NovelToon NovelToon
Jembatan Dosa

Jembatan Dosa

Status: tamat
Genre:Roman-Angst Mafia / Mafia / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:171.9k
Nilai: 5
Nama Author: Stanalise

Ketika target Pelenyapan nya, adalah cinta nya sendiri! Apakah ia mampu melenyapkan nya?
Keduanya cerdas namun memiliki cerita hidup yang menyimpang, tapi bagaimana jika persimpangan itu sendiri menyatukan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malaikat yang Membuang-ku

...Bagaimana jiwa yang berhenti bernafas...

...Bisa kembali?...

...Hanya Tuhan saja yang tau...

...Bagaimana mereka selamat dari kematian...

...Itu Rahasia Tuhan...

...Banyak yang mengatakan...

...Kita Hidup di semestanya karena suatu alasan...

...Jika hari ini, Tuhan masih mengijinkanmu berkelena di semestanya...

...Percayalah, ada tujuan yang belum kau tuntaskan.......

...Pernyataan ini, benar adanya dan terjadi...

...Disini, hari ini, di kamar mayat yang dingin...

.

.

.

Suara kecil itu berasal dari salah satu mayat disini. Pemuda yang masih berduka disana, terkejut melihat itu. Suara itu, berasal dari satu mayat, yang baru saja menghadapi eksekusi. Matanya membulat tak percaya hal itu. Bukankah, tegangan listrik itu cukup tinggi? Mengapa Pemuda itu tak kehilangan nyawanya. Ia mencoba menanyakan sesuatu, pada manusia yang baru saja hidup itu. Seperti orang Ling Lung, bagaikan bayi baru lahir bahkan ia tak mampu mengucapkan apapun. Hari itu, satu yang dia lihat dari manusia ini. Tangisannya, membuatnya faham, apa tujuannya hidup kembali.

...Aku diusir dari akhirat sepertinya saat itu...

...Ketika nyawaku baru saja memasuki gerbang hukuman...

...Seorang Malaikat, seperti melemparkan sesuatu padaku...

...Ku pikir, karmaku dari dunia akan menyiksaku disini...

...Sangat mengerikan, melihat mataku hampir saja di tusuk olehnya...

...Aku merapatkan mataku, terpejam pasrah...

...Namun, sakit yang seharusnya melandaku sama sekali tak kurakasan...

...Ketika aku, membuka mataku...

...Aku berada dalam ruangan serba putih dan dingin...

...Dari situ, aku hanya melihat seorang Pemuda tampan berambut lurus...

...Menatap aneh ke arahku...

...Siapa dia? Siapa aku? Dan mengapa dimensi ku berpindah kemari?...

"Brian? Kau kembali?" Lirihnya seraya menatap mayat yang baru saja hidup itu. Sungguh, keajaiban yang cukup langka.

Eddie mengingat sesuatu disini, kali ini dia tidak akan menyerahkan Brian lagi pada militer. Dia sudah menghadapi hukumannya, jika militer tau Brian masih bernafas. Mungkin mereka akan melanjutkan hukuman mereka lagi, mereka mungkin hanya akan lega jika melihatnya mati berhenti bernafas.

Masih memiliki beberapa anak buah disini, Eddie merogoh sakunya. Mencoba membuat siasat untuk mengeluarkan Brian dari gedung karma ini.

"Kau bisa membantuku?"

"Ya Tuan, ada apa?"

"Rusak segala sistem keamanan disini. Bahkan, aku melihat di tempatku ada dua kamera pengawas. Bisa?" Ucap Eddie, seraya memperhatikan dua kamera pengawas yang saat ini ada dalam ruangannya.

"Kami akan segera bergerak sesuai perintahmu."

"Siapkan mobil di belakang gedung ini, jemput aku. Rajamu, sudah kembali! Kalian akan sangat terkejut melihatnya."

"Aku memang tidak terlalu faham, tapi aku akan melaksanakannya."

"Aku menunggumu, beri aku waktu 15 menit untuk keluar dari sini." Ucap Eddie, ia mematikan sambungnya dengan pria di sebrang sana.

Sejenak, Eddie menatap sendu Brian yang kosong pandangannya. Eddie, mencoba menutup kembali kain putih itu.

