Dalam hidupku tak pernah menyangka bahwa dalam pernikahanku akan mengalami hal semacam ini.
Seandainya godaan itu datang dari wanita lain, mungkin saja aku tak akan segila ini. Tapi justru godaan itu datang dari wanita yang seharusnya aku hormati sebagai ibu dari istriku.
Aku hanyalah lelaki normal, lelaki biasa yang bisa saja khilaf dalam bertindak. Apalagi jika dihadapkan dengan godaan nyata setiap hari, godaan yang mampu mengikis kesetiaanku, godaan yang mampu menjegal keimananku.
Aku, Adarga Handanu ... lelaki biasa yang sedang berjuang keluar dari jeratan nafsu sang ibu mertua. Berhasilkan aku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ammi Pooja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 21 Perang Terbuka
Seperti biasa, pulang kerja aku selalu menunggu Arini di mushola dekat rumah. Tetangga sekitar sudah hafal kalau aku adalah orang yang paling rajin ke mushola, bahkan mereka mengacungi jempol untukku. Banyak pujian aku terima karena mereka menganggap aku mau mengabdikan diri dengan membersihkan tempat ibadah.
Sebenarnya bukan pujian yang aku harapkan, apalagi apa yang aku lakukan bukanlah sesuatu yang besar. Aku sengaja membersihkan mushala karena memang sekalian menghabiskan waktu menunggu Arini pulang. Nggak etis jika hanya duduk bermain gawai di tempat ibadah, kan?
Sepertinya Allah kasih bonusnya berlebihan. Allah memang baik. Kasih istri yang pengertian, memberiku jalan rejeki yang halal dan mudah, dan sekarang hal kecil pun Allah kasih balasan untukku. Tapi ... sepertinya Allah kasih ujian juga, yaitu kehadiran ibu mertua yang menggoda iman.
Tak habis aku berpikir, kehidupan ini terkadang aneh. Bobby ganteng dan tajir melintir, tapi bisa jatuh ke pelukan wanita tua. Bahkan hingga sekarang ia belum menikah juga, padahal Bu hera meninggalkan dia sudah cukup lama.
Lebih heran lagi dengan Bu Hera. Dia ditolong oleh Pak Rahman, dijadikannya ia wanita terhormat dengan kehidupan yang lebih dari cukup. Tapi kenapa ia tega menghancurkan suaminya sendiri demi laki-laki lain. Tak habis pikir dengan sikap gilanya.
Beberapa hari ini juga aku heran dengan perubahan sikap Arini. Ia terus saja berusaha bersikap baik dengan Bu Hera. Ada apa sebenarnya dengan dia? Kelakuannya menimbulkan banyak tanya dalam benakku.
[Mas, aku sudah di rumah] sebuah pesan masuk.
Tumben Arini pulang lebih awal, bahkan tidak menghampiri aku di mushala. Bergegas aku bangkit dari posisi duduk di teras mushola, setengah berlari kupercepat langkah.
Langkah mulai pelan ketika kaki mulai memasuki halaman rumah. Bu Hera yang sedang berselfi ria di depan rumah membuatku sedikit menundukkan pandangan. Kali ini wajahnya kembali ceria, pakaian yang sudah lama tak pernah kulihat kini kembali ia kenakan.
Kaos singlet yang memperlihatkan belahan dada dan celana pendek sepuluh sentimeter dari pantat, memperlihatkan seluruh lekuk badan yang begitu semok semlohai.
Kuletakkan telapak tangan di atas mata, berharap pandangan ini tak khilaf ke arahnya. Namun, justru ayunan langkah kaki terhenti. Otot syaraf mulai menegang tatkala bola mata membeliak tepat di hadapan lembah dua gunung.
Serta merta sontak aku terperanjat dan istighfar, berkali-kali aku meminta ampunan kepada Sang Rabb. Sungguh di luar dugaan ternyata wanita itu sengaja menghadangku.
Melihat aku yang telah berwajah pias, ibu mertua justru malah tersenyum nakal. Lidah menjulur seperti ular dalam penglihatanku. Sepertinya setan itu telah kembali. Apa ia tidak takut jika Arini memergoki tingkahnya yang seperti kucing sedang birahi itu?
"Danu, kapan siap aku makan?" tanya dia setengah berbisik di telinga sembari mengitari badanku yang mematung. Seketika darah seperti di sedot dari ubun-ubun, seluruh sendi gemetar. Benarkah ia berniat memakan dagingku? Betapa kanibalnya wanita satu ini.
Pikiranku kacau. Banyak prasangka yang bermunculan, berputar di kepala dan membuat kepala terasa semakin berat. Apakah Bu Hera seorang psikopat? Jika benar, itu artinya nyawaku dalam ancaman.
"Mas Danu! Ngapain berdiri di situ?" Suara Arini membuyarkan seluruh ketakutanku, kubuka mata dan segera berlari ke arah Arini yang berdiri dekat pot bunga di teras rumah.
