Leksa arda pratama,Seorang anak jenius yang meninggalkan keluarganya diusia muda.
Dengan bermodal pengetahuan yang dia miliki sejak kecil Dia mulai melanjutkan hidupnya seorang diri tanpa dukungan siapapun.
Dia Mengubah penampilan serta wajahnya dari orang yang ceria menjadi orang yang datar tanpa ekspresi saat bertemu orang yang tidak dikenalnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alsa Mahendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
"Aku akan kekasir untuk membayar billnya".
"Apa kamu punya uang untuk membayarnya?". Rayen tersenyum sinis saat melihat pakaian leksa yang sederhana.
Leksa tetap pergi menuju kasir, menurutnya untuk apa menghabiskan waktu hanya untuk cecunguk seperti dia.
Alice juga mengambil semua barangnya serta barang leksa yang tertinggal di atas meja. Dia malas berduaan dengan laki-laki tidak tahu malu.
Rayen mencoba memegang tangan alice, tapi sebagai ahli beladiri yang jelas kecepatannya melebihi orang biasa, dia kembali menepis tangan itu.
Kali ini wajah rayen langsung muram, dia merasakan sakit ditangannya padahal tangkisan itu sangat lembut. Dia terus melihat kepergian alice yang semakin lama semakin jauh.
"So jual mahal banget tuh cewek, awas aja nanti kalo ketemu, gwe seret dia!".
Saat leksa akan berbalik ke mejanya, dia mendapati jika Alice sudah menghampirinya.
"Ayo pergi pulang sekarang, aku sudah gak mood lagi tinggal disini". Alice langsung menarik tangan leksa keluar mall.
Sepanjang perjalanan alice tidak pernah melepas pegangan tangannya,
"Kenapa kebiasaanya tidak pernah berubah". Leksa melihat ke sekitar, dia mendapati jika sepanjang perjalanan dia selalu di pandang aneh.
"Hebat sekali pria itu, padaha kita aja yang lebih ganteng tidak mendapat wanita secantik itu".
"Keberuntungan apa yang dia miliki".
"Sepertinya aku harus bertanya tips untuk mendapatkan cewe cwntik".
"Andai pria itu adalah aku, pasti sangat menyenangkan".
Banyak suara bersahutan ditelinga leksa, sedangkan Alice hanya cuek dan terus berjalan kedepan menuju tempat mobilnya.
"Kamu tidak malu dilihat banyak orang?".Tanya leksa saat masuk mobil.
"Kenapa harus malu?".
"Lagian kenapa sih kamu pakai kacamata dan rambut kaya gitu?".
"Ya...........". Leksa bingung harus menjawab.
"Kita pulang sekarang". jawab alice tanpa mempedulikan jawaban leksa yang tidak kunjung keluar.
"Pulang kemana?".
Alice langsung menyipitkan matanya.
"Ya......ya...., aku mengerti". Leksa langsung tancap gas menuju rumahnya.
"baru juga sehari datang fansnya udah ada dua aja".
"Kenpa emng, cemburu yah?". Alice tersenyum menatap leksa.
"dih cemburu?".
"nggak lah, mana mungkin aku cemburu, cuman heran aja kenapa cewe kayak kamu disukai banyak orang".
"Ya karena aku can....tik". Alice mencubit pipinya sendiri dengan ekspresi imutnya.
"Cuman cantik tapi gak bisa ngapa-ngapain ya percuma".
"Aku bisa kok ngelakuin apapun".
"Contohnya?".
"contohnya ya ngebahagiain kamu". Alice tetap menatap kedepan sambil ternyum misterus.
"Tanpa dibahagiain kamu juga aku selalu bahagia".
"Oh yah, massa".
"kayaknya enggak deh, soalnya kebahagiaan ini belum pernah kamu dapatkan, ya meskipun pernah tapi hanya sebentar".
Leksa mencoba berfikir maksud perkataan alice," aku tidak mengerti maksud kamu".
Alice memutar matanya jengah,"ni anak pura-pura lugu atau memang benar-benar gak ngerti sih".pikirnya dalam hati.
" udah gak usah dibahas lagi,masih lama nyampe rumahnya?".
"Udah dekat, tuh gerbangnya udah kelihatan".
Gerbang rumah membuka dengan otomatis, teknologi ini adalah rancangan leksa ,dimana jika ada sensor yang mendeteksi kendraan masuk dengan leksa atau beberapa orang yang terdaftar maka pintu akan otomatis terbuka
Tapi jika ada mobil masuk dengan dikendarai orang tidak dikenal maka pintu tidak akan terbuka kecuali ada yang membukakan dari dalam.
