NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang Idola Kampus

Istri Rahasia Sang Idola Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Perjodohan
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: MochiFlora

"Kamu hanya aib dalam hidupku!"

Itu kalimat pertama yang Raden Rangga Wijaya ucapkan pada istri sahnya.

Rangga—mahasiswa hukum tampan, presiden BEM, idola kampus yang dikejar ratusan perempuan, terpaksa menikahi gadis yang paling dibencinya. Meysa Putri Mahendra. Si miskin culun berkulit kusam yang tidak pantas berdiri di sampingnya.

Meysa juga tidak mau. Menikah dengan pria arogan yang memandangnya seperti sampah? Tapi ancaman pencabutan KIP dan warung neneknya yang jadi taruhan membuatnya pasrah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MochiFlora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggung Sandiwara

Pagi itu fakultas hukum terasa seperti panggung pertunjukan yang megah, tempat setiap orang memainkan perannya masing-masing.

Meysa melangkahkan kaki ke dalam gedung dengan hati berdebar tak karuan, bukan karena ia takut dengan pelajaran hukum yang katanya rumit, tapi karena sejak pagi ia sudah merasakan firasat buruk yang tidak bisa ia jelaskan. Tiga hari menjadi istri diam-diam Raden Rangga Wijaya telah mengajarkannya satu hal: hidup di apartemen itu seperti tidur di atas duri, tapi hidup di kampus bersama suaminya sendiri yang berpura-pura tidak kenal? Itu seperti berjalan di atas api.

Ruang kelas 302 sudah setengah penuh ketika ia masuk, dan tanpa sadar matanya langsung mencari sosok yang paling ia hindari sekaligus tidak bisa ia lupakan. Rangga duduk di barisan depan bersama kelima geng setianya. Dimas Pradana yang humoris sedang bercerita sesuatu sambil tertawa, Andika si pendiam hanya tersenyum tipis di sampingnya, Renal yang tampang playboy itu sibuk menata rambutnya di depan ponsel, Januar yang jago ngomong sedang asyik berdebat soal politik dengan Abimanyu yang kebetulan masih sepupu jauh Rangga. Mereka berlima seperti kerajaan kecil yang dipimpin oleh Rangga sebagai rajanya, dan tidak ada satu pun mahasiswa di ruangan ini yang berani mengganggu mereka, apalagi para mahasiswi yang hanya bisa memandang dengan mata berbinar-binar seolah Rangga adalah hadiah dari surga yang turun ke bumi.

"Duh, Meysa, kamu dari tadi melamun terus," suara Aqeela tiba-tiba memecah lamunan Meysa. Gadis berhijab dengan kacamata tebal itu menarik kursi di sebelahnya, diikuti oleh Wulandari yang setia membawa botol minum besar khasnya.

"Awas aja kalau kamu sakit, nanti aku yang repot urusin kamu," sambung Wulandari sambil membuka buku catatan tebal yang selalu ia bawa kemana-mana.

Meysa tersenyum kecil. Dua sahabat ini adalah satu-satunya harta yang ia miliki selain otak pintarnya, dan ia tidak akan menukar mereka dengan apa pun, bahkan dengan uang sekalipun. "Aku baik-baik saja, hanya sedikit pusing karena belum sarapan," jawab Meysa pelan, setengah berbohong karena sebenarnya perutnya sudah keroncongan sejak bangun tidur, tapi ia tidak punya uang untuk membeli makanan karena tabungannya habis untuk mi instan seminggu terakhir.

Aqeela menatapnya tajam, matanya yang sipit di balik kaca mata seolah bisa menembus lapisan kebohongan yang Meysa buat. "Heh, kamu itu sejak kapan jadi tukang bohong, hah? Matamu sembab, bibirmu pecah-pecah, dan dari tadi perutmu bunyi terus kayak orkestra. Jangan bilang kamu belum makan seminggu ini."

"Minum dulu," ucap Wulandari sembari menyodorkan botol minumnya pada Meysa.

