Buku ke-2 dari The Ragen.
Baca dulu The Ragen : Escape From Zombie Apocalypse
Hari-hari setelah kemenangan pasukan Venus atas Demon membawa harapan baru bagi umat manusia. Para Ragen dan MoRag melemah, memberi kesempatan bagi Army untuk membasmi mereka dengan lebih mudah. Beberapa wilayah berhasil disterilkan dan kembali layak huni. Pangkalan Venus terus menyiarkan pesan ke seluruh negeri, menawarkan perlindungan bagi para penyintas.
Namun, di balik kemenangan itu, ada pihak-pihak yang diam-diam memanfaatkan situasi. Mereka memburu serum MoRag peninggalan Demon demi keuntungan, menjualnya kepada negara-negara tertentu untuk menumbangkan saingan mereka. Salah satu target utama mereka adalah UK, negeri yang menyimpan banyak harta berharga dari era sebelum perang nuklir.
Akankah Leo dan kawan-kawannya kembali ke tanah air mereka untuk menyelamatkan rakyatnya? Mampukah mereka mempertahankan negara itu dari kehancuran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aria Monteza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Dia bangun
Setelah beberapa hari berlalu sejak pengobatan yang hampir merenggut nyawa mereka, baik Selena maupun Matthew masih belum sadarkan diri. Keduanya dirawat secara intensif di ruang khusus dengan sistem pemantauan ketat untuk memastikan mereka pulih dengan baik. Ruangan itu dilengkapi dengan peralatan medis paling mutakhir, di mana berbagai sensor terus mengawasi setiap perubahan dalam tubuh mereka. Lampu-lampu indikator di sekitar mereka terus berkedip, menampilkan grafik denyut nadi, kadar oksigen, dan berbagai parameter vital lainnya. Meskipun kondisi mereka stabil, ketegangan di antara tim medis dan para penjaga tetap tinggi, karena tidak ada yang tahu kapan mereka akan benar-benar pulih.
Aaron dan Rain bergantian menjaga mereka, memastikan tidak ada komplikasi yang terjadi. Namun, keadaan Matthew sempat membuat mereka panik. Ia nyaris kehabisan darah akibat pengorbanannya untuk Selena. Berbagai upaya dilakukan untuk menyelamatkannya, termasuk transfusi darah dari beberapa pendonor yang memiliki kecocokan golongan darah. Sayangnya ada satu kendala yang tidak mereka duga di mana tubuh Matthew menolak semua darah yang diberikan kepadanya. Setiap kali mereka mencoba, tubuhnya menunjukkan reaksi negatif yang membuatnya semakin melemah. Seolah-olah sistem dalam tubuhnya menolak segala bentuk darah yang bukan miliknya sendiri.
Karena transfusi darah tidak memungkinkan, Aaron dan Rain harus mencari cara lain. Mereka akhirnya menemukan solusi dengan merangsang regenerasi alami tubuh Matthew menggunakan serum sintetis yang dikembangkan sebelumnya. Serum tersebut, yang merupakan hasil gabungan antara komponen Alpha dan Beta, dirancang untuk mempercepat pembentukan sel darah merah dan meningkatkan kemampuan regenerasi. Perlahan, tubuh Matthew mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Meski masih dalam kondisi lemah, vitalitasnya kembali meningkat, dan sistem regeneratif tubuhnya mulai bekerja lebih cepat. Luka-luka di tubuhnya yang tadinya mengkhawatirkan mulai menutup dengan sendirinya dalam hitungan jam, meskipun kehilangan darah yang besar masih mempengaruhi kesadarannya.
Sementara itu, keadaan Selena menunjukkan perkembangan yang lebih kompleks. Mereka melakukan berbagai penelitian terhadap kondisinya, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam tubuhnya setelah mutasi akibat virus Ragen dan darah Matthew. Hasilnya tidak seperti yang mereka harapkan, virus Ragen di dalam tubuh Selena ternyata tidak mati, tetapi mengalami mutasi yang tidak terduga. Para ilmuwan yang ikut menganalisis sampel darahnya menemukan bahwa virus tersebut telah menyatu dengan sel-selnya dalam cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Mutasi ini membuat virus yang semula ganas berubah menjadi lebih jinak, tidak lagi mengubah Selena menjadi makhluk buas seperti sebelumnya. Ini berarti Selena tetap terinfeksi, tetapi dengan efek yang berbeda. Ia masih memiliki beberapa karakteristik Ragen, dengan kesadarannya tetap utuh. Meskipun tampaknya tidak lagi berbahaya, ada kemungkinan mutasi ini berkembang lebih lanjut seiring waktu. Mereka belum bisa memastikan apakah kondisi ini bersifat permanen atau hanya sementara sebelum virus kembali bermutasi ke bentuk yang lebih berbahaya.
