NovelToon NovelToon
Love My Enemy’S Daughter

Love My Enemy’S Daughter

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Patahhati / Balas Dendam / Mafia / Tamat
Popularitas:405.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Pansy Miracle

Alessandro Romano, harus menelan pil pahit bahwa sahabatnya sejak kecil, Raymond Costa, ditemukan tidur bersama dengan kekasihnya.

Sakit hati membuat persahabatan mereka yang sudah terjalin sejak lama akhirnya putus. Hingga bertahun tahun kemudian, Al begitu ia disapa, menemukan seorang gadis yang membuat hatinya bergetar, setelah sekian lama hanya diisi dengan kekosongan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pansy Miracle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#21

Bianca mengerjapkan matanya. Ia menangkap warna putih yang berada di sekelilingnya dan kini matanya berhenti ketika melihat seseorang di samping brankarnya.

“Dad,” panggil Bianca.

“Bi …”

“Dad, aku …”

“Istirahatlah, jangan terlalu banyak bicara dulu.”

Raymond memanggil seorang dokter untuk memeriksa keadaan Bianca, “demannya sudah turun. Ia sudah tidak apa-apa, hanya perlu melanjutkan obat yang diresepkan saja. Jika tidak ada keluhan lagi, besok pagi sudah boleh pulang.”

“Terima kasih, Dok,” kata Raymond.

“Dad, apa kita tidak bisa pulang sekarang?” Bianca sangat membenci rumah sakit. Setiap kali berada di sini, ia akan kembali teringat pada Mommynya. Raymond yang melihat perubahan pada raut wajah Bianca pun mengetahui apa yang kini tengah dirasakan oleh putrinya itu.

“Kita akan pulang besok pagi, sayang. Dad akan menemanimu di sini, tenanglah. Jika kamu ingin cepat pulang, sebaiknya kamu makan lalu minum obatmu.”

Bianca akhirnya mengiyakan semua keputusan Dad Raymond, “Baik, Dad.”

Sesuai rencana, Bianca pulang keesokan paginya. Bagian inti tubuhnya sudah tak terasa sakit dan nyeri. Raymond menemani Bianca masuk ke dalam kamar tidurnya. Mata Bianca langsung melihat ke arah nakas, tempat di mana ia meletakan berkas-berkas Perusahaan Costa.

“Di mana? Di mana?” Tanpa memikirkan keadaan dirinya, Bianca mencarinya.

“Dad, apa ada yang masuk ke kamarku?” tanya Bianca.

“Apa yang kamu cari?” tanya Raymond.

“A-aku mencari ….”

“Surat kepemilikan Perusahaan Costa?”

“Dari mana Dad tahu? Apa Daddy yang mengambilnya? Daddy sudah melihatnya?” Wajah Bianca kini penuh tanda tanya.

“Daddy sudah mengembalikannya.”

“Mengembalikan? Apa Daddy memberikannya lagi pada pria itu?” Bianca tak ingin lagi menyebut nama Alessandro.

“Dia adalah pemiliknya sekarang, bukan kita.”

“T-tapi aku sudah mendapatkannya kembali, Dad. Aku sudah mendapatkan Perusahaan Costa kembali. Apa Daddy tidak senang? Aku berhasil mendapatkannya,” Bianca mengeluarkan air matanya.

“Daddy tak menginginkannya lagi. Daddy tak akan pernah menukarkan kehormatan putri Daddy dengan apapun. Kamu mengerti, Bi?”

“J-jadi Dad tahu semuanya? K-kalau a-aku sudah ….,” Bianca jatuh terduduk di lantai kamar tidurnya. Ia menutup wajahnya.

Raymond mendekatinya, kemudian memeluknya, “Apa kamu kira Perusahaan Costa lebih penting dari dirimu? Apa kamu kira Daddy akan menukar Perusahaan Costa dengan dirimu? Tidak, tidak akan pernah, Bi. Kamu adalah milik Dad yang paling berharga, tak akan pernah ada yang sebanding denganmu.”

“Dad …”

“Jangan menangis. Maafkan Daddy. Ini kesalahan Dad karena tidak bisa menjaga perusahaan dengan benar.”

