Akibat perbuatan ibu tirinya, Aya harus rela meninggalkan semua harta yang dimiliki ayahnya dan angkat kaki keluar dari rumah tanpa membawa apapun.
Tak pernah mendapatkan kasih sayang dan selalu di sisihkan membuat Aya melampiaskan semua masalahnya dengan alkohol yang bisa membuatnya melupakan sejenak semua masalah yang menimpanya.
Akibat alkohol ia pun membuat kesalahan satu malam dengan seorang pria yang tak di kenal, yang membuat Aya terjerat dengan seorang pria yang tidur bersamanya.
Tak hanya itu, Aya yang salah satu mahasiswi di universitas swasta, harus pasrah saat mendapat skor akibat perbuatannya sendiri.
Bagaimana nasib Aya setelah semua mimpi dan harapannya hancur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dina Auliya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 21
Hari pertama Aya bekerja, restoran nampak begitu ramai, banyak pengujung silih berganti masuk dan keluar restoran. Aya berusaha bekerja dengan baik dan berbaur dengan pekerja lainnya.
Aya bekerja selama enam jam berganti shift dengan yang lainnya. Setelah mengganti pakaiannya ia segera meninggalkan restoran.
Saat di perjalanan, Aya ingat dengan Bimo yang sudah membantu dirinya untuk mendapatkan pekerjaan, sebagai ungkapan rasa terimakasih, Aya pun berencana mengajaknya makan malam di rumah.
"Sepertinya ini bukan ide yang buruk dan lebih hemat biaya. Em... tapi kira-kira dia mau gak ya? Ah... lihat saja nanti, yang penting aku masak dulu." Ucap Aya seorang diri lalu memilih meminta sopir taksi untuk singgah di mini market terdekat.
Tak butuh waktu lama, Aya pun keluar dari mini market dengan membawa dua kantong plastik dan selanjutnya langsung pulang.
Saat kembali, Aya melihat jika Bimo belum kembali. "Tumben belum pulang biasanya jam segini dan leyeh-leyeh di teras." Gumam Aya dan beranjak masuk ke dalam rumah.
Aya menghempaskan tubuhnya di atas ranjang sejenak, rasa lelah membuatnya ingin tidur sejenak. Untuk pertama kalinya ia merasakan betapa lelahnya bekerja. Dulu ia hanya mengandalkan kekayaan orang tuanya untuk hura-hura dan tak pernah memikirkan jika suatu hari roda akan berputar.
"Pa... Ma... aku kangen kalian. Aku di sini sendirian, Kenapa kalian tega meninggalkan aku padahal aku belum siap sendirian." Aya pun menangis sendirian.
Setelah selesai menangis dan tertidur, Aya pun bangun dan teringat rencananya untuk mengajak Bimo makan bersama.
Setelah selesai masak, Aya segera keluar untuk melihat Bimo dan berharap ia sudah pulang.
Namun sayang, ternyata Bimo belum kembali padahal hari sudah malam dan menunjukkan pukul tujuh malam.
"Tumben Bimo belum pulang sampai malam begini. Apa apa pekerjaannya belum selesai ya?" gumam Aya dan memilih untuk menunggu sejenak di teras, berharap Bimo segera mengambil.
Tak lama terdengar suara motor mendekat, dan Aya yakin jika itu Bimo, ia pun bergegas berdiri untuk menyapanya.
Suara motor Bimo pun semakin mendekat, dan mulai terlihat sosok pria yang mengenakan helm.
"Bimo..." Panggil Aya.
"Aya... tumben jam segini belum tidur?" tanya Bimo sambil melepaskan helmnya.
"Aku nungguin kamu."
"Menungguku! tumben, biasanya selalu marah-marah."
"Udah makan belum? tanya Aya langsung.
"Udah, kenapa emangnya?"
"Yah sayang sekali, padahal aku mau mengajakmu makan malam di rumah." jawab Aya kecewa.
"Benarkah?" Bimo bergegas menghampiri Aya dan langsung menyelonong masuk menuju meja makan, Aya pun menyusul Bimo dan duduk bersebelahan dengan Bimo.
"Kenapa gak bilang-bilang kalau mau mengajakku makan malam, kalau tau begini aku tadi gak perlu singgah beli makan langsung pulang saja." Tanpa menunggu Bimo segera mengambil piring dan mengisinya dengan nasi beserta lauk pauk yang di masak Aya.
"Tumben pulangnya malam, biasanya jam lima sudah santai di teras?" tanya Aya sambil makan.
"Kan aku pindah tugas, jadi waktuku pun berubah. Ngomong-ngomong bagaiman pekerjaan hari ini, apa di lewati dengan baik?"
"Ya, walaupun lelah tapi aku menikmatinya, pekerja yang lain juga ramah, sepertinya aku akan betah bekerja di sana. Terimakasih ya Bimo, berkat kamu aku akhirnya bisa mendapatkan pekerjaan dan makan malam ini sebagai bentuk terimakasih ku padamu." Aya pun mengukir senyum di wajahnya.
"Sering-sering juga gak papa, dengan senang hati aku akan mengiyakan."
Setelah selesai makan malam mereka pun ngobrol sejenak, sebelum Bimo memutuskan untuk kembali ke rumah dan beristirahat.
.....
Waktu begitu cepat berlalu dan Aya pun hampir sebulan bekerja di restoran, Tapi hal tak terduga menghampiri, Tanpa sengaja Aya melihat Elang yang baru datang bersama beberapa orang masuk ke dalam restoran dan menempati meja yang sudah di pesan sebelumnya. Dari kejauhan Aya nampak bingung sekaligus bahagia bisa bertemu kembali dengan pria yang membuatnya jatuh cinta lagi. Tapi ia tak ingin tak ingin Elang melihat dirinya yang menjadi pelayan restoran.
