Almahyra seorang anak korban tsunami yang diadopsi oleh seorang dokter lajang bernama Kenzo Takeshi Sato.
Mereka sama-sama memendam perasaan.
Pernikahan Kenzo dengan wanita lain yang bernama Mona tidak bahagia.
Setelah berpura-pura lumpuh dia baru sadar bahwa Almahyra lah yang pantas menjadi istrinya.
Kenzo dan Almahyra diam - diam menikah.
Apakah Mona rela di madu?
Apa yang akan terjadi setelah dia tahu di madu?
Selamat membaca...
Aku tunggu support Anda semua agar aku lebih semangat untuk berkarya.
Love u All.. 😘😘😘
Terimakasih.. 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ria aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERSAMA MONA
"Al, malam ini aku tidur di kamar atas, ya," ucap Ken di kamar Al usai makan malam.
Saat ini mereka sedang duduk di tepi tempat tidur.
"Iya, Pam... Eh, Daddy. Aku senang jika Daddy bisa bersikap adil." senyum Al terlihat tulus.
Ken merasa saat ini Mona sedang membutuhkan dirinya. Setidaknya dia bisa menjadi seorang teman baginya. Ken yakin, Mona pasti sedang bersedih setelah putus hubungan dengan keluarganya.
"Kamu cepetan bobok, ya!" Ken mengecup kening Al dan mengelus perutnya.
"Iya, Daddy. Ini juga udah ngantuk."
"Love you, Mommy!" Ken kembali mengecup kening Al sebelum beranjak dari duduknya.
"Love you too, Dad!" senyum Al tak pernah hilang dari wajahnya. Dia senang jika hubungan antara Ken dan Mona mulai membaik. Dengan begitu Al tidak akan di hantui rasa bersalah lagi pada Mona.
Setelah kepergian Ken, Al bersiap untuk tidur. Tubuhnya butuh banyak istirahat. Meskipun sudah jarang pusing tetapi dia harus tetap menjaga kesehatan kandungannya.
Di kamar atas. Mona sedang terduduk di lantai. Penampilannya sangat berantakan. Dia belum juga mengganti pakaiannya dengan baju tidur.
Ken masuk tanpa menetuk pintu. Kedatangannya membuat Mona terkejut. Melihat Ken datang, Mona segera beranjak dan merapikan diri sekenanya.
"Ken. Kamu datang. Kenapa nggak bilang dulu?" suara Mona terdengar parau. Seperti dia habis menangis.
"Kenapa aku harus bilang? Aku masih suamimu kan?"
Ken berjalan mendekati Mona. Tatapannya berhenti pada bungkus coklat dan snack yang berserakan di lantai tempat Mona duduk sebelumnya. Pandangannya kini mengarah ke tempat sampah. Di sana juga sama. Penuh dengan bungkus makanan ringan.
'Mungkin itu cara Mona untuk mengurangi stress.' batin Kenzo.
"Em, iya Ken. Aku hanya terkejut saja kamu tiba-tiba datang. Apa kamu akan menginap di sini malam ini?" tanya Mona.
"Hmm." Ken mengangguk.
"Duduklah dulu! Aku akan membereskan tempat tidurnya."
Cepat-cepat Mona membersihkan tempat tidur. Lagi-lagi beberapa bungkus snack muncul di sana juga. Mona memungutinya dan membuangnya ke tempat sampah.
Mata Ken terus memperhatikan apa yang dikerjakan Mona. Mona terlihat canggung karena merasa di awasi. Dia terlihat malu saat ketahuan ngemil dan tidak segera membuang sampahnya.
"Mona, kamu seorang dokter, lain kali kamu harus memperhatikan kebersihan. Kamar ini juga sedikit pengap. Bukalah jendela di siang hari agar sirkulasi udara berganti."
"Iya, Ken. Maaf akhir-akhir ini aku sibuk di rumah sakit."
"Sudah malam, aku mau istirahat." Ken pergi ke tempat tidur yang sudah dirapikan oleh Mona.
"Aku ganti baju dulu."
Mona sengaja mengganti bajunya di depan mata Ken. Dia berharap Ken akan meliriknya dan tergoda. Namun Ken malah sibuk memainkan ponselnya. Mona merasa kesal. Sia-sia dia menunjukkan tubuh indahnya.
Mona menyusul Ken ke tempat tidur. Ken melepaskan kacamata dan menaruhnya di meja bersama ponselnya. Kini mereka berbaring saling berhadapan.
"Mona, maafkan aku sudah membuat keluargamu memutuskan hubungan denganmu," ucap Ken penuh penyesalan.
'Jadi untuk ini Ken menemuiku malam ini. Aku pikir dia ingin aku menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri.' Mona bermonolog dalam hati. Ada rasa kecewa yang bercokol di sana.
"Kamu nggak perlu merasa bersalah. Ini udah menjadi pilihan hidupku. Aku lebih suka hidup bersamamu daripada mereka." mata Mona berkaca-kaca.
