Book #1 of The Walter Brothers Dia pria, pengacara paling licik di New York. Dia wanita, CEO muda yang kehilangan segalanya dalam satu malam. Satu kasus mempertemukan mereka dengan syarat yang tak masuk akal. Emily Cooper hanya ingin memenangkan kembali hak atas hidupnya. Raphael Walter hanya tertarik pada permainan yang membuat tubuhnya panas. "Aku menangkan kasusmu. Tapi kau harus menghiburku di ranjangku." Dalam dunia penuh siasat, tubuh dan kuasa adalah alat tawar. Tapi ketika menyecap panasnya hasrat, dan tiap sentuhan menjadi candu nikmat, siapa yang sebenarnya dikendalikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Syela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dirty Proposition (B)
Reynard memiringkan kepala sedikit. Ada senyum samar tersungging di sudut bibirnya. Ini menarik. Sudah lama ia tak melihat seseorang membalas Raphael dengan cara seberani ini. Bahkan Renzo pun menahan tawa yang hampir lolos dari mulutnya.
Mendengar itu, Raphael menegang sejenak. Tatapannya menyipit. Ia membuka kakinya lebar, gagah dan dominan, kemudian mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, kedua siku bertumpu di lutut, menatap Emily bak binatang buas yang menemukan mainannya.
"Kau tahu, aku bisa saja menyuruhmu keluar sekarang juga, Nona Cooper. Tapi tidak. Aku beri kesempatan." Bibirnya tersungging menyebalkan. "Pilih di antara kami, siapa yang ingin kau layani lebih dulu? Aku tahu kau tidak sabaran sampai menerobos masuk. Jangan malu. Kami sudah biasa menerima tamu wanita sepertimu yang biasanya datang hanya untuk merasakan bagaimana rasanya milik mereka dihancurkan perlahan sampai melemas."
Emily tertawa pendek—tajam, tak lucu. Basi. "Sebesar dan sekuat apa tepatnya punyamu, sampai kau begitu sombong berpikir bisa membuatku puas, Tuan Raphael Walter? Hm?"
"Wow..." Renzo bertepuk tangan pelan, senyumannya lebar, terkesiap kagum. "Menarik. Sangat menarik." Wanita ini berhasil mencuri perhatiannya sejak detik pertama membuka mulut.
Berbeda dengan Raphael. Rahangnya kian mengeras, matanya menajam. Ia bangkit berdiri perlahan. "Tinggalkan aku berdua dengan wanita ini," perintahnya rendah, tanpa menoleh. Terfokus matanya menatap manik cokelat mata Emily.
Tanpa banyak tanya, Renzo menekan rokoknya ke asbak, menyisahkan asap tipis mengambang di udara. Reynard menghabiskan sisa cocktailnya.
"Simpan tenagamu, brother. Yang satu ini tampaknya tak akan mudah dijinakkan," bisik Renzo sebelum berjalan menuju pintu. Ia melintasi Emily dan berhenti sebentar, memandangnya dari atas ke bawah dengan mata nakal yang tak berusaha menyembunyikan hasratnya.
Dengan lidah menekan dinding pipi dan kemeja terbuka lebar menampilkan dada, Renzo tampak seperti pria yang berpikir terlalu tinggi soal pesonanya. Apa dia pikir dia keren seperti itu? Penuh tato. Emily hanya menatapnya dengan jijik, muak.
"Selamat bersenang-senang, Nona Cooper," goda Renzo, mencolek dagu Emily dengan ujung jari.
Emily menepisnya keras.
Renzo terkekeh seraya berlalu. Di belakangnya, Reynard sempat bertatapan dengan Emily beberapa detik. Jika harus membandingkan, Emily bisa mengatakan bahwa pria ini jauh lebih pendiam daripada kedua abangnya. Tak satu pun ekspresi tergambar di wajah Reynard. Datar. Tapi justru itulah yang membuatnya berbahaya.
Kini, ruangan itu hanya menyisakan Raphael dan Emily. Baru sekarang Emily menyadari betapa luas dan mewah tempat itu—begitu maskulin, begitu mendominasi—persis seperti pemiliknya.