Disaat Aya ingin menghindari Elang, tiba-tiba manager restoran memanggil dan malah meminta Aya menggantikan pelayan lain yang tidak masuk kerja untuk menyajikan makan malam yang sudah dipesan sebelummya, Aya hanya bisa mengangguk tak dapat menolak perintah atasannya. Dan terpaksa Aya akan bertemu dengan Elang lagi.
"Aya..." Panggil manager restoran. " tolong Kamu layani pelanggan VIP yang ada di meja nomor 2 yang sedang mengadakan makan malam bersama." Perintah managernya yang langsung turun tangan mengawasi seluruh anak buahnya.
"Baik pak, akan saya laksanakan." Jawab Aya namun Aya merasa bingung apa yang harus dilakukan jika Elang melihat dirinya menjadi seorang pelayan Restoran.
Namun akhirnya Aya bisa mengatasi kebingungannya setelah ingat Aya memiliki masker pemberian Bimo yang masih di simpannya. Akhirnya Aya mengenakan masker sebelum mengantarkan makanan dan berharap Elang tidak melihat dirinya.
Dengan hati-hati dan jantung berdebar Aya mengantarkan makanan dan berusaha agar Elang tidak mencurigainya. Namun sayang cincin pemberian Elang masih melingkar di jari Aya, membuat Elang tiba-tiba memperhatikan Aya Mungkin Elang sudah menyadarinya.
Setelah selesai mengantarkan makanan, dan hendak pergi, tiba-tiba elang menghentikan langkahnya, jantung Aya seakan berhenti berdetak.
"Iya pak, masih ada yang bisa saya bantu?" tanya Aya berusaha ramah.
Elang meletakkan selembar tissue dia tas nampan yang di pegang Aya.
"Apa ini pak?" Tanya Aya pura- pura tidak kenal.
"Baca dan turuti," Perintah Elang. Aya pun hanya mengiyakan walaupun belum dibaca tulisan yang tertera didalam kertas itu.
Aya segera pergi meninggalkan Elang dan melanjutkan pekerjaannya untuk melayani tamu yang lain.
Disaat waktu senggang, Aya mengambil kembali tissue yang ia masukkan didalam saku bajunya. Rasa penanganannya membuatnya tak tahan ingin segera membaca. Ternyata isinya membuat Aya lemas seketika, merasa percuma sembunyi dari Elang yang pada akhirnya Elang pun mengetahuinya.
Tissue yang diberikan Elang ternyata bertulisan dan isinya meminta Aya menemui dirinya setelah selesai bekerja.
Setelah selesai bekerja, Aya bergegas ganti pakaian dan segera pulang dan ternyata Elang sudah menunggu di parkiran restoran.
Saat Elang melihat aya yang sudah keluar dari restoran Elang segera menghampiri.
"Aya..." panggil Elang.
"Mas Elang." ucap Aya lirih " M-mas Elang belum pulang?" tanya Aya
" Sudah kukatakan aku ingin bertemu denganmu, ayo ikut aku sebentar" ajak Elang dan langsung menarik tangan Aya tanpa mendengar persetujuan Aya terlebih dahulu.
Mereka pun hanya berkeliling kota,menghabiskan waktu bersama. Hening seketika menyelimuti keduanya, tidak ada yang memulai pembicaraan lebih dulu.
"Dari kapan mas Elang ada di sini?" tanya Aya ragu.
" Tadi pagi aku baru datang. kenapa kamu sembunyikan wajahmu dariku, apa kau mau menghindari aku?" tanya Elang balik.
"Bukan begitu mas, aku hanya belum siap bertemu mas?" jawab Aya jujur.
"Belum siap, atau karena pria ini." Elang menunjukan foto Aya sedang berduaan di hotel dengan seorang pria. Seketika Aya yang melihat syok, ia tak merasa pernah tidur di hotel bersama seorang pria.
"Apa ini mas, darimana mas dapatkan foto ini. Percayalah padaku, aku gak kenal pria ini dan setelah aku pergi dari rumah mas aku tidak pernah ada hubungan dengan pria lain, apa lagi pergi ke hotel." Aya berusaha menjelaskan.
"Terus itu semua apa, nyata-nyata itu wajahmu." Elang yang mulai panas langsung menghentikan mobilnya ke sisi jalan dan dan pun menangis."
"Aku percaya padamu, kenapa kamu lakukan itu padaku? untuk apa? Jika kamu butuh uang aku akan memberikanmu banyak uang, jika kamu kurang kepuasan aku bisa memuaskan mu. Tapi jangan dengan pria lain. Aku sayang sama kamu, tapi kenapa kau lakukan itu padaku, jadi kau meninggalkanku bukan karena Bella tapi karena pria ini kan." Emosi Elang mulai meluap.
"Dengarkan aku mas, aku tidak pernah melakukan apapun dengan pria lain apa lagi di sebuah hotel, ini fitnah mas, aku sama sekali tidak pernah melakukannya. Walaupun aku bukan istrimu tapi tak ada sedikitpun niatanku untuk berpaling darimu, aku masih mencintaimu." Aya masih berusaha menjelaskan kebenarannya.
"Kalau begitu buktikan padaku, tentang semua ucapanmu."
Setelah Aya pergi meninggalkan Elang, kehidupan Elang berubah, dia lebih sering marah bahkan bisa marah tanpa sebab, ditambah lagi, seseorang selalu mengirimkan Foto Aya yang mesra dengan seorang pria , seolah-olah, Aya memiliki laki-laki lain, dan juga sampai melakukan hubungan lebih dengan pria lain, membuat Elang marah dan ingin mencari penjelasan langsung dari Aya.
To be continued ☺️