Warning! Reverse Harem!!
Ratu Ahimsa Yunanda hanya ingin menjadi siswi SMA biasa. Di tahun ajaran barunya, Yuna sudah membuat satu keputusan sederhana:
Jangan mencolok.
Jangan sampai orang lain menyadari bahwa cara berpikirnya tidak seperti kebanyakan orang.
Bagi Yuna, menjadi terlalu berbeda hanya akan membuatnya sulit diterima. Maka ia belajar menahan diri.
Menahan analisis yang terlalu dalam.
Bahkan menahan komentar-komentar yang sebenarnya sudah berdesakan di kepalanya.
Ia hanya ingin menjalani masa SMA seperti remaja lainnya.
Namun ternyata, menyembunyikan dirinya sendiri jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.
Sebab tanpa disadari Yuna, justru sisi dirinya yang paling berusaha ia tutupi mulai menarik perhatian tiga orang pemuda. Dan terpaksa menghadapi satu masalah yang tidak pernah masuk dalam perhitungannya.
Bagaimana jika orang-orang yang selama ini ingin ia jauhi justru menjadi orang-orang yang paling memahami dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan sang ketua OSIS
Sepuluh menit berlalu, bel masuk telah lama berbunyi. Cahaya matahari yang masuk dari jendela besar di sisi selatan mulai perlahan naik.
Namun...
Guru yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Suasana kelas yang sempat hening mulai kembali dipenuhi bisik-bisik kecil.
Yuna yang ikut merasakan kegelisahan itu pun ikut bertopang dagu menggunakan punggung tangannya.
"Hambatan apa yang membuat sang guru belum datang ya?" gumamnya lirih.
"Entahlah. Keknya ada perubahan jadwal," sahut Melody mencoba menebak-nebak.
Tatapan matanya melongok keluar jendela, seolah sedang ikut mencari sang guru wali kelas.
Beberapa detik dalam kebingungan, tiga orang siswa berseragam almamater OSIS tiba-tiba merangsek masuk. Sontak, seluruh kepala menoleh ke arah ambang pintu.
Almamater biru muda yang mereka kenakan tampak rapi, dipadukan dengan seragam putih abu-abu yang disetrika licin. Yang membuat penampilan mereka jauh lebih modis dibanding siswa kebanyakan.
Beberapa siswi langsung berbisik pelan.
"Wah..."
"Kakak OSIS..."
"Ternyata bener, masih MPLS..."
Yang berdiri paling kiri adalah seorang siswi berambut panjang dengan senyum hangat.
"Kak Nia."
Di sebelahnya, seorang siswi berambut pendek dan berkacamata dengan frame hitam. Menunjukkan sosok yang ramah dan terkesan baik hati
"Kak Raizel."
Dan sosok terakhir berdiri paling depan. Dengan senyum lebar yang menurut sebagian besar siswa terlihat ramah.
Namun...
Di mata Yuna...
"Huh..."
"Semesta benar-benar sedang mengujiku," keluhnya sembari menopang pipinya.
Azka.
Kakak tingkat.
Ketua OSIS.
Sekaligus...
Adik kandung Nazwa.
Yang berarti...
Kakak iparnya.
Yuna memejamkan mata sesaat.
"Tak kusangka yang datang malah dia..."
Azka melangkah masuk lebih dulu sembari membusungkan dada. Langkahnya nampak terlalu dibuat-buat agar terkesan berwibawa.
Setelahnya, pandangan matanya menyapu seluruh kelas. Dengan senyum yang ia kira akan tampak hangat, terus terhias di wajahnya.
Seketika langsung disambut beberapa siswa yang mulai duduk lebih tegap.
Kecuali Yuna...
Ia justru memicingkan mata tipis.
Di sebelahnya, Melody malah berbisik antusias.
"Keren banget Kak Azka!" gumamnya tanpa sadar. Yuna yang mendengar hal itu pun meringis keheranan.
Ketiga kakak pembimbing itu akhirnya berdiri tepat di depan ruang kelas. Dengan posisi Azka yang berada di tengah—diapit oleh dua orang rekan lainnya.
Tanpa sengaja, tatapan Azka bertemu dengan Yuna.
Hanya sepersekian detik, tapi cukup untuk membuatnya mengangkat sebelah alis.
Lah? Adek gue ada disini?
Mungkin seperti itulah kalimat yang hendak diucapkan dari ekspresinya tersebut. Yuna pun menyipitkan matanya curiga.
Kak Nia melangkah setengah langkah ke depan dengan senyum hangat. Kemudian tangannya terangkat kecil—hendak melakukan sesuatu.
"Selamat pagi, adik-adik—"
"SELAMAT PAGI ADIK-ADIK SEMUAAA!"
Suara lantang itu langsung menelan ucapan Nia mentah-mentah. Membuat seluruh bahu para siswa menegang dalam satu tarikan napas.