Raphael mengancing jasnya perlahan, pun kemudian menyelipkan kedua tangan ke dalam saku celana hitamnya yang licin—jatuh rapi di tubuh tinggi tegapnya. Ia melangkah tenang ke meja kerja, duduk bersandar di tepinya, menyilangkan kaki, dan menatap lurus ke arah wanita yang berdiri di seberangnya kini.
Tatapan matanya bak menguliti sang wanita. Tapi Emily tidak boleh gentar. Ia melangkah anggun, langkah-langkah yang terlihat seksi tanpa dibuat-buat, hingga berdiri tepat beberapa langkah di hadapan pria itu.
"Apa maumu, Nona Cooper?" suara Raphael terdengar rendah. "Bukankah sudah kukatakan, aku tidak tertarik dengan kasusmu? Tak ada untungnya."
Menatap bengis, Emily mengeraskan rahang. "Kupikir seorang pengacara yang konon katanya sukses sepertimu tidak akan meremehkan kasus hanya karena bukan headline internasional. Ternyata kau menilai besar kecilnya kasus untuk melihat untung-ruginya."
Raphael terkekeh pelan, kentara mencemooh sikap percaya diri wanita di hadapannya. "Kau kira ini soal moral, Nona Cooper? Dunia ini berjalan bukan karena keadilan, tapi karena uang dan kontrol. Kau masuk ke ruangan ini membawa idealisme murahan, berharap aku akan tergerak karena apa? Simpati? Aku tidak menjual belas kasihan. Buang-buang tenagaku saja."
"Tentu ini soal moral, Tuan Walter yang terhormat! Seharusnya kau tahu itu, sebagai seorang pengacara. Bukankah kau bersumpah atas nama keadilan?"
"Aku bersumpah karena prosedur dan uang, bukan karena keadilan," Raphael menyeringai. "Jangan terlalu polos dalam dunia yang sebusuk ini, Nona Cooper. Yang punya uang, dia yang bicara. Yang punya kuasa, dia yang menang. Sisanya? Tenggelam."
Geram Emily mendengar itu membuatnya menggertakkan gigi menahan emosinya. "Profesionalisme seharusnya tidak dipilih-pilih. Kau wajib membela siapa pun yang membutuhkan."
Tergelak kembali Raphael singkat. "Jangan ajari aku soal profesionalisme, Nona Cooper. Aku berada di posisi ini justru karena aku tahu bagaimana memilah—dan memilih. Waktu dan tenagaku terlalu mahal untuk dihabiskan pada perkara remeh yang bahkan ditolak pengacara magang. Aku besar karena aku selektif, bukan karena aku sok dermawan."
Kemudian ia berdiri, mengambil segelas anggur dari meja samping, menyesapnya perlahan sambil berjalan mendekat ke hadapan Emily. Tubuh kekarnya tinggi menjulang saat berdiri di depan perempuan itu, menatapnya dari atas ke bawah.
"Aku dibayar mahal, Nona Cooper. Sangat mahal," lanjutnya tenang. "Sebab klienku tahu, aku bisa menang. Pertanyaannya sekarang..."
Sembari memasukkan satu tangannya ke dalam saku, ia membungkuk sedikit hingga wajahnya begitu dekat, sejajar dengan Emily.
Tetap berdiri tegak, sang wanita tak bergeming.
"Berapa banyak yang bisa kau bayar untuk membuatku tertarik membela kasusmu?"
Emily menatapnya lurus—intens, tak gentar.
"Tepat dugaanku. Integritasmu rupanya bisa dibeli dengan angka. Tapi jika itu satu-satunya bahasa yang kau pahami, tenang saja. Aku cukup fasih berbicara dalam dialek uang."
"Tak perlu drama, Nona Cooper. Sebut saja nomimalnya."
"Dua puluh lima ribu dollar." Emily menyebutkan angka itu tanpa ragu. Nominal yang cukup besar untuk pengacara kelas atas mana pun yang rata-rata penghasilannya enam belas ribu dollar perbulan.
