Monika seorang mahasiswi jurusan kedokteran disuatu universitas swasta yang bolak-balik harus berurusan dengan pihak kepolisian karena melanggar aturan lalu lintas, membuatnya bertemu dengan Evan seorang polisi tampan yang membuatnya terjebak dalam situasi yang sulit. Namun dari situasi sulit itulah yang membuat mereka harus berpura-pura untuk saling mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alesha Neova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terkilir
Braaakkk!!! Begitulah terdengar suara ketika tubuh Monika jatuh tersungkur dilantai. Tangannya ia gunakan untuk menopang tubuhnya agar ia tidak terbentur tembok dengan keras, seketika pandangannya berubah menjadi sedikit agak kabur. Dengan cepat dan sigap sosok pria yang tengah berdiri dengan tegapnya lalu berlari menuruni anak tangga tersebut. Tangannya meraih bahu Monika yang masih tersungkur dilantai.
“Anda tidak apa-apa nona?” tanya pria itu dengan nada sedikit cemas melihat wanita yang terjatuh didepannya.
Monika belum menjawab, hanya terdengar erangan rasa sakit yang tengah ia rasakan. Wajahnya masih tertunduk kebawah tertutup oleh rambut lurus yang ia urai, sambil terlihat tangannya memegangi pergelangan kaki yang masih menempel dilantai akibat terjatuh.
“Nona apakah Anda baik-baik saja?” ucap pria tersebut kembali bertanya.
Dan masih tak ada jawaban dari wanita yang berada didepannya, hanya sesekali terdengar rintih kesakitan, mulutnya mengaduh dan sedikit terdengar isakan menahan sakit. Kemudian lelaki itu memegang lengan Monika, ia hendak membantu Monika untuk bangun namun saat Monika tau lelaki itu memegangi lengan pundaknya untuk membantu dengan cepat Monika menoleh dan menengadah, melihati sesosok laki-laki yang telah membuat dirinya terjatuh dilantai hingga melewati beberapa anak tangga.
“Aauuw.. lepasksn tangan Anda, gara-gara Anda saya terjatuh seperti ini.” Ucap Monika dengan kesal.
“Maaf nona saya tidak sengaja, lagian tadi Anda juga berjalan tanpa melihat arah kedepan.” Ucap pria itu.
“Apa, jadi Anda menyalahkan saya? Jelas-jelas tadi Anda menuruni anak tangga dengan asik sedang berbica ditelepon yang sedang Anda pegang itu.” Ucap Monika yang bertambah kesal.
Seketika lelaki tersebut melihati tangan kanannya yang masih menggenggam ponsel miliknya, dilihatnya durasi panggilan telepon yang sedang ia lakukan masih berjalan.
“Halo.. nanti aku telpon lagi ya, ada yang harus aku urus.” Ucap laki-laki itu berkata pada lawan bicaranya diseberang sana, kemudian ia menutup panggilan teleponnya.
Laki-laki itu kembali mencoba ingin membantu Monika untuk berdiri akibat jatuh tadi, kali ini ia mengulurkan tangannya. Bukannya Monika menerima bantuan lelaki tersebut dengan meraih tangannya malah Monika terlihat diam mengamati pria di depannya.
Sepertinya aku pernah melihat orang ini, tapi dimana ya.. wajahnya seperti pernah ku lihat sebelumnya. Gumam Monika dalam hati sambil mencoba mengingatnya.
Sambil terus mengingatnya, tiba-tiba matanya tertuju pada name tag yang berada dibaju seragam lelaki tersebut, tertulis sebuah nama Evan E.P.P di name tag itu sontak membuat Monika kembali mengingat sebuah nama yang pernah ia kutuki sebelumnya.
Evan E.P.P!!! Huh pantas saja aku pernah melihat wajahnya, dia kan polisi angkuh yang waktu itu menilangku. Benar-benar sial dibuatnya. Gumam Monika dalam hati dengan pandangan mata yang sengit.
“Ayo bangunlah biar ku bantu untuk berdiri.” Ucap Evan kembali berkata, tangannya masih tetap mengayun di udara terulur untuk membantu Monika berdiri.
“Cih.. anda lagi anda lagi. Pak polisi yang terhormat Anda sudah dua kali ini memberikan kesusahan pada saya, sekarang Anda malah membuat saya cidera seperti ini.” Ucap Monika yang masih saja berbicara dengan posisi terduduk dilantai akibat jatuh tadi.
