Li Yunru tidak pernah menyangka, bahwa cincin perak berukir naga yang menjadi hadiah saat membeli seekor kelinci akan mengubah seluruh hidupnya—menyeretnya ke dunia kuno tempat manusia dan beastmen hidup berdampingan.
Belum sempat memahami situasi, Li Yunru malah terikat sebagai pasangan hidup Raja Naga Putih wilayah utara, Bai Muzhi. Berkat cincin misterius itu, mimpi Li Yunru untuk menjadi koki akhirnya terwujud. Namun, kedatangannya ke dunia itu ternyata bukan kebetulan.
Sedikit demi sedikit, tabir asal-usulnya mulai terbuka. Dan musuh-musuh yang selama ini bersembunyi ikut bergerak. Di tengah bahaya, rahasia dan takdir yang menantinya ... mampukah Li Yunru bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Marga Li
Lan Peijun yang tidak tahan lagi memendam semuanya sendiri, akhirnya memberanikan diri untuk bertanya pada Li Yunru.
"Cantik, apakah kamu memiliki kerabat dari ras peri hutan? Aku ingat ada seorang wanita tua yang matanya mirip denganmu. Sayangnya wanita tua itu sudah meninggal ...."
Li Yunru sedikit tertegun. Jantungnya berdetak lebih cepat. Untuk sesaat, ia bahkan lupa pada ayam yang sedang diurusnya.
"Wanita tua?"
Sejak mengetahui bahwa dirinya bukan anak kandung dari orang yang membesarkannya, pertanyaan tentang orang tua kandung selalu menjadi sesuatu yang mengganjal di hatinya. Namun sampai saat ini ia tidak pernah menemukan petunjuk apa pun. Cahaya api unggun yang memantul di mata gadis itu sedikit meredup.
Bai Muzhi yang duduk di sampingnya langsung menyadari perubahan ekspresi tersebut. Meskipun Li Yunru tidak mengatakan apa-apa, ia tahu gadis itu sedang memikirkan keluarganya.
Melihat ini, Bai Muzhi menjadi tidak senang dan menatap Lan Peijun dengan peringatan. Bahkan Hei Sanfeng yang sedang sibuk memperhatikan ayam panggang ikut mengangkat kepalanya diam-diam.
"Bisakah kamu tidak mengatakan sesuatu yang tidak pasti?" tanya Bai Muzhi.
Lan Peijun mencoba untuk membela diri, "... Apa yang tidak pasti? Aku hanya ingin—" Saat melihat ekspresi Li Yunru yang tampak salah, dia langsung buru-buru berkata, "Maaf, aku tidak bermaksud lain. Aku hanya merasa kamu tampak familier."
Kali ini Lan Peijun tidak berani untuk menggodanya lagi. Tampaknya identitas gadis manusia ini sedikit rumit, pikirnya.
Li Yunru menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa. Aku hanya teringat sesuatu. Menurut Nenek Caolan, nenekku memang berasal dari ras peri hutan. Aku hanya tidak tahu siapa ayah dan ibu kandungku."
Firasat Lan Peijun menjadi lebih kuat. "Kalau memang ada hubungan dengan ras peri hutan ..." Ia ragu sejenak. "Bolehkah aku tahu nama nenekmu?"
"Hmm ..." Li Yunru terlihat berpikir sejenak. "Nama nenekku Li Yulan."
Ini adalah nama yang disebutkan oleh orang tua yang membesarkannya di dunia modern. Dan tampaknya mereka tidak menyembunyikan nama neneknya sama sekali. Bahkan Nenek Caolan juga menyebut nama yang sama.
Hanya saja dia tidak tahu siapa nama ibu kandungnya. Sementara gadis kecil ras peri hutan yang dijodohkan dengan Bai Muzhi bermarga Yun. Jadi harusnya tidak ada hubungannya dengan ras peri hutan bermarga Li.
"Li Yulan?" Lan Peijun terlihat berpikir keras. "Juga bermarga Li? Tampaknya kamu dan wanita tua itu memang ada hubungannya."