Alih-alih terkejut pun tertarik, pria itu justru tertawa geli, seperti baru saja mendengar lelucon tolol dari seorang badut penghibur. "Segitu?" Ia mengangkat alis, angkuh. "Serius, Nona Cooper? Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa, hm? Aku dibayar lebih dari itu per jam. Bahkan saat aku hanya duduk diam mendengarkan orang bodoh bicara."
Terkepal kuat kedua tangan Emily di sisi tubuhnya. Rahangnya kian mengerat, matanya menyala. Kalau tak kuat pertahanan dirinya, mungkin ia sudah melayangkan satu pukulan keras ke wajah menyebalkan pria itu—wajah sok suci dengan senyum angkuh menjijikkan.
Berbalik, Raphael berjalan pelan-pelan menuju kursi kerjanya. Ia duduk, menyilangkan kaki, dan mulai menggoyang-goyangkan kursinya perlahan. Tubuhnya menyandar angkuh, satu tangan menopang dagu, dan seringai itu kembali muncul di ujung bibirnya.
"Anggaplah hari ini aku sedang berbaik hati karena kedatangan tamu secantikmu, Nona Cooper," sambungnya.
Emily tidak menyela, mata tajamnya tak lepas dari pria itu. Mengamati. Menganalisis. Mencoba tidak mual pada apa pun yang akan keluar dari mulut kotornya.
"Jadi, kau tak perlu bayar mahal." Raphael bersandar lebih dalam hingga sandaran kursinya terdorong ke belakang jauh. "Kau hanya perlu membayarnya dengan tubuhmu. Puaskan aku di ranjang, dan akan ku menangkan kasusmu. Bagaimana?"
Hening sesaat.
Tak heran. Tentu saja. Pria hidung belang. Emily tak terkejut. Tawaran Raphael terlalu klise. Terlalu mudah ditebak. Desas-desus di luar sana ternyata memang tak salah—Raphael Walter, pengacara brilian yang menjadikan ranjang sebagai negosiasi. Bajingan haus selangkangan yang menjual keahlian hukumnya dengan harga orgasme.
"Kau pikir kau begitu menarik, Tuan Walter? Maaf, tapi aku lebih baik kalah dalam kasus sialan ini daripada membiarkan tangan kotormu menyentuh tubuhku."
Ia melangkah mendekat, mencondongkan tubuh ke arah Raphael, kedua tangannya bertumpu kuat di tepi meja, menatap pria itu lurus dengan sorot mata menusuk.
"Aku lebih suka mempekerjakan pengacara pemula dengan hati nurani yang bersih daripada seorang bajingan sepertimu. You can keep your dirty offer, dan simpan libidomu untuk jalang langgananmu, karena aku bukan salah satunya."
Emily berbalik, langkahnya tegas meninggalkan ruangan itu, membiarkan pintu tertutup dengan sedikit membanting. Sedangkan Raphael masih duduk santai di kursi, satu tangan kini menggenggam lengan kursi, satu lagi mengusap rahangnya perlahan, senyuman bengis terpahat jelas di wajahnya.
"Jual mahal, hm?" gumamnya sendiri, menjilat sudut bibirnya. Sial, Emily benar-benar memancing sisi terliarnya, sikap menjaga harga diri itu justru membuatnya semakin menggebu.
Kepalanya menengadah, menikmati desakan rasa yang kian memburu dan menuntut kepuasan di dalam dadanya. Pikiran Raphael langsung melompat jauh, membayangkan momen ketika Emily akhirnya terkulai dalam ketakberdayaan, terguncang hebat oleh intimidasi yang ia lancarkan. Ia bisa membayangkan wanita angkuh itu akhirnya menyerah kalah di bawah dominasi mutlak miliknya—kehilangan kata-kata tajamnya, hanya bisa terengah pasrah saat seluruh kendali dirinya diambil alih tanpa sisa. Sebuah bayangan tentang menyerah total yang begitu memikat, membuat Raphael terdiam demi meresapi kemenangan yang sebentar lagi akan berada di dalam genggamannya.
Emily Cooper. Ia mengulang nama itu berkali-kali. Semakin ingin menghancurkan wanita itu sampai tak tersisa sedikit pun sisa harga dirinya.