Adam Suganda terlempar dalam sebuah dunia yang sama namun jauh berbeda. Tak ada lagi yang namanya kehidupan manusia, dia berada pada kehidupan fana yang selama-lamanya.
Lantas, selama-lamanya itu berapa lama? Apakah ia bisa lari dari semua kenyataan yang ada??
Lari?? Bisakah kau lari???
Run!!! Run!!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gerimis Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ekskul Seni
Ia terkesiap usai mengatakan hal tersebut, seolah terkejut dengan apa yang ia katakan barusan. Tapi bukankah seharusnya saya yang terkejut dan merasa heran.
Dia memang tahu mengenai iblis pemakan darah yang ada di sekolah, bernama Ludira. Tapi...
Saya tak pernah berkata kalau orang itu.. bernama Barend Otte kan??
Apakah sebenarnya, Tamusong ini.. mengenal Ayah?? Tapi, kenapa bisa?
"Oi, Tamusong.. kenapa-"
Ia langsung berbalik badan, tanpa sempat saya menyelesaikan ucapan. "Kembali lah seperti sedia kala dan jangan bertanya apa-apa." ucapnya.
Saya mengernyit, ia ketahuan sekali menghindar dari hal tadi. Tapi, untuk apa dia menghindar? Saya kan cuma penasaran, darimana dia mengetahui nama Ayah. Apakah mereka saling mengenal semasa hidup?
"Oi Tante.. jangan begitu." Saya berusaha terbang dan menyusulnya, sampai-sampai melupakan wujud yang sedang saya serupai. Ayah ini bertubuh besar dan tinggi, jadi sulit sekali saya menyesuaikan diri.
Saya jatuh terjerembab di atas udara, dan seketika saya kehilangan konsentrasi dan melupakan wujud Ayah.
Tamusong berbalik, mengetahui kalau terjadi sesuatu pada saya. Meski begitu, ia terlihat tak ingin menghampiri.
"Aduh!" Saya yang masih tengkurap sedikit mengangkat tubuh bagian atas, menatap kedua tangan saya yang sedikit menghantam pijakan. "Untung tak ada pasirnya. Tapi, kok tangan ini kecil sekali? Putih, seperti tangan yang saya kenal." gerutu saya.
Tamusong menahan pandangannya. "Tentu saja kau kenal, itu kan tanganmu sendiri!" balasnya.
Saya kembali terkesiap, menyadari kalau tubuh saya sudah kembali seperti semula. "Loh, lah.. kok bisa? Kenapa saya kembali lagi seperti semula? Saya pikir masih berwujud Ayah tadi." tukas saya lagi, sambil menyentuh wajah, perut dan tubuh saya sendiri.
"Ayah?" Ia mengulang, mengernyit dalam seolah tak percaya dengan apa yang barusan saya katakan.
"Iya, yang tadi itu Ayah saya." Saya membetulkan, sengaja memancing obrolan dengan mengatakan hal ini. Kalau dia merasa tertarik, pasti dia akan mengatakan sesuatu meskipun tadi tak ingin mengatakannya.
"Kau di bunuh oleh Ayahmu sendiri? Dan Ayahmu, adalah orang itu??"
"Jadi.. begitu?? Seperti itu?" gumamnya seorang diri. Kenapa sih dia? Saya jadi penasaran dengan apa yang ia pikirkan.
"Tamusong, kenapa sih? Berpikiran apa? Kenapa Tante bisa menyebutkan nama Ayah saya sebagai Barend Otte ketika melihatnya? Padahal saya tak pernah mengatakan siapa nama Ayah sebelumnya pada Tante, kan? Apakah jangan-jangan..." Saya sengaja menggantung perkataan hanya sekedar untuk melihat reaksinya.
Buru-buru ia menggelengkan kepalanya. Ia mengerjap cepat seolah takut dengan perkataan yang akan saya lemparkan selanjutnya.
"Tidak! Aku tidak mengenalnya. Benar-benar tak mengenalnya. Jadi jangan tanyakan aku mengenai dirinya. Aku tak ingin berkata apapun." sahutnya panik.
Saya terdiam, menatapnya dengan datar. Jadi begitu.. Dari perkataan dan kepanikannya, sepertinya.. dia dan Ayah memiliki suatu hubungan dan kedekatan di masa lalu. Tapi, kenapa dia harus sepanik itu?? Kalau berteman kan cukup katakan saja kalau dia teman lama.
