Yang suka silahkan lanjut. Bima Arsaka, ahli bedah top dan terkenal. Tak ada yang menyangka, Bima juga seorang mafia yang kejam dan menakutkan. Bima adalah penerus klan Macan Putih, kelompok terkuat Mafia saat ini. Akankah Bima dapat menyeimbangkan tugas yang bertolak belakang sebagai seorang dokter dan juga Mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Bima melajukan mobilnya ke arah rumah sakit, karena Minggu ini Bima terjadwal hanya pelayanan poliklinik. Jadi waktunya agak santai dan longgar. Di tengah perjalanan, jalan yang biasanya lancar terjadi kemacetan parah. "Aneh, ada apaan ya di depan?" batin Bima. "Ada apaan bang di depan?" tanya Bima ke sopir truk yang berlawanan arah dengannya. "Kecelakaan beruntun bang, kayaknya bakalan lama macetnya. Sekarang baru berjalan proses evakuasi korban" jelas sopir itu. "Jauh nggak bang dari sini?" tanya Bima. "Nggak kok, sekitar tiga ratusan meter dari sini" imbuhnya. "Oke makasih bang informasinya" teriak Bima saat sopir truk itu mulai melajukan kendaraannya. Sang sopir hanya melambaikan tangan ke arah Bima.
"Waduh, kalau aku jalan ke sana buat bantuin evakuasi. Ntar ni mobil siapa yang ngejalanin. Bisa dilabrak para pengguna jalan di belakangku nih", batin Bima.
Bima tak sengaja melihat cewek cantik yang sangat dikenalnya keluar dari sebuah taksi. Cewek itu kayaknya juga sedang melihat keadaan sekelilingnya yang macet. Bima keluar dari mobil dan memanggilnya. "Ran...Rani..." teriak Bima di tengah suara deru mobil semakin menambah kebisingan sambil melambaikan tangan. Rani yang sayup-sayup dengar namanya dipanggil, menoleh ke arah belakang. "Kak Bima" celetuknya. Rani menghampiri Bima. "Ran, kau bawa mobilku. Macet ini akan lama. Aku mau ke depan sana membantu evakuasi korban kecelakaan" lugas Bima. "Hah..." beo Rani. Bima melempar kunci mobilnya ke Rani. Bima berlari di antara mobil-mobil yang belum bisa bergerak maju. Rani membayar ongkos taksi sebelum masuk mobil Bima.
Sesampai di lokasi. Bima melipat lengan kemejanya. Panas yang mulai menyengat, bulir-bulir keringat menetes di kening Bima. Bima dengan cekatan membantu evakuasi para korban. "Apa ada masalah dengan korban?" tanya Bima ke salah satu dokter yang hendak mengevuasi korban. "Boleh tau dengan siapa?" tanya dokter itu. "Sampai lupa memperkenalkan diri, saya dokter Bima" Bima menyebut namanya.
"Benar dokter, pasien ini kayaknya ada fraktur cervikal. Ekstremitas bawahnya juga tidak ada respon. Sementara penyangga leher tidak tersedia di ambulan" jelasnya. "Bentar dok, tunggu. Biarkan dulu korban dengan posisi seperti itu" sergah Bima. Bima mencoba menghubungi Rani, "Rani, di jok mobil belakang ada box kan? Ketemu belum?" lanjut Bima. "Iya Kak, box warna coklat ini kan?" tegas Rani di ujung ponselnya. "Iya, tolong buruan cepat antar yaa" seru Bima setengah teriak. Rani sebenarnya kebingungan antara meninggalkan mobil dan berlari ke arah Bima. Tapi pasti kak Bima lebih butuh ini, batin Rani. Rani akhirnya memutuskan menyusul Bima. Mobil dia matikan dan Rani kunci. Rani tidak memperdulikan suara klakson mobil yang berada di belakang mobil Bima. Rani mencari-cari Bima, karena belum ketemu Rani mencoba menelpon Bima. Belum sempat tersambung, ada yang menepuknya dari belakang. "Sini mana boxnya. Kamu tahan nggak, kalau nggak tahan mendingan tunggu aku di mobil" ujar Bima. "Nafasku masih ngos-ngosan kak, kok malah disuruh balik. Jauh lagi kak" seloroh Rani dengan wajah capeknya. "Ya sudah ikut sini aja" Bima menggandeng Rani. Rasa lelah Rani sirna sudah, tersungging senyuman di wajahnya. Bima mendekat ke arah korban dengan fraktur servical itu dan membuka boxnya. "Dok, sementara pakai yang ini aja" Bima mengeluarkan cervical collar yang dipunyanya. "Pak, segera evakuasi pasien ini. Semoga fraktur aman" tegas Bima ke arah perawat dan sopir ambulance yang di dekatnya. "Baik dokter, saya juga ikutan pamit.Terima kasih atas bantuannya" pamit dokter itu dengan sopan. Bima mengangguk.
