Rasa cinta dan janji pada teman angkatannya, Tommy memotivasi Tari untuk menurunkan berat badannya dan menjadi Jaksa.
Namun setelah ia menjadi Jaksa, Tommy menghilang. Setelah berhasil melupakannya selama bertahun-tahun, Tommy kembali sebagai Hakim dan mendekatinya lagi.
Campur tangan orang tua dalam hubungan mereka memaksa mereka menikah padahal Tommy masih berpacaran dengan Christie, pacar sejak ia kuliah.
Akankah ini menjadi kisah yang berujung manis?
Salam kenal
Betha 🙋
Semoga terhibur dengan cerita ini✌️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Betha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sikap Tommy yang Berubah
Tommy dan Tari beranjak meninggalkan area pemakaman.
Tari segera mengambil kunci mobil dari tangan Tommy.
Tommy hanya diam dan segera masuk ke dalam mobilnya.
Tari berinisiatif mengemudikan mobil Tommy karena kondisi Tommy terlihat sangat memprihatinkan.
Kondisi Tommy menunjukkan rasa duka yang sangat mendalam saat ditinggalkan Christie.
Sepanjang perjalanan Tommy hanya diam dan memandang sendu ke arah jalanan melalui kaca jendela mobil.
Tari merasa sangat sedih melihat kondisi Tommy.
Tari melajukan mobilnya menuju ke rumah yang nantinya akan Ia dan Tommy tempati.
Setelah menempuh hampir setengah jam perjalanan, mereka pun tiba di depan rumah tersebut.
Tari melangkah keluar lebih dulu dari mobil.
Tommy tersadar dari lamunannya dan segera menyusul Tari masuk ke dalam rumah.
Hari ini adalah hari sabtu, jadi keduanya memang libur bekerja.
"Tar... Ngapain kita ke sini?
Aku mau pulang ke rumah aja." Kata Tommy sambil tetap berdiri di depan pintu rumah.
"Bang...Ini kan rumah kamu juga.
Lagian Aku gak mungkin antar kamu pulang ke rumah kamu dengan kondisi begini.
Istirahat disini dulu, Nanti sore kita pulang." Jawab Tari sambil menarik tangan Tommy masuk dan membawanya ke dalam kamar.
Tommy mengikuti Tari dan duduk di pinggir ranjangnya.
Tari ingin menangis melihat Tommy yang sangat hancur saat ini.
Namun Tari berusaha menahannya.
"Bang... Aku ke supermarket depan sebentar. Mau belanja untuk makan siang kita. Tunggu dan istirahatlah." Kata Tari sambil mencium kening Tommy dan beranjak meninggalkan Tommy
Tommy hanya mengangguk tanpa menoleh ke arah Tari.
Tari berjalan menuju ke luar rumah sambil sesenggukan menahan tangisnya.
Hatinya hancur karena Tommy yang kini sudah berbeda tidak lagi mempedulikannya.
Belum lagi ditambah rasa bersalah yang terus menghantuinya.
Ia merasa bersalah karena menganggap dialah penyebab kematian Christie.
•••
Jarak Supermarket yang hanya sekita beberapa ratus meter, Tari memutuskan berjalan kaki menuju kesana.
Dalam perjalanan, Tari terus tertunduk dan menangis.
Saat tiba di pintu masuk supermarket, tiba-tiba Tari terjatuh.
Tubuhnya menabrak seorang pria bertubuh atletis yang ingin keluar dari pintu tersebut.
Pria itu segera meletakan barang belanjaannya dan membantu Tari berdiri.
"Maafkan saya." Ucap Pria itu sambil menundukkan kepalanya.
"Gapapa kok. Tadi salah saya juga tidak berhati-hati." Jawab Tari.
Pandangan Pria itu tertuju pada lutut Tari yang terluka. Pria itu langsung membuka barang belanjaannya dan mengambil plester yang kebetulan baru dibelinya.
"Maaf ya. Biar saya obati dulu." Kata Pria itu sambil berlutut dan memasangkan plester di lutut Tari.
"Emmh... Makasih ya." Jawab Tari terbata-bata .
"Semoga cepat sembuh ya. Sekali lagi maafkan saya. Saya permisi dulu." Kata Pria itu sambil mengambil belanjaannya dan meninggalkan Tari.
Tari hanya terdiam. Tari tersenyum sambil memandang Pria tersebut sampai Pria tersebut menghilang dari pandangannya.
Lalu Tari masuk kedalam supermarket untuk berbelanja dan segera bergegas pulang ke rumah Tommy.
•••
Setibanya di rumah, Tommy sedang duduk di pinggir kolam renang yang ada di halaman belakang.
Tari hanya memandang Tommy tanpa menghampirinya.
Ia bergegas menuju dapur dan memasak untuk makan siangnya dan Tommy.
Setelah selesai memasak, Tari menghidangkan masakannya di atas meja makan.
Ia berjalan menghampiri Tommy.
"Bang... Ayo makan. Aku sudah selesai masak." Kata Tari sambil tersenyum dan menepuk pundak Tommy.
Tommy berjalan menuju ke meja makan tanpa menjawab Tari.
Tommy melihat masakan yang tersaji.
Ada Gurame Asam Manis, Tumis kangkung, Tempe dan Tahu Goreng, sambal dan lalapan.
"Buatin Aku nasi goreng, Telor mata sapi dan Sosis." Kata Tommy datar sambil meninggalkan meja makan menuju ke kamarnya.
Tari menghela nafas panjang.
Ia menuju dapur dan segera memasak makanan yang dipesan Tommy.
Setelah selesai, Ia membawa makanannya menuju ke kamar Tommy.
"Bang Ini makanannya." Kata Tari sambil meletakkan makanannya di atas meja yang ada di samping ranjang.
Tommy mulai menyendok nasi goreng ke dalam mulutnya. Baru sesuap Tommy sudah berhenti makan.
"Kenapa Bang? Gak enak ya?" Tanya Tari heran sambil mencoba nasi goreng yang dibuatnya.
"Memang masakanmu tidak seenak masakan Christie. Paham kamu?" Jawab Tommy dengan nada tinggi.
Seketika air mata Tari mengalir membasahi pipinya.
"Kamu jahat Bang! Apa harus kamu membandingkan Aku dan Christie? Aku ini tunanganmu!" Kata Tari dengan nada emosi.
"Iya!
Karena Kamu aku mengabaikan Christie!
Ini semua salahmu!
Seharusnya Aku tidak menerima perjodohan ini!" Jawab Tommy sambil melempar piring ke hadapan Tari.
Tari menangis dan belari meninggalkan Tommy yang sedang naik pitam.
Ia tidak menyangka Tommy tega berbuat kasar padanya.
Ia mengambil tasnya dan meninggalkan Tommy sendiri di rumahnya.
"Kamu jahat Tom!
Kenapa Kamu menyalahkanku?
Bukankah Kamu yang mendekatiku, bahkan mengajakku menyetujui perjodohan ini?
Kamu yang merencanakan untuk merahasiakan semua dari Christie!
Kamu yang bilang tidak mencintai Christie!
Sekarang kamu tega berbuat kasar padaku!
Apa kita batalkan saja perjodohan ini?
Aku yakin kamu sangat membenciku sekarang!" Gumam Tari sambil berjalan dan menangis.
•••
Selamat membaca😃
Mohon dukungannya✌️
Betha🙋
Semangat update bab barunya thor😍
Salam dari
"Infinity" (romance)
"Ve" (mystery thriller)
"Aku (Bukan) Pelakor" (young-adult romance)