Penuh dengan Misteri. 👺👺
Vivana Gadis desa berusia 21 tahun di paksa menikah dengan seorang pria kota yang baru saja bertemu dengan Ayahnya.
Hanya karena pria tersebut memberikan sebuah perkebunan yang cukup luas, Ayahnya rela menjadikan Vivana syarat pembayaran buat menikah.
Bukannya kebahagiaan di dapatkan Vivana setelah menikah. Pria yang menikahi Vivana adalah seorang Psikopat dan MAHAR MEWAH bernilai fantastis pemberian pria tersebut malah menjadi TEROR yang merenggut beberapa orang tercinta dan terdekat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Jangan biarkan aku sendiri
“Vivana, kamu tidak apa-apa?” Tanya Mas Valdi bergegas berlari ke arah ku setelah hantu wanita menghilang. Mas Valdi jongkok, kedua tangan memegang lenganku, dan membawa aku berdiri.
Aku membuka kedua mataku menatap wajah Mas Valdi terlihat panik dan bingung. Aku menahan lengan kanan Mas Valdi, mengingat dirinya yang tak ingin mendekati aku. “Mas. Terimakasih sudah mau menolong ku.”
Mas Valdi langsung menjauh dariku, wajah gugup dan salah tingkah terlihat jelas tapi dirinya mampu meredam itu semua. Wajahnya terlihat tenang, ia menatap diriku. “Sudah semestinya kita sebagai umat manusia saling menolong satu sama lain.” Tangan kanan Mas Valdi mengarah ke depan. “Mari kita lanjut jalan.” Ucapnya, kaki kanan melangkah.
“Mas.”
“Iya, ada apa Vivana?” Sahut Mas Valdi menghentikan langkah kakinya, wajah menoleh sedikit ke belakang.
“Jangan biarkan aku jalan sendirian lagi, aku mohon temani pulang setiap malamnya selama pulang dari Masjid.” Pinta ku bersungguh-sungguh.
“Baik.” Sahutnya datar, tangan kanan mengarah ke sisi kiri. “Silahkan berjalan di sisi kiriku.”
Aku segera melangah cepat, mengambil posisi berdiri di sisi kiri Mas Valdi. Aku dan Mas Valdi melangkahkan kedua kaki secara serentak. Suasana yang tadinya kaku dan dingin perlahan mencair saat aku mempertanyakan kondisi Ibu mas Valdi.
20 menit sudah berlalu, aku dan Mas Valdi sudah sampai di depan kediaman rumah Ayah. Tangan kanan ku lambaikan, tapi aku sadar jika diriku bukan kekasihnya lagi. Aku mengulas senyum kaku, kepala aku anggukan sekali.
“Mas, terimakasih sudah mengantar aku sampai di depan rumah. Mas hati-hati di jalan.” Ucapku berterimakasih kepada Mas Valdi karena mau mengantar aku pulang sampai di depan pintu pagar.
“Sama-sama. Mas permisi pamit pulang dulu.” Tangan kanan Mas Valdi melambai. “Sudah sana masuk.” Ucapnya datar.
Aku berbalik badan, kaki kanan melangkah masuk ke dalam pintu gerbang yang terbuka sedikit. Kedua kaki ku langkahkan perlahan memasuki lataran halaman rumah, sesekali aku melirik ke belakang, menatap Mas Valdi sudah perlahan berjalan pulang.
Aku menunundukkan pandanganku, mempercepat langkah kedua kakiku menuju rumah. Kedua kaki terhenti di depan pintu rumah, tangan kanan hendak memegang gagang pintu, tapi pintu segera terbuka.
Aku segera mundur satu langkah kebelakang, kedua mata membulat sempurna menatap Ayah membuka pintu, tatapan tajam menatap diriku dari atas sampai bawah.
“Ayah.”
“Kenapa kamu memakai baju seperti ini?” Tanya Ayah langsung tertuju pada baju Fanny yang lupa aku ganti dengan baju milikku.
Aku memalingkan wajahku ke sisi kanan.
‘Kenapa aku bisa lupa untuk membawa baju dan mengganti pakaian di Masjid. Terlihat dari raut wajah Ayah, pasti dia akan sangat marah dan tidak akan memperbolehkan aku pergi besok malam. Ya, Allah. Aku serahkan semuanya hanya kepadamu, maaf kan aku jika aku berbohong.’ Gerutuku di dalam hati.
“Tadi bajuku ke tumpahan saos dan terkena es krim anak-anak saat di pasar malam, jadi aku membeli baju ini di pasar malam Ayah. Hanya ada baju seperti ini yang mereka jual di sana.” Ucapku berbohong, baju sebenarnya yang aku pakai adalah baju muslim khusus lebaran, sedangkan baju yang aku kenakan adalah baju milik Fanny.
“Dasar orang kampung, pantes mereka tidak maju. Sekali di adakan pasar malam, jualannya seperti itu.” Ucap Ayah mempercayai ucapanku.