Sebelum masuk ke rumah, kembali kutoleh Bu Hera. Ia masih tersenyum sembari melipat tangan ke dada, kerlingan mata nakal itu masih ia kirimkan kepadaku. Ya Tuhan, ia melakukan itu meski ada Arini di rumah. Sepertinya perang terbuka sudah di mulai.
"Dek, ibu semakin ngeri." Aku mencoba mengadu ketika Arini masih sibuk menyiapkan makan malam.
"Kamu ini aneh, Mas. Mas Danu itu laki-laki, seharusnya Mas Danu nggak takut." Selalu saja begitu, ia hanya menanggapi dengan santai.
"Mas memang laki-laki, Dek. Tapi kalau untuk menghadapi psikopat macam ibu kamu, Mas nggak berani."
"Siapa yang psikopat?"
"Ibu kamu lah! Masa Pak RT?"
"Kamu itu berlebihan, Mas."
"Berlebihan apanya? Kamu nggak tahu, kan, apa yang dibilang Ibu tadi di depan?" Aku tinggikan nada suara, jujur aku sudah lelah dengan sikap Arini yang terus saja tenang dan santai menghadapi semua problematika ini.
"Emang Ibu bilang apa?" Ia berhenti mengaduk sayuran dan beralih memandangku lekat.
"Ibu bilang ...."
"Arini! Kapan seblaknya matang? Ibu lapar, nih! Bikin seblak aja lama! Makanya kalau masak jangan sambil ngobrol!" Tetiba suara ibu mertua sudah membahana di dapur kecil ini, menghentikan pembicaraanku dengan Arini.
"Iya, Bu. Sebentar lagi."
Aneh, sungguh aneh. Sepertinya ada yang tidak beres. Aku tatap ibu mertua yang kini duduk di kursi meja makan, ia mengambil garpu dan memainkannya. Kembali kulihat Arini, tetap dengan sikapnya yang tenang. Tapi tetap saja ada yang aneh. Ada apa dengan mereka?
Arini membagi seblak dalam tiga piring. Tapi tunggu! Aku melihat gerakan tangan tersembunyi Arini, ia memasukkan bon cabe lumayan banyak ke salah satu piring. Jangan-jangan ....
"Bikin seblak pedes amat! Sengaja mau bikin Ibu sakit perut?" protes Bu Hera sembari mengibaskan tangan ke mulut.
"Nggak terlalu pedas kok, Bu. Iya, kan, Mas?" Arini menginjak kakiku, memberi kode untuk mengiyakan.
"I-iya. Seblak buatan Arini memang top enaknya." Kuberikan dua jempol ke arah Arini yang ia sambut dengan senyum.
"Mending Ibu ke warung depan aja lah. Sini, Ibu minta uang buat beli nasi goreng." Ibu berdiri dan menengadahkan tangan ke arah Arini.
"Katanya tadi mau makan seblak?"
"Sudah nggak lagi! Ibu mau nasi goreng saja!" Masih dengan nada ketus ibu terus menengadahkan tangan meminta uang ke Arini.
"Daripada beli, Arini masakin aja, Bu. Lebih higienis kalau masak sendiri."
"Nggak, nggak, nggak ... buruan kasih duit aja!"
Setelah bernogisiasi yang alot hingga emosi mulai menyulut hati wanita psikopat itu, akhirnya Arini mengeluarkan uang dua puluh ribu dari kantong daster.
Wanita itu bergegas pergi meninggalkan aku dan Arini yang masih menikmati seblak sosis bakso buatan tangan wanita superku. Senyum tersembul dari bibir Arini yang kusambut pula dengan senyum puas.
Ah, wanitaku ternyata licik juga. Ia bisa mengerjai ibu sendiri. Sepertinya ia ingin membalas sikap Bu Hera tadi petang. Jelas, mana rela Arini membiarkan aku diganggu oleh ibunya.
"Arini!" Teriak Bu Hera dari ruang tamu. Berkali-kali ia panggil Arini, namun yang dipanggil justru masih asyik menyeruput kuah seblak buatannya.
Aku lihat wajah Bu Hera merah padam, seolah ada tanduk banteng keluar dari kepalanya. Emosinya meledak-ledak hingga menggebrak meja makan.
"Ibu itu kenapa?" tanya Arini datar, masih dengan sikap santainya ia melangkah ke wastafel mencuci mangkuk dan sendok.
"Kenapa Bobby ada di depan? Siapa yang ngasih alamat rumah ini?"
"Mana aku tahu, Bu?"
"Jawab, Arini!" Bu Hera terbakar emosi, ia tarik kasar bahu Arini hingga membalikan badan.
"Bisa nggak, Ibu nggak kasar?"
"Ibu sudah muak dengan sikap kamu!"
