Kisah seorang santri bernama Zahra Khoirunnisa yang di jodohkan dengan seorang pengusaha muda bernama Arkan yang tak lain adalah teman dari kakak nya.
Di satu sisi Zahra sudah menyukai seseorang dalam hatinya. Di sisi lain Zahra tidak bisa menolak keinginan ayahnya.
"Bagaimana aku bisa menikah dengannya, sedangkan hatiku sudah untuk orang lain"_Zahra
"Aku bukan orang baik, aku pemabuk dan aku juga tidak suka wanita sepertimu" _Arkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri risdi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arkan Alergi
Arkan POV
Pagi ini, aku tidak bisa masuk kerja karena bentol bentol di sekujur tubuh. Bukan karena di gigit nyamuk, tapi karena alergi.
Semalaman tidur di kursi, dengan cuaca di luar hujan membuat udara jadi dingin. Dari dulu aku memang alergi dingin yang berlebihan.
Aku bangun sejak puku dua dini hari. Sampai sudah mau subuh aku tidak bisa tidur lagi. Mau minum obat tapi obatnya di kamar Zahra.
Saat sedang merasakan gatal di sekujur tubuh, terdengar pintu kamar Zahra dibuka. Tapi aku tidak terlalu memperhatikan karena Pokus dengan tubuh ku sendiri yang sudah tidak jelas rasanya.
Terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah ku.
"Ya Allah mas Arkan kenapa bisa kaya gini?" Tanya Zahra heboh.
"Alergi nih yaaang" jawab ku merengek.
"Aduh, mas ko gak bilang sih kalau alergi dingin," ucap Zahra dengan cemas.
"Mau bilang gimana sayang, semalam kamu bahkan gak mau dengar mas bicara," jawabku.
"Kamu tega biarin mas tidur di kursi sendirian," sambungku.
"Ya salah sendiri bikin istri kesel, lagian kenapa gak tidur di ruang kerja sih kan lebih hangat mas." jawabnya berdiri dari duduknya.
Ku tarik tangannya saat hendak meninggalkanku.
"Mau kemana sayang, suami lagi kaya gini ko di jutekin sih," ucap Ku.
"Kamu mau aku minta di rawat sama wanita lain?" Bisikku menggodanya.
Ku lihat dia menatapku kesal.
"Awas saja sampai berani kaya gitu, Zahra jewer nih kupingnya," jawabnya dengan menjewer kuping sebelah kiri ku.
Sontak aku berteriak, "Aaah, Sayang sakit," rengekku pada Zahra. Padahal tentu saja tidak sesakit itu.
Zahra pergi ke kamar mencari kotak obat. Mungkin dia ingin mengambil obat alergi untukku.
Beberapa saat kemudian dia datang lagi dan memberiku obat dengan segelas air. Segera ku minum.
"Ini tuh namanya kuwalat dari istri. Bikin istri sedih, bikin istri kesel, yah gini deh" Omelnya sambil menggosok tubuh ku dengan minyak kayu putih.
"Ya maaf sayang ku".
"Siapa wanita itu?" Tanya Zahra tiba tiba.
Ku lihat matanya menatapku serius.
Ku tarik tangannya agar duduk di sebelahku.
"Dia sepupuku sayang, kami sudah lama tidak bertemu karena dia tinggal di luar kota." Ujarku menjelaskan.
"Kenapa mas melakukan itu pada saat ada dia,?" Tanya Zahra dengan mata berkaca kaca.
Sedih rasanya melihat dia tersakiti hanya karna keisenganku.
"Tadinya, aku hanya ingin membuatmu cemburu, mas hanya ingin melihat reaksimu," jelasku dengan mengusap kepalanya.
"Tapi, kalian berpelukan saat pertama bertemu. Itu tidak boleh mas," ucapnya kemudian.
"Iya sayang, maafin mas ya," ucap Ku sembari memeluknya.
"Zahra tidak rela mas memeluk wanita lain yang bukan muhrim mas," ucapnya sembari mengeratkan pelukan kami.
"Mas itu punya Zahra," sambungnya.
Sungguh bibir ini tak kuasa menahan senyuman, hati ini tak kuasa menahan getaran. Cinta ini nyata, perasaan ini nyata. Semuanya, bukan sekedar imajinasi belaka.
"Iya Mas punya kamu sayang," Ucap ku sampul mengusap kepala nya. ku kecup keningnya.
"Mas janji gak akan kaya gitu lagi." ucap ku.
Zahra menganggukkan kepalanya.
"Iya Zahra percaya"
"Makasih sayang"
"Maaf ya Mas kemarin Zahra kesel banget makanya gak mau buka pintu kamar buat mas Arkan, tapi jadinya kayak gini deh." ucapnya merasa bersalah
"Gak apa-apa sayang ini hukuman buat mas"
"Sejak kapan mas alergi dingin?
"Dari kecil yang, cuma emang udah lama ga kambuh lagi." Zahra pun terlihat menganggukan kepala nya tanda mengerti.
"Yang elus elus lagi dong punggung mas kayak tadi."pinta ku
Ku tuntun tangan Zahra agar mengelus punggung ku.
Lama kelamaan elusan tangan halus Zahra membuat ku meremang.
Sial, ada yang tegak tapi bukan keadilan.
"Yang elus perut ku juga dong" ucap ku sengaja memancing Zahra.
Zahra pun pindah posisi jadi di depan ku.
Saat Zahra sedang pokus mengelus perut dan dadaku, aku pun dengan sengaja menuntun tangannya pada benda yang dari tadi minta di elus juga.
Zahra terlonjat kaget sambil melototi ku.
"Mas Arkan mesuuum" teriak nya sambil lari ke kamar.
Aku pun tertawa melihat tingkah nya.
Eh tunggu tadi Zahra lari ke kamar. Apa itu kode?? Aku pun tersenyum senang dan belari menyusul Zahra.
##
Siang ini aku mengerjakan pekerjaan kantor di rumah, karena aku tidak mungkin ke kantor dalam keadaan gatal gatal. Sebenarnya aku ada jadwal meeting penting hari ini, terpaksa aku tunda dulu karena tidak bisa di wakilkan.
"Mas Zahra bikinin cemilan yah" ucap Zahra yang sedang nonton di sampingku.
"Dari tadi ke yang, kan mas jadi semangat kerja nya".
"Zahra baru kepikiran barusan tuh gara gara liat di tv. Ya udah Zahra bikin cemilan dulu" Zahra pun berlalu ke dapur.
Aku kembali pokus ke laptop ku. Tak berapa lama, tercium wangi dari dapur.
"Zahra lagi masak apa ya" Aku bergegas ke dapur menyusul Zahra.
Ku lihat Zahra sedang pokus dengan masakan nya.
Ku peluk dia dari belakang. Zahra terperanjat.
"Astagfirullah mas ngagetin aja deh"
"Hehe bikin apa sih yang?" tanya ku
"Ini bikin cake mas, suka cake gak?"
"Mas suka semua yang kamu masak" Ucap ku
"Gombal" jawabnya.
"Udah mas tunggu di sana aja deh"
"yaudah mas kesana lagi deh"
aku pun kembali ke kursi dan mengerjakan pekerjaan ku.