Masih ingat dengan saya kan? Ya Jihan aulia dan suami saya Zain Musthofa
Hm.... di season ke 2 ini, cukup ngeri ya judulnya , tapi gak papa, mudah mudahan banyak juga pembacanya Amin...
Okey... Sepulang dari ibadah haji, keromantisan kami makin bertambah, apa lagi bang Zain, semakin hari semakin bucin dan lengkat dengan gue, begitu juga dengan gue yang makin bucin dan gak mau jauh dari beliau
Dan gue pikir itu akan berlangsung dan terus romantis dan makin bucin sampai tua nanti, apa lagi kejutan demi kejutan yang sering kami berikan secara bergantian , kebahagiaan yang terus kami dapatkan setiap saat setiap hari, ditambah putra kami Muhammad Haidar Al-Musthofa yang makin aktif dan lucu tentu menjadi pelengkap kebahagiaan keluarga kami
Tapi... Rencana,Ujian dan Rahasia Allah tidak pernah ada yang tau,
Ya.... di tengah kebahagiaan keluarga kami, Ujian dan cobaan yang luar biasa datang, yang membuat DERAI AIR MATA yang luar biasa
Gimana kisahnya...??
Hayuk pantengin terus novel nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulfatun khasanah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelam
Jihan yang mendengar obrolan suaminya di sambungan telfon juga terdiam sejenak untuk mencerna,
Dan terlihat jelas wajah Zain yang ketakutan, membuat Jihan makin penasaran dan curiga
" Kenapa sayang?" tanya Jihan kepo
" Ntah Abang juga kurang faham, tapi Abah kayaknya lagi ada masalah, tiba tiba nyuruh Abang pulang sekarang" jawab Zain bingung
Pasalnya waktu Abah Hasan telfon, Terdengar jelas kemarahan dari cara bicaranya, dan kalau Abah Hasan udah marah, anaknya gak ada yang berani membantah
" Terus Abang mau langsung pulang?" tanya Jihan dan Zain mengangguk dengan melanjutkan makannya
" Terus Al gimana? Asek tugas padat banget lho sayang" ucap Jihan keberatan
Zain berfikir sejenak, dia gak mungkin membawa baby Al untuk menghadapi masalah dengan Abah Hasan, tapi Zain juga gak mungkin membiarkan Al bersama Uminya yang bertugas
" Abang bawa aja nanti, biar sama mbak santri dulu" jawab Zain dan di angguki faham oleh Jihan
Seusai sarapan, Zain siap siap, dan Jihan mempersiapkan kebutuhan baby Al selama di perjalanan,
Setelah semua siap, Zain pamit bersama dengan baby Al, baby Al sudah duduk di kursi depan dengan kursi special untuknya
" Hati hati ya Bang, jangan ngebut ngebut lho, Bawa anak ini" ucap Jihan cukup khawatir
" Iya, nanti malam kalau Abang belum balik suruh temani kawan adek aja dulu ya" ucap Zain sebelum melajukan mobilnya
" Heem.... " Jawab Jihan dengan mencium tangan Zain
Kemudian Jihan berputar dan berjalan kearah pintu baby Al,
" Baby... Baik baik ya nak sama Abah, " ucap Jihan dengan mengelus kepala baby Al lembut
" Tiap Umi (Siap Umi)" jawab Baby Al slow
" Anak Sholeh, cup.." ucap Jihan tersenyum dan mengecup kepala baby Al
" Ya udah Abang jalan ya sayang, hati hati lho, jangan capek capek..." ucap Zain pamit dan Jihan mengangguk
" Assalamualaikum....." salam Zain
" Waalaikumsalam...." jawab Jihan, kemudian Zain melajukan mobilnya pelan meninggalkan Villa nya
Seperginya Zain, Jihan terus bertanya tanya dan berperang pada perasaannya sendiri yang sudah tidak menentu sedari tadi
" Ada Apa ya?" batin Jihan masih pada tempatnya
" Ah.... Udah lah, mudah mudahan gak ada apa apa" batin Jihan tetap berfikir positif walau beda dengan perasaan yang sebenarnya
Jihan lanjut masuk kedalam dan membereskan bekas makanannya tadi,
Setelah semua selesai Jihan bersiap siap untuk mandi karena dia juga harus ke posko untuk lanjut bertugas, Karena hari ini kebetulan mereka ada tugas untuk menemani anak anak vaksin di sekolah,
Terutama Jihan yang memang dia diminta untuk menjadi asisten bu bidan yang belum begitu sembuh benar, jadi disana tugas dia tidak bisa di gantikan
20 menit berlalu, Jihan sudah keluar dari kamar mandi, dan Jihan baru teringat kalau mobilnya tidak ada, jadi mau gak mau kalau gak jalan kaki sepanjang 7 KM juga harus minta jemput salah satu temannya
