IG. Suliani_Cucu
Seasen 1
Aksara Pramudiya adalah seorang pria muda yang kaya raya, dia menyukai seorang perempuan yang terlihat cantik dan sederhana.
Dilihat dari sisi manapun perempuan itu terlihat sangat cantik dan masih terlihat berusia dua puluh tahunan.
Sayangnya dia berbeda keyakinan dengan nya, bahkan ternyata dia sangat kaget jika perempuan yang dia sukai ternyata lebih tua lima tahun dari nya.
Lebih parah nya, perempuan itu ternyata adalah seorang janda beranak satu.
Season 2
Banyak anak membuat hidup Aksa dan juga Najma penuh warna, bahkan kisah anak-anak mereka pun begitu beragam.
Pastinya, diantara salah satu anak Aksa dqn Najma ada yang kecantol sama Janda.
Siapa ya?
Yuk kita kepoin kisah nya.
Mohon dukungan nya buat si aku penulis yang masih amatiran ini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Nenek Wina
Aksa melajukan mobilnya dengan sangat cepat, dia ingin segera tiba di rumahnya. Karena jujur saja dia merasa takut dengan neneknya, dia takuta akan mendapatkan amukan dari neneknya itu.
Setengah jam perjalanan membuat Aksa merasa tak tenang, entah bagaiman nanti sikap neneknya terhadap Aksa.
"Semoga nenek gak akan ngamuk," doa Aksa.
Sampai di rumah Aksa sudah di tunggu oleh nenek Wina, Aksa menelan salivanya dengan sangat susah ketika melihat raut wajah neneknya yang tidak bersahabat.
"Malam, Nek." Aksa langsung mengecup kening Nenek Wina dan memeluknya.
Nenek Wina hanya menghela napas berat, lalu dia mengurai pelukannya dengan cucu kesayangannya itu.
"Pulang telat lagi?"
"Maaf, Nek." Aksa menunduk tanpa banyak bicara, karena takut akan membuat neneknya semakin marah.
"Nenek sudah bilang berkali kali, kalau kamu masih mau bersama dengan Maria, rubah kebiasaan buruknya. Kalau kamu tidak bisa merubah sifat jeleknya, tinggalkan dia." Nenek Wina berkata dengan pelan, tapi penuh dengan penekanan.
Jika sudah seperti itu, wanita itu tidak ingin dibantah. Aksa harus berkata dengan baik, dia tidak boleh membuat wanita tua itu semakin kesal.
"Aku janji, Nek. Aku akan merubah sifat Maria, tapi kasih aku waktu Nek. Tidak mungkin aku bisa merubah Maria hanya dengan satu malam saja Nek," jelas Aksa.
Nenek Wina terlihat keberatan, tapi dia juga merasa tak tega dengan cucunya itu. Semuanya memang perlu waktu, tidak bisa semuanya dilakukan dengan waktu yang cepat.
"Baiklah, satu bulan. Jika dalam satu bulan kamu tidak bisa membuat Maria menjadi lebih baik, Nenek akan menikahkan kamu dengan cucu dari sahabat Nenek."
Sengaja nenek Wina mengatakan hal itu kepada Aksa, karena sungguh dia tidak mau melihat cucu kesayangannya itu menikah dengan Maria.
Tiba tiba saja tenggorokan Aksa terasa kering, bahkan untuk menelan pun terasa sangat susah. Namun, walau bagaimana pun dia sangat mencintai Maria, dia akan berusaha untuk merubah Maria menjadi perempuan yang diinginkan oleh keluarganya.
"Iya, Nek. Akan aku usahakan," jawab Aksa tidak yakin.
Entah kenapa dia merasa jika Maria akan sulit untuk dia rubah, wanita itu akan tetap menjadi dirinya dengan sikapnya yang seperti itu.
"Nenek pegang janji kamu, sekarang masuklah dan mandi."
"Iya, Nek," jawab Aksa patuh.
Aksa melangkah dengan gontai menuju kamarnya, rasanya tidak ada semangat lagi untuk saat ini. Aksa hanya ingin berendam dengan air hangat, agar tubuh lelahnya menjadi segar kembali.
Aksa langsung masuk ke kamar mandi, dia melepaskan semua yang melekat di tubuhnya dan melemparnya begitu saja. Setelahnya dia pun berendam sambil memejamkan matanya, sangat menenangkan, pikirnya.
"Ini sangat sulit, tapi semoga saja aku bisa merubah Maria menjadi seperti apa yang diinginkan oleh nenek, ayah dan ibu."
Hampir satu jam Aksa berendam, karena saking lelahnya dia sampai tertidur di dalam kamar mandi. Pria itu tidur dengan banyak pikiran di dalam benaknya.
