Dia lahir dan tumbuh di wilayah konflik. Pertempuran yang seolah tak berkesudahan, membuatnya berpikir masih adakah rasa kemanusiaan terhadap sesama?
Satu persatu keluarga, saudara dan teman pergi meninggalkannya. Semuanya terampas oleh perang yang tak kunjung usai.
Akhirnya dia kembali menemukan teman yang selalu berjuang bersama hingga titik akhir. Dipaksa untuk menikah dengan seseorang yang baru saja dikenalnya oleh kakak lelakinya, menimbulkan konflik baru untuk dirinya. Seekor leopard dan seekor burung robot yang merupakan penemuan mutakhir seorang profesor pun bersedia menemani perjalanannya untuk mewujudkan impian kecilnya, yaitu perdamaian di tanah kelahirannya. Akankah itu bisa terwujud?
Ikuti kisah Aleena yang ingin melihat kedamaian di kota kecilnya. Berpetualang bersama Leopard sang macan tutul dan para sahabatnya 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vie isty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Utusan Bangsawan Duwey
Aleena terus melangkah menuju ke sebuah ruangan yang lebih tepatnya sebuah restoran mewah yang juga bernuansa klasik. Tanpa menghiraukan suaminya yang masih berada di dalam kamar. Di tempat tersebut, sudah terlihat tiga hewan yang duduk dalam satu meja.
"Hai, bagaimana kabar kalian?"
Aleena memeluk tubuh besar Oby, serta mengusap kepala Green dan juga shadow. Anjing hitam tersebut terdengar menggonggong sekali. Sementara ke dua kaki depan Oby sudah memeluk tubuh gadis disampingnya.
Pandangan semua orang di sekitar tempat tersebut terarah pada interaksi ke tiganya. Bahkan para pelayan yang sejak tadi hanya berdiri mematung dengan kaki yang sedikit bergetar, saat ini mereka benar-benar membuka lebar ke dua mata mereka karena interaksi gadis dengan binatang mengerikan tersebut.
Jimmy sudah memasang rantai pada leher kucing besar tersebut, sejak mereka turun dari mini bus. Hal itu dilakukan supaya orang-orang disekitar mereka tidak merasa takut dengan keberadaan leopard besar tersebut.
"Apa mereka sudah makan?"
Aleena beralih menatap Jimmy yang duduk di meja sebelahnya. Pria cantik tersebut mengangguk perlahan, kemudian berucap.
"Sudah nona. Kami hanya tinggal menunggu anda dan tuan muda."
Jimmy kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya, karena memang piring yang ada di hadapannya masih terisi banyak makanan.
Tak berselang lama, Adam sudah berjalan memasuki ruangan tersebut. Para pelayan menyambutnya dan mempersilahkannya untuk duduk di meja yang sudah dipersiapkan. Sang manajer bahkan sudah berdiri tidak jauh dari tempat tersebut. Pria setengah baya tersebut juga sempat menunduk dan menyapa Aleena, saat nyonya Adam tersebut memasuki ruangan. Namun Aleena hanya mengangguk dan berlalu mendekati meja Oby.
"Kemari lah Al. Ayo makan bersama ku. Biarkan kucing besar mu itu bersama dengan Green."
Aleena berdiri dan berjalan mendekati suaminya, kemudian duduk di kursi yang bersebelahan dengannya. Beberapa makanan sudah tersedia di meja. Aleena mulai meletakkan beberapa makanan ke dalam piring suaminya.
"Aku tidak ingin makan seafood. Ayam saja."
Aleena menggeser piring yang berisi sebuah lobster besar dan memberikan sepiring besar ayam panggang.
"Ayo, kau juga harus makan."
Adam meletakkan potongan paha ayam di atas piring istrinya. Aleena hanya mengangguk, kemudian melepaskan maskernya dan mulai makan. Beberapa pasang mata melihat wajah gadis itu tanpa berkedip. Bahkan Rocky pun demikian. Ini pertama kalinya pria itu melihat wajah Aleena. Adam berdehem pelan saat menyadari tatapan semua orang.
"Lain kali aku akan memilih untuk makan di ruangan tertutup."
Aleena hanya tersenyum kecil, mendengar gumaman pelan pria yang duduk di sampingnya. Beberapa bisikan terdengar dari para pelayan yang sedari tadi mengintip melalui pintu dapur. Kali ini giliran sang manajer yang sedikit berdehem dan melihat ke arah pintu tersebut. Semua pelayan begitu terkejut dan bahkan ada yang hampir terjatuh.
Usai makan mereka semua beralih ke luar dari ruangan tersebut dan berjalan mendekati sebuah pesawat kecil yang sudah terparkir di sebuah landasan pacu di belakang bangunan hotel. Mereka mulai masuk satu persatu hingga pesawat tersebut siap berangkat.
Sementara itu di kantor pusat terlihat seorang wanita cantik setengah baya sedang duduk dan menikmati minuman yang sudah disediakan bersama seorang pria tua yang selalu di ikuti tiga anak buahnya.