"Bertahanlah sebentar, kami akan membawamu." Ucapnya, Eddie keluar dari ruangan itu. Bersamaan dengan itu seluruh sistem keamanan sudah di kendalikan anak buahnya. Eddie mencari kursi roda untuk di bawahnya. Ketika ia menemukannya, lampu di gedung ini redup. Seluruh manusia disana cukup panik, dengan hal yang jarang sekali terjadi.

Eddie masuk kedalam ruang mayat, membantu Brian duduk dikursi roda. Sejenak, Eddie memakaikan masker pada kakaknya itu dan sebuah topi. Merasa sudah cukup aman, ia pun membawanya pergi dari sana.

Di sini, di gedung yang sama, Bella masih terlihat murung di hadapan ruang eksekusi. Disana, sudah cukup sepi. Ketika, lampu ruangan itu mati, Bella terkejut. Ia juga seorang manusia yang punya rasa takut, bulu kuduk nya berdiri seketika. Bella, bangkit dari duduknya dan pergi dari sana. Baru saja, sampai di depan pintu keluar, matanya tak sengaja melihat Eddie, samar-samar.

Bella hanya melihat punggung pemuda itu pergi, seraya mendorong sesuatu. Bella yang sama sekali tak ingin tau hal itu, berjalan ke arah lain. Mungkin, memang ini rencana Tuhan untuk tidak mempertemukan mereka berdua.

Orang-orang masih sibuk disana, sehingga, tak ada yang mencurigai Eddie dengan manusia di atas kursi roda itu. Ketika ia sampai di pintu belakang, Eddie membuka pintu itu. Bersamaan dengan itu, beberapa anak buahnya masuk, menuju kamar mayat. Kali ini, Eddie ingin mereka benar-benar percaya bahwa Brian telah tiada.

Eddie membawa kakaknya itu masuk ke dalam mobil, disana ia mulai memberi instruksi pada anak buahnya. Setelah yakin, anak buahnya paham, Eddie pun menyuruhnya pergi dari sana.

Merasa sudah cukup baik, Eddie mulai menjalankan siasat keduanya.

"Nyalakan kamera pengawasnya!" Ucap Eddie, seraya berbicara dengan seseorang di telepon.

Ketika seluruh sistem kembali normal, Eddie sudah berdiri di ruang mayat. Di depannya, terlihat seorang mayat di tutupi kain putih.

Beberapa detik setelahnya, gerombolan Militer datang, mereka menghampiri Eddie yang masih menatap jasad itu.

"Apa kita, atau kau saja yang mengurusi pemakamannya?" Merasa itu kesempatan bagus, Eddie bahagia dalam hatinya.

"Kau sudah membunuh kakakku! Sekarang, kau akan menyentuh jasadnya? Jangan kau Fikir aku akan Sudi dia di makamkan oleh kalian." Ucap Eddie, seraya menatap dingin para militer itu.

Seorang lelaki berpangkat sersan, mencengram kerah kemeja Eddie, sedang yang di cengkram hanya menatapnya dingin.

"Kau pikir, karena perbuatan siapa kita berhutang puluhan juta dolar pada Jepang? Hah,, Karenanya!! Juga Shawn bodoh itu!!!" Ujar lelaki itu, tersulut emosi. Eddie mencoba melepaskan cengkraman tangan itu dari bajunya.

"Aku akan memakamkannya di Loss Angeles. Sendiri!" Ujar Eddie, Gerombolan militer itu mengangguk mendengarnya. Eddie menepuk tangannya, seraya memberi isyarat pada anak buahnya diluar untuk masuk.

"Kami, akan membawanya! Semoga setelah ini, kalian tenang karena sudah membunuhnya." Ujar Eddie, beberapa anak buah miliknya mulai mendorong jasad itu keluar. Eddie mengikuti anak buahnya itu, mereka akan membawa jasad itu Loss Angeles.

"Eddie?!!" Sapa Bella, dari jauh. Eddie yang hendak keluar dari sana pun berhenti, lalu berbalik.

"Hei Ed, Kau akan membawa Brian kemana?" Tanyanya, Eddie hany tersenyum menanggapi itu.

"Dia sudah mati, sudah waktunya untuk di makamkan." Ujar Eddie, ia ingin sebenarnya memberitahu gadis ini tentang kakaknya. Tapi, mungkin untuk saat ini jangan. Mengingat, Eddie tidak terlalu paham tentang kondisi kakaknya saat ini.

"Aku tau, aku mau melihatnya sebentar boleh?" Pertanyaan itu membuat Eddie terkejut kali ini.