"Apakah wanita tua yang mendatangi ayahmu juga bermarga Li?"
Lan Peijun mengangguk kecil. "Ya. Aku sempat mendengar ayahku memanggilnya Nyonya Tua Li. Jangan khawatir, Cantik. Aku akan kembali nanti dan menanyakan masalah ini pada ayahku. Ayahku harusnya tahu lebih banyak tentang ras peri hutan."
Mendengar ini, Bai Muzhi mendengus tidak senang. "Aku sendiri tahu di mana ras peri hutan tinggal. Tidak perlu bagimu untuk menanyakannya pada ayahmu. Aku saja sudah cukup datang ke sana dan mencari tahu," jelasnya.
Nada suaranya terdengar datar, tetapi semua orang yang mengenalnya tahu bahwa ia sedang kesal. Tatapannya bahkan langsung beralih pada Lan Peijun dengan ekspresi dingin.
Raut wajah Lan Peijun sedikit jelek. "Jika kamu tahu, mengapa tidak mengatakannya sejak awal dan membantu pasanganmu sendiri?"
Meski dia tidak tahu cerita lebih jauh tentang pengalaman hidup Li Yunru, tampaknya gadis itu sendiri tidak tahu siapa orang tua kandungnya.
Li Yunru menatap Bai Muzhi dengan heran. Ternyata Bai Muzhi tahu tentang keberadaan ras peri hutan saat ini.
Bai Muzhi mengerutkan kening dan sedikit tidak tenang di hatinya saat melihat tatapan Li Yunru. Ia khawatir disalahpahami dan akhirnya menjelaskan.
"Bukannya aku tidak mau membantu sama sekali. Hanya saja aku sendiri harus berhati-hati saat datang ke sana. Belum lagi, penting untuk mendapatkan izin dari Raja Peri Hutan."
Nada suaranya terdengar tenang, tetapi ada keseriusan yang jarang muncul di wajahnya. Jelas bahwa tempat itu bukan wilayah yang bisa didatanginya sesuka hati. Raja Peri Hutan tidaklah lemah seperti penguasa wilayah lainnya. Intinya, pihak lain itu auranya lebih kuat dan aneh.
Hei Sanfeng juga tahu sedikit tentang keberadaan ras peri hutan. "Ras peri hutan tinggal di benua tak bernama untuk saat ini, bukan? Jika ingin pergi ke sana, kita harus menyeberangi sungai, gunung dan laut," katanya.
"Benua tak bernama?" Li Yunru penasaran.
Karena topik ini muncul, Bai Muzhi akhirnya hanya bisa berkata lebih lanjut, "Benua tak bernama berada berdekatan dengan benua Changyu."
Bahkan Kaisar Jin sekalipun tidak akan memasuki wilayah mereka tanpa izin resmi dari Raja Peri Hutan. Bukan karena takut, melainkan karena kedua belah pihak memiliki perjanjian yang harus dipatuhi.
Li Yunru sama sekali tidak tahu tentang semua itu. Dia hanya tahu bahwa saat ini dirinya berada di Benua Changyu yang dipimpin oleh kaisar naga emas, Kekaisaran Chaoming—Jin Dahao.
Ada empat wilayah besar yang dijaga oleh empat raja yang berbeda. Dan masing-masing memiliki kemampuan yang cukup untuk mengguncang beberapa kelompok kekuatan besar.
Keempat raja turun temurun itu juga memiliki kekuatan dan akarnya tersendiri. Mereka menjaga keseimbangan wilayah masing-masing sekaligus menjadi pilar Kekaisaran Chaoming selama bertahun-tahun.
Setelah mendengar penjelasan singkat pria itu sebelumnya, Li Yunru merasa Kaisar Jin sangat murah hati.
"Kaisar benar-benar mengizinkan mereka meninggalkan Benua Changyu?" tanyanya.
