Tapi kau juga harus memikirnya lagi, kau adalah artis papan atas. Akan ada banyak yang menentang jika kau memiliki kekasih, aku harap jika suatu hari itu terjadi kau sudah siap menghadapinya" ucap Galang.
Galang tahu jika di dunia hiburan sangatlah kejam, terutama bacotan para netizen yang maha benar dan merasa maha kuasa mengendalikan artis kesayangan mereka.
Ray hanya terkekeh mendengar nasehat Galang. ia kemudian menatap Galang serius.
"Aku tahu, kau tidak usah khawatir. Aku tidak akan membiarkan orang lain menyakiti orang-orang yang aku sayangi. Aku tidak akan sungkan melepas nama Ray dan menjadi Raymond jika di perlukan" ucap Ray serius.
Ia tidak peduli dengan karirnya di dunia hiburan. Ia menjadi artis karena ia suka menjalaninya dan bosan dengan tuntutan kakeknya untuk bersedia menjadi pewaris kerajaan bisnis keluarganya.
Dan ia rela melepas gelar artisnya dan menjadi Raymond, seorang pria muda yang kaya raya.
....
Di Villa sebelah, Vano dengan gontai menaiki tangga menuju kamarnya. Bahkan pertanyaan dari teman-temannya dan juga adiknya ia abaikan.
Olive menatap heran pada kakaknya, kenapa wajah kakaknya itu terlihat tidak bersemangat dan seperti memiliki beban pikiran yang berat.
Olive melangkah ke kamar juga, ia menoleh ke kanan dan ke kiri menyapu setiap sudut kamarnya. Namun ia tidak mendapati Xena di sana.
"Bukannya Galang bilang kalau Xena pulang duluan dan Galang juga pulang bersamanya kan? Lah kenapa Xena tidak ada?" ucap Olive.
Olive langsung mengambil ponselnya dan mencoba menelepon Xena, namun tidak di angkat. Ia meneleponnya sekali lagi dan di angkat setelah berdering tiga kali.
"Hallo Xe, kamu di mana?" tanya Olive langsung setelah telepon di angkat.
"Nona Olive, ini saya Ray. Olive ada di Villa sebelah, ia ketiduran di sini" ucap Ray di ujung telepon.
"Kok bisa?" Ucap Olive spontan karena terkejut Ray yang mengangkat teleponnya.
"Mungkin Xena kelelahan saat di pasar malam. Nona tenang saja Xena aman di sini, lagian di sini ada banyak Kru jadi aman" ucap Ray
"Ooo begitu... Ya-ya, saya titip Xena ya. Jika dia sudah bangun, tolong kasih tahu untuk telepon saya atau langsung balik ke sini juga tidak apa-apa" ucap Olive entah mengapa merasa bingung saat bicara dengan Ray, aura Ray menekannya meskipun itu hanya lewat telepon.
"Aku akan menyampaikan nya nanti" ucap Ray
"Terimakasih" ucap Olive lalu mematikan teleponnya.
Ia menggaruk pipinya yang tidak gatal, ia menatap telepon nya berkali-kali. Ia seperti mimpi berbicara dengan idolanya lewat telepon.
"Dapet keberuntungan dari mana ya, sudah ketemu idola, photo bareng, makan bareng, keluar bareng eh sekarang teleponan bareng. Ya walaupun pake nomor Xena sih...." ucap Olive.
"Eiittss, betewe kok Ray kelihatan banget perhatian gitu sama Xena ya. Apa jangan-jangan..... Waaahhhhh nggak bener nih, jangan-jangan Xena bilang udah nyerah sama kak Vano karena ia udah jatuh cintrong tuh sama Ray ganteng. Aduuhhhhh alamat saingan berat kakak nih..." ucap Olive mondar-mandir di kamarnya lalu menghempaskan pantatnya ke kasur.
"Haaiiiisss, kak Vano sih kelamaan gaet Xena, kan sekarang kemungkinan bersama tipis. Orang saingannya macam Ray gitu, yang ada Xena malah oleng ke Ray" ucap Olive
"Au ah bingung, biar Xena yang nentuin. Walaupun aku pengennya kita jadi saudara ipar, tapi aku nggak bisa maksa mereka jadi satu. Lagian sekarang aja kita udah Deket kok sebagai sahabat dekat. Tapi kenapa aku ngerasa ada yang terjadi dengan Xena dan kak Vano di pasar malam ya. Mereka berdua aneh, yang satu nggak pulang, yang satu lesu galau... aaahhh Udah lah tidur dulu, nanti aku tanya ke Xena besok" ucap Olive merebahkan dirinya di kasur empuk.
...•••••...
apa kabar saya yang tingginya cuma 150 😄😄😄😄
nanti deh kubaca kalau kakanya udah lanjut.
Mon maaf ya Thor 🙏🏼
aku baca 23 Maret 2025