Atau jangan-jangan...
Saya menggelengkan kepala, tidak.. tidak.. itu tak mungkin terjadi. Meski saya tak pernah melihatnya langsung, tapi itu tak mungkin terjadi, kan?
Tapi.. ia bilang kalau mempunyai anak lelaki yang mirip saya. Dia punya suami dan sudah meninggal. Kenapa begitu mirip ya??
"Tante.. saya tak mengatakan apapun loh, perihal Tante mengenal Ayah atau tidak. Tapi, kenapa Tante langsung berkata kalau Tante tidak mengenalnya. Kalau sejak awal Tante diam, mungkin saya tak akan curiga. Tapi, kalau Tante begini, bukannya jadi mencurigakan ya?" ujar saya, membuat Tante muka gosong menutup kedua matanya. Pasrah dengan apa yang telah terjadi.
"Aku selalu tak suka pada anak nakal yang cerewet dan banyak tanya. Tapi, untuk kali ini aku tak bisa banyak bercerita padamu. Kau... tak mau kan mengusik perasaanku, dan membuatku berubah menjadi makhluk menyeramkan?" Ia berkata dengan tatapan mata yang kosong. Tak berniat mengancam, tapi.. itu lebih seperti berharap agar saya tak bertanya lagi.
"Bukankah sekarang pun Tamusong sudah terlihat menyeramkan? Lalu apa bedanya? Saya tak takut melihat wajah jelekmu." Ia mengerjap meski tak langsung menatap saya. Ia menunduk, seperti orang yang merasa malu.
"Ini belum seberapa. Kalau hati para hantu terusik, maka mereka akan menunjukkan wujud ketika mereka mati. Dan aku, belum pernah menunjukkan wujud itu pada siapapun."
Saya menghela napas panjang. Mungkin tidak sekarang, tapi suatu saat saya akan mengetahui siapa Tante muka gosong yang sebenarnya.
"Hm, baiklah. Saya tak akan memaksa meskipun sangat penasaran. Saya pamit, tunggu laporan saya besok! Saya pasti berhasil dalam waktu satu hari!" tukas saya, penuh keyakinan.
Tamusong hanya tersenyum kecut. "Darimana kau mendapat keyakinan seperti itu?? Kembalilah satu Minggu lagi, jika kau telah berhasil." balasnya, sungguh meremehkan kemampuan saya.
Saya kembali ke dalam ruang seni, menunggu waktu berjalan sampai esok hari. Hantu tak tidur, selama semalaman kami tak pernah tertidur.
Bertengger di atas lemari selama berjam-jam tak membuat tubuh saya lelah atau pegal. Melamun pun tak akan membuat saya kerasukan. Tapi, menahan emosi agar frekuensi tetap terkendali, membuat saya merasa kesepian.
Beberapa jam waktu berlalu. Matahari mulai menembus melalui jendela dan memaksa masuk ke dalam ruangan. Suara kicauan burung tentu menjadi pertanda, kalau pagi telah tiba dengan keadaan cerah.
Suara sahutan berikutnya terdengar, gerekkan pagar besi gerbang yang mulai terbuka. Beberapa suara deru motor memasuki pekarangan sekolah, sisanya adalah teman-teman yang berhenti di depan gerbang, entah itu di antar oleh orang tua ataupun naik kendaraan umum.
Hiruk-pikuk yang menyenangkan kembali terdengar. Malam yang sepi kini berganti menjadi aktivitas dan kesibukan para manusia.
Semalaman saya telah memikirkan rencana ini. Tak perlu menunggu waktu satu Minggu untuk pengenalan wajah, karena satu hari pun bisa saya lakukan. Tapi, butuh ritme yang pas untuk melakukannya.
Hari ini adalah hari Selasa, dimana kami biasanya melaksanakan ekskul melukis di ruang ini. Saya harus melakukan sesuatu agar keberhasilan ini terjadi. Kalau sudah lulus tahap dasar, saya akan di ajari kemampuan kuntilanak yang sesungguhnya, kan??