Mendengar perkataan Monika barusan Evan menyerngitkan dahinya, ia bingung tak mengerti dengan maksud yang dikatakan Monika barusan.
“Dua kali memberi kesusahan, maksud nona apa? Apa sebelumnya kita pernah bertemu?”
Huuh.. bahkan ia tak mengingatnya. Tuhaaan.. tolong jangan pertemukan lagi aku dengan orang ini, aku tak ingin mendapat kesusahan-kesusahan selanjutnya. Gerutu Monika dalam hati menyumpahi dirinya sendiri.
“Kalau tidak mau dibantu ya sudah, saya mau naik ketas dulu. Maaf untuk ketidak sengajaan yang telah terjadi.” Ucap Evan yang kemudian membalikan badannya untuk kembali ke lantai atas karena sidang akan segera dimulai.
“Dasar polisi angkuh, pergi saja sana dan jangan sampai Anda memperlihatkan diri Anda lagi dihadapan saya!!!” ucap Monika dengan kesal sambil mengumpati Evan.
Evan yang masih berdiri dihadapannya kemudian membalikkan lagi badannya menghadap Monika.
“Lalu apa yang harus saya lakukan, meminta maaf sudah, mau ditolong Anda sendiri yang tidak mau. Jadi masih salah saya juga?”
“Aarrrggh.. menyebalkan!!!”
Kemudian Monika mencoba untuk bangun dan berdiri sendiri, ia menolak bantuan dari Evan. Namun saat ia mencoba bangun untuk berdiri, tiba-tiba ia terjatuh lagi, kakinya tak mampu menopang tubuhnya untuk berdiri, ia mengerang kesakitan, kaki kanannya terasa sangat sakit dan nyaris tak bisa digerakan.
“Aaauuhh.. kakiku sakit banget.” Rintih Monika menahan sakit hingga terlihat ada air mata dipelupuk matanya.
Evan yang masih berdiri di depannya reflek berjongkok dihadapan Monika, ia memegang pergelangan kaki Monika untuk melihat bagaimana keadaannya.
Monika menangis menahan sakit, kali ini ia tak mampu lagi untuk mengumpati Evan yang tengah memegang pergelangan kakinya.
Sandra yang kini tengah berjalan menaiki anak tangga tiba-tiba matanya terbelalak, ia melihat sahabatnya tengah terduduk dilantai menangis dan menahan sakit. Sontak ia mempercepat langkahnya dan buru-buru mendekati Monika.
“Ya ampun Monika kamu kenapa, apa yang terjadi?” Tanya Sandra pada Monika dengan rasa panik.
Monika tidak bisa menjawabnya, ia hanya menangis mengerang menahan sakit.
“Teman Anda terjatuh dari tangga, maaf tadi saya tidak sengaja menabraknya." Ucap Evan yang menjawab pertanyaan Sandra.
Mendengar ucapan Evan, Sandra kaget bukan main ia panik dan tak tau harus berbuat apa.
“Ya ampun Monika, kok bisa seperti ini. Ayo bangun Monika, kita harus segera ke dokter.” Ucap Monika sambil memapah Monika mencoba untuk membantunya berdiri.
Namun lagi-lagi Monika terjatuh, kakinya tak mampu untuk menopang tubuhnya.
“Aduh Sandra.. aku enggak bisa berdiri, kaki aku sakit banget. Gak kuat kalau dibawa berdiri San. Huhu.” Ucap Monika sambil tersedu menangis menahan sakit.
“Ya ampun Monika, jangan-jangan kaki kamu terkilir makanya sakit seperti ini.” Ucap Sandra sambil memegangi pergelangan kaki Monika.
“Eh pak polisi, Anda yang sudah bikin teman saya jadi seperti ini tanggung jawab dong malah diam saja!” ucap Sandra pada Evan.
“Sudah dari tadi saya mau menolongnya, tapi teman Anda yang tidak mau ditolong.”
“Ya sudah sekarang bantu angkat dia, aku tidak kuat jika aku yang harus mengangkatnya.” Ucap Sandra yang menyuruh Evan untuk membantunya.
Kemudian Evan mengulurkan tangannya kembali diudara.
“Ayo cepat nona, urusanku masih banyak yang belum terselesaikan.” Ucap Evan yang masih menggantungkan tangannya diudara.
Melihat Evan yang mengulurkan tangan pada Monika, Sandra berdecak pinggang ia kesal dengan Evan yang tidak mengerti dengan maksudnya.
