Ziel Alexander, pewaris satu-satunya Keluarga Alexander, terpaksa menikah dengan seorang wanita akibat perjodohan yang disiapkan oleh sang kakek, Romano Alexander.
Athena Beatrice Greene, wanita cantik yang dijodohkan dengan Ziel. Ia menerima perjodohan itu untuk membahagiakan kedua orang tuanya.
Pertemuan pertama antara Ziel dan Athena, membuat Athena tak ragu menerima perjodohan itu juga. Namun, ia tak menyangka sikap dan sifat Ziel langsung berubah setelah pernikahan mereka.
Penderitaan bertubi-tubi mulai dirasakan oleh Athena. Namun rasa yang telah timbul membuat ia menerima semuanya. Hingga suatu ketika ia menemukan dan mengetahui sesuatu yang membuatnya jatuh dan sakit tak terkira.
Ia pun bertekad untuk membuat Ziel menyesal dan merasakan sakit seperti yang ia rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pansy Miracle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#21
Bastian mengendarai mobilnya pulang. Ia memarkirkan mobilnya di garasinya, namun setelahnya ia menyeberang dan masuk ke rumah Natalie.
Bagaikan rumah sendiri, demikianlah Bastian saat berada di rumah Natalie. Ia menaiki tangga dan membuka kamar Natalie. Natalie sedang duduk di depan meja riasnya dan melakukan ritual malam sebelum ia beranjak tidur.
“Kamu sudah kembali, Bas? Bagaimana Anna?” tanya Natalie.
“Ia sudah tiba di apartemen,” jawab Bastian.
“Kamu bisa tenang kalau begitu. Pulang dan beristirahatlah,” kata Natalie.
“Bolehkah aku tidur di sini?” tanya Bastian.
“Kamu punya kamar tidur sendiri, bahkan rumah sendiri, Bas. Tapi selalu bersikap seperti tak punya rumah.”
“Aku mau di sini saja, malas aku sendirian di rumah.”
Athena berjalan menuju wardrobe dan mengambilkan pakaian milik Bastian. Ia memberikannya pada Bastian, “kalau begitu mandilah.”
“Tunggu aku. Ada yang ingin kubicarakan denganmu,” kata Bastian.
“Hmm … mandilah.”
Bastian mandi dengan cepat karena ia tak ingin Natalie tertidur lagi. Saat ia keluar dan sudah menggunakan piyamanya, ia melihat Natalie sedang bersandar di headboard tempat tidur sambil memainkan ponselnya.
Kalau saja bisa setia hari melihatmu di sana. Tentu akan sangat menyenangkan dan membahagiakan. Will you marry me, Natalie King? - batin Bastian.
“Iya, Bas.”
“Heh?”
“Ooo aku kira kamu memanggilku,” kata Natalie sambil tersenyum dan kembali mengarahkan pandangannya pada ponsel yang dipegangnya.
Bastian naik ke atas tempat tidur dan mendekati Natalie, “apa yang sedang kamu lihat?”
“Ini, rencana ekspansi NatKing Beauty ke Irlandia,” jawab Natalie sambil memperlihatkan ponselnya.
“Aku bisa membantumu,” kata Bastian.
“Tidak perlu, Bas. Aku ingin mencapainya dengan kemampuanku. Aku ingin kedua orang tuaku bangga melihatku dari atas sana.”
“Aku saja bangga padamu. Orang tuamu pasti akan sangat bangga padamu,” kata Bastian.
“Aku berharap begitu … Oya Bas, terima kasih atas pertolonganmu tadi.”
“Hmm … bolehkah aku meminta balasan atas pertolonganku tadi?”
“Kamu ingin hadiah apa? Makan pagi, makan siang, cemilan, atau makan malam?” tanya Natalie.
Bastian menatap wajah Natalie,” Aku minta ini.”
Cuppp
Bastian mengecup bibir Natalie, membuat Natalie terdiam dan menatap manik mata Bastian. Tanpa disangka oleh Bastian, Natalie membalas dengan mencium Bastian.
Saat Natalie melepaskan ciumannya, mereka saling bertatapan. Bastian langsung meraih tengkuk Natalie dan kembali menciumnya. Ia melummat dan mengullumnya, hingga keduanya saling melepaskan ketika mencoba mencari oksigen.
“I love you,” kata Bastian.
**
“Kamu mencintainya?” pertanyaan Bastian membuat Athena diam. ia sendiri tak tahu bagaimana perasaannya.
“Aku tak ingin berada di kota ini lagi, bukan semata karena hal itu saja. Aku hanya ingin fokus menata hidupku,” jawab Athena.
Alasan utama Athena pergi adalah untuk menghindari kedua orang tuanya. Ia sangat yakin bahwa kedua orang tuanya malu memiliki putri sepertinya. Perceraiannya dengan Ziel Alexander tentu mencoreng nama Keluarga Greene.
Hati Athena terasa sakit ketika orang tuanya sendiri bahkan tak mengerti perasaannya. Mungkin mereka malu karena perceraian putri mereka karena putri mereka tidak biaa memiliki anak.
“Kamu yakin?”
“Hmm … apa kamu mau membantuku, Bas? Mungkin ini permintaan terakhirku,” kata Athena.
“Bisakah kamu tidak mengatakan seperti itu? Kamu seperti akan pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya,” kata Bastian.
Athena tertawa mendengar ucapan Bastian yang begitu lirih. Tidak cocok sekali dengan penampilannya.
“Aku akan menemui Nona Natalie dan meminta maaf karena aku harus berhenti dari pekerjaan yang ia berikan dan percayakan padaku.”