"Sama. Aku juga sudah muak dengan sikap Ibu yang terus saja menggoda Mas Danu!"
Bola mataku serasa meloncat dari kelopak menyaksikan dua wanita berhubungan darah saling berteriak. Arini yang biasa tenang, kini ikut berteriak. Apa yang sebenarnya Arini rencanakan? Kenapa Bobby bisa ada di depan rumah?
Bergegas aku tinggalkan dua wanita beda generasi yang masih bersitegang. Langkah panjang kuayun menuju pintu keluar rumah. Benar. Di depan pagar ada sosok laki-laki bertubuh atletis, sosok yang pernah aku temui beberapa minggu yang lalu.
Aku melangkah menuju pagar, mencoba melihat lebih dekat sosok pria di bawah temaram lampu jalan. Itu memang Bobby, tapi ada yang beda. Ia kali ini tampilannya jauh dari kata parlente. Sungguh jauh berbeda.
"Bang Bobby, ya?" tanyaku mencoba meyakinkan.
"Iya, Dan. Ini aku."
"Tapi ...." Tak aku teruskan kalimatku, kuedarkan pandangan melihat belakang Bobby. Di mana mobil sport yang pernah ia pakai? Kenapa hanya sebuah sepeda motor butut?
Pantas saja Bu Hera langsung kabur melihat dia. Wanita matre itu mana bisa tertarik dengan tampilan dia? Dasar bodoh! Aku rasa Bobby juga tidak waras. Sudah tahu istrinya matre, tapi malah datang dengan penampilan seperti itu. Kalau dia pintar, harusnya dia datang dengan mobil mewah. Dijamin Bu Hera kecantol dan mau balikan.
"Boleh aku masuk?" tanya Bobby membuyarkan alam pikiranku yang sedang mengoloknya.
"Bo-boleh, Bang. Silahkan masuk." Aku buka pagar dengan lebar, mempersilahkan Bobby untuk membawa masuk motor bututnya ke halaman rumah.
"Sepertinya ada yang ramai di dalam rumah," ujar Bobby.
Duh, aku baru ingat kalau dua wanita itu masih beradu mulut. Segera aku berlari karena aku dengar suara dentingan panci yang dibanting.
Pemandangan yang mencengangkan, keadaan dapur sangat berantakan. Semua alat masak yang tergantung dan tengkurap di tempatnya, kini telah betebaran di lantai. Wanita gila itu seperti kesetanan. Ia tidak terima dengan Arini yang menurutnya telah menyuruh Bobby datang ke rumah.
"Arini, kamu yang memulai semua ini! Kamu akan lihat apa yang bisa aku lakukan terhadap suamimu! Lihat saja nanti!"
Teriakan penuh ancaman yang keluar dari mulut Bu Hera membuatku bergidik ngeri. Lagi-lagi aku yang akan ia jadikan sasaran balas dendam ke Arini. Kecemasan demi kecemasan benar-benar menguji adrenalinku.
Arini yang melihat kelakuan Bu Hera yang membabi buta justru memilih keluar dari dapur dan menuju ke ruang tamu. Di sana sudah ada Bobby, ayah mertua yang kini sedikit luntur ketampanannya.
"Kamu bisa melihatnya di dapur, dia masih asyik merusak peralatan dapurku" ujar Arini kepada Bobby.
Tanpa menunggu dipersilahkan, Bobby bergegas menuju dapur yang kondisinya sudah berantakan. Akan ada adegan apalagi sekarang?
Mata Bu Hera menyalak, menandakan amarah yang menggebu-gebu. Rasa tidak terima atas kehadiran Bobby semakin menjadi tatkala ia lihat pria yang selama ini ia hindari justru sudah ada di hadapannya kembali.
Seumur-umur baru kali ini aku melihat amarah yang luar biasa dari seorang wanita. Teriakan Bu Hera yang lebih tepatnya jeritan penuh umpatan menggema memenuhi seisi rumah. Mungkin hingga ke rumah tetangga.
Penglihatanku tak lepas dari pemandangan yang menegangkan itu. Rasanya tak siap jika wanita psikopat itu mengambil pisau dan menyerang Bobby. Bayangan mengerikan berkelebat di pikiranku. Duh, Gusti ... jangan sampai itu terjadi.
Dadaku berdetak kencang. Kekhawatiran menyelimuti pikiran dan hati. Semua ketakutan akan hal yang buruk membuatku semakin merasa ngeri. Takut jika wanita itu nekad membabi buta menyerang siapa saja yang ada di dekatnya.
Arini, apa yang sudah kamu lakukan? Kenapa kamu memancing keributan besar di rumahmu sendiri? Sebenarnya apa rencanamu?
Ingin rasanya aku pergi dari rumah yang berubah menjadi sarang penyamun ini. Rumah yang terus saja mengancam keselamatanku. Haruskah aku pergi?