NovelToon NovelToon
Setelah Malam Pertama

Setelah Malam Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Julia And'Marian

Pernikahan adalah impian semua orang, termasuk Calista, ia terpaksa harus menikah dengan sosok pria yang seharusnya ia benci, karena sudah membunuh ayahnya. Namun, ayah Danis justru menukar semuanya dengan sebuah pernikahan dengan sang putra. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan, Calista justru tersiksa. Ia di benci ibu dan kakak Danis, bahkan tak di anggap oleh Danis. Pria itu bersikap dingin padanya. Beberapa bulan kemudian, Calista sudah muak, apalagi saat Danis meminta akan menikah dengan kekasihnya, ia yang tak siap di madu, akhirnya memilih meminta cerai. Namun sebelum itu, Calista memberikan hak Danis, ia dan Danis malam itu melakukan hubungan suami istri untuk yang pertama kali, sebelum paginya Danis menceraikan Calista.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Danis mengembuskan napas panjang. Jemarinya berputar pelan pada bibir gelas kristal di hadapannya. Es batu di dalamnya sudah hampir mencair, namun ia sama sekali tidak berniat meminumnya lagi.

Faas masih memperhatikan sahabatnya dari balik tatapan tajam. Sudah bertahun-tahun mereka berteman. Ia hafal betul bagaimana sifat Danis. Pria itu selalu tenang. Selalu mampu menyembunyikan emosi.

Namun malam ini... Semua itu seolah runtuh. Tatapan Danis kosong. Sesekali ia mengusap tengkuknya, lalu mengembuskan napas berat, seakan ada beban yang menekan dadanya.

"Kamu yakin nggak mau pulang saja?" tanya Faas pelan.

Danis menggeleng. "Belum."

"Mau sampai kapan di sini?"

"Tidak tahu."

Faas menghela napas. Ia memilih diam. Tak ada gunanya memaksa seseorang yang bahkan belum memahami isi hatinya sendiri.

Di sisi lain ruangan, dentuman musik semakin keras. Beberapa pasangan tertawa sambil menikmati malam. Pelayan berlalu-lalang membawa minuman. Lampu-lampu berwarna ungu dan biru bergantian menerangi setiap sudut ruangan.

Danis menoleh sekilas. Tatapannya kosong. Hingga... Sebuah sosok yang sangat dikenalnya membuat pandangannya berhenti. Keningnya berkerut. "Itu..."

Faas mengikuti arah pandangan Danis. Beberapa meter dari meja mereka, seorang wanita bergaun merah tengah tertawa manja. Rambut panjangnya tergerai. Tangannya melingkar santai di lengan seorang pria.

Wanita itu...

Sari.

Calon istri yang selama ini selalu Danis perjuangkan.

Faas ikut terdiam. "Danis..."

Namun Danis belum menjawab. Tatapannya masih terpaku. Mungkin... Ia salah lihat. Namun, ia tak salah, itu memang Sari . Tapi ia masih berpikir rasional. Mungkin saja pria itu hanya rekan kerja. Atau kerabat. Ia mencoba berpikir sejernih mungkin. Tetapi beberapa detik kemudian... Pria yang bersama Sari meraih pinggang wanita itu tanpa ragu.

Sari tidak menolak. Sebaliknya... Ia tersenyum lebar. Bahkan membiarkan kepalanya bersandar di bahu pria tersebut.

Jantung Danis berdetak semakin cepat. Tangannya yang berada di atas meja mengepal kuat.

Faas menatap sahabatnya bergantian dengan pasangan itu. "Jangan buru-buru menyimpulkan." Kalimat itu terdengar pelan.

Namun... Belum sempat Danis merespons. Pria itu membelai lembut pipi Sari. Lalu... Mengecup keningnya.

Sari menundukkan wajah sambil tersenyum malu. Beberapa detik kemudian, ia membalas dengan memeluk pria itu lebih erat. Semua terjadi begitu saja. Tanpa mereka sadari. Tanpa mereka tahu bahwa ada sepasang mata yang sedang menyaksikan semuanya.

Brak!

Gelas di tangan Danis menghantam meja cukup keras hingga beberapa tetes minuman tumpah.

Beberapa pengunjung menoleh sesaat.

Faas langsung menahan lengan sahabatnya. "Danis."