Saya harap, bisa dengan cepat menguasainya, dan melawan iblis yang ada di dalam tubuh Ayah tanpa membunuhnya. Meski terdengar naif, tapi saya tak tega membunuh Ayah saya sendiri. Saya menyayanginya, dan ingin di cintai sebagai seorang anak oleh Ayah, tanpa ada iblis di tubuhnya.
Tapi, kalau saya berhasil melenyapkan iblis itu.. apakah saya akan mati?? Atau, Ayah yang akan mati??
Hari ini ada satu kelas yang memakai ruangan ini. Di antara kesibukan mereka dalam melukis, saya merasakan aliran energi yang mengalir deras. Dan suara bisikan terdengar bersahut-sahutan dalam menyebut nama saya. Itu sungguh jelas.
"Iya, semalam juga gue keluar rumah dan lihat kecelakaan itu. Katanya sih si Bapaknya mabuk, jadi ngomongnya agak ngelantur. Tapi bener loh, dia kecelakaan di depan kuburan halte karena lihat si itu...." bisik mereka sambil mengoles kuas pada kanvas.
"Si siapa?" teman perempuan yang satunya lagi terlihat parno.
"Si Adam.." bisik temannya yang berkuncir satu.
Saya tersenyum mendengarnya. Mereka tengah membicarakan saya? Pantas saja saya merasa di aliri energi luar biasa, ternyata mereka menceritakan saya dalam keadaan ketakutan dan gemetar.
"Ah! Ngaco lu! Gak mungkin lah!"
"Eeeh! Beneran!! Gue denger sendiri loh, kalau si Bapak ngomong begitu. Katanya, dia lihat ada anak albino yang terbang pakai baju putih."
Temannya langsung bergidik. "Ah! Lu bikin gue takut aja nih! Hari ini kan gue ekskul lukis di sini, bikin parno aja deh lu!" balas temannya lagi.
"Hah? Ekskul lukis? Bukannya hari ini Ibu Desti gak masuk?? Gue denger dari kelas sebelah yang pelajaran seninya sama Bu Desti, dia gak masuk kok hari ini." ucapnya lagi.
"Oh gitu ya? Syukur deh kalau gitu." sahutnya sendu.
Saya mendekati seorang siswi yang bilang kalau dia akan mengikuti ekskul hari ini. Ia sedikit melamun, memikirkan ucapan dari temannya tadi.
Saya menatapnya tak berkedip. Ada ruang kosong di jiwanya, pandangannya tak terfokus dan pikirannya kemana-mana. Di saat seperti ini, tiba-tiba saja seluruh ruangan menghitam, membuat siswi ini menjadi tujuan saya.
Di dalam dirinya, tiba-tiba saja muncul sebuah jalan lurus yang membentuk seperti lorong. Ini adalah jalan dan tak ada penghambat apapun ke dirinya.
Saya mengerjap, menyadarkan diri dari lamunan. Ini terlalu menyenangkan hingga saya lupa daratan. Apakah ini yang di maksud Tamusong, kalau seorang manusia sedang melamun, makan akan sangat mudah untuk merasuki mereka? Jadi.. apakah saya boleh,
Merasuki siswi ini???
.........
*Tamusong POV
Langit telah gelap. Aku duduk bersender di dekat sumur, memperhatikan penjaga mahkam yang sedang menyalakan mesin air untuk menyedotnya. Orang ini penakut, tapi berbaik hati untuk menjaga kuburan dan membersihkannya. Terkadang kami ingin mengganggu, tapi kalau melakukan hal ini pada orang yang baik, maka kami akan mendapatkan hukuman dari yang maha kuasa.
Tapi geregetan juga, soalnya dia terus-menerus merinding ketika masuk ke dalam pemahkaman.
"TAMUSOOOOOOOONG!!"
"Gyaaaaaaaaaah!!" Aku berteriak lantang ketika sebuah suara menggelegar memekik di telingaku. Aku menilik, menatap setan jahil yang terbang dengan senyuman manis di wajahnya. "Kau ini belum pernah ku masuki ke dalam sumur ya?!" bentakku kesal.
"Hah? Sumur? Sumur daging atau sumur jengkol?"
"Sumur kuntilanak panggang!!" bentakku kesal.
"Kihihi, pasti judul itu terinspirasi dari muka gosongmu kan?" balasnya. Kenapa dia selalu muncul dengan wajah menyebalkan??