“Dad … bolehkah Bian berkata jujur? Tidak apa setelahnya jika Dad ingin marah, Bian akan menerimanya.”

“Katakanlah. Bukankah Dad juga tak pernah mengajarkan kamu untuk berbohong.”

“Aku yang salah. Aku yang mengubah angka-angka pada tabel laporan yang disiapkan oleh Bu Bertha dan Kak Gio.”

“Kenapa kamu melakukannya?” tanya Raymond.

“Dad … sebenarnya belakangan ini aku jarang ke tempat latihan, tapi aku pergi ke apartemen tempat di mana pria itu tinggal. Dia mengajariku membaca tabel, menganalisa, hingga merubah jika tak sesuai dengan yang seharusnya, supaya perusahaan akan mendapatkan keuntungan yang besar. Dia selalu memujiku, dan akhirnya aku mempraktekkannya di Perusahaan Costa. Aku merubah angka-angka itu agar Perusahaan mendapatkan keuntungan lebih besar, t-tapi ternyata …”

“Aku yang salah, Dad. Hilangnya Perusahaan Costa semua karena aku. Dad boleh menghukumku, apa saja, aku akan menerimanya,” Bianca menatap ke arah Raymond dengan sendu.

Raymond menghela nafasnya, “semua sudah terjadi. ingatlah bahwa tak ada yang lebih penting di hidup Daddy selain dirimu. Namun, Dad akan tetap menghukummu.”

“Katakan Dad. Aku akan menjalani hukumanku, apapun itu,” Bianca memegang tangan Raymond.

“Tetaplah menjadi putri Daddy, sampai kapanpun. Jangan pernah melakukan hal buruk pada dirimu sendiri, sayangilah dirimu. Hanya itu permintaan Daddy sayang,” Bianca tak kuasa menahan air matanya. Betapa beruntung dirinya memiliki Raymond sebagai Daddynya. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan selalu ada untuk Dad Raymond dan tak akan melakukan hal-hal bodoh yang akan melukai hati cinta pertamanya itu lagi.

“Aku menyayangi Daddy.”

“Dad juga sangat menyayangimu, sayang,” Raymong mengecup pucuk kepala Bianca dan memeluknya erat.

**

Alessandro membuang semua berkas-berkas Perusahaan Costa ke lantai.

“Al, apa yang kamu lakukan?” teriak Javer. Javer langsung merapikan kembali semua berkas-berkas yang berserakan.

“Untuk apa kamu angkat, biarkan saja! Kalau perlu, kamu buang semua itu,” ungkap Alessandro kesal.

“Bukankah kamu yang menginginkan semua ini, Al? Sekarang semua sudah berada di tanganmu, seharusnya kamu senang karena rencanamu berhasil,” kata Javer masih sambil mengangkat semua kertas di atas lantai.

“Ia tidak hancur, ia tidak merasakan seperti apa yang kurasakan.”

“Al … kamu tidak akan tahu seseorang hancur atau tidak karena kamu tidak bersamanya selama 24 jam. Bisa saja ia bersembunyi, sendirian, membuka lukanya, kehancurannya, tanpa seorang pun yang tahu,” Javer berusaha menjelaskan dengan bijak.

“Tidak bisa! Aku bahkan sudah menghancurkan putrinya, seharusnya ia terpuruk. Kuambil semuanya, perusahaannya, juga kehormatan putrinya. Bukankah sudah seharusnya ia hancur?” tanya Alessandro sambil menyugar rambutnya.

“Apa maksudmu, Al? Apa kamu telah?”

“Ya, secara tidak langsung aku memperkosa putrinya, Bianca Costa.”

“Kamu gila, Al!” teriak Javer, “Kenapa kamu menyakiti gadis itu? Kamu sudah menggunakannya sebagai alat. Lalu mengapa kamu juga melakukan itu padanya? Ia sama sekali tidak tahu menahu mengenai dendammu.”

“Bukan salahku. Dia mengatakan akan melakukan apapun untuk menebus Perusahaan Costa.”