"Berapa lama lagi dia akan tiba?"
pria tua tersebut mulai membuka pembicaraan.
"Entahlah. Kita tunggu saja."
"Bagaimana bisa kau menyiapkan seorang wanita yang bahkan hanya memakai pakaian kurang bahan. Bukankah berita pernikahannya sudah tersebar."
"Aku tidak tahu seperti apa wanita yang sudah dinikahinya. Bukankah anda juga menginginkan seorang pewaris?"
"Tapi tidak harus dari seorang wanita yang bahkan berpakaian terbuka. Apa kata rakyat nantinya jika mereka melihat seorang ratu bagaikan wanita dari club' malam."
Seorang wanita yang sedari tadi duduk di bangku lainnya terlihat bermuka masam. Karena merasa dirinya diperbincangkan dan bahkan terdengar merendahkannya. Dia hanya bisa menahan semua amarahnya dan menggerutu dalam hati.
"Jika bukan karena dia seorang pemuda tampan kaya raya dan bahkan keturunan kerajaan. Aku tidak akan berada di tempat ini."
Tangan gadis tersebut terkepal kuat, karena menahan emosinya. Sementara perbincangan dua orang tua tersebut kembali berlanjut.
"Bukankah seorang pria bisa memiliki dua istri. Apalagi seorang pangeran."
Seorang pelayan perempuan mendekati meja mereka.
"Tuan muda di kabarkan sudah menaiki pesawat pribadi dan menuju ke tempat ini nyonya."
"Terimakasih atas informasinya. Bagaimana tuan?"
"Baiklah aku akan menunggunya. Tapi aku akan berpikir untuk menikahkannya dengan perempuan itu, jika dia benar-benar keturunan tuan muda Duwey."
"Baiklah. Terserah anda."
Pria tua tersebut berdiri dan memilih untuk berjalan-jalan di sekitar tempat tersebut yang memiliki beberapa taman. Pria itu adalah utusan dari keluarga bangsawan Duwey, yang bahkan para penduduk disekitarnya begitu memuja semua keturunan mereka yang merupakan keturunan sah dari kerajaan tertua yang pernah ada di tempat itu.
Sementara wanita setengah baya yang sempat berbincang dengannya, masih setia meminum teh hijau yang sudah di sajikan. Dia adalah Jersey Duwey, istri sah dari Aries Duwey yang telah lama tiada karena sakit. Aries Duwey meninggal saat putranya baru berumur satu tahun. Pria itu meninggalkan sebuah liontin, simbol dari sebuah keluarga bangsawan.
Pernikahan Aries Duwey tidak pernah di terima oleh keluarganya, karena Jersey hanyalah wanita biasa. Dia bukan berasal dari keluarga ternama ataupun bangsawan. Aries Duwey memilih untuk tinggal di tempat lain, jauh dari keluarganya. Hingga Jersey melahirkan buah hati mereka, Adam Mark Duwey. Nama pemberian dari sang ayah.
Kesulitan hidup yang di alami oleh Jersey kala itu, mengharuskannya untuk bekerja serabutan seraya mengasuh putranya. Hingga ia dipertemukan dengan seorang pria tua yang begitu tertarik dengan putranya yang terlihat begitu cerdas. James Altan, seorang ahli fisika dan arkeolog.
Jersey tidak memperdulikan usia pria tersebut. Meskipun ia tidak pernah di rumah, karena selalu sibuk dengan semua penelitiannya. Perempuan itu tetap bertahan di sampingnya, karena James membiayai semua kebutuhan mereka. Meskipun setiap kali pulang, hanya Adam yang ia tanyakan, namun Jersey tidak mempermasalahkannya. Hingga akhirnya ia memilih untuk bercerai dari James, setelah Adam menjadi pemegang saham terbesar dari Altan company.
Adam tidak begitu dekat dengan ibunya tersebut. Bahkan pria itu menyebutnya sebagai ibu suri. Karena tingkahnya yang selalu menghambur-hamburkan harta dari ayah angkatnya. Bagaimana pun dia serta apapun yang dilakukannya, dia tetaplah ibu yang telah melahirkannya. Seorang wanita pertama yang berjuang untuk hidupnya. Adam selalu berusaha menuruti setiap keinginan wanita tersebut, selama tidak bertentangan dengan agama dan prinsip hidupnya.
Jersey beralih menatap wanita cantik yang masih duduk di bangku yang lain.
"Diana. Kau sudah mendengar semua ucapan pria itu bukan. Jadi, aku sarankan kau untuk pergi dan mencari pria lain sebagai calon suami mu."
"Bukankah tante sudah berjanji untuk membantuku?"
"Semua ini sudah di luar kuasa ku. Utusan dari keluarga bangsawan itu sudah mengatakan bahwa kau tidak layak untuk menjadi menantu mereka. Aku tidak ingin kau bernasib sama seperti diriku dahulu."
"Masih ada Adam bukan. Aku akan berusaha merayu dan membujuknya."
"Terserah padamu."
Jersey tersenyum kecut. Perempuan itu tahu benar bagaimana sifat dan karakter dari putranya.
berharap ada double up 😁