Sama seperti ekspresi orang-orang yang pertama kali masuk kerumahanya, alice juga sangat takjub.
Dia melihat hamparan bunga dan pohon berbagai jenis buah-buahan berjejer rapih dihalaman.jika luas kanan dan kiri jalan digabungkan maka ada sekitar dua ratus meter persegi.
"Kamu menanamnya sendiri?".Tanya alice
"Mana mungkin aku menanam bunga seluas ini".
"ooh, kamu sama seperti dulu, pemalas".
Leksa memakirkan mobilnya lalu menarik tangan alice yang diam menatap bunga disekitarnya masuk kerumah.
"Kamu bisa melihat sepuasmu nanti".
"Tapi sensasinya akan berbeda jika dilihat nanti".
"Tidak ada bedanya!"
Saat lisa masuk kerumah, dia mendapati jika lisa sedang makan cemilan bersama lia, dia melihat banyak plastik bekas tertumpuk dipinggiran tikar.
"Anak ini, padahal sedang hamil tapi makan banyak jajanan yang tidak bergizi".
Leksa langsung mengambil makanan yang tersisa didepan lisa.
"Lisa, kamu tidak bisa memakan makanan yang tidak bergizi seperti ini!".
Lisa menyipitkan mata, dia tidak menjawab pertanyaan leksa. Dia terus menatap wanita cantik di belakang suaminya itu.
Saat melihat tatapan itu Leksa khawatir apakah mereka akan berantem saat bertemu, dia bimbang harus memikirkan solusi pertengkaran mereka.
"Dia alice, orang yang selalu aku ceritakan denganmu!".
Lisa merasakan api cemburu berkobar dihatinya, meskipun dia sudah bersiap sejak saat itu tapi rasa ini sulit dihilangkan.
Alice juga meraskan api kecemburuan, andai saja dirinya datang lebih cepat tepat waktu pasti wanita didepannya tidak akan ada disini.
"Apa kalian tidak akan berkenalan". Tanya leksa mencoba mencairkan suasana.
Perkataan itu membuat mereka berdua menatap leksa dengan tajam.Lia yang melihat itu hanya tersenyum aneh. "Sepertinya akan sangat banyak wanita cantik yang akan dia lihat dimasa depan". Pikirnya dalam hati.
Alice berinisiatif menjulurkan tangan, bagaimanapun menurutnya lisa akan menjadi sahabat sekaligus teman bagi hidupnya dimasa depan.
Lisa juga membalas salam lisa, dia memikirkan jika dia tidak boleh egois dengan egonya, setidaknya selama leksa bersikap adil.
"Hallo, perkenalkan aku alice teman masa kecilnya sekaligus istrinya".
"Hallo juga,namaku alisa bisa dipanggil lisa, aku istrinya dan aku juga sudah mengandung anaknya". Jawab lisa tidak kalah mendominasi.
"Baiklah-baiklah, alice aku akan menunjukan kamar untukmu.........".
"Aku akan tidur bersamu". Alice langsung memotong perkataan leksa.
"Tapi.........".
"Aku tidak keberatan". Lisa juga kembali memotong perkataan leksa. Dia tidak ingin berpisah ranjang satu haripun dengan suaminya itu.
Leksa hanya bisa pasrah,"Oke-oke aku akan membawamu ke kamar sekarang,leksa kembali membawa alice ke kamarnya langsung".
Sedangkan lisa tetap diam di ruang tamu bersama lia, dia tidak ingin terlalu protektif kepada suaminya.
"Kamu membiarkan mereka masuk ke kamar berduaan?". Tanya lia
"Ya, bagaimanpun mereka telah menikah sejak kecil, dan ini kali pertama mereka kembali bertemu setelah bertahun-tahun berpisah".
Lia menganggukan kepala, dia mengerti arti dari perkataan itu."cemilan kita sudah dibawa pergi, apa yang akan kita makan?".
"kita makan buah-buahan saja,lagian suami aku sudah melarang untuk memakan snak".
Lia menganggukan kepala, dia berasa aneh dari perkataan itu" Suami aku?, bukankah dia selalu memanggilnya nama atau kata dia, kenapa sekarang berubah". Pikir lia.
Leksa masuk ke kamarnya didampingi Alice.
"Hey, kasur ini sangat besar, cocok untuk lima orang, apa kamu akan berminat untuk menambah istri lagi menjadi empat?".
Leksa terus menghela nafas," Jangan berkata seperti itu, aku orang yang bertanggungjawab, aku juga orang yang setia".
"Ya kamu orang yang setia". Alice menjawab dengan tidak peduli.
jika ada saran atau kritik tolong disampaikan ya.
terima kasih