Meski begitu ada satu hal yang tidak bisa mereka pulihkan yaitu tangan kirinya. Di sepanjang nadinya, aliran darahnya tampak berwarna ungu kehitaman, membentuk pola yang aneh dan menyeramkan. Tidak peduli seberapa keras Aaron dan Rain berusaha menghilangkan jejak mutasi ini, warna gelap di lengannya tetap bertahan. Sepertinya itu menjadi tanda permanen dari pertempurannya melawan virus Ragen.
Ketika Aaron mencoba menganalisis jaringan di area tersebut, ia menemukan bahwa struktur seluler di tangan kiri Selena telah berubah. Jaringan tersebut tampaknya lebih kuat dibandingkan bagian tubuh lainnya, tetapi juga lebih sensitif terhadap rangsangan eksternal. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun virus dalam tubuhnya telah jinak, sisa-sisa kekuatannya masih ada dan bisa diaktifkan dalam kondisi tertentu.
Meskipun demikian, kondisi ini tetap dianggap sebagai keajaiban. Selena tidak lagi dalam bahaya kehilangan kendali atas dirinya sendiri, dan yang lebih penting, ia masih hidup. Namun, mereka semua sadar bahwa ini bukan akhir dari perjalanan mereka. Mutasi ini masih menjadi misteri yang belum sepenuhnya terpecahkan.
***
Di suatu hari yang sunyi, seorang asisten medis yang bertugas memeriksa kondisi Selena mendapati sesuatu yang mengejutkan. Awalnya, ia hanya menjalankan rutinitas seperti biasa, memeriksa alat-alat medis yang terhubung dengan tubuh Selena, mencatat perkembangan kondisinya, dan memastikan tidak ada gangguan dalam proses pemulihannya. Namun, saat ia hendak merapikan selimut yang menutupi tubuh gadis itu, ia melihat sesuatu yang membuatnya terpaku. Jari-jari Selena bergerak sedikit.
Rasa terkejut dan ketakutan langsung menyelimuti asisten tersebut. Jantungnya berdetak cepat, tangannya gemetar, dan ia harus memastikan bahwa yang dilihatnya bukan sekadar ilusi. Namun, beberapa detik kemudian, gerakan kecil kembali terlihat. Kali ini, kelopak mata Selena tampak sedikit bergetar. Tanpa berpikir panjang, asisten itu segera berbalik dan berlari keluar dari ruangan, menuju tempat Rain berada.
Di ruangan lain, Rain sedang sibuk memeriksa kondisi Matthew yang masih belum sadar. Hatinya terus dipenuhi kekhawatiran akan kondisi kakaknya dan sahabatnya. Ia tahu betapa besar pengorbanan yang telah dilakukan Matthew, dan ia berharap semua usaha mereka tidak sia-sia. Saat ia tengah memeriksa alat-alat pemantauan yang terhubung dengan Matthew, pintu ruangan terbuka dengan kasar, dan asisten medis yang tampak panik berdiri di ambang pintu.
"Dokter Rain! Selena... Selena bergerak!" suara asisten itu hampir bergetar, napasnya tersengal.
Mata Rain langsung melebar. Ia tidak menunggu penjelasan lebih lanjut dan segera berlari menuju ruang perawatan Selena, diikuti oleh asisten yang masih tampak terkejut. Setibanya di ruangan, Rain berhenti sejenak, mencoba menenangkan dirinya sebelum mendekati tempat tidur Selena.
Di sana, di bawah cahaya lampu yang sedikit redup, Selena perlahan membuka matanya. Pandangannya tampak kosong dan bingung, seolah baru terbangun dari mimpi panjang. Rain menelan ludah, mencoba menahan air mata haru yang hampir tumpah. Ia tidak ingin terlalu emosional saat ini, yang paling penting adalah memastikan kondisi Selena.
"Selena?" Rain berbicara dengan suara lembut, mendekatkan diri ke tempat tidur kakaknya. "Bisakah kau mendengarku?"
Selena mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Rain. Napasnya masih lemah, tetapi ia tampak mulai menyadari keberadaan orang-orang di sekitarnya.