Pria itu bangkit dari duduknya. Tatapannya tidak lagi kosong. Kini dipenuhi amarah yang sulit disembunyikan. Rahangnya mengeras. "Oke..." Suara Danis terdengar rendah. "Sekarang aku mengerti."

Faas berdiri ikut menghalangi langkahnya. "Kamu mau ke mana?"

"Menghampiri mereka."

"Jangan gegabah."

"Lepaskan."

"Danis."

"Lepaskan, Faas." Nada suaranya mulai meninggi.

Sudah cukup. Sepanjang hari ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua keputusan yang ia ambil adalah benar. Bahwa menceraikan Calista adalah jalan terbaik. Bahwa setelah itu ia bisa hidup bersama wanita yang benar-benar ia cintai.

Namun... Apa yang dilihatnya malam ini menghancurkan semua keyakinan itu. Wanita yang selama ini selalu mengatakan mencintainya... Wanita yang membuatnya rela mempertaruhkan rumah tangganya... Kini justru berada dalam pelukan pria lain. Dan yang paling menyakitkan... Senyum yang selama ini selalu ia rindukan justru diberikan kepada orang lain.

Faas menggenggam bahu Danis lebih erat. "Duduk dulu."

"Aku bilang lepaskan!" Danis melepaskan tangan Faas dengan kasar. Langkahnya mulai mengarah ke arah Sari.

Namun baru beberapa langkah... Sari dan pria itu justru berjalan menuju pintu keluar sambil masih bergandengan tangan. Keduanya tertawa. Sesekali saling berbisik. Seolah dunia hanya milik mereka berdua.

Danis mempercepat langkah.

"Danis!" Faas ikut mengejar.

Sayangnya, ketika mereka sampai di depan pintu klub... Mobil berwarna hitam telah melaju meninggalkan halaman.

Danis berhenti. Tatapannya mengikuti mobil itu hingga menghilang di balik padatnya lalu lintas malam. Kedua tangannya mengepal begitu erat hingga urat-urat di punggung tangannya tampak jelas. Dadanya naik turun menahan amarah.

Untuk pertama kalinya dalam hidup... Ia merasa dirinya dipermainkan.

Faas berdiri di sampingnya tanpa berkata apa-apa. Ia tahu, saat ini sahabatnya tidak membutuhkan nasihat. Ia hanya sedang berusaha menerima kenyataan yang baru saja menghantamnya telak. Di tengah hembusan angin malam, Danis menundukkan kepala. Bayangan Sari yang tersenyum dalam pelukan pria lain terus berputar di benaknya.

Namun, anehnya... Di sela-sela bayangan itu, wajah Calista kembali muncul. Wajah perempuan yang siang tadi pergi sambil menahan tangis. Perempuan yang bahkan setelah diceraikan masih sempat mendoakan kebahagiaannya. Tanpa sadar, dada Danis kembali terasa sesak. Jauh lebih sesak daripada sebelumnya.

*

Danis masih berdiri mematung di depan pintu klub. Sorot lampu kendaraan yang berlalu-lalang memantul di kedua matanya.

Mobil hitam itu telah lenyap. Namun bayangan Sari yang tertawa dalam pelukan pria lain seolah masih jelas berada di hadapannya.

Brak!

Tanpa bisa mengendalikan amarahnya, Danis meninju pilar beton di samping pintu masuk klub.

Suara benturan keras membuat beberapa orang menoleh.

"Danis!" Faas buru-buru menarik lengannya.

Namun Danis menepisnya dengan kasar. "Jangan sentuh aku!" Napasnya memburu. Rahangnya mengeras. Urat-urat di lehernya tampak menonjol menahan amarah yang sudah berada di ubun-ubun.

"Brengsek!"

Ia kembali menghantam pilar itu. Kali ini lebih keras. Kulit buku-buku jarinya langsung robek. Darah segar menetes perlahan hingga membasahi lantai.

Faas mengumpat pelan. "Kamu gila?!"

Danis tertawa pendek. Tawa yang sama sekali tidak terdengar bahagia. "Gila?"

"Iya!"

"Aku memang gila! Selama ini aku dibodohi!" Dadanya naik turun. Matanya memerah. "Aku menceraikan istriku... demi perempuan yang ternyata bercumbu dengan laki-laki lain!" Kalimat terakhir itu terdengar seperti raungan.

