NovelToon NovelToon
Mother

Mother

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Poligami / Janda / Pelakor / Tamat
Popularitas:3.8M
Nilai: 4.6
Nama Author: ROZE

Rei, seorang remaja perempuan yang harus menjalani kerasnya hidup bersama neneknya. Saat merasakan kesulitan yang terus menghimpit, seorang pria tua menghampirinya, dan menawarkan pertolongan.

"Dengan satu syarat, jadilah istri kedua cucuku dan berikan dia keturunan, setelah itu berpisahlah!"

Apa yang akan dipilih oleh Rei? Bisakah dia menemukan kebahagiaannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROZE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21 Majikan

Dokter mulai menutup tubuh tua itu dengan kain putih.

"Jangan, jangan tutupi nenekku seperti itu, nanti nenekku sulit bernafas!"

"Rei, jangan seperti ini!"

Marva menarik pundak Rei, berusaha melepaskan tangan perempuan itu dari tubuh neneknya.

"Jangan sentuh aku, aku bilang jangan sentuh aku!"

Rei mendorong Marva, meski sia-sia, karena tenaganya tidak sekuat itu.

"Nek, bangunlah. Aku mohon bangun, bangunnn ...!"

Rei mengguncang-guncangkan tubuh tua itu.

Agam yang mendengar keributan di ruangan yang biasanya dia kunjungi. Dia melihat Rei yang menangis histeris dengan memeluk tubuh yang hampir sepenuhnya tertutup kain putih.

Tanpa pikir panjang, dia mendekati Rei, berusaha menenangkannya.

"Rei, tenanglah," ucapnya lembut.

Rei menoleh, melihat dokter yang suka menemaninya saat dia berada di rumah sakit ini.

"Dok ... Dokter, tolong banguni nenekku. Jangan biarkan dia tidur terus. Aku mohon, Dok."

Dia menggenggam tangan dokter Agam.

"Nenek sekarang sudah tenang, Rei."

"Enggak, Dok. Katakan pada nenek aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku tahu aku salah. Nenek marah padaku karena aku medapatkan uang tidak dengan cara tidak baik. Aku janji, aku janji akan mencari uang lain. Jualan kue, jadi pembantu, pelayan kafe ... atau yang lainnya."

Agam sungguh tidak tega melihat gadis di hadapannya itu, meski dia juga tidak paham apa maksudnya dengan uang yang tidak baik. Apa dia menjual dirinya?

"Rei, sudah jangan seperti ini!"

"Sudah aku bilang, jangan sentuh aku, brengsek!" bentak Rei pada Marva.

Marva tertegun atas perkataan Rei. Tadi dia mengatakan menyesal akan apa yang sudah dia lakukan, berarti dia menyesali pernikahan dan dua mala yang mereka lalui bersama, kan? Lalu kini Rei mengatainya brengsek.

Apakah Marva laki-laki brengsek? Ingin marah, tapi dia juga sadar keadaan Rei yang saat ini sedang terguncang akibat kepergian neneknya.

"Ya Allah, aku mohon ampun pada-Mu. Aku tahu aku salah. Aku sungguh-sungguh memohon ampun pada-Mu. Aku menyesal, aku sungguh-sungguh menyesal."

Rei terkulai lemah, dia duduk bersimpuh di lantai.

"Dok, tolong sembuhkan nenekku. Ambil saja ginjalku, bahkan nyawaku akan aku berikan untuknya. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Hiks ... hiks ...."

Kini dia memeluk kaki Agam dengan erat. Wajahnya pucat dan basah, keringat dan air mata menjadi satu. Bibirnya bergetar dan rambutnya pun berantakan.

"Tolong, Dok. Aki sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Bagaimana aku menjalani hidupku nanti?"

Tangisan lirih itu masih terdengar. Agam ikut duduk, membisikkan sesuatu di telinga Rei.

"Kamu sayang sama nenek kamu, kan?"

Rei mengangguk, tentu saja dia sangat sayang pada neneknya, apapun akan dia lakukan untuk neneknya itu.

"Kalau begitu, kamu harus menjalani hidupmu. Jangan menangis lagi, doakan nenek agar dia tidak bersedih. Biarkan nenek pergi dengan tenang, dia tidak akan pernah merasakan sakit lagi."

Rei mengankat wajahnya, melihat dokter Agam yang memberikan dukungan untuk gadis itu. Agam mengusap lembut pundak Rei, dan itu dilihat oleh Marva.

Seharusnya sebagai suami, dialah yang menghibur istrinya itu. Tapi jangankan menghibur, mendekat saja dia langsung didorong dan ditolak oleh Rei. Dia merasa Rei memberikan tembok pada dirinya.

Rei menerima pernikahan ini karena neneknya, bukan karena cinta. Kini yang menjadi alasan itu telah pergi, tidak ada lagi alasan untuk mereka mendekarkan diri selain kehadiran anak yang masih dalam tanda tanya apakah akan ada atau tidak.

Tubuh neneknya kini tertutup sepenuhnya dengan kain putih, dan mulai dibawa ke kamar mayat.

"Jangan, jangan bawa nenekku!"

Rei kembali menjerit.

"Biarkan nenekmu pergi dengan tenang, apa kamu mau nenekmu terus merasakan sakit?"