Beberapa menit kemudian, suasana kelas berubah ketika pintu terbuka dan masuklah seorang gadis yang membuat semua orang menoleh. Tiara berjalan dengan langkah anggun seperti model di landasan pacu, rambut panjang sebahu yang berkilau karena perawatan mahal, wajah mulus dengan riasan sempurna, dan pakaian bermerek dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tas Chanel berwarna krem tergantung di lengannya, sepatu Louboutin merah khasnya berdecit pelan di lantai keramik, dan parfumnya yang semerbak menyebar ke seluruh ruangan hingga beberapa mahasiswa bersin-bersin karena terlalu kuat.

"Halo, semuanya! Maaf telat sedikit, tadi mobil ayahku macet di jalan, you know lah, Jakarta," ucap Tiara dengan suara melengking yang sengaja dibuat manis, lengkap dengan logat Jaksel yang terdengar sangat dipaksakan, sambil melambaikan tangan ke arah gengnya Rangga seolah mereka adalah sahabat karib. Padahal Rangga tidak pernah sekalipun menoleh padanya, tapi Tiara tidak pernah patah semangat. Ia langsung melangkah ke bangku di belakang Rangga, posisi favoritnya sejak semester lalu, lalu ia duduk dengan hati-hati sekali agar sepatu mahalnya tidak tergesek meja.

"Rangga, kamu nggak bales chat-ku semalam? Aku kirimin foto aku di café baru, lho, bagus banget tempatnya, instagramable abis," Tiara berkata sambil menyentuh pelan pundak Rangga, dan seluruh kelas bisa melihat bagaimana Rangga yang dingin menggeser tubuhnya menjauh tanpa sepatah kata pun.

Aqeela dan Wulandari saling pandang dengan ekspresi jijik yang sama, sementara Meysa hanya menunduk, berusaha fokus pada buku catatan yang sebenarnya kosong karena ia belum sempat menulis apa-apa.

"Astaga, tiap hari begitu, nggak pernah kapok. Kayak perangko, nempel terus," bisik Aqeela dengan suara pelan tapi cukup keras untuk didengar Wulandari dan Meysa.

Wulandari yang dari tadi memasang muka masam akhirnya tidak bisa menahan diri, "Perangko saja masih bisa dilepas, ini kayak lem gajah, susah banget dilepasnya. Padahal aslinya dia sama kayak kita, biasa aja," timpal Wulandari.

Meysa mencolek lengan Wulandari, memberi isyarat agar sahabatnya itu diam karena topik ini sensitif, tapi Wulandari hanya mendengkus kecil.

Istirahat pertama tiba, dosen keluar ruangan untuk mengambil air minum, dan suasana kelas langsung berubah menjadi hiruk-pikuk obrolan ringan. Meysa tidak bergerak dari tempat duduknya, ia hanya menempelkan kepalanya di meja, berusaha menghemat energi karena perutnya benar-benar kosong sejak semalam.

"Cha, ayo ke kantin, aku traktir," kata Aqeela sambil mengguncang bahu Meysa pelan, tapi Meysa hanya menggeleng pelan dengan mata terpejam.

"Nggak usah, Qeel, aku nggak laper kok," jawab Meysa dengan suara kecil.

Rangga baru saja keluar dari ruang kelas, ia melihat Wulandari dan Aqeela berjalan bergandengan menuju kantin, tertawa kecil karena sesuatu yang tidak ia dengar. Tanpa sadar, matanya menyapu koridor, lalu tertuju pada satu sosok yang duduk sendirian di dekat jendela kelas. Meysa. Ia masih di sana, duduk dengan tubuh menghadap kaca. Rangga mengernyit, bertanya-tanya mengapa gadis itu tidak ikut dengan dua sahabatnya, bukankah mereka selalu bersama? Lalu kenapa Meysa memilih sendirian?