“Apa-apaan, jelas-jelas teman saya tidak bisa berdiri karena kakinya terkilir, ini Anda mengulurkan tangan hendak menuntunnya?” ucap Sandra dengan suara yang mulai meninggi.
“Kan tadi Anda sendiri yang bilang saya untuk membantunya nona.” Ucap Evan yang sepertinya sudah mulai sedikit kesal dengan kekacauan yang tengah terjadi akibat ketidak sengajaan.
“Iya memang, tapi bukan menyuruh untuk menuntunnya pak!” Ucap Sandra sambil menggelengkan kepalanya.
“Lalu?” ucap Evan bertanya dengan nada yang datar.
“Menggendongnya!”
Mendengar ucapan Sandra barusan sontak membuat kedua mata Monika dan Evan membelalak lebar. Dengan cepat Monika menggelengkan kepalanya, memberi isyarat jika ia tidak mau.
“Yang benar saja Sandra, aku enggak mau kalau dia sampai menyentuhku!” ucap Monika seraya menggelengkan kepalanya.
Alih-alih terlihat baik-baik saja dan menolak bantuan, namun wajah dan matanya tidak dapat berbohong, ia meringis menahan sakit, terlihat air mata yang masih keluar dari pelupuk matanya.
“Sudahlah Monika ini bukan waktunya untuk berdebat, lihatlah luka-lukamu itu sudah mulai terlihat memerah. Dikening, disiku, dipergelangan kakimu, jika tidak cepat ditangani bisa membengkak nanti.” Ucap Sandra sambil menunjukkan beberapa luka Monika akibat terjatuh tadi.
“Ayo pak polisi cepat angkat teman saya, bawa ia ke unit kesehatan pasti disini ada disediakan unit kesehatan bukan?” ucap Sandra dengan lantang yang melihat Evan masih berdiam diri.
“Ayo tunggu apa lagi?” sekali lagi Sandra memberi perintah pada Evan.
Dengan wajah kesal akhirnya Evan mengangkat tubuh mungil Monika, ia membopongnya menuruni anak tangga dan segera mencari unit kesehatan yang berada di pengadilan. Evan berjalan dengan cepat yang diikuti oleh Sandra dibelakangnya, Sandra yang kini tengah membawa tas Monika ikut melangkahkan kakinya dengan cepat.
Kemudian Evan membawa Monika menuju ke unit kesehatan yang ada dipengadilan, letaknya tak jauh dari ruang pelayanan. Sebelum mereka sampai di unit kesehatan, Evan bertanya pada petugas untuk menanyakan petugas yang berjaga disana, namun nampaknya nasib baik kurang berpihak pada mereka, petugas yang ditanyai mengatakan bahwa untuk saat ini ruang kesehatan sedang tidak bisa digunakan lantaran sedang dalam renovasi perbaikan.
Monika mengerang menahan sakit dikakinya, sontak ia berkata pada Evan dan Sandra dengan nada sedikit keras.
“Aaarrggh... sudah-sudah bawa aku ke mobilku saja, ada kotak P3K disana.” Seru Monika yang masih berada dalam gendongan Evan.
Kemudian mereka berjalan menuju area parkir mobil menuju mobil Monika. Saat Evan dan Sandra tengah berjalan menuju area parkir mobil, Doni yang tadi dari toilet pun melihat Evan yang tengah menggendong seorang perempuan yang tak ia kenali sebelumnya, ia menghentikan langkah kakinya sejenak sambil mengamati siapakah sosok perempuan yang sedang di gendong Evan keluar gedung menuju area parkir.
Siapa perempuan yang berada didalam gendongan Evan, kenapa Evan membawanya ke area parkir mobil? Apa yang telah terjadi? Gumam Doni dalam hati yang penuh tanda tanya.
Daripada penasaran, akhirnya tanpa menunggu lama Doni pun melangkahkan kakinya hendak menyusul Evan ke area parkir untuk memastikan apa yang telah terjadi. Doni pun melangkahkan kakinya sudah sampai di ambang pintu keluar, namun tiba-tiba ada seorang pria yang memanggilnya. Langkah kakinya pun terhenti seketika saat mendengar namanya dipanggil.
“Pak Doni, maaf pak sidang akan segera dimulai Anda diminta agar segera ke ruang sidang.” Ucap pria yang telah berhasil menghentikan langkah kaki Doni.
“Baiklah saya akan segera kesana.” Ucap Doni kemudian ia pun memutar arah langkahnya untuk kembali ke ruang sidang.
padahal dah ditungguin lho😪
kok blm up lagi sich?