Azka berdiri tegap di tengah. Seakan benar-benar ingin menonjolkan aura sang ketua OSIS yang mulai merambat ke seisi ruangan.
Sementara di sampingnya, senyum Kak Nia perlahan menghilang. Kelopak matanya berkedut pelan.
Baru juga mau ngomong gua, Anjir!
Padahal lima menit sebelum memasuki kelas ini, ia sudah bertekad bulat.
Hari ini aku harus terlihat seperti kakak pembimbing yang anggun, lembut, dan penuh kasih sayang.
Sayangnya... semua niat mulia itu langsung runtuh begitu Azka mulai membuka mulut.
"Saya tanya!"
Azka kembali berseru.
"SELAMAT PAGI SEMUANYA!"
Kali ini suaranya menggema lebih keras lagi. Laksana seorang vokalis band rock tersesat ke ruang kelas.
Para siswa baru yang sempat kebingungan akhirnya tersadar.
"Pagi!"
"Pagi!"
"Luar biasa!"
Yang jawab baru lima orang. Dan sisanya bengong.
Azka pun terbatuk singkat. Entah karena debu, tetapi ruangan ini cukup bersih untuk membuat seseorang terbatuk.
"Sekali lagi..."
Beberapa siswa mengerjap cepat. Dan mulai mengingat akan yel-yel yang kemarin sempat para kakak pembimbing ajarkan.
"SIAPA KITA?!"
Azka kembali berteriak lantang.
"SEPULUH IPS SATU!"
Akhirnya sebagian mulai menyahut.
"APA MOTTO KITA?!"
"BANGKIT!"
"TUMBUH!"
"MENJADI JUARA KELAS!"
Suara mereka mengguncang ruang kelas. Semangat yang tadinya masih setengah mengantuk kini benar-benar menyala.
Azka mengangkat kedua tangannya.
"Bagus!"
"Sekarang..."
"Kita nyanyikan yel-yel kebanggaan kelas kita!"
"SIAP?!"
"SIAAAP!"
"LET'S GO!"
"YO-AYO!"
Tepukan tangan yang dicampur oleh tepukan di pundak mulai beradu. Hentakan kaki ikut menyusul. Mulai melantunkan irama yel-yel yang menggema memenuhi ruangan.
Kalau didengar sekilas... lebih mirip lagu penyemangat pasukan yang hendak berangkat perang daripada lagu penyambutan siswa baru.
Di sisi lain, Kak Nia hanya menarik napas panjang. Dengan wajah datar, ia ikut bertepuk tangan pelan.
Plok!
Plok!
Semangatnya nyaris tidak ada—langsung anjlok pasca seruan sang ketua OSIS barusan.
Sementara Kak Raizel yang ada di sampingnya hanya tersenyum tipis. Seolah sudah terbiasa melihat tingkah ketua OSIS yang kadang terlalu sulit ditebak akan jalur pikirnya.
Di barisan depan, semua siswa sudah berdiri mengikuti irama. Kecuali satu orang.
Yuna.
Ia berdiri tegak. Kedua tangannya ikut bertepuk dengan tempo yang benar. Namun wajahnya tetap datar.
Tatapannya kosong ke arah depan. Pikirannya kembali berputar karena mencoba menghubungkan sangkut pautnya akan kegiatan yang sedang mereka lakukan saat ini.
"Apa hubungan antara yel-yel yang menyerupai mars militer..."
"daftar barang berkode yang harus dipecahkan kemarin..."
"dengan efektivitas proses belajar mengajar setelah ini?"
Beberapa detik berlalu, ia mencoba mencari pola. Mencoba menghubungkan sebab dan akibat. Mencoba menemukan tujuan pendidikan di balik semua kegiatan itu.
Lalu...
Yuna menghela napas pelan.
"Tidak ada."
"Ini hanyalah akal-akalan Kak Azka semata..."
"untuk melakukan perpeloncoan secara massal terhadap peserta didik baru."
Kesimpulan itu terasa begitu masuk akal di kepalanya.
Sementara di depan kelas, Azka justru berseru semakin lantang.
"SEMANGATNYA MANA?!"
Yuna memejamkan mata sepersekian detik.
"Yep! Hipotesisku semakin kuat."
....
Yel-yel akhirnya mencapai bait terakhir. Tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan. Beberapa siswa bahkan bersiul. Yang lain saling menepuk bahu.
Suasana yang terasa lebih mirip tribun suporter yang baru menyaksikan tim kesayangannya mencetak gol daripada ruang kelas pada hari pertama sekolah.
Azka mengangguk puas akan rencananya berhasil secara meriah.
Tepat ketika hendak melanjutkan bicara, pandangannya kembali jatuh ke barisan depan.
Lebih tepatnya... ke bangku tempat Yuna duduk.
Alisnya terangkat tipis.
