Novel ini bercerita tentang kisah cinta antara guru dan muridnya. Romantisme mereka yang berlangsung secara sembunyi - sembunyi hingga ketahuan, terus bagaimana ya.. penasaran kan..
Lentera dan Rafael Xu alias Wisnu tokoh utama yang memiliki latar belakang berbeda. Siapakah Wisnu sebenarnya?
Akankah Tera berubah?
Dan apakah kisah cinta mereka berjalan mulus?
Simak kisah selengkapnya di novel ini.
Jangan lupa kasih like, favorit, vote, hadiah juga rate buat dukung karyaku ya Kak..
Terima kasih banyak atas supportnya..
Happy Reading..💗💗💗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ria aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The First Night
Tokk.. tokk.. tokk
Berkali - kali Tera mengetuk pintu kamar Wisnu. Hasilnya sama tidak ada jawaban. Tera menarik gagang pintu dan terbuka. Tidak dikunci rupanya. Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Pantas dari tadi nggak menyahut, rupanya dia sedang mandi.
Tera berjalan masuk lalu duduk di tepi ranjang. Menunggu sang empunya kamar selesai mandi.
Krieett.. pintu kamar mandi terbuka.. dan taraa.. munculah sesosok pemuda yang hanya memakai handuk kecil melilit dipinggangnya.
"Aaa.." Tera hampir berteriak tapi dia tahan. Dia takut neneknya mendengar dan berpikir mereka sedang melakukan yang tidak - tidak. Tera menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Kamu kenapa sayang? Kenapa ditutup matanya? Udah halal juga." Wisnu mendekat sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Aku malu. Mending kamu pakai baju dulu sana."
"Percuma. Nanti juga bakalan dilepas."
Mendengar kata - kata Wisnu yang sudah menjurus, jatung Tera berdetak tak beraturan.
"Kak, tolong bantu aku lepas resleting. Susah banget, aku nggak bisa."
"Kamu nggak sabaran ya. Udah minta dilepasin aja." Wisnu menggoda Tera.
"Ihh,, Kak Wisnu."
Wisnu terkekeh melihat Tera yang mulai emosi. Wisnu mendekat ke arah punggung Tera dan menurunkan resletingnya. Beneran lumayan susah, pantes Tera nggak bisa melepasnya sendiri.
Punggung mulus Tera terpampang dengan jelas. Wisnu tidak bisa menahan dirinya lagi. Tera sedikit ketakutan menghadapi Wisnu yang terlalu bersemangat. Tidak ada alasan lagi baginya untuk menolak keinginan Wisnu. Dia juga tidak sedang datang bulan sekarang.
Sentuhan - sentuhan Wisnu membuatnya meremang. Laju darahnya terasa jelas berdenyut di sekujur tubuhnya, rasanya berdesir hingga ke ubun - ubun. Wisnu semakin aktif dan tak henti - hentinya memberikan sentuhan yang membuat Tera ingin meronta. Tera ikut terhanyut dalam permainan Wisnu.
"Apa kamu sudah siap Sayang." suara Wisnu terdengar parau seperti menahan sesuatu.
Tera mengangguk. Dan saat Wisnu mulai menyatukan tubuhnya, Tera menjerit pelan menahan rasa yang teramat sakit. Dia terus memohon agar Wisnu berhenti tapi sia - sia. Wisnu menenangkannya dengan ciuman lembutnya. Tera akhirnya hanya bisa pasrah. Melihat wajah Tera yang nampak lelah, Wisnu mempercepat gerakannya untuk menuntaskan hasratnya. Wisnu ambruk di samping Tera setelah kegiatan mereka selesai. Mereka berdua bermandi keringat dengan napas yang masih memburu.
"Terima kasih Sayang." Wisnu menghujani wajah Tera dengan ciuman lalu berbaring sambil memeluknya.Tubuh polos keduanya terbalut dalam sebuah selimut.
"Kak, sakit." Tera meringis menggigit bibir bawahnya.
"Karena ini yang pertama Sayang. Besok - besok sudah tidak akan sakit lagi." Wisnu membelai rambut Tera.
"Hmm."
"Tidurlah. Sekarang sudah hampir pagi."
"Aku tidak yakin apa besok aku bisa datang ke sekolah."
"Tenanglah. Besok aku antar. Sekarang kita tidur dulu." Wisnu membetulkan kepala Tera bertumpu pada lengannya lalu memeluknya.
Entah siapa yang terlebih dulu terlelap, kini mereka sudah sama - sama tertidur pulas. Mungkin mereka lelah setelah melakukan hal pertama bagi seorang suami istri.
•••••
Tera terbangun terlebih dulu sebelum Wisnu. Dia terbangun karena mendengar suara berisik alarm dari ponsel Wisnu. Dengan setengah sadar dia meraih ponsel itu lalu mematikannya.
"Ah.. badanku pegal - pegal semua." Tera menoleh pria tampan yang tidur disisinya.