Dan akhirnya Jihan memutuskan untuk menelfon Rehan untuk menjemputnya,
Setelah memakai hijabnya, dan make up setipis mungkin Jihan siap siap keluar dan menunggu draver ojeknya datang
" Eh... Udah dari tadi Re..?" tanya Jihan ternyata Rehan sudah menunggunya di luar
" Belum lama" jawab Rehan karena memang irit omongan
Jihan menghembuskan nafasnya kesal karena keiritan Rehan saat menjawab sapaannya
Rehan langsung menghidupkan motornya dan Jihan mulai naik dengan di gonceng Rehan, jarang banget sebenarnya Jihan di gonceng seorang laki laki, tapi karena tugasnya mau gak mau dia juga harus mau
Di perjalanan keduanya saling diam, karena Rehan kalau tidak di ajak ngomong memang diam, kecuali kalau ada tugas yang meski klompoknya kerjakan dan dia harus memerintahkan pada anggotanya
" Eh Re......." ucap Jihan dengan memukul pelan pundak Rehan
" Hm..." jawab Rehan singkat
" Irit banget sih ngomongnya, loe ada masalalu kelam dulunya?" tebak Jihan to the poin
" Tau dari mana loe?" langsung saut Rehan datar
" Tau lah, biasanya anak yang irit omong ada masa lalu yang kurang menyenangkan, betul kan?" jawab Jihan sok tau
" Sok tau " jawab Rehan tak kalah datar
" Tau lah, Apa sih yang gak gue tau" ucap Jihan narsis
" Kayak psikolog aja" ucap Rehan tetap datar
" Emang yang tau psikolog doang,? sama sama berprfesi sebagai dokter, gue juga tau kali Re tentang hal itu, apa lagi cowok yang irit omong kayak loe , pasti ada trauma masalalu iya kan?" ucap Jihan terus menebak membuar Rehan tak lagi menjawab karena benar adanya apa yang di katakan oleh Jihan kalau Rehan memang ada trauma masa lalu
Setelah 5 menit perjalanan, mereka sampai juga di posko, lebih tepatnya di kontrakan teman putranya yang mana di sana semua teman temannya sudah berkumpul di sana
" Eh... Tumben minta jemput, pak Ustadz mana Han?" tanya Abim kepo
" Pulang kekampung halaman" jawab Jihan santai setelah turun dari motor Rehan
" Terus pacar gue Mi...?" saut Aulia menanyakan baby Al,
" Tak suruh bawa lah, mana bisa gue tugas sambil bawa anak, kayak ibuk ibuk kondangan tau gak" jawab Jihan ngasal dan menjadi bahan tertawakan untuk mereka
" Nanti malam menjanda dong...." ledek Devano
" Kawani elo dong...." jawab Jihan sengaja menggoda Devano
" Wah jangan dong, gak sedrajat dong, gue sama anda bu sultan" jawab Devano lagi
" Oh.... Bagus dong, sadar diri.." saut Lita lagi lagi membuat temannya tertawa
" Udah yuk, udah siang nih, kita berangkat aja sekalian " ajak Rehan sebagai ketua kelompok dan mereka mengangguk menyetujui
Mereka berjalan bersama, karena gak mungkin bawa motor kalau sebagian jalan kaki, dan Jihan berjalan di barisan paling belakang bersamaan dengan Rehan, yang mana sengaja Jihan lakukan karena masih kepo dengan kekurangan Mental Rehan saat ini
" Han.... " sapa Rehan terlebih dahulu,
" Hem..." jawab Jihan santai
" Loe kok bisa nebak kalau gue ada trauma?" tanya Rehan mulai menghangat
Sebenarnya Rehan itu mau sharing masalahnya, tapi balik lagi dia belum begitu PD dan tidak tau harus Sharing dengan siapa
Dan saat ini diluar dugaan Jihan, karena Rehan sendiri yang mulai buka suara tentang perihal yang dia kepoin
" Terlihat kali Han, sebenarnya semua orang itu sama, cara berbicara dan lain sebagainya, tapi kalau loe itu udah sangat irit banget ngomongnya, jadi kemungkinan besar loe punya masalalu yang cukup melukai, dan benar gak kira kira ?" tanya Jihan saat sudah masuk kegerbang sekolah
Di rumah Abah Hasan, kini udah ada Baha' yanh sengaja Abah Hasan suruh datang sejak subuh tadi, karena ada hal yang harus mereka bicarakan dan selesaikan saat ini
Baha' sebagai anak sulungnya, Abah Hasan meminta kepadanya untuk bisa memberi pengarahan pada Zain yang membuat Abah Hasan benar benar marah saat ini
persis kaya bojo ku klu pkai dapur