"Mau apa kau kemari?!" pekikku lagi.
"Aduh Tamusong, coba deh kamu nyemil es batu. Siapa tahu kepalamu bisa dingin. Saya datang dengan membawa kabar gembira untuk kita semua."
Aku menyipitkan mata, menatapnya dengan sinis. "Apa?" singkatku.
"Saya tadi berhasil menyerupai manusia dan menakuti anak itu. Tapi kasihan sih, dia sampai pingsan berkali-kali." ujarnya. Aku mengernyit. Apa lagi yang di lakukan anak ini??
"Beneran berhasil? Yang benar kamu?" tanya saya, tak mempercayai ucapannya. Ia hanya mengangguk dengan mata yang membulat lebar. "Ngapain kamu?" tanyaku ketus.
"Nah, jadi begini...."
.........
*Flashback Kuno (Author POV)
Adam menatapnya tak berkedip. Ada ruang kosong di jiwanya, pandangannya tak terfokus dan pikirannya kemana-mana. Di saat seperti ini, tiba-tiba saja seluruh ruangan menghitam, membuat siswi ini menjadi tujuan Adam.
Di dalam dirinya, tiba-tiba saja muncul sebuah jalan lurus yang membentuk seperti lorong. Ini adalah jalan dan tak ada penghambat apapun ke dirinya.
Adam mengerjap, menyadarkan diri dari lamunan. Ini terlalu menyenangkan hingga Adam lupa daratan. "Apakah ini yang di maksud Tamusong, kalau seorang manusia sedang melamun, makan akan sangat mudah untuk merasuki mereka. Jadi.. apakah saya boleh, merasuki siswi ini???" batinnya.
"Tidak!! Sekarang harus menyerupai manusia dulu dan menakuti mereka. Jadi, kalau saya berbisik di jiwanya, maukah dia mendengarkan saya???" lanjutnya.
Adam semakin mendekat, meresap ke dalam batinnya. "Hai kamu... Yang ikut ekskul." bisik Adam, membuat siswa ini mengerjap, seolah mendengar suara Kunti ini dalam lamunannya.
"Tolong, hari ini datang ke tempat ini. Bu Desti ada kok. Dia hadir, katanya.. dia ingin mengajarimu mencampurkan warna untuk menciptakan warna baru." bisiknya lagi. Siswi ini mengangguk, dan seperti menelan perkataan Adam mentah-mentah. Ruangan ini, menggema dan mengulangi perkataannya berkali-kali.
"Eh!! Kok ngelamun!!" seru teman di sebelah siswi perempuan, sambil menepuk pundaknya. Siswi ini terkejut dan seketika lorong lurus tadi lenyap entah kemana dari pandangan Adam.
"Siapa yang ngelamun? Enggak kok." dalihnya.
Jam pelajaran pun selesai, lonceng panjang berbunyi, menandakan kalau sudah waktunya untuk beristirahat di rumah masing-masing.
Kerumunan orang-orang mulai keluar dari kelas masing-masing sembari membawa tas. Tapi tidak dengan siswi yang satu ini.
Ia berdiri di ujung tangga menuju ke lantai dua, memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang dan pergi meninggalkan ruangan.
Di dalam hatinya hanya satu.. "Apa gue ke ruangan atas aja langsung ya? Itung-itung nunggu Bu Desti datang." lanjutnya.
Ia pun menuruti kata hatinya. Berjalan ke lantai atas melalui tangga. Hari sudah mulai sore, ternyata di dalam ruangan sudah berkumpul teman-temannya yang lain. Ia menunduk malu dan masuk ke dalam kelas.
Siswi ini baru bergabung ke ekskul lukis setelah sebelumnya di ekskul merajut. Tak ada seorang pun yang ia kenal di ruangan ini, jadi ia hanya menunggu dan duduk di kursi, membiarkan siswa yang lain melukis secara mandiri sambil menunggu Bu Desti.
Siswi ini pun melakukan hal serupa, hingga waktu hampir menunjukkan setengah lima sore, tapi tak ada tanda-tanda kedatangan Bu Desti ke dalam ruangan.
Siswi ini pun berinisiatif untuk bertanya pada siswa yang lain. "Ah, maaf nih. Gue baru masuk ekskul ini. Apa Bu Desti nya gak ada ya? Kok dari tadi belum datang-datang juga?" tanyanya.
