NovelToon NovelToon
Istri Pilihan Eyang

Istri Pilihan Eyang

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Kelvin, pria dingin dan pewaris perusahaan besar, terpaksa menikahi Denada atas permintaan sang nenek. Awalnya ia menolak karena masih mencintai wanita lain.
Namun setelah hidup bersama, Kelvin mulai tergoda oleh Nada istrinya yang cantik, jahil, dan selalu berhasil membuatnya kehilangan kendali, terutama saat Nada mulai berani menggoda dirinya.
Di tengah pernikahan tanpa cinta, Kelvin perlahan mulai bingung… siapa sebenarnya wanita yang benar-benar ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ibu dokter

​Jauh dari hiruk-pikuk dan ketegangan kota besar, sebuah desa yang masih asri dan dikelilingi perbukitan hijau menyimpan ketenangannya sendiri. Di pusat desa itu, berdiri sebuah puskesmas sekaligus rumah sakit komunitas yang bersih dan terawat. Udara pagi yang sejuk masuk melalui jendela-jendela besar, membawa aroma tanah basah dan dedaunan.

​Di dalam salah satu ruang periksa yang dindingnya dihiasi stiker kartun lucu, seorang dokter muda tengah sibuk dengan kegiatannya. Rambut hitam panjangnya dicepol dengan sangat rapi ke atas, mengekspos leher jenjang dan wajahnya yang luar biasa cantik tanpa riasan tebal. Jubah dokter putih yang dikenakannya sama sekali tidak mengurangi kesan manis dan hangat dari auranya. Dialah dr. Denada, atau yang akrab dipanggil Dokter Nada oleh warga desa.

​"Aaaaa! Enggak mau! Takut disuntik, Dokter Cantik! Nanti ekor aku tumbuh kalau disuntik!" jerit seorang anak laki-laki berusia lima tahun bernama Boni, sambil bersembunyi di balik kaki ibunya.

​Denada tertawa renyah, suara tawanya terdengar sangat ceria seperti melodi yang menenangkan. Ia berjongkok agar tingginya sejajar dengan Boni, lalu mengeluarkan sebuah suntikan plastik mainan yang ujungnya berupa pulpen warna-warni.

​"Eh, siapa bilang disuntik bisa tumbuh ekor? Malah kalau disuntik vitamin dari Dokter Nada, nanti Boni bisa punya kekuatan super kayak Iron Man! Emang Boni enggak mau jadi pahlawan yang bisa terbang?" tanya Denada dengan kedipan mata yang lucu, membuat Boni berhenti menangis dan menatapnya polos.

​"Bisa terbang kayak burung, Dokter?"

​"Bisa banget! Tapi syaratnya, lengannya harus dipinjam Dokter Nada sebentar. Hitungan ketiga, kita sebut mantra Simsalabim, oke? Satu... dua... tiga... Simsalabim!"

​Cess. Dengan gerakan yang sangat cepat dan lihai, Denada menyuntikkan vaksin di lengan Boni bahkan sebelum anak itu sempat menyadarinya.

​"Eh? Kok enggak sakit? Kayak digigit semut rangrang aja!" seru Boni takjub.

​"Nah, kan! Berarti Boni sudah resmi jadi superhero sekarang. Ini hadiahnya!" Denada memberikan sebuah permen susu dan stiker bintang di dahi Boni, membuat anak itu pulang dengan senyum lebar.

​Setelah menghadapi anak-anak, giliran para lansia yang mengantre. Denada melangkah ke bilik sebelah untuk memeriksa seorang bapak paruh baya, Pak Joko, yang terkenal paling bebal jika diberi tahu soal kesehatan. Denada memeriksa tekanan darah Pak Joko dengan wajah yang mendadak ditekuk, pura-pura marah. Meskipun sedang mengomeli pasien, wajah cantiknya yang bersungut-sungut itu justru terlihat sangat menggemaskan dan malah membuat suasana puskesmas terasa damai dan kekeluargaan.

​"Pak Joko! Kan sudah Dokter bilang, jangan makan gulai kambing dulu! Lihat ini, tensinya langsung meroket kayak roket NASA!" omel Denada sambil berkacak pinggang, menunjuk alat tensimeter.

​"Aduh, Dokter Nada... kemarin itu cuma mencicipi kuahnya sedikit saja kok, sumpah," kilih Pak Joko sambil tersenyum tak berdosa.

​"Mencicipi kuahnya tapi satu mangkok penuh, kan? Sama daging-dagingnya juga? Pokoknya, kalau minggu depan tensi Bapak belum turun, Dokter sita semua stok kopi di rumah Bapak! Biar Ibu yang awasi!" ancam Denada dengan mata melotot yang sama sekali tidak menakutkan, malah membuat Pak Joko dan perawat di sampingnya terkekeh geli.

​Kegiatan Denada yang padat berlanjut hingga siang hari. Tepat saat ia hendak beristirahat sejenak, pintu ruang periksa diketuk. Masuklah