Kayla Daviena, seorang gadis konglomerat yang hidupnya suka foya-foya. Karena sikapnya itu, sang ayah mengambil seluruh kartu kreditnya dan bahkan menyuruh Kayla untuk tinggal seorang diri di kos-kosan sederhana di tengah kota! Hidup pas-pasan, tunggakan yang numpuk, piring belum di cuci, semuanya datang bertubi-tubi tanpa henti dalam hidup gadis itu. Siapa sangka ia tiba-tiba bertemu cowok aneh super menyebalkan yang tinggal di sebelah kosnya, dan mendadak di cowok itu memacari dirinya tanpa aba-aba! Apa yang akan terjadi dengan mereka selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Juna
Matahari pagi ini rasanya sengaja bersinar lebih terik hanya untuk mengejek Kayla. Ia berdiri di depan gerbang kosan dengan wajah frustrasi, berkali-kali menekan layar ponselnya yang menampilkan notifikasi menyebalkan: Pulsa Anda tidak mencukupi untuk melakukan pemesanan.
"Aduhh! Masa gue harus jalan kaki ke depan gang sih?!" keluh Kayla. Ia melirik high heels cantiknya yang sebenarnya lebih cocok dipakai ke acara pesta daripada menyusuri jalanan aspal gang yang banyak kerikilnya.
Dengan langkah angkuh yang dipaksakan, Kayla mulai berjalan. Namun, baru sekitar lima puluh meter—KREK!
"Eh?!" Kayla oleng. Kaki kanannya mendadak miring. Ia menunduk dan mendapati sol sepatunya sudah menganga seperti mulut buaya lapar. "Sialan! Masa sepatu mahal begini protol kena aspal gang?! Ini pasti gara-gara debu kosan ini yang bikin kualitas sepatu gue turun!"
Saat ia tengah meratapi nasib sambil memegangi sepatunya yang rusak, tiba-tiba dari arah belakang terdengar deru motor yang melaju kencang.
VROOOMMM! CIIIITTT!
Motor itu berhenti tepat beberapa senti di samping Kayla, membuat debu jalanan beterbangan ke wajahnya. Kayla sudah siap meledak, ia berbalik dengan mata menyala. "HEH! LO MAU MATI YA?!"
Si pengendara motor membuka kaca helmnya. Seringai menyebalkan itu muncul lagi. "Loh, si Mbak Penendang Ember? Lagi latihan akrobat ya berdiri pakai satu kaki gitu?"
Juna melirik ke bawah, ke arah tangan Kayla yang memegang potongan sol sepatu. Detik berikutnya, tawa Juna pecah. "BUAHAHA! Gila, itu sepatu apa martabak? Kok bisa lepas gitu? Makanya Mbak, kalau tinggal di kosan begini, pakainya sandal jepit aja, lebih tangguh!"
"DIEM LO! Ini musibah, tahu nggak?!" bentak Kayla. Ia baru saja mau membalas lebih pedas, tapi matanya mendadak terpaku pada kemeja putih yang dikenakan Juna di balik jaketnya yang terbuka sedikit. Ada logo OSIS di kantongnya. Celananya pun berwarna abu-abu panjang.
Kayla terdiam seribu bahasa. Ia mengerjapkan mata berkali-kali. "Lo... lo pake seragam SMA?"
Juna menaikkan sebelah alisnya, lalu melihat ke bajunya sendiri. "Oh, ini? Iya, kenapa? Baru sadar kalau gue masih muda, imut, dan menggemaskan?"
Kayla masih syok. "Jadi lo... lo masih bocil?! Masih anak SMA?!"
Juna tertawa kecil, ia sengaja memajukan motornya sedikit agar wajahnya lebih dekat dengan Kayla. "Kenapa? Takut naksir ya sama 'bocil' kayak gue? Jangan diem aja gitu dong, makin kelihatan kalau lo terpesona sama kegantengan anak sekolah."
"Idih! Mimpi lo!" Kayla langsung memalingkan wajah, menyembunyikan rona merah karena malu sekaligus kesal. Ia memutuskan untuk lanjut berjalan dengan kaki pincang sebelah, meninggalkan Juna.
Juna tidak menyerah. Ia menjalankan motornya pelan-pelan di samping Kayla, mengikuti ritme jalan kaki Kayla yang pelan itu. "Woy, mau ke mana sih? Ke bengkel sepatu? Ke halte?"
"Bacot! Gue mau beli pulsa!" sahut Kayla ketus tanpa menoleh.
"Oalah, mau beli pulsa aja perjuangannya kayak mau daki gunung. Sini naik, gue anterin. Anggap aja pelayanan masyarakat dari dedek SMA buat mbak-mbak kos sebelah," tawar Juna sambil menepuk jok belakang motornya.
"Gue nggak sudi naik motor lo!" Kayla tetap jual mahal, dagunya diangkat tinggi-tinggi meski jalannya makin sulit.
Juna mengedikkan bahu santai. "Ya sudah kalau nggak mau. Padahal konter pulsa masih jauh loh, ntar kaki lo lecet jangan nangis ya. Gue duluan, Tuan Putri!"
Juna langsung menarik gasnya dalam-dalam. VROOOM! Motor itu melesat menjauh, meninggalkan kepulan asap tipis yang menyapu wajah Kayla.
Kayla berhenti melangkah. Ia berdiri mematung di pinggir jalan, menatap punggung Juna yang semakin mengecil di kejauhan.
"Bener-bener ya itu bocah!"
