Asep seorang pemuda biasa saja, yang selalu tersisih dari kancah dunia percintaan, ditolak ciwi-ciwi karena selalu tongpes, bokek dan misquin.
Tiba-tiba suatu hari Asep ketiban Durian runtuh sepohon-pohonnya. Walhasil Asep dalam sekejap jadi OKB.
Yuk kita intip, apa yang membuat Asep bisa memperbaiki nasibnya... Hihihi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Itu Bukan SaNi
Pagi menjelang, kokok ayam jantan seolah alarm dari semesta untuk membangunkan para mahluk yang tertidur lelap untuk menyambut datangnya sang mentari dan hari baru.
Di dapur rumah Bu Iswanto sudah terlihat sibuk.
Perempuan yang merupakan Ibu dari Sobir dan Kais itu sengaja bangun lebih awal agar bisa memasak untuk sarapan dirumahnya dan juga untuk sarapan Sobir yang kini berada di tempat Asep.
Kais yang dibangunkan sejak tadi, akhirnya tampak muncul di pintu dapur melongok Ibunya yang sudah mulai mengupas bawang.
"Bukannya Bang Sobir bilang pesannya untuk makan siang Bu?"
Tanya Kais.
Ibu Iswanto mengangguk.
"Iya, yang nanti siang kan bayar, ini Ibu ingin ngasih, kamu tahu bukan, Ibu ini lega sekali Sobir tidak usah ngojek lagi. Setidaknya kerjaannya sudah tidak di jalan raya lagi, yang membuat Ibu harus khawatir sepanjang hari, terutama jika dia belum pulang begitu hari mulai gelap apalagi hujan deras."
Kata Ibu Iswanto.
"Tapi hari ini Ela kayaknya ada kelas pagi, Kais nggak ajak Ela kalau nganter pagi-pagi."
Kata Kais.
"Ya sama Depy."
Ujar Bu Iswanto pula.
Kais mantuk-mantuk.
"Iya deh, nanti chat Depy, semoga saja dia mau, enggak enak ngajak anak orang kaya nganter beginian, kalau Ela kan emang dasarnya santai."
Kais mendekati Ibunya dan mulai membantu mengupas bawang.
"Kamu rendam tahu saja itu."
Kata Ibu.
Kais beralih pada bungkusan-bungkusan tahu yang ada di dapur.
"Depy juga anaknya kan tidak sombong."
Kata Ibu.
"Depy sih iya, kan Depy mah niru Ibunya, tapi Bapaknya itu lho Bu, tahu kan Ibu, meskipun dia sudah bukan lurah lagi, tapi gayanya masih gimanalah."
Kata Kais.
Bu Iswanto menghela nafas.
"Biar sajalah, manusia memang kebanyakan kan begitu, gila hormat, apalagi yang merasa sudah memiliki pangkat, jabatan, nama besar."
Kata Bu Iswanto bijak.
Kais mantuk-mantuk.
"Apa yang terlihat buruk pada manusia lain juga bisa untuk cermin dan pengingat diri, supaya kita tidak sampai meniru Kais."
"Iya Bu."
"Kita sebel lihat orang sombong, oh berarti kita juga nanti kalau sukses, jadi orang dan lain-lain jangan jadi sombong. Kita tidak suka dengan orang pelit, ya berarti kita jangan seperti dia yang pelit, belajar berbagi saja meskipun belum kaya, karena menjadi orang yang mudah memberi itu juga butuh terbiasa."
Ibu Iswanto menasehati sang anak sambil tetap sibuk menyiapkan bahan masakan untuk sarapan mereka.
Kais mengangguk mengiyakan nasehat sang Ibu.
"Ah coba lihat di kulkas masih ada ikan tidak Kais, Ibu sepertinya masih punya ikan."
Kata Ibu.
"Lah, pagi-pagi masa sarapan ikan Bu."
"Ohh iya juga, ya sudah, ambil telur saja."
Kata Ibu akhirnya.
Kais menurut, ia kemudian berjalan menuju kulkas untuk mengambil telur.
"Ambil lima Kais, Ibu mau buat dadar telur saja."
"Iya Bu."
Kais pun mengambil lima butir telur dari kulkas.
**------------**
Sementara itu, di rumah Emaknya Asep, tampak Emak baru selesai mandi pagi saat pagar depan rumah terdengar di ketok-ketok yang diiringi suara orang memanggil.
"Bu Lisa... Bu Lisaaa..."
Emak yang mendengar suara Bu Resti yang memanggil akhirnya tergopoh-gopoh keluar rumah.
"Ada apa Bu Resti?"
Tanya Emak sambil melangkah mendekati pagar rumah untuk membuka gembok.
"Tolong ini Bu, si Tika mau sekolah seragam barunya kepanjangan roknya."
Kata Bu Resti.
"Lho tidak dicoba dari kemarin-kemarin Bu Res?"
Emak geleng-geleng kepala.
"Hehe iya Bu Lisa, maklum, saya sedang sibuk dengan Bu Putri dan Bu Arinda kan, jadi ya sampai lupa kalau seragam Tika belum saya bawa ke sini."
Kata Bu Resti.