"Bella, lebih baik kita segera memakamkan dia sekarang. Kau bisa menyusul kami ke Loss Angeles ya?" Ujar Eddie, Bella menggeleng mendengar itu.

"Aku akan kesana, tapi tolong biarkan aku melihat wajahnya sebentar." Eddie mendekat ke arah Bella, ia menundukkan dirinya tepat di telinga Bella.

"Ada tradisi di keluarga kami. Kami tidak akan melihat jasad saudara kami, jika itu dalam proses pemakaman. Tolong, hargai tradisi keluarga ku ya!" Lirih Eddie, terdengar sedikit aneh bagi Bella. Tapi, dia ingin sekali menemui Brian terakhir kali. Bella menatap jasad itu sendu, perih masih terasa dalam hatinya.

"Jika hari ini ada keajaiban, aku ingin dia kembali bernafas dan kembali padaku. Tapi sepertinya, tidak mungkin ya? Semoga dia selalu bahagia di atas sana, aku mencintainya." Lirih Bella, Eddie iba mendengar itu. Eddie menyentuh pelan bahu Bella seraya memberi kekuatan.

"Aku pergi ya, datanglah ke makamnya setelah ini." Ujar Eddie, Bella mengangguk mendengar itu.

...Kami memang jauh untuk saat ini...

...Tapi, biarlah......

...Biarlah, takdir cinta yang menuntunmu kembali padaku...

1
Andriani
baca dulu
Andriani
hadir kk
𝐀⃝🥀𝕁𝕠𝕐𝕒♉
apa bryan punya dendam kesumat atau aga kurang anu sehingga menganggap di dunia hanya ilusi
𝐀⃝🥀𝕁𝕠𝕐𝕒♉
bryan manusia apa jelmaan ya🤔
🗿
knp jdi dikurang sih si bryan? emm penasaran gwe jadinya,

wiihh ngomong² nm nya sama gwe thor hahahaa...

kaget gwe pas pertama bca..
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦💜⃞⃟𝓛 ѕнα
bersyukur edie dan Brian membawa mereka semua ke jalan yg benar yaa..tak lagi berada di dunia hitam
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦💜⃞⃟𝓛 ѕнα
bellaaa apakah kau tidak mengenali yg menjemput itu Brian 😔
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦💜⃞⃟𝓛 ѕнα
dan suprise akan segera menunggumu di sana bella..kejutaaaaaannnn
Deniayu ajah⚞⚟🧕🤑💦
kok perasaan ku gak enak sama pelayan yg ngasih minuman itu jangan jangan ramuan peluruh kandungan dari Nami, selamat ya Bella dan Brian pasti kamu senang Stevan dpt ponakan
Deniayu ajah⚞⚟🧕🤑💦
Nami bener bener sangat licik,Stevan kamu harus extra hari hati menyelidiki reiner
Deniayu ajah⚞⚟🧕🤑💦
Stevan Janagn mudah goyah ma rayuan Nami,Janagn buat kakakmu kecewa
Doͥctͣoͫr•ន𝑎𝗻𝐝ī🦅
Bau² nya bakal berjodoh ni Brian dan Bella 🚴🏻‍♂️🚴🏻‍♂️
@Ani Nur Meilan
Brian tenyata masih hidup namun Bella tidak mengetahui nya...
@Ani Nur Meilan
Bagaimana nasib Brian loloskah dari hukuman itu🤔🤔🤔
Doͥctͣoͫr•ន𝑎𝗻𝐝ī🦅
Si tajam dan si teduh, cie uda saling melengkapi ni🤭
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ 𓆈
ya itu benar, dan setiap pertemuan pasti ada perpisahan
Doͥctͣoͫr•ន𝑎𝗻𝐝ī🦅
Sudah jelas itu pasti target keturunan nya si Bella, haduh ini parah ini, sgala jenis buntut dan ekor mw di habiskan pdahal gk punya salah kejam sekali si tua bangka itu 🙄🗿
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ 𓆈
dunia ini panggung sandiwara kata nike
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ 𓆈
hadehh sekuat kuatnya wanita pasti pingsan juga,, krn mereka hanya berusaha untuk tetap kuat, namun mereka tidak tau, wanita diciptakan dengan kelembutan 🤣
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ 𓆈
sayang banget berlian cuma buat diduduki🚶‍♂️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!