Jika Aksa tertidur dengan pulas di dalam kamar mandi, berbeda dengan nenek Wina. Wanita tua itu masih ingin berbicara dengan cucunya, dia dengan tergesa masuk ke dalam kamar cucunya tersebut.
Nenek Wina ingin menyampaikan kalau Aksa masih memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan, pekerjaan yang tentunya akan sangat menguntungkan perusahaan Pramudya.
"Aksa, Sayang. Kamu di mana, Nak?"
Tidak ada Aksa di dalam kamarnya, nenek Wina dengan cepat melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Karena tidak mungkin pria itu akan pergi kemana-mana selain ke kamar mandi.
"Astaga!" ujar Nenek Wina ketika dia membuka pintu kamar mandi.
Di sana dia melihat cucunya yang sedang tertidur dengan begitu pulas di dalam bathtub, matanya terpejam dengan sempurna, sedangkan bibirnya sedikit terbuka.
Terdengar dengkuran harus dari bibir pria itu, sepertinya Aksa benar-benar melewati hari ini dengan begitu cape dan lelah.
"Haish! Kenapa malah tidur di dalam kamar mandi?" tanya Nenek Wina sambil menatap tubuh Aksa yang penuh dengan busa.
Nenek Wina agak sungkan untuk membangunkan Aksa, yang ada dia malah keluar dari dalam kamar mandi dan meminta tolong menantunya untuk membangunkan cucunya itu.
"Baiklah, Mom. Aku akan membangunkan putraku, sekarang Mom istirahat saja."
"Ya," ujar Nenek Wina.
Setelah mengatakan hal itu, Nur langsung melangkahkan kakinya menuju kamar putranya. Dengan perlahan dia membuka pintu kamar mandi dan langsung menggelengkan kepalanya ketika melihat putranya yang tertidur dengan pulas.
"Kalau lelah, seharusnya langsung tidur saja. Gak usah mandi, cukup cuci muka."
Nur duduk di tepian bathtub, lalu dia menggoyang-goyangkan tangan Aksa, dia tidak mungkin membiarkan anaknya tidur semalaman di dalam bathtub.
"Sayangnya Ibu, bangun. Ini sudah jam sembilan, Sayang. Nanti kamu bisa masuk angin loh," ucap Nur dengan begitu lembut
Aksa mengerjapkan matanya, dia mengedarkan pandangannya dan langsung menepuk ke jidatnya. Karena ternyata kini dia masih berada di dalam kamar mandi.
"Bu, aku ketiduran, ya?"
"Ya, kamu sudah seperti Mermaid .Tapi menurut Ibu kamu lebih mirip Dugong," goda Nur seraya menutup mulutnya menahan tawa.
Aksa langsung mengerucutkan bibirnya, dia tidak menyangka jika ibunya akan mengatakan hal seperti itu.
"Ibu, aku ganteng begini loh! Masa di samakan sama Dugong?" kesal Aksa.
"Iya maaf, sekarang cepat bilasan. Habis itu makan, ibu turun duluan." Nur mengusap puncak kepala putranya.
"Siap, Bu," jawab Aksa.
Setelah berbicara dengan putranya, Nur segera keluar dari kamar Aksa, dia segera berjalan ke ruang tengah di mana di sana sudah ada nenek Wina dan Aron.
"Mana anak itu? Kenapa nggak ikut turun sekalian?" tanya Aron.
''Dia ketiduran di dalam bathtub, Sayang. Anak kamu itu sudah seperti mermaid."
Nur terkekeh, lalu dia segera duduk tepat di samping suaminya.
"Ada ada saja kelakuan anak kamu itu, Bu. Selalu saja seperti itu," ucap Ayah seraya memeluk Nur.
"Anak kita, Sayang. Kan' bikinnya berdua, masa anak aku doang sih!" protes Nur.
Aron yang merasa gemas langsung mencium mesra pipi Nur, nenek Wina yang melihat akan hal itu merasa tersinggung karena melihat kemesraan anak dan menantunya.
"Ehem! Trus saja bermesraan di hadapanku, besok aku akan ke makan dan minta daddy kamu untuk bangkit kembali. Aku akan minta dia untuk memelukku, karena anak dan menantuku sekarang sudah tidak perhatian lagi padaku."
Nenek Wina nampak merajuk, Aron dan Nur saling pandang, kemudian mereka menghampiri nenek Wina dan memeluknya dengan erat.
"Maafkan kami ya, Mom. Kami sayang Mommy," ucap Aron seraya menghujani wajah nenek Wina dengan kecupan manis.