"Apa kamu yakin dengan keputusan ini?" tanya Ken sedih.
"Hmm. Aku yakin. Keluargaku akan mengendalikan hidupku jika aku tetap di sana. Aku hanyalah alat bagi mereka untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan." sorot mata Mona penuh dengan kebencian saat mengatakan itu. Sama sekali tidak ada kesedihan di sana.
"Hari sudah malam. Ayo kita tidur. Aku ada jadwal pagi."
Tanpa ada kata-kata mesra, kecupan sayang atau pelukan mesra. Tubuh Ken memang berada di sana namun tidak hatinya. Dalam benaknya hanya ada Almahyra, istri kecil yang sangat disayanginya.
Mona berusaha untuk memejamkan matanya. Dia melirik Ken yang sudah tidur lebih dulu. Wajah tampannya jauh terlihat lebih tampan saat tertidur. Tapi entah mengapa, hati Mona merasa biasa saja saat berada di dekatnya. Berbeda ketika dia sedang bersama David.
'David... Bagaimana keadaanmu saat ini? Aku sangat merindukanmu. Aku akan mengunjungimu besok. Semoga kamu segera bebas.' Mona bermonolog dalam hati.
••••
"Ya, ampun Al. Dari jam berapa kamu bangun? Kenapa sarapan sudah siap semua?"
Mila muncul dan menghampiri Al yang sedang menyiapkan sarapan di ruang makan.
"Habis subuh tadi, Ma. Ini cepet selesai juga kerena di bantu sama mbak Mita."
Tangan Al masih sibuk menata masakannya di atas piring saji.
"Apa mama yang bangun kesiangan, ya?" Mila melirik jam di dinding. Pukul 05.30.
"Nggak kog, Ma. Ini juga masih pagi. Pam... eh, dad, emm... paman Ken ada jadwal pagi, Ma." Al kebingungan untuk memanggil Ken.
Mila tersenyum melihat menantunya yang berusaha merubah panggilannya pada Ken.
"Panggil aja Ken seperti kamu biasa memanggilnya, Sayang. Nggak usah malu-malu sama mama." Mila terkekeh. Dia tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak tertawa.
"Iya, Ma." muka Al terlihat memerah karena malu.
"Seru banget. Papa ikutan dong." Takeshi duduk di ruang makan.
"Pagi, Pa! Mau langsung sarapan atau minum teh dulu?" tanya Al.
"Em, tadinya papa pengin ngeteh tapi mencium aroma masakan kamu papa jadi laper."
"Ah, papa bisa aja!" Al tersipu mendengar pujian mertuanya.
"Masakan bumil, emang beda lho. Iya, kan, Ma?" Takeshi melirik Mila.
"Iya. Entah kenapa kog bisa gitu," imbuh Mila.
"Pagi semua!" Ken turun sudah dalam keadaan rapi. Dia ada dinas pagi ini.
"Pagii..." semua serempak menjawab.
Mona juga ikut turun. Dia memilih ikut Ken berangkat pagi ketimbang bosan di rumah. Dia juga berencana untuk mengunjungi David hari ini.
"Kak Mona, aku memasak seafood kesukaanmu." Al menyodorkan sepiring seafood ke hadapan Mona.
"Terimakasih, Al." senyum tipis menghiasi wajah Mona. Pura-pura bahagia. Itulah yang dia lakukan saat ini.
"Sama-sama. Pa.. em, Daddy Ken mau makan apa?"
Semua mata menatap ke arah Al. Mereka belum terbiasa mendengar panggilan baru Al kepada Kenzo. Buru-buru mereka menutupi keterkejutannya dan bersikap biasa. Mereka tidak ingin membuat Al merasa malu dan canggung.
"Sukiyaki saja, Mom." lagi-lagi kata-kata asing terdengar kembali. Kini semua menatap ke arah Kenzo. Tapi Kenzo terlihat cuek.
Mona meradang mendengar panggilan mesra mereka. Selama menikah dengannya Ken tidak pernah punya panggilan kesayangan untuknya.
"Sup misonya enak lho Ken." Takeshi memberi usul.
"Iya kah, Pa. Coba dong!" seperti anak kecil Ken membuka mulutnya minta di suapi oleh papanya.
"Ya, ampun, nih anak." Takeshi menggeleng. Tapi dia juga tetap menyuapi anak kesayangannya itu.
Mila dan Al tertawa melihat tingkah anak dan bapak itu.
"Aku mau sup miso aja, Mom. Sukiyakinya bungkusin buat bekel aja," ucap Kenzo kemudian.
"Ok, Daddy." Al mulai percaya diri dengan panggilan barunya.
Di lain sisi, hati Mona teriris menahan geram.
****
Bersambung...
semoga saja anak q sikapnya gk lemah spt dr. Kenzo karena anak q namanya juga kenzo