Siswa ini hanya diam, dan itu sedikit membuat siswi ini merasa heran. Ia pun melakukan hal serupa pada teman yang berada di kirinya, dan ia masih mendapatkan perlakuan serupa.
Ia pun menyerah, dan ikut melukis seperti sebelumnya. Ketika jam sudah pukul lima, siswi ini pun beranjak, berpura-pura pergi ke toilet karena merasa suasana semakin mencekam, terlebih lagi para siswa di dalam ruangan tak berbicara sedikitpun. Bukankah itu hal yang aneh?
Ketika ia beranjak, tanpa sengaja ia bertemu dengan Bu Desti yang baru saja datang. Ia sedikit lega, karena kehadiran Bu Desti setidaknya membuat suasana mencekam ini menjadi lebih hangat.
"Eh, mau kemana? Maaf ya Ibu terlambat." tukas Bu Desti, dan siswi ini tersenyum senang.
"Maaf, Bu. Tadinya saya pikir Ibu gak datang. Udah mau jam lima soalnya, jadi saya mau pulang duluan. Nanya ke temen-temen yang lain, mereka semua pada diem dan sibuk ngelukis. Jadi, saya pergi sendirian aja." terangnya.
Wajah Bu Desti mendadak berubah. "Emangnya gak ada yang bilang kalau hari ini gak ada kelas ekskul Ibu? Ibu datang kesini juga mau ambil barang yang ketinggalan, loh. Terus, temen? Temen yang mana yang kamu maksud?" pertanyaan Bu Desti membuat siswi ini menoleh ke dalam.
Kedua matanya terbelalak usai menyapu ruangan, dan melihat kalau tak ada siapa-siapa di ruangan ini.
"Loh, tadi ada banyak kok, Bu. Mereka lagi melukis, rame! Kok sekarang hilang?" keluhnya panik.
Bu Desti mengernyitkan dahi. "Kamu melantur kali, ah! Nakutin Ibu aja!" keluh Bu Desti juga sambil bergidik.
"Ada kok, Bu!" siswi ini ngotot dan langsung berjalan ke dalam ruangan untuk membuktikan pada Bu Desti. Kebetulan sekali kanvas para siswa tadi masih ada di atas meja.
"Ini loh, Bu lukisanny-" perkataannya terpotong ketika melihat sebuah hasil karya lukisan yang menampakkan wajahnya dari samping.
Siswi ini terdiam, lalu berjalan cepat melihat lukisan di meja lain. Dan anehnya, semua lukisan ini melukiskan wajahnya dari segala sisi.
Tubuh siswi ini mulai gemetaran, ia ketakutan bukan main karena semua orang aneh yang berada di ruangan tadi, ternyata sedang sibuk menatapnya, bahkan tanpa ia ketahui. Dan yang menakutkannya lagi, ternyata.. mereka bukanlah manusia asli, melainkan sebuah ilusi.
"Bu.." suaranya mulai gemetaran. "Kok siswa-siswi aneh tadi, melukis wajah saya?" tanyanya sambil melirik ke arah Bu Desti.
"Maaf.. wajah yang mana ya??" tanya Bu Desti sambil menghampiri si siswi yang sendirian di dalam ruangan.
Ketika di dekati, siswi ini tanpa sengaja menoleh ke arah lantai, karena tak terdengar suara ketukan sepatu Bu Desti yang khas.
Dan ketika melihat kebawah.. kaki Bu Desti tidak menapak lantai.. dan ia tak memiliki bayangan.
Siswi ini mulai ketakutan dan kembali menengadah menatap wajah Bu Desti.
Bu Desti menyeringai sambil berkata. "Baaaaah, mari kita main dengan menyerupai wujud manusia.."
"Kihihihi."
Siswi ini terpaku, seluruh aliran darahnya seolah membeku. Air mata mengalir deras, bahkan keringatnya tak mau kalah. Kedua tungkai kakinya melemah, tubuhnya bergetar hebat, dan...
"HUAAAAAAAAAAAA!!"
Bruuuuk!!
Ia ambruk, usai berteriak dengan lantang.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung......
kangen KUN 🥺
terbang tanpa batas dan melampaui nya✈️✈️