Wajah guru tampannya itu nampak lembut dan kalem saat tertidur. Siapa sangka bila dia bisa menjadi buas tadi malam. Tera tersenyum mengingat kejadian semalam. Pelan - pelan Tera bangkit, dia meraih handuk yang dipakai Wisnu semalam untuk menutupi tubuhnya.
"Aw.." Tera berjalan dengan hati - hati untuk mengurangi rasa nyeri yang amat sangat di pangkal pahanya. Baginya sakit setelah berkelahi tidak ada apa - apanya dibandingkan dengan yang dia rasakan saat ini.
Setelah membersihkan diri di kamar mandi, badanya terasa lebih segar. Rasa sakitnya pun sudah tak begitu berasa. Tera membuka lemari baju Wisnu lalu mengambil asal dan segera memakainya. Dia takut Wisnu terbangun dan menerkamnya lagi jika dia tidak segera berpakaian. Tera bergidik ngeri membayangkannya.
"Kak, bangun." Tera menggoyang - goyang badan Wisnu untuk membangunkannya.
"Hmm."
"Buruan bangun Kak, udah jam 7 nih." Tera menepuk - nepuk pipi Wisnu.
"Iya Sayang. Bukan gitu caranya membangunkan suami."
"Em, aku siram pakai air atau.."
Belum juga Tera melanjutkan kata - katanya, Wisnu sudah membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman.
Tera terbengong dengan apa yang dilakukan Wisnu.
"Begitu caranya Sayang. Ya udah aku mandi dulu kamu siap - siap ke sekolah." Wisnu tersenyum geli melihat Tera memakai pakaiannya yang kebesaran.
Merasa Wisnu terus melihat ke arahnya, Tera memegang dadanya dan menyilangkan dua tangannya. Dia pikir Wisnu melihat itu yang sedang tidak memakai kacamata. Dia lalu buru - buru berlari menuju kamarnya untuk berganti baju.
•••••
"Pagi Nek." Tera mendapati neneknya menyiapkan sarapan bersama seorang asisten rumah tangga yang dikirim Alex pagi ini.
"Pagi Sayang. Kamu masuk hari ini?" tanya nenek melihat Tera memakai seragam sekolah.
"Iya Nek."
Tera duduk di meja makan diikuti neneknya.
"Suamimu tidak kamu bangunkan Tera."
"Sudah Nek, sebentar lagi pasti kesini."
"Nah, panjang umur kan dia." Tera menunjuk Wisnu yang datang ke arahnya dengan dagunya.
"Pagi Nek." sapa Wisnu.
"Pagi Sayang. Tera ambilkan sarapan untuk suamimu dulu."
"Dia kan bisa sendiri Nek."
"Kamu itu dibilangin." nenek menggelengkan kepalanya.
Meski membantah Tera tetap melakukan apa yang neneknya suruh. Wisnu tersenyum melihat tingkah manis istrinya.
"Ih, Pak Guru pagi - pagi senyum sendiri. Jangan -jangan lagi kesambet." ucap Tera sambil mengunyah sarapannya.
"Kesambet murid nakal kayak kamu Tera."
"Nakal tapi kamu suka kan?" Tera tak menghiraukan neneknya yang tersenyum mendengar obrolan konyol mereka.
"Udah buruan sarapan. Udah siang nih."
"Baik Pak Guru. Kita berangkat naik sepeda ya Pak Guru."
"Kita naik mobil aja Sayang."
"Nggak mau. Aku nggak mau nanti kita jadi pusat perhatian warga sekolah."
"Ya udah, kita naik taksi aja." Wisnu nggak mau Tera capek bersepeda karena semalam sudah dibuatnya capek.
"Apa katamu lah. Asal nggak pakai mobil mewah kamu aja."
Wisnu memesan taksi online dari HPnya lalu berpamitan pada nenek untuk menunggu taksi di luar. Tak berapa lama taksi itu pun datang. Mereka berdua segera naik dan berangkat menuju sekolah.
Tera dan Wisnu turun di depan gerbang sekolah. Wisnu segera berjalan masuk tapi terhenti ketika sadar Tera masih berdiri di belakang.
"Tera. Kenapa diam disitu? Mau jadi patung selamat datang?"
"Kamu duluan aja."
"Nggak!"
"Nanti ada yang lihat."
Wisnu tak menjawab ucapan Tera, dia berjalan menghampiri Tera lalu menarik tangannya dan membawanya masuk ke gedung sekolah. Tera melihat tatapan tajam orang - orang yang dia temui sepanjang perjalanan menuju kantor kepala sekolah. Nampak mereka berbisik membicarakan dia dan Wisnu di belakangnya.
Saat berjalan melewati kantor guru, Tera lebih berdebar lagi. Dia takut Pak Tyo tiba - tiba muncul dan membuat kehebohan. Dia mengajak Wisnu mempercepat jalannya menuju ruang kepala sekolah.
*****
Bersambung..
semoga ini adalah awal yg baik tuk tera dan Wisnu kedepannya
lanjut kk