Beberapa pengunjung yang baru keluar dari klub mulai memperhatikan mereka.

Faas segera menarik Danis menjauh dari pintu masuk. "Cukup! Jangan bikin keributan di sini."

Danis kembali menepis tangan sahabatnya. "Cukup katamu? Kamu tahu apa yang sudah aku korbankan?"

Faas terdiam.

"Aku mengorbankan rumah tanggaku! Aku mengorbankan seorang perempuan yang tidak pernah sekalipun membantahku! Aku..." Danis menggantung ucapannya. Tenggorokannya terasa tercekat. Ia memejamkan mata. Wajah Calista kembali memenuhi pikirannya.

Perempuan itu... Tak pernah menuntut. Tak pernah meminta harta. Tak pernah memaksa dirinya untuk mencintai. Bahkan saat diceraikan.. Calista masih berkata,

"Semoga kamu bahagia."

Sementara Sari... Wanita yang selalu ia bela... Justru sedang bermesraan dengan pria lain.

"Brengsek!" Danis mengacak rambutnya sendiri. "Aku ini benar-benar bodoh!"

Faas memandang sahabatnya dengan iba. Seumur hidup, baru kali ini ia melihat Danis kehilangan kendali seperti ini. Biasanya pria itu mampu menyembunyikan semua emosi di balik wajah datarnya.

Namun malam ini... Topeng itu benar-benar hancur.

Danis mengambil ponselnya dengan gerakan kasar. Jarinyalah yang gemetar, bukan karena takut... Melainkan karena marah. Ia mencari nama seseorang.

Sari.

Tanpa ragu ia menekan tombol panggil.

Tuut...

Tuut...

Tuut...

Tidak diangkat. Ia mencoba lagi. Masih sama. Tidak ada jawaban. Rahangnya kembali mengeras.

"Angkat...!" gumamnya pelan.

Sekali lagi ia menelepon. Namun hasilnya tetap sama. Beberapa detik kemudian, layar ponselnya menyala.

Sebuah pesan singkat masuk.

|Maaf, Mas. Aku lagi sama teman. Nanti aku telepon lagi, ya.|

Danis membaca pesan itu berulang kali. Lalu... Ia tertawa. Tawa yang terdengar begitu getir.

"Teman?"

Ia mengangkat ponselnya, memperlihatkan pesan itu kepada Faas.

"Katanya sama teman."

Faas hanya mengembuskan napas panjang.

Danis menggertakkan giginya. "Ternyata selama ini... aku cuma laki-laki bodoh yang percaya begitu saja." Dengan satu gerakan cepat, ia menggenggam ponselnya erat-erat. Hampir saja ia membanting benda itu ke aspal. Namun ia mengurungkan niatnya.

Sebagai gantinya, ia menatap langit malam yang kelam. Keraguan mulai menyusup ke dalam hatinya. Jika ia salah memilih!

#Yang pengen lanjut komentarnya ya... Biar ramee. biar semangat authornya..

1
mama
ku pikir udh gk dilanjut ini cerita kak.. kan syg
Julia and'Marian: lanjut kak... kemarin tunggu kontrak nya dulu. lama bingit..
total 1 replies
Lia se
kalau gue jadi faas, udah gue tonjok Lo nis
Lia se
kapok, udah terasa kayaknya dia
Lia se
kau yang nggak tahu diri taiiu
Lia se
Ya ampun cal, kalau aku udah aku Jambak tuh orang
Lia se
benci banget sama keluarga kayak begitu
Lia se
😲
Lia se
Danis...🤭
partini
kena tipu ini mah
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
semoga saja ada maaf untuk mu Danis...,, dan semoga secepatnya bertemu Calista
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Herman Lim
jgn hamil aja nanti Calista
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
rupanya semesta alam belum merestui Danis bertemu Calista 🥺... tetap semangat ya Danis temukan Calista dan minta maaf,
partini
sedikit lagi bertemu tapi ga jadi macam sinet indo gumussss
Eva Karmita
ayo terus cari Calista Denis semangat 🔥💪🥰
partini
Danis tuh cari Calista mau minta rujuk
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
partini
udah di buang sekarang di cari mejilat ludah sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!