Tumben dia dandan...
Bando biru tua yang melingkar di atas rambut pendek Yuna membuat penampilannya sedikit berbeda dari biasanya.
Jauh lebih rapi.
Sedikit lebih manis.
Di sisi lain, Yuna yang baru saja duduk merasakan ada seseorang sedang menatapnya.
Kepalanya mencoba memindai ruangan untuk mencari siapa sosok yang menatap dirinya. Sampai pandangan mereka bertemu.
Yuna menatap tajam ke arah wajah itu. Dengan harapan, tatapan itu cukup untuk menjelaskan isi kepalanya.
Tetapi respon yang di dapat justru sebaliknya. Senyum Azka justru semakin melebar. Lalu mengalihkan pandangannya ke seluruh kelas.
"Adik-adik. Sudah kenal semua sama teman-temannya?"
Hening.
Tak ada satu pun yang menjawab.
Karena memang pertanyaan itu terlalu sulit dijawab.
Baru dua hari orientasi. Sebagian besar dari mereka saja masih sulit untuk menghafal nama wali kelas.
Azka mengangguk pelan. Lalu mengulanginya dengan suara yang jauh lebih lantang.
"SAYA TANYA!"
"SUDAH SALING MENGENAL BELUM?!"
Yang terdengar hanya dengungan pendingin ruangan.
"Hmmmm..."
Azka menyipitkan mata.
Tatapannya menyapu seluruh kelas perlahan. Persis seekor harimau yang sedang memilih rusa mana yang akan dikejar lebih dulu.
Lalu...
"Kamu."
Ia menunjuk seorang siswa bertubuh tinggi di bangku belakang.
"Iya, Kak?"
Siswa itu refleks berdiri. Wajahnya langsung pucat.
"Siapa nama teman yang duduk di depan saya ini?"
Azka menunjuk ke arah Yuna.
Yuna ikut menoleh dengan tatapan datar dan dingin.
Namun Azka sama sekali tidak bergeming. Dan malah semakin santai.
"Eee..."
"Yang..."
"Anu..."
Beberapa suara tawa mulai terdengar meski masih tertahan. Namun cukup untuk membuat suasana kelas mencair.
Azka mengangguk pelan.
"Baik."
Ia lalu menunjuk siswi lain yang duduk di dekat jendela.
"Kalau kamu. Siapa nama teman di sampingmu?"
Siswi itu tersenyum canggung.
"...Belum hafal, Kak. Ehe..."
Azka terus berpindah dari satu siswa ke siswa lain.
Jawabannya...
Tetap sama.
Belum tahu.
Belum hafal.
Masih lupa.
Mata Azka perlahan berbinar. Laksana seorang pengacara yang baru saja menemukan bukti paling menentukan di ruang sidang.
"Ish..."
"Ish..."
"Ish..."
Ia menggeleng pelan sambil mendecak prihatin.
"Sedih sekali belum saling kenal."
Kak Nia mulai curiga terhadap ekspresi itu.
Dan benar saja, Azka menepukkan kedua tangannya.
"Baik!"
"Kalau begitu!"
"Agar kalian lebih cepat akrab..."
Ia berhenti sesaat. Senyumnya semakin lebar sembari menyisir ke seluruh kelas. Bagaikan ingin melihat wajah-wajah terakhir yang akan ia eksekusi.
"...kita akan mengacak seluruh posisi duduk."
Ruangan mendadak sunyi.
Lalu...
"HAH?!"
Protes spontan menggema dari berbagai sudut kelas.
"Kok gitu, Kak?!"
"Baru nyaman duduk di sini!"
"Yaah..."
Bahkan Kak Nia sampai membelalakkan mata.
"Kak Azka..."
Bisiknya pelan.
"Itu nggak ada di rundown."
Azka belum menyadari tatapan Nia. Dan tetap melanjutkan rencana yang entah sejak kapan terlintas di kepala sang ketua OSIS sotoy itu.
Nia pun hanya bisa melipat kedua tangannya di depan dada sembari menghela napas sabar.
"Keknya ide itu baru datang dua detik yang lalu deh..."
Sementara itu di bangku depan, Yuna memejamkan mata perlahan. Karena satu per satu rencana yang ia susun sejak memasuki kelas mulai runtuh.
Posisi duduk optimal.
Jarak pandang.
Kemungkinan ditunjuk guru.
Interaksi sosial minimum.
Semuanya...
Lenyap dalam satu kalimat.
Yuna membuka mata.
Tatapannya kembali tertuju pada Azka.
"Kamu memang datang bukan untuk membimbing kami, Kak Azka..." desisnya jengkel.
"Melainkan untuk menghancurkan stabilitas mental peserta didik baru."
Sementara di depan kelas, Azka masih tersenyum puas.
Baginya...
MPLS baru benar-benar dimulai.
sebelumnya lebar lapangan