Aku membulatkan kedua bola mataku, aku terus menatap Ayah yang percaya akan ucapanku. Jarang sekali Ayah mempercayai ucapanku, apa ini semua berkat pertolongan Allah. Kini aku bertambah yakin jika Allah juga akan memudahkan aku menuntaskan masalah ‘TEROR MAHAR MEWAH’.
.
.
.
.
🍃Kediaman rumahku di Desa Anggrek،🍃
“Dimana gadis ini menyembunyikan harta peninggalan janda kaya raya yang sudah mati, itu.” Ucap Pak tua menggeledah lemari pakaian milikku. Beberapa susunan baju berantakan, semua laci lemari di geledah. Pak tua kembali memasukan baju yang berantakan di atas lantai ke dalam lemari pakaian, kedua tangan menutup pintu lemari, kedua mata menatap sekeliling kamar. “Ck. Dimana gadis itu menyembunyikannya. Sudah capek aku menggeledah seluruh isi rumah ini tapi tidak aku temukan satu barang pun bekas peninggalan janda tersebut. Sia-sia saja.” Gerutu Pak tua, dengan kaki terpincang perlahan meninggalkan kamarku, belum sampai di depan pintu kamar, terdengar suara.
“DASAR PRIA JAHAT.” Suara hantu wanita menggema di dalam kamar.
Hantu wanita menampakkan wujudnya tepat di hadapan Pak tua, kedua tangan mengulur ke depan, kuku hitam panjang, wajah sebelah kanan hancur, nanah dan belatung merayap di wajahnya. “KEMBALIKAN.”
Pak tua segera menepis kedua tangan hantu wanita yang hendak mencengkram jenjang lehernya, membuat hantu wanita menghilang. “Sudah mati, mati saja.” Ucap Pak tua menatap sekeliling kamar.
“KEMBALIKAN….KEMBALIKAN.”
Terdengar kembali suara hantu wanita cukup nyaring, memekakkan kedua telinga Pak tua. Pak tua segera menutup kedua gendang telinganya, kedua mata liar menatap sekeliling kamar, tubuh berputar seolah mengikuti suara teriakan hantu wanita tersebut.
Jari telunjuk tangan kanan Pak tua mengarah ke langit-langit kamar. “Hei! Keluar kamu setan, jangan beraninya bersembunyi dan menyerangku secara tiba-tiba. Apa yang harus aku kembalikan?” Teriak Pak tua menatap langit kamarku.
Slap!
3 cakaran kuku membekas di pipi kanan Pak tua, darah perlahan mengalir dari bekas cakaran kuku.
Pak tua segera memegang pipi kanan yang terluka, kedua mata menatap liar ke langit kamar. “Dasar setan, benar-benar setan. Kalau kamu berani tunjukkan wujud mu, beraninya bersembunyi.” Teriak Pak tua, Pak tua meludah ke sisi kanan. “Cih. Setan.”
“KEMBALIKAN…KEMBALIKAN…KEMBALIKAN APA YANG SUDAH KALIAN REBUT DARI KU.”
Ucap hantu wanita muncul tepat di hadapan Pak tua, kedua tangan mencengkram erat jenjang leher Pak tua.
Pak tua bergerak ke kanan/kiri, kedua tangan memegang kedua lengan hantu wanita, lengan penuh lumpur, serta kulit yang sedikit mengelupas. Wajah Pak tua terlihat pucat, seperti kehilangan oksigen. “Be-rani se-kali ka-mu ingin mem-bunuh ku.” Ucap Pak tua satu-persatu dengan susah payah ia terus berusaha melepaskan diri hantu wanita yang terus mencengkram jenjang lehernya.
Hantu wanita menghilang secara bersamaan dengan pintu kamar yang terbuka lebar.
Pak tua membungkukkan sedikit tubuhnya membelakangi pintu kamar, tangan kanan memegang tenggorokan nya. “Uhuk! Uhuk. Sudah mati saja banyak…”
Terlihat ada bayangan seorang pria dari belakang, kedua tangan memegang benda keras yang sedang siap melayang, dan terdengar suara benda tumpul menghantam tubuh Pak tua.
Bugh!
Bam!
Pak tua jatuh tersungkur di atas lantai marmer kamar, darah mengalir dari kepala bagian belakang. Tubuh Pak tua yang terbaring di atas lantai marmer di seret dengan seorang pria memakai topeng hitam. Bercak darah yang di keluarkan Pak tua membekas di setiap lantai yang di lalui. Setelah keluar dari dalam rumah, tubuh Pak tua yang sudah tak berdaya di masukkan ke dalam bagasi mobil Avanza. Mobil tersebut segera bergegas pergi meninggalkan kediaman rumahku dengan membawa jasad Pak tua bersamanya.
...Bersambung......
^^^Terimakasih Atas dukungannya. 😊😊😍^^^
^^^Terus dukung "TEROR MAHAR MEWAH". ^^^
^^^Jangan lupa tinggalkan jejak agar aku bisa meninggalkan Jejak buat kamu.😍😊😘^^^
^^^Hanya jejak ya, bukan jejak Cinta. 😊😊🤭^^^
makanya datang terus meneror
sereeeemmm