Bai Muzhi mengangguk, "Ya, ini semua demi keamanan dan kelangsungan hidup ras peri hutan yang terus menerus mendapatkan serangan."
Lan Peijun mencoba menebak niat Kaisar Jin. "Tampaknya Kaisar Jin tahu bahwa musuh bersembunyi di sekitarnya dan memilih untuk mundur selangkah."
Bai Muzhi menanggapi dengan enteng. "Seharusnya."
Topik itu akhirnya terhenti dan Li Yunru tidak berniat mencari tahu lebih lanjut. Masih ada banyak waktu untuk mengetahuinya di masa depan.
Bai Muzhi segera membantu Li Yunru menusuk dua ekor ayam dengan tusukan yang kokoh dan meletakkannya di atas bara. Ayam terus dibolak-balik agar matang merata dan tidak gosong. Sesekali, Li Yunru mengoleskan saus bumbu marinasi ke permukaan daging ayam.
Aroma harum mulai tercium, diiringi dengan desisan minyak dari kulit berlemak dan sisa air yang keluar dari daging ayam. Berpadu dengan bumbu yang mulai meresap, berhasil membuat perut mereka keroncongan.
Lan Peijun memuji keahlian Li Yunru saat melihat ayam panggang yang masih setengah matang. Matanya bahkan hampir menempel pada ayam yang dipanggang.
"Hisshh ... Ini pertama kali aku melihat ayam panggang yang membuat sangat lapar. Keahlian koki spiritual benar-benar luar biasa," katanya.
Elang hitam jelmaan Hei Sanfeng menatap ayam panggang itu sambil mendecak. "Tentu saja. Tidak heran semua orang mati-matian mencari ras peri hutan selama ini. Sayang sekali mereka telah meninggalkan benua ini. "
Lan Peijun mengangguk setuju. "Memang sangat disayangkan."
Hei Sanfeng tiba-tiba mendengus kesal. "Humph! Salahkan musuh-musuh itu karena mengincar mereka tanpa alasan." Lalu menatap Lan Peijun. "Tapi bukankah kamu memiliki darah ras peri hutan di tubuhmu dari garis ibu?"
Lan Peijun menggelengkan kepala. Ia menatap api unggun selama beberapa saat. Meski kelihatan tenang, tatapannya sempat bergetar sesaat. Tapi kemudian, senyum tipis muncul di wajahnya.
"Meski demikian, aku bahkan tidak tahu wajah ibuku. Ayahku pernah bercerita tentangnya, tapi hanya sedikit. Tapi ibuku juga diincar musuh saat itu, hingga akhirnya dia meninggalkan suku merak biru. Kadang aku penasaran, seperti apa rasanya memiliki seorang ibu yang membesarkan anaknya sejak lahir," jelasnya sedikit melankolis.
Tanpa diduga, Li Yunru menatapnya dengan rasa kasihan. "Tidakkah kamu sangat sedih karena ibumu tidak ada di sisimu?"
Lan Peijun lagi-lagi menggelengkan kepala. "Tidak terlalu. Mungkin karena aku tidak pernah melihat dan mendengar lebih banyak tentangnya sejak kecil."
Lan Peijun tidak keberatan menceritakan sedikit tentang situasi keluarganya. Tapi setelah pembicaraan yang panjang, ia memikirkan kemungkinan besar tentang identitas wanita tua Li dan Li Yunru. Serta identitas ibunya sendiri.
"Cantik, Bagaimana kalau ternyata kita berdua masih memiliki hubungan darah? Hubungan sepupu misalnya ...."
ayo Yunru botakin aja Lan Peijun🤣🤣
Yunru hrs tetap sm Tuan Naga satu²nya.. ga boleh ada yg lain.. apalagi Merak bau.. bikin botak aj itu Merak...
Yunru kamu udah mulai berani ya minta cium dulu 🤣/Facepalm//Facepalm/
Klo kata Yunru, Narsistik sekali kelinci gendut ini 😒😒😒
Liatin aj noh pantatnya si Ruu yg montok dan seksih