Nenek Wina tersenyum senang mendengar ucapan putranya, dia langsung membalas pelukan anak dan juga menantunya.
"Hem, Mom maafkan. Lain kali, jangan abaikan Mom."
"Yes, Mom," jawab Aron.
Saat mereka sedang asik berpelukan, Aksa turun dan langsung ikut memeluk nenek Wina. Selalu saja kebahagiaan yang dia rasakan, saat melihat keluarganya terlihat begitu akur dan saling menyayangi.
"Ada apa ini? Kenapa kalian saling memeluk? Apa ada yang aku lewatkan?"
"Tidak ada yang kamu lewatkan, Sayang. Ini hanya karena kami saling menyayangi," jawab Nenek Wina.
"Aku juga sayang Nenek."
Aksa tersenyum seraya mencium pipi nenek Wina, dia begitu menyayangi wanita tua yang mengurus dirinya dari kecil itu.
"Sudah sana makan, nanti kamu bisa masuk angin. Kami sudah makan duluan, Nenek bisa pingsan kalau harus nungguin kamu turun."
"Oke, Nek." Aksa nampak mengangguk-anggukkan kepalanya dengan patuh.
"Karena ini sudah malam, kami akan masuk ke kamar duluan."
Nenek Wina mengusap puncak kepala cucunya dengan penuh kasih. Aksa mengangguk tanda mengerti, Aksa segera melangkahkan kakinya menuju ruang makan, karena memang rasanya perutnya sudah sangat keroncongan.
"Tak apa walaupun hanya makan sendiri," ujar Aksa seraya menyendok nasi dan juga lauknya.
Aksa makan dengan sangat lahap, walaupun dia makan hanya seorang diri, tetapi hal itu tidak menurunkan rasa laparnya, sesekali dia mengecek pesan yang masuk. Bibirnya pun tersungging saat melihat ada pesan masuk dari pujaan hatinya, Maria.
"Makasih ya, Sayang. Hari ini benar-benar sangat menyenangkan, aku sayang kamu."
Ah! Selalu saja dia merasa senang setiap kali Maria menyebut dirinya dengan sebutan sayang, apalagi seharian ini dia menghabiskan waktu dengan Maria. Rasanya dia semakin menyayangi wanita itu.
"Apa pun yang membuat kamu senang, aku akan melakukannya, Sayang. Yang penting kamu jangan berhubungan lagi sama si Onta, aku nggak suka."
Wajah Aksa sedikit muram kalau teringat kembali kepada Andrew, menurutnya pria itu selalu saja menjadi penghalang antara dirinya dan juga Maria.
"Onta? Siapa itu, Sayang?"
Aksa langsung memutarkan bola matanya dengan malas ketika Maria menanyakan tentang siapa Onta, dia tidak ingin membahas pria itu. Namun, dia juga tidak mungkin tidak menjelaskan siapa Onta itu.
"Cowok yang suka banget dekatin kamu, awas aja kalau suatu saat kamu ketahuan masih berhubungan sama dia. Aku pasti langsung mutusin kamu, aku nggak suka di duain."
Sengaja dia mengirimkan pesan chat bernada ancaman, karena sungguh diet merasa tidak suka jika Maria dekat dengan pria manapun selain dirinya. Terlebih lagi dekat dengan Andrew.
"Iya, Sayang. Pasti aku akan selalu setia sama kamu, mana berani aku ngeduain kamu."
"Good girl, awas aja kalau ketahuan selingkuh. Langsung aku putusin pokoknya, karena aku tidak suka memiliki kekasih yang berselingkuh."
"Jangan khawatir, Sayang. Cinta aku itu hanya untuk kamu, diri ini hanya untuk kamu. Tidak akan ada pria lain yang bersarang di hati aku, hanya kamu cintaku."
Aksa tersenyum senang membaca pesan singkat dari Maria, karena waktu sudah sangat malam Aksa langsung menyelesaikan makan malamnya.
Selsai mengisi perutnya, aksa langsung masuk ke kamarnya. Dia menatap indahnya langit malam dari balkon, rasanya hari ini dia sangat bahagia sekali.
"Semoga saja kamu benar-benar diciptakan untuk aku, karena aku sangat mencintai kamu. Tapi, jika kamu menghianati aku, jangan salahkan aku jika aku bertindak dengan tegas."
Aksa mengucapkan hal itu sambil menatap gelapnya malam, tetapi walaupun terlihat gelap tetap langit malam sangatlah indah, menurut Aksa.
obrolan bunda sama ayah bilang kuliah 2 tahun udah belagak udah jadi dokter kalo ada yg sakit
menggoda 🤧
emezing kali 💃💃💃
he he he he