Dengan langkah tegas ia berjalan meninggalkan koridor, sengaja tidak menoleh meskipun ada suara kecil di kepalanya yang berbisik untuk berbalik. Ia sudah memutuskan untuk ke danau, tempat pelariannya hari ini. Tempat itu sunyi, teduh, dan tidak ada yang berani mengganggunya karena gengnya selalu menjaga area itu sebagai markas mereka.

Di danau, teman-temannya sudah berkumpul. Dimas melambai dari balok kayu dekat tepi, Renal sibuk mengambil foto untuk konten TikTok, Januar dan Abimanyu berdebat sengit soal skripsi, sementara Andika diam seperti biasa sambil membaca novel.

*

Hari mulai beranjak malam

Rangga akhirnya pulang ke apartemen. Ia membuka pintu apartemen dengan gerakan kasar, melepas jas hujannya yang basah karena gerimis, lalu melempar kunci mobil ke atas meja makan tanpa melihat sekeliling. Namun, sesuatu menghentikan langkahnya ketika ia melirik ke arah dapur.

Meysa sedang duduk di kursi dapur dengan piring plastik di hadapannya. Semangkuk mi instan setengah habis masih mengepul tipis, sumpit plastik tergenggam di tangan kanannya.

"Ka—kamu sudah makan malam? Ini masih ada... kalau mau," Meysa menawarkan Mie pada Rangga.

Rangga menatap panci..

"Makanan murahan," lalu Rangga memperhatikan Meysa, "Meysa. Apa kamu tidak punya baju? Setiap hari pakaianmu itu-itu saja," Ckk memalukan."

Meysa membeku. Kata-kata itu menyambar dadanya lebih keras daripada tamparan. Matanya yang sudah sembab sejak pagi segera berkaca-kaca, air mata menggenang di pelupuk. Ia sudah terbiasa dihina, diterlantarkan, dianggap tidak ada. Tapi entah mengapa, kali ini sakitnya terasa lain.

Tetesan air mata jatuh ke piring plastik, bercampur dengan kuah mi yang sudah mulai dingin. Meysa tidak menyentuhnya, ia hanya diam, membiarkan air matanya mengalir tanpa suara.

Sebelum Rangga melangkah kekamarnya, ia mengambil sesuatu dari bawah meja.

"Aku tidak mau melihatmu berpakaian seperti gembel. Pakailah ini, karena besok Ayah menyuruh kita untuk ikut bersamanya makan malam direstoran mahal." tuturnya sembari berjalan.

1
Emi Sudiarni
kok sedikit bangat up ny
partini
lah Ternyata ada yg tidak suka sama mereka berdua,,jangan menyerah be strong maysa kalau kamu pergi tanda nya kamu kalah sama tuh curut
Humaira
Ya ampun Thor sedikit banget bacanya
Emi Sudiarni
makanya jdi suami jgn jhat..
partini
jahat banget sih di tendang,biar tuh sia Rangga hidup dalam penyesalan
MochiFlora: Terkutuklah kamu Rangga 🤣
total 1 replies
Emi Sudiarni
lanjutkan seru bngat
MochiFlora: Terima kasih kaka 🙏🥰
total 1 replies
Humaira
Bagus pak Soerya buat anakmu menyesal
Humaira
Lagi lagi dibikin keguguran
semoga setelah ini Meysa sadar dan mau meninggalkan si Rangga
jangan lemah mey
Emi Sudiarni
ksihan meysa
Ranita Rani
mumet q liat cwe kya gini,,,,
Ranita Rani
karakter meysa terlalu lemah,,,
partini
WTF gila kamu. ga
Emi Sudiarni
emang kelewatan rangga ini
Emi Sudiarni
ksihan meysa
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍
MochiFlora: Terima kasih sudah mampir kakak 🙏🥰
total 1 replies
Humaira
Sumpah gereget banget sama si Meysa
partini
giman mau di kasih tau orang nya aja najis lihat dia
Emi Sudiarni
lanjut kak seru ceritany
Emi Sudiarni
hadir kan kak author cwok yg naksir meysa biar rangga cmburu
Humaira
APASIH NGESELIN BANGET SI ULAT BULU EMILY 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!