Dengan susah payah Kayla berjalan melewati jalan dengan heels miliknya yang sudah kropos itu. Setelah ia selesai mengisi pulsa, ia segera memesan gojek dan segera berangkat ke kampus.
Begitu sampai di sana, Kayla dengan tergopoh-gopoh berjalan menuju toilet. Untungnya ia membawa flat shoes, jadi ia sempat untuk mengganti heels itu dengn flat shoes.
"Eh, Kayla. Good morning!" sapa seseorang.
Kayla segera menoleh. Matanya membulat begitu melihat seorang gadis dengan rambut bondol seeya kacamata cat eye itu suah ada di hadapannya, ia tersenyum kepadanya, senyum yang agak menyebalkan bagi Kayla.
Kayla memutar kedua matanya malas dan tak menggubris sapaan dari gadis itu. Ia dengan cepat memasukkan heels miliknya kedalam tas dan hendak pergi dari sana.
"Woy, lu punya mulut ngga di pake ya?" ucap Selesai dengan ketus, kesal dengan Kayla.
Kayla menatap tajam, "Menurut gue sih buang-buang waktu ya, mending gue langsung aja ke kelas!"
"Hmph, Pak Ardi hari ini ngga masuk. Kelas di ganti besok siang," ucap Selena sambil berpangku tangan.
"WHAT?! DI GANTI BESOK?!" Kayla hampir tak percaya.
Selena hanya mengangguk pelan. Ia lalu memperhatikan Kayla dari atas sampai bawah dengan senyuman sinis.
"Lo habis di usir dari rumah ya? Pakaian lo kayak lusuh gitu sih, agak kusut gimana.. " ucap Selena pelan seolah kasihan, namun terdengar lebih seperti menghina Kayla secara halus.
Kayla muak sekali mendengar suara gadis ini, apalagi memandang wajahnya! Ia maju selangkah dan menatap Selena lembut sambil mengelus pundaknya pelan.
"Mungkin yang kasihan lo, lihat tuh tunggakan semester lo belum di bayar. Mending bayar dulu, baru urusin hidup orang." timpal Kayla dengan suara lembut.
Selena terdiam. Ia mengepalkan tangannya geram. Gadis dihadapannya itu justru tersenyum sumringah menatap kearahnya, lalu kembali membuka suara. "Mungkin lo harus ke dokter sekali-sekali, kayaknya lo punya penyakit serius deh."
Kayla pun berbalik dan mengibaskan rambutnya. Ia tersenyum kemenangan dan meninggalkan Selena seorang diri di sana.
Sementara itu, di sebuah SMA yang jaraknya hanya beberapa kilometer dari kampus Kayla, Juna baru saja memarkirkan motornya. Belum juga ia melepas helm dengan benar, suara melengking sudah menyambar telinganya.
"Juna! Ih, akhirnya sampai juga. Kok telat sih?"
Juna menghela napas pendek.
Di depannya sudah ada segerombolan siswi yang menatapnya dengan mata berbinar-binar. Salah satunya menyodorkan sebuah kotak bekal berwarna pink dengan pita besar di atasnya.
"Ini buat sarapan, Jun. Aku bangun subuh loh buat masakin ini," ucap gadis itu sambil tersenyum malu-malu.
Juna menatap kotak itu datar, lalu beralih menatap gadis di depannya. "Subuh? Rajin banget jam segitu! Duh, mending lo urusin deh tuh lipstik lo, merah banget kayak habis makan orok. Gue mau duluan,"
"Tapi ini menu spesial..."
"Duh, mending kasih ke kucing depan gerbang aja. Kelihatannya dia lebih butuh perbaikan gizi daripada gue," potong Juna sambil melenggang pergi begitu saja.
Ia berjalan di sepanjang koridor dengan santai, mengabaikan bisik-bisik dari kelas lain. Jujur saja, Juna sudah mulai jengah. Setiap hari ada saja yang titip salam, naruh surat di laci, sampai ada yang nekat mau minta foto bareng di depan kantin. Rasanya seperti jadi buronan tapi versinya banyak fans.
Sesampainya di kelas, Juna langsung duduk dan menaruh kepalanya di atas meja. Pikirannya mendadak melayang ke kejadian tadi pagi. Bayangan wajah cewek galak yang sepatunya copot itu malah bikin dia senyum-senyum sendiri.
"Woy! Tumben lo senyum-senyum? Habis dapet jackpot?" tanya Rendy, teman sebangkunya sambil menepuk bahu Juna.
Juna langsung menegakkan duduknya dan kembali memasang wajah datar. "Apaan sih, nggak jelas lo."
"Gue denger si Adel mau nembak lo lagi pas istirahat nanti. Katanya dia mau bawa rombongan tim sorak buat dukung dia," goda Rendy sambil tertawa.
Juna bergidik ngeri membayangkannya. "Gila ya itu cewek. Nggak ada kapok-kapoknya."
"Ya lo cari pacar makanya, biar mereka semua mundur pelan-pelan," saran Rendy.
Juna terdiam sejenak. Mencari pacar di sekolah ini hanya akan menambah masalah baru. Ia butuh seseorang yang benar-benar berbeda, yang bisa membuat fans-fans di sekolahnya langsung merasa minder.
"Woy, malah diem! Gimana bagus kan ide gue?" ucap Rendy dengan senyum bangga do wajahnya.
Juna mengangguk pelan, "Ya gue pikir-pikir dulu aja deh!"
Nah akhirnya ketemu Juna. Lumayan ngirit ongkos balik ke kos-kosan