Perjodohan adalah hal keramat yang paling tidak aku sukai. Menurutku di jaman serba modern seperti sekarang ini tidak perlu yang namanya jodoh menjodoh.
Hal yang tidak aku suka malah menghampiriku, orangtuaku menjodohkanku dengan anak sahabat mereka.
Bagaimana kisah mereka?
Novel ini merupakan kelanjutan MBA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shy. ineng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percaya
Percaya adalah kunci keharmonisan sebuah hubungan.
Kepercayaan seperti selembar kertas. Sekali saja dia teremas dan kusut, dia tidak bisa kembali sempurna lagi.
Kepercayaan itu seperti kaca. Apabila pecah, kau bisa memperbaikinya. Tapi kau masih bisa melihat retaknya.
***
"Tes DNA?" Pekik Edho merasa tak percaya apa yang di sampaikan ayah.
"Ayah hanya ingin memastikan saja. Kamu mau kan?"
Edho hanya terdiam, tertunduk lesu.
Mengapa ayah, apa segitu tak percaya nya kau pada bunda. Apakah ayah tidak merasakan ikatan batin denganku. Aku anak ayah atau bukan anak ayah apa perbedaannya,toh ayah tetap membenci bunda. Mengapa ayah menyakiti perasaan ku dengan cara begini.Batin Edho berteriak.
"Aku setuju melakukan tes DNA, tetapi dengan satu syarat." Edho menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapannya. "Apapun hasil tes DNA itu, aku dan ayah tidak memilki hubungan apa-apa mulai saat ini. Aku hanya memiliki bunda, silahkan ayah lanjutkan kehidupan ayah tanpa kami." Ucap Edho dengan tegas.
"Edho,jangan seperti ini. Ayah hanya ingin memastikan saja."
"Apa yang akan berubah setelah Edho melakukan tes DNA. Apa yang ayah ingin pastikan. Apapun hasilnya rasa dendam ayah terhadap bunda tidak akan menghilang. Edho tidak keberatan sama sekali untuk melakukan tes DNA. Ayo kita lakukan, Edho ingin membuktikan bahwa bunda tidak salah. Tetapi ingat syarat yang Edho sebutkan sebelumnya."
"Baiklah kalau kamu setuju kita melakukan tes DNA hari ini juga."
"Baiklah, Edho meninjam sebuah gunting dari pemilik kantin yang terdapat di rumah sakit QQ. Kemudian dia mengunting kuku dan sedikit rambutnya. Menetakan bagian tubuhnya tersebut ditelapak tangan Baim. "Lakukan tes DNA pada bagian tubuhku itu. Edho berharap ayah bahagia. ini pertemuan terakhir kita, edho berharap ayah jangan menemui ku lagi. Setelah berkata demikian Edho pergi tanpa menatap lagi pada Baim.
Baim terdiam,bediri mematung, mengenggam Kuku dan rambut pemberian Edho.
Mengapa hatiku begitu sakit mendengar edho tidak ingin menemuiku lagi. Ya Tuhan mengapa semua menjadi semakin rumit. Apakah benar yang aku lakukan saat ini, Batin Baim bergejolak. Dia menatap nanar edho yang berlahan menghilang.
Tiba di ruang rawat Clara, Edho menghampiri sang bunda dan mengenggam erat tangannya, sesekali mencium tangan tersebut.
Dia meneteskan air mata dalam diam dengan batin yang bergejolak memikirkan permintaan Ayahnya.
"Mengapa ayah begitu tidak percaya pada bunda. Apa yang ada dipikiran ayah sehingga memiliki pemikiran konyol mengenai tes DNA. Mengapa bertahun-tahun hidup bersama dia tidak menyadari aku putranya. Selama ini ayah memang tidak peduli padaku, Memelukku dan menciumku dia tidak pernah. Aku berbesar hati menerima semua perlakuannya itu. karena dia lelaki yang bunda cintai, lelaki yang bunda yakini sebagai ayahku. Sesakit ini menerima kenyataan bahwa dia tidak mengakuiku sebagai bagian dari darah dagingnya." Hati Edho menjerit kesakitan.
Tiba-tiba Edho merasakan gerakan di tangan bunda dan kelopak mata bunda bergerak-gerak.
"Bunda." Panggil Edho, dengan cepat menghapus air mata yang membasahi wajahnya.
Tak ada sahutan dari bunda, bunda tetap menutup matanya meskipun ada pergerakan sedikit di kelopak matanya. Dengan cepat Edho memanggil dokter melalui nurse call yang terdapat di samping ranjang Clara.
Beberapa menit kemudian datanglah Dokter lois, dia memeriksa kondisi clara sesaat. Kemudian dia tersenyum memandang Edho yang terlihat khawatir.
"Bunda mu sudah siuman, dia akan segera pulih. Jangan terlalu khawatir dia baik-baik saja. "Ungkap Dokter Lois menenangkan Edho.