Emaknya Asep membuka pagar rumah, lalu mempersilahkan Bu Resti masuk.
"Ini nih kenapa saya tidak suka kalau seragam dibagikan dalam kondisi sudah jadi, malah akhirnya dua kali kerjaan kan Bu Lisa?"
Kata Bu Resti sambil mengomel.
Emaknya Asep jadi tersenyum mendengar omelan Bu Resti.
"Tapi bukannya Bu Resti dan Bu Putri serta Bu Arinda juga rencananya nanti kalau sudah bisa buka Kelompok Bermain seragamnya akan dibagikan dalam bentuk siap pakai?"
Emak Asep seolah mengingatkan Bu Resti.
Mendengar pertanyaan balik yang macam tamparan itu membuat Bu Resti jadi tersipu malu.
Ah iya juga, hihihi...
"Sudah sini Bu Res, berapa centi yang mau di potong?"
Tanya Emaknya Asep.
Bu Resti pun memberikan tanda sekitar dua ruas jari, Emaknya Asep langsung membuat tanda dengan kapur jahit warna biru.
Setelah itu ia mulai menggaris untuk kemudian ia potong dan akan ia jahit ulang.
"Bu Lisa, saya mau nyiapin bekal untuk Tika, nanti kalau sudah jadi telfon ya, nanti Tika saya suruh ambil."
Kata Bu Resti.
Emaknya Asep mengangguk.
Bu Resti tergopoh-gopoh keluar dari rumah Emaknya Asep, di depan ia melihat Bu Mucharomah lewat memakai motor.
"Mau ke mana Bu?"
Sapa Bu Resti sambil menutup kembali pagar rumah Emaknya Asep begitu sudah keluar.
"Mau ke tempat Bu Retno Guntara, saya mau pesan nasi kotak buat acara pengajian besok sore."
Kata Bu Mucharomah menjawab pertanyaan Bu Resti sambil menghentikan motornya sebentar.
"Ooh iya deh Bu, pagi-pagi amat Bu pesannya, apa tidak pakai hp saja? Belum tentu Bu Retno sudah bangun, kan warungnya tutupnya saja jam sebelas malam."
Bu Resti kepo abis.
Bu Mucharomah tersenyum.
"Justeru karena tadi habis chat, makanya ini saya mau langsung ketemu karena Bu Retno bilang mending ketemu sekarang saja karena sebentar lagi dia mau ke tempat yang jualan ayam langganannya."
"Ooh langganan Bu Retno mah saya tahu, di kampung Rukun Jengkol, dekat rumah teman saya itu, Bu Iswanto."
Ujar Bu Resti.
"Ya kalau soal itu sih terserah Bu Retno mau ambil ayam di mana, ini saya mau antar uang depe."
"Iya deh Bu Mucharomah, silahkan di lanjutkan perjalanannya, saya juga mau nyiapin sarapan untuk Tika."
Kata Bu Resti.
"Iya Bu Resti, saya duluan ya. Oh iya, soal rencana pendirian Kelompok Bermain, besok sore selepas pengajian kita musyawarahkan lagi saja."
Ujar Bu Mucharomah pula.
"Siap Bu RT, pokoknya bereslah."
Bu Resti mengacungkan jempolnya.
Bu Mucharomah pun melajukan motornya lagi dan berlalu, sedangkan Bu Resti bersiap melangkah menuju rumahnya manakala Emaknya Asep memanggil.
"Bu Res, ini roknya dibawa saja sekalian."
Kata Emak.
"Lho sudah jadi Bu?"
Bu Resti takjub.
Emaknya Asep berjalan menuju pagar membawa rok Tika anaknya Bu Resti.
"Cuma jahit begini lima menit juga selesai."
Kata Emak.
"Wah, Emak memang teope."
Puji Bu Resti.
"Berapa Bu?"
Tanya Bu Resti.
"Sudah tidak usah, bawa saja."
Kata Emak.
"Duh jangan begitu Bu Lisa, masa pagi-pagi gratisan."
Bu Resti tidak enak.
"Tidak apa-apa, bawa saja."
Kata Emak sambil memberikan rok milik Tika pada Bu Resti.
"Duh maaf ya Bu Lisa, sudah gangguin eh digratisi juga."
"Ah menggangu apa, tidak juga."
Kata Emak.
Bu Resti akhirnya pamit, saat pamit Bu Resti tanpa sengaja melihat ke arah pintu bangunan rumah Emak.
"Lagi ada keponakan ya Bu Lisa?"
Tanya Bu Resti.
Emak mengerutkan kening.
"Keponakan apa Bu Res?"
Tanya Emak.
"Itu cewek cantik sekali, itu SaNi bukan? Yang anaknya Bibiknya Asep?"
Bu Resti menunjuk ke pintu dan gadis yang dilihat Bu Resti masuk ke dalam.
Emak yang ditanya malah jadi merinding.
"SaNi? Cewek cantik? Tidak ada siapa-siapa kok Bu di rumah, dari kemarin saya sendirian."
Ujar Emak.
**-------------**
Bismillahirrahmanirrahim
izin maraton thor . . . .
Aq mampir nih...
sukses buat penulisnya karya yg bagus