"Rain...?" suaranya serak, nyaris tidak terdengar.
Rain mengangguk cepat, tersenyum meski matanya berkaca-kaca. "Ya, ini aku. Kau sudah sadar... bagaimana perasaanmu?"
Selena mencoba menggerakkan tubuhnya, tetapi rasa lelah masih membelenggunya. "Aku... merasa aneh... seperti tubuhku tidak sepenuhnya milikku sendiri..."
Rain menggenggam tangan kakaknya dengan hati-hati, takut memberikan tekanan berlebih. "Itu wajar. Tubuhmu masih dalam proses pemulihan. Tapi... kau sadar sepenuhnya, kan? Kau tahu siapa dirimu?"
Selena menatap adiknya, ekspresi bingungnya perlahan memudar. "Ya... Aku Selena," jawabnya pelan, sebelum suaranya melemah. "Dan kau... adikku."
Rain menghela napas lega. Itu adalah kepastian yang ia butuhkan. Selena masih sadar akan siapa dirinya, tidak kehilangan identitasnya meski mengalami perubahan besar dalam tubuhnya. Namun, ia tidak bisa langsung menunjukkan kelegaan penuh. Masih ada banyak hal yang harus mereka pastikan.
Ia dengan hati-hati memeriksa kondisi tubuh Selena, mencatat respons tubuhnya terhadap berbagai rangsangan. Setelah beberapa pemeriksaan singkat, Rain kembali menatap kakaknya. Ia ingin sekali memeluk Selena, ingin merasakan kehangatan kakaknya yang sudah lama ia rindukan. Namun, ia menahan dirinya. Pemulihan Selena masih dalam tahap awal, dan ia tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun yang bisa membahayakan kesehatan kakaknya.
"Selena, kau harus beristirahat. Aku akan tetap di sini bersamamu," kata Rain dengan lembut, berusaha menenangkan kakaknya.
Selena mengangguk lemah. "Matthew... bagaimana keadaannya?"
Rain menunduk sejenak sebelum menjawab, "Dia masih belum sadar... tapi dia kuat. Aku yakin dia akan segera bangun."
Selena menutup matanya sesaat, menarik napas panjang. "Aku ingin bertemu dengannya..."
Rain tersenyum kecil, meski masih ada ketakutan di dalam hatinya. "Aku janji, saat dia bangun, aku akan membawamu menemuinya. Untuk sekarang, beristirahatlah dulu, Kak."
Selena mengangguk pelan sebelum akhirnya kembali terpejam. Rain mengusap wajahnya, berusaha mengendalikan emosinya. Ini baru langkah awal, masih banyak hal yang harus mereka hadapi. Namun, satu hal yang pasti, kakaknya kembali. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk saat ini.
Di luar ruangan, para ilmuwan dan anggota tim medis yang lain berbisik-bisik, membicarakan perkembangan mengejutkan ini. Beberapa dari mereka merasa lega, sementara yang lain masih diliputi kekhawatiran. Tidak ada yang tahu pasti bagaimana dampak jangka panjang dari proses penyembuhan ini. Virus ragen dalam tubuh Selena mungkin sudah tidak berbahaya, tetapi masih ada kemungkinan efek samping yang belum diketahui.
Sementara itu, Rain kembali ke ruangan Matthew setelah memastikan Selena tertidur dengan tenang. Ia duduk di samping tempat tidur Matthew, menggenggam tangannya dengan erat.
"Kau harus bangun juga, Matthew... Selena sudah sadar. Dia membutuhkanmu... aku juga."
Di luar jendela, matahari mulai terbenam, menyelimuti markas mereka dalam cahaya jingga yang temaram. Malam ini adalah awal dari harapan baru, tetapi juga tantangan baru yang belum mereka ketahui sepenuhnya.
lalu ada kota² dan desa² nya. dan di setiap kota/desa dilindungi tembok. aku kepikiran ini pas baca yg bagian evakuasi raja ke zona utara.
mungkin kalo di lihat dari udara. UK di novelmu penampakannya mirip punggung kura². dg garis² nya sebagai benteng tiap kota/desa.
coba donk thor. next update bikinin peta UK kalo dilihat dari udara
anaknya selena cewek
pas gede, mereka berjodoh.
fix, leo jadi besan dg mantan pacarnya😁
bisa kembali muncul ketika leo akhirnya bertemu lagi dg selena