"Terima kasih paman," Membungkukkan badannya di hadapan dokter lois.
"Santai saja, ayo kita keruangan kerjaku. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan." Ajak dokter lois pada Edho.
Mereka meninggalkan Clara bersama seorang perawat.
"Ada apa Paman?" Tanya edho penasaran.
"Apa yang terjadi, paman tidak pernah melihat ayahmu datang menjenguk Bundamu?
"Ayah sibuk paman."
"Oh sibuk," Dokter Angga manggut-manggut paham. "Hasil tes DNA kalian akan keluar besok. Ayahmu tadi menemui paman katanya dia akan melakukan tes DNA terhadapmu. Mungkin hal ini menyakiti perasaanmu, paman harap jangan mengatakan hal ini pada bunda mu dahulu. Tunggu dia pulih,baru kamu boleh mengatakan semua padanya.
"Aku paham maksud paman. Terima kasih paman sudah mau membantu kami."
"Jangan sungkan meminta pertolongan pada paman, Clara juga merupakan temanku. Aku pasti membantu kalian.
"Iya paman, edho kembali jagain bunda ya." Edho permisi. Edho beranjak dari tempat duduknya.
"Edho, jangan terlalu membenci ayahmu. Dia akan menyesali tindakannya itu suatu saat nanti.
"Iya paman," Edho tersenyum pada Dokter Lois.
"Mari paman," Edho menundukan kepala dan berjalan meninggalkan Ruang kerja dokter Lois.
Entah kapan aku bisa memaafkan ayah, ungkap Edho dalam hatinya.
Tiba diruang rawat Bunda, terlihat bundanya sudah duduk tersenyum manis melihat kedatangan Edho. Walaupun mukanya terlihat pucat.
"Bunda." Edho berlari kepelukan bundanya."
"Terima kasih bunda sudah kembali, jangan melakukan ini lagi pada Edho. Edho ngak bisa kehilangan bunda." Tanggis Edho dipelukan bunda clara.
"Maaf bunda sudah membuat edho khawatir." Saling melepaskan pelukan.
"Bunda perlu apa?"
Bunda clara hanya mengeleng-gelengkan kepala,kemudian dia berkata "Tetap di sisi bunda, bantu bunda melalui semua ini. Sekarang giliran bunda clara yang menanggis.
"Ada apa bun?" Tanya Edho.
"Bunda sudah melayangkan gugat cerai pada ayahmu. Bunda memutuskan pergi dari sisinya, hanya sampai di sini kemampuan bunda untuk menunggu cinta ayah."
"Edho selalu mendukung bunda apapun yang menjadi keputusan bunda."
"Terima kasih nak." Clara menatap sendu pada Edho.
Bundamu ini adalah wanita kejam dan jahat. Apa yang di alami bunda selama ini adalah balasan atas apa yang telah bunda lakukan di masalalu, batin Clara.
"Apa yang terjadi, mengapa bunda sampai keserempet mobil?"
"Entahlah semuanya terjadi begitu cepat. Bunda yang tidak berhati-hati makanya semua ini terjadi."
"Sudahlah, lupakan semuanya. Untuk saat ini bunda fokus menjalani perawatan di rumah sakit ini."
Clara tersenyum memamerkan gigi Putihnya, supaya terlihat kuat di hadapan Edho.
Tanpa mereka sadari, Baim berdiri tepat di depan pintu ruang rawat clara. Dia merasa senang mendengar suara clara sekali lagi. Dia hanya mampu menatap clara dari kejauhan, tanpa berani menemuinya.
Kau sudah sadar, clara. terima kasih sudah kembali. Maaf aku yang selalu menyakitimu. Aku memang telah di butakan oleh rasa dendamku padamu, Batin Baim.
🎵🎵Bilakah dia tahu
Apa yang telah terjadi
Semenjak hari itu
Hati ini miliknya
Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang kurasa
Mungkinkah dia jatuh cinta
Seperti apa yang kudamba
Bilakah dia mengerti
Apa yang telah terjadi
Hasratku tak tertahan
'Tuk dapatkan dirinya
Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang kurasa
Mungkinkah dia jatuh cinta
Seperti apa yang kudamba
Tuhan, yakinkah dia
'Tuk jatuh hati
Hanya untukku
Andai dia tahu
Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang kurasa
Mungkinkah dia jatuh cinta
Seperti apa yang kidamba
Bilakah dia mengerti
Apa yang telah terjadi
Hasratku tak tertahan
'Tuk dapatkan dirinya
Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang kurasa
Mungkinkah dia jatuh cinta
Seperti apa yang kudamba
Tuhan, yakinkah dia
'Tuk jatuh hati
Hanya untukku
Andai dia tahu
Andai dia tahu
(andai dia tahu by kahintna)