Berawal dari kesalahfahaman, ketika Iel tertangkap basah menyembunyikan seorang pria dalam kontrakannya. Padahal, Iel hanya menolong Jack yang sedang terluka tembak yang cukup parah. Jack yang bersikeras tak mau dibawa ke Rumah sakit, akhirnya dibawa oleh Iel kekontrakan kecilnya, dan dirawat sendiri dengan alat seadanya.
"Menikah, atau kami bawa ke kantor polisi dengan tuduhan perzinahan?"
Akhirnya, dengan sangat terpaksa, Iel dan Jack menuruti permintaan mereka, dengan menikah secara rahasia dan tersembunyi dari publik. Itu semua dilakukan demi keamanan dan kenyamanan masing-masing.
Tapi siapa sangka, Pria yang Ia nikahi itu adalah seorang konglomerat yang memiliki sebuah hotel mewah dan kekayaan berlimpah. Sehingga, meski hanya istri rahasia tapi Iel masih diperlakukan bak ratu diistana milik. Jack itu.
Tak hanya memiliki banyak harta. Jack juga memilika begitu banyak musuh yang sangat jahat. Diantaranya Dawn, yang tak lain adalah mantan sahabat Jack, yang juga Kakak dari kekasih Jack yang telah meninggal dunia.
Dawn begitu marah dan dendam pada Jack, karena telah memakai jantung Sang adik untuk dirinya tetap hidup. Begitu egois, baginya kala itu.
Karena hubungan yang harus tetap dijaga kerahasiaannya, pada suatu ketika Iel bertemu Dawn. Mereka cocok, dan menjadi sahabat, bahkan Dawn menganggap Iel sebagai pengganti Deandra, dan mengangkatnya sebagai adik.
Perjalanan hubungan mereka begitu mulus dan tak diketahui satu sama lain. Hingga Naya, sahabat mereka. Ia diam-diam memberi tahu Dawn, tentang hubungan Iel dan Jack.
Bagaimana respon Dawn mengetahui itu semua?
Bagaimana hubungan mereka, ketika tahu bahwa mereka saat ini harus melindungi wanita yang sama. Iel sebagai istri Jack, dan juga sebagai adik angkat Dawn.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Iel menunggu waktunya pergi dengan menemani Jack makan malam. Ia mencuri pandang pada suaminya yang tampan dan berwajah oriental Indonesia Korea itu. "Bahkan untuk sekedar makan saja, Dia begitu menawan." batin-nya.
Jack menyelesaikan suapan terakhirnya, dan bersiap memasuki kamar pink seperti agenda yang biasa Ia lakukan.
"Jam berapa kau berangkat?" tanya Jack, membuyarkan lamunan Iel.
"Hah, sebentar lagi. Aku akan berangkat Lima belas menit lagi." ucap Iel, dengan memandangi jam tangan-nya. Jam tangan itu pemberian Erick, meskipun murah dan begitu nampak tak berkelas, tapi Iel begitu menyayangi benda itu.
"Kau bisa menyetir, bukan?"
"Bisa... Dikampung, Aku sering membantu Ayah menyetir mobil, dan membawa hasil panen ke kota untuk dijual." jawab Iel dengan santai.
"A-apa! Mobil apa yang biasa kau kendarai?" Jack mulai panik.
"L300, pick up yang biasa untuk membawa barang." jelasnya.
"Astaga... Itu mobil yang sering kau bawa? Hey, aku meminjamkanmu salah satu mobil mewahku. Apa bisa kau membawanya dengan hati-hati? Biaya perawatan-nya sangat besar?" tanya Jack pada Iel.
"Aku bisa, dan aku yakin itu. Selamat tinggal Tuan. Aku bawa mobilmu yang ini." pamit Iel, dengan mengambil kunci mobil BMW milik Jack yang paling berharga.
"Hey.... Kau sudah membantah perintahku. Kembali dan tukar mobilnya!" teriak Jack dengan begitu kesal.
Perdebatan sengit itu membuat para pengurus rumah tertawa geli. Seorang Jack yang biasa berkelahi, kini harus bertengkar dengan seorang wanita, yang bisa membuatnya diam seketika.
"Apa kalian tertawa? Senang, melihat harga diriku dipermainkan seorang wanita seperti Dia?" tatap Iel pada semua stafnya. Termasuk Pak Bob, yang tertawa lebih kencang dari yang lain. Membuat Jack menggerutukan-nya dalam bisu.
Jack kemudian kembali naik, dan menuju kamar pink milik mendiang Deandra. Sebenarnya begitu sakit ketika Jack masuk kekamar itu. Namun, disanalah Jack bisa sedikit melepas rindu, dan mencurahkan segala isi hatinya yang perih. Seolah Deandra ada didekatnya saat ini
"Kamu begitu dekat denganku sekarang, Dee. Dalam tubuh ini ada dirimu, wanita yang tak akan tergantikan oleh siapapun juga." ujar Jack, dengan terus memeganggi dada kirinya.
I'el dengan perasaan begitu bahagia, pergi menuju sebuah kontrakan susun, disanalah Erick tinggal, bersama teman-teman seperjuangan mereka. I'el langsung menuju ke lantai Dua, dimana Erick melakukan semua aktifitasnya sehari-hari.
Tok... Tok... Tok....! I'el mengetuk pintu , namun Erick terlalu lama membukanya. Hingga I'el sempat kesal. Ia meraih Hp, lalu mengetik nomor Erick untuk menelponya, dan tiba-tiba Erick tiba-tiba membuka pintu.
"Hey, sayang. Kenapa kok mendadak?" tanya Erick, terlihat gugup.
"Kamu kenapa? Kok gitu lihat kedatanganku?" tanya I'el, lalu masuk dengan sendirinyaa masuk kedalam.
"Kamu sendirian kan?" tanya I'el, mneyalakan lilin ulang tahun diatas kue yang telah Ia buka.
"Se-sendirian dong. Emang sama siapa lagi?"
"Oke... Kita rayakan ulang tahun kamu berdua. Happy birthday to you sayang..." kecup I'el di pipi Erick dengan begitu mesra.
"Makasih sayang, kamu memang pengertian, cintaaaa banget sama kamu." peluk Erick, dengan meniup lilin yang berada di atas meja.
Mereka berdansa sebentar dengan begitu mesra, dan aura bahagia terpancar dari wajah I'el. Hanya saja, entah apa yang membuat Erick sedikit kacau dengan hatinya. Seolah sedang menyembunyikan sesuatu dari Iel.
Suara ketukan pintu terdengar, mereka berdua menghentikan pelukan mesra itu, dan I'el membuka kan pintu untuk Sang tamu.
"Hey... I'el, udah disini?" sapa Grace, teman satu fakultas mereka, yang kebetulan Ia tinggal tak jauh dari kos Erick.
Iel dengan ramah mempersilahkan-nya duduk, dan memberinya sepotong kue untuk mereka makan bersama.
majikan dan pekerjanya" . aku pikir di Indonesia sangat split menemukan keluarga seperti ini. beda dg di eropa, majikan aja di panggil namanya tanpa embel2 🤣