“Tapi kenapa kamu meminta tubuhnya? Kamu benar-benar gila. Bagaimana jika kedua orang tuamu tahu akan hal ini?”

“Mereka tidak akan tahu jika tidak ada yang mengatakannya. Jika mereka sampai tahu, berarti itu semua keluar dari mulutmu,” kata Alessandro menatap tajam ke arah Javer.

“Sebaiknya aku pergi dari sini. Aku mendukungmu dalam hal apapun, tapi tidak kali ini, Al. Perbuatanmu sungguh keterlaluan,” Javer akhirnya meninggalkan kediaman Romano sambil membawa semua surat-surat Perusahaan Costa.

**

Suara musik bersahut-sahutan, dentuman memekakkan telinga. Lampu warna-warni menghiasi ruangan dan menyorot berputar ke segala arah. Tubuh-tubuh pria dan wanita bergoyang ke sana ke mari mengikuti alunan musik.

Sementara seorang pria kini tengah duduk di depan meja bartender. Ia sudah menghabiskan beberapa gelas minuman keras dengan kadar alkohol yang cukup tinggi. Wajahnya sudah memerah dan tampak kesadarannya mulai menghilang.

Seorang wanita yang sedari tadi memperhatikan, kini berjalan mendekat. Ia akan menggunakan kesempatan ini untuk meraih kembali pria nya.

“Al …,” wanita itu menempelkan tubuhnya pada Alessandro sambil berbisik manja.

“Pergilah!” Alessandro mendorongnya menjauh, kemudian ia kembali meminum minumannya sambil meracau tidak jelas.

“Berikan aku 1 gelas lagi,” pinta Alessandro pada bartender. Bartender itu langsung menyiapkannya karena Alessandro sudah membayar semuanya di muka, bahkan lebih.

“Al, kamu sudah mabuk. Bagaimana kalau kita bersenang-senang saja?”

“Bersenang-senang? Apa kamu bisa menyenangkanku?” racau Alessandro.

“Tentu saja aku bisa, bahkan mungkin kamu akan merasa lebih dari senang,” ungkap wanita itu.

Alessandro meneguk gelas terakhirnya sebelum akhirnya ia menerima ajakan wanita itu. Wajahnya sudah memanas dan pandangannya sudah mulai sayup. Ia hanya bisa mendengar suara-suara tanpa mengerti apa yang sedang dikatakan, ia tidak mengerti.

🌹🌹🌹

1
Hartini Donk
Buruk
Hartini Donk
Kecewa
Ran Aulia
Luar biasa
3sna
idupnya aur enak bener gk dpt hukumn pdhl udh nyulik anaknya rey mukul pala jg,kok nopelny terkesan gmn gitu yaa,,mslh ada tp gk diselesaikan ,gk kcw
3sna
trus itu apà kbr prushn dad ray
3sna
al tinggl nyelidikin aur kan punya asisten knp bgtu doang cctp bnyk det ada tinggl nyuruh ngikutin kegiatan aur2an
3sna
sekelas ray ,anaknya di culik dipukul masuk rs,penjahatnya mash berkeliaran,,lupa sm crtnya thor
3sna
ini nopel gimn yak,udh tau dia nyulik anaknya smpe kyk gityu gk dilaporin polisi gk ditindK lanjutin,,ckckck
3sna
trus aurora gk ketangkep gityu
3sna
trjwb sudh umur mrk kira2 34an
3sna
al rmj 17th trus 11th kemudian ray udh pny anak lonct lg 7th,anak ray umur 17,,umur brp mereka???
3sna
al umur 17 lha itu temnnya umur brp udh pake jas
Euis As
Luar biasa
Khairul Azam
aku paling gak suka cerita klo ada lupa ingatan nya
Lia Marliana
hot dad Ray sama aku aja ya Thor 😁
R'vina
Luar biasa
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Pansy: Thank you Kak 🙏🏻🌹
total 1 replies
Sari
awas uncle al bucin ma bocah🤭
herlin meigo
keren
Pansy: Thank you Kak 🙏🏻🌹🥰
total 1 replies
Lenni Namora
Luar biasa
Pansy: Thank you Kak 🌹🙏🏻🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!