Bastian menghela nafasnya pelan dan melihat ke arah Athena. Ia duduk dan menghadap ke atah sepupu sekaligus wanita yang telah ia anggap sebagai adiknya sendiri.
“Bagaimana caraku membantumu?” tanya Bastian.
Athena menjelaskan semuanya pada Bastian dan berharap Bastian bisa mengabulkannya.
**
2 tahun kemudian,
Dengan menggunakan sebuah kaos crop dan celana training, Athena mengelilingi jogging track yang ada di sebuah taman di tengah kota.
Setelah hampir 30 menit berlari, ia duduk sebentar di sebuah kursi taman. Athena mengeluarkan sebotol air mineral dan meneguknya. Mengeluarkan ponsel dari tas pinggangnya dan mengganti lagu yang sedang ia dengarkan.
Ia tersenyum ketika mendapatkan sebuah pesan dari Bastian sepupunya. Ia turut senang ketika sepupunya itu menyatakan akan segera menikahi Natalie dalam kurun 6 bulan ke depan.
Athena memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas pinggangnya. Ia kembali melakukan jogging hingga sampai di sebuah ruko yang ia jadikan sebagai tempat tinggal.
Beatrice boutique, sebuah nama yang selama 2 tahun ini menjadi tempatnya mencari sesuap nasi, segenggam berlian, dan berhektar-hektar tanah. Ia melepaskan nama Greene untuk bisa sampai di Kota Visby di Negara Swedia.
Kota Visby dikenal sebagai kota yang memiliki nilai histori yang tinggi dan bisa dibilang sebagai kota abad pertengahan yang paling terpelihara di wilayah skandinavia. Bahkan UNESCO memasukan kota ini dalam daftar warisan dunia pada tahun 1995.
Kota ini memiliki banyak objek-objek wisata yang sering dijadikan destinasi tujuan para wisatawan ketika berlibur di Swedia. Oleh karena hal itu juga, Beatrice Boutique tak hanya menawarkan gaun-gaun dan pakaian pria secara eksklusif, tetapi juga memiliki sudut khusus untuk para wisatawan yang ingin mengabadikan perjalanan mereka dalam sebuah lukisan di sebuah T-shirt.
Ruko 2 lantai menjadi tempat usaha sekaligus tempat tinggal bagi Athena. Ia hanya mempekerjakan seorang pegawai karena masih ada dirinya yang akan membantu. Athena akan mendesain jika toko sudah tutup.
Ponsel Athena kembali bergetar ketika ia baru saja masuk ke dalam ruko miliknya.
“Ada apa, Bas?” tanya Athena.
“Kamu akan datang ke acara pernikahanku kan?”
“Hmm …”
“Jangan ham hem ham hem saja. Natalie ingin kamu menjadi pendampingnya.”
“Kalian berdua pasti merencanakan itu agar aku kembali ka? Ayo cepat mengaku saja!”
Bastian tertawa di ujung telepon, membuat Athena menjauhkan ponsel dari telinganya.
“Kamu sekarang terlalu cerdas untuk dibohongi ya,” Bastian kembali tertawa.
“Aku akan datang, tenang saja. Tapi mungkin aku baru datang mendekati hari H karena aku tak mungkin meninggalkan boutique-ku terlalu lama,” kata Athena.
“Terserah padamu, Beatrice Gree,” goda Bastian.
2 tahun yang lalu, Athena meminta pada Bastian untuk mengubah identitasnya agar ia bisa keluar dari London tanpa diketemukan, baik oleh Ziel maupun oleh keluarganya.
Dengan uang yang ia miliki, ia membuka sebuah boutique kecil. Awalnya ia melakukan semuanya sorang diri, mulai dari merenovasi, hingga mendesain ruangan tempat ia akan memajang hasil karyanya.
Perlahan, ia bisa mempekerjakan seorang pegawai yang bertahan hingga saat ini.
“Pagi, Miss Tris!” sapa Elaine.
“Pagi, El. Tumben kamu susah datang?”
“Tadi di jalan tidak terlalu ramai, jadi aku bisa cepat sampai,” jawab Elaine.
“Baiklah. Kalau begitu aku mandi dulu,” Athena naik ke atas, lantai yang menjadi tempat tinggalnya.
Elaine meletakkan tas miliknya dan mulai membersihkan ruangan. Athena sangat suka akan kebersihan, apalagi sebuah boutiqe tentu dituntut untuk selalu bersih agar tamu yang datang juga melihat bahwa tempat itu tertata dengan anggun.
Telepon di meja kasir berbunyi, Elaine langsung meletakkan sapu-nya dan mengangkat telepon tersebut.
“Halo. Selamat pagi, Beatrice Boutique. Ada yang bisa kami bantu?”
“Kami ingin bertemu secara khusus dengan Miss Beatrice. Rencanaya kami akan memesan dalam jumlah besar, gaun dan jas untuk acara pernikahan.”
“Hmm … jadwal hari ini kosong kalau anda mau,” kata Elaine.
“Baiklah, jadwalkan pertemuan dengan Miss Beatrice setelah jam makan siang. Katakan saja kami dari Keluarga Alexander.”
“Baik, Nona.”
Saat telepon ditutup, Athena yang sudah membersihkan diri dan bersiap membuka boutiquenya, mendapatkan wajah cerah dari Elaine.
“Apa ada kabar bahagia?” tanya Athena tersenyum.
“Hmm!!! Keluarga Alexander akan memesan gaun dan jas untuk pernikahan dalam jumlah banyak. Mereka sudah membuat janji dengan anda setelah jam makan siang,” jawab Elaine.
Keluarga Alexander?
🌹🌹🌹
👍👍👍👍❤️❤️❤️❤️😍😍😍😍