Rei diam, kakinya ikut melangkah di belakang brankar itu. Tatapan matanya kosong. Dia melewati begitu saja Marva, Viola, Frans, Carles, Delia, dan Bram. Bahkan dia menabrak pundak Frans saat melewati pria tua itu.

Menyesal

Ya, Rei sangat menyesal. Dia menyesal memilih jalan ini. Jika saja dia tahu bahwa neneknya akan pergi sebelum sempat operasi, tentu dia tidak akan menanda tangani kontrak itu.

Dirinya sudah terlanjur tidak perawan. Nasi sudah menjadi bubur. Neneknya mungkin tidak merestui apa yang dia lakukan. Neneknya tidak ingin sembuh dengan uang itu.

Bodoh

Bodoh

Bodoh

Seharusnya dia berpikir panjang. Namun keadaan saat itu sangat terdesak. Bahkan untuk perawatan satu malam di ruang ICU saja uangnya saat itu kurang. Dia hanya tidak ingin neneknya ditolak untuk mendapatkan perawatan.

Apa Tuhan sedang menghukumnya?

Rei berjalan seperti orang yang kehilangan arah.

Mereka mengikuti Rei dari belakang, kecuali dokter Agam yang berjalan di sisinya. Marva melihat mereka, berkata dalam hati seharusnya dialah yang berjalan di sisi Rei, bukan pria lain.

.

.

.

Suasana pemakan sangat sepi. Hanya ada keluarga Marva juga dokter Agam yang ikut mendampingi Rei, karena yang dokter Agam tahu, kalau Rei sebatang kara. Namun dia bertanya-tanya, apa hubungan Rei dengan Marva dan keluarganya?

Rei duduk di depan batu nisan neneknya. Tangannya meremas tanah merah yang bertabur bunga itu. Air matanya masih menetes dengan deras, meski tanpa suara, hanya tubuhnya saja yang bergetar hebat.

Delapan belas tahun dia hidup hanya dengan neneknya saja, dan semua telah berakhir. Berakbir denhan air mata dan penyesalan. Berakhir bahkan sebelum neneknya membuka mata.

"Nek, kenapa nenek pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun padaku? Kenapa nenek pergi tanpa berpamitan dulu padaku?"

Rei meletakkan kepalanya di atas tanah itu, tidak peduli kalau wajah dan rambutnya akan kotor.

Rei memandang langit, wajahnua basah oleh rintik hujan yang membuat tanah merah itu semakin lengket di genggaman tangannya.

"Rei, ayo," ajak Marva, namun dia tetap duduk bersimpuh, masih berharap kalau semua ini hanya mimpi buruk.

Jika ada mesin waktu, dia ingin kembali ke saat neneknya jatuh di kamar mandi. Dia tidak akan pergi ke sekolah agar bisa terus menjaga neneknya.

Dia tidak akan menanda tangani surat perjanjian itu, yang baginya kini seperti surat hitam yang menghancurkan hidupnya.

Dia ingin mengulang semuanya, tapi tidak memiliki kekuatan untuk itu.

Ini bukan kisah time travel.

Kenapa kisah hidupnya semenyakitkan ini?

Kenapa takdirnya seperti ini?

Kenapa

Kenapa

Kenapa

Pertanyaan yang selalu dia tanyakan dalam hatinya.

"Ayo kita pulang, aku akan mengantarmu," ucap dokter Agam, mengajak Rei untuk berdiri.

"Dia akan pulang bersama kami," ucap Marva tegas.

Dokter Agam mengkerutkan keningnya, kenapa gadis ini harus pulang bersama mereka, pikirnya.

Rei melihat dokter Agam yang terlihat bingung.

"Mereka majikanku, Dok," ucap Rei tanpa memandang mereka. Matanya hanya tertuju pada batu nisan itu. Batu nisan yang bertuliskan nama perempuan yang membesarkannya dengan kasih sayang.

"Mereka majikanku, Dok. Aku akan bekerja dan tinggal di sana sampai tugasku selesai!"

1
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Hhmm lama ga baca jadi lupa /Facepalm/
Siti Nur Janah
apa jadi itu isinya Taspek?
Siti Nur Janah
makannya jadi orang jangan menyindir orang lain dan sombong kena batunya kan
Siti Nur Janah
pasti yg di maksud ukmal
Siti Nur Janah
coba Nania di diamkan saja biar tau rasa
Siti Nur Janah
pasti Freya ngeprang teman "nya
Siti Nur Janah
sebenarnya Freya itu dimana sekarang?
Siti Nur Janah
hah td cuma mimpi kok malah JD kenyataan 😭😭😭
Siti Nur Janah
loh kok marva malah di buat meninggal?
Siti Nur Janah
apakah Freya meninggal?
Siti Nur Janah
apa yujin itu kakek rei?
Siti Nur Janah
hahahaha dasar arby
Siti Nur Janah
apa yg melakukan adalah Alexa? q setuju dgn jln pikiran itu
Siti Nur Janah
kalau q setuju dengan Agam karena kalau si marva kurang tegas dan plin plan kurang jentel
Siti Nur Janah
deg ah sakit bgt dengernya
Siti Nur Janah
apa Freya sakit parah?
Siti Nur Janah
wih PD amat minta di hargai ,amat aja gak minta di hargai berapapun hahaha
Siti Nur Janah
ni dah q kasih vote
Siti Nur Janah
😭😭😭😭
Siti Nur Janah
semoga rei bisa membawa salah satu dari mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!