Dengan tetap menggandeng Rani, Bima balik ke arah mobilnya berada. "Ayo Ran" ajak Bima. Rani hanya mengikuti langkah kaki Bima. Saat akan masuk mobil, banyak pengendara mobil di belakang yang meneriaki Bima. Tapi saat mereka melihat baju Bima yang penuh bercak darah, akhirnya mulutnya pada bungkam semua. "Ran, kamu mau ke mana, biar aku anter. Makasih ya, sudah mau nungguin ni mobil" Bima menyalakan mesin mobilnya. Mobil melaju pelan. Di tempat kejadian kecelakaan itu masih banyak polisi yang mengatur lalu lintas. Salah satu dari mereka mengangguk hormat saat Bima menyapanya. "Bang duluan ya" sapa Bima. "Makasih bantuannya" teriak polisi itu. Bima membalas dengan senyuman, meski hanya bisa dilihat dari kaca spion mobil.
Rani yang dari tadi lebih banyak diam, sedikit terkaget dengan celetukan Bima. "Ran, mau ke mana ini? Ditanya dari tadi malah melamun" Bima mencubit gemas lengan Rani. "Ah, kakak ngagetin aja" Rani sewot. "Aku cuma masih ingat dengan darah-darah tadi lho kak" ujarnya.
"Aku sebenarnya mau ngampus kak, tapi sorean dikit. Rencana awal tadi sih mau ke mall sebelah kampus, beli buku" jelas Rani.
"Ya sudah ngikut aku dulu aja, cuma jadwal poliklinik paling nggak lama. Mau kan?" tawar Bima.
"Beneran nggak ngrepotin ini???" tandas Rani. "Kalau kakak merasa repot, sesampai di rumah sakit aku langsung naik taksi onlen aja. Lagian waktunya juga lebih dari cukup" tolak halus Rani. Tapi dalam lubuk hati Rani yang paling dalam seakan bersorak. Senang atas perhatian Bima saat ini. "Baiklah aku ngikut kak Bima aja" seru Rani akhirnya.
Mobil terparkir cantik di parkiran rumah sakit. Untuk mobil Bima selalu tersedia di samping mobil direktur, sebelahnya lagi punya dokter Bagus. Memang trio B3 itu bener-bener kompak luar dalam. Bima berlalu tanpa membukakan pintu untuk Rani, "Dasar es balok, tidak ada romantisnya" gerutu Rani. Bibirnya ngedumel seperti sarang tawon, tapi tetap mengikuti ke arah langkah kaki Bima.
Bima berjalan ke arah poli, lupa kalau ninggalin Rani di mobil. Saat balik badan ternyata Bima bertubrukan dengan Rani yang dari tadi mengikutinya. "Kamu nggak nungguin di mobil aja to Ran? Sini ruang tunggunya panas lho" sergah Bima. "Aku ikut kakak aja. Kalau nunggu di mobil ntar yang ada garing akunya" Rani ngedumel. "Wah...wah...sudah ada yang meproklamirkan hubungan nih. Kapan aku dapat pajak jadian" Brahma berjalan mengekori Rani dan Bima. "Jadian apaan kak, yang ada hari ini aku jadi asisten dadakan" Rani masih menggerutu. "Mana ada orang hukum jadi asisten dokter, nggak nyambung kali ha...ha...." Brahma tertawa.
Bima tidak bereaksi dengan obrolan Rani dan Brahma. Tetap berjalan seakan nggak ada orang di dekatnya. "Ran, nunggu di ruanganku aja. Daripada garing kamu di depan poli bedah" ajak Brahma. "Wah, betul juga tuh kak. Pasti nyaman di ruangan direktur" celetuk Rani. Baru Bima menoleh, "Awas saja kau apa-apain Rani" ancam Bima dengan tatapan tajam. "Ha....ha....ha......" Brahma tertawa keras.
#bersambung#happy reading ☕
gimana sama nasib Joana pas th kl ayahnya di tangkap 🤔🤔🤔 trus gimana kelanjutannya hubungan Bima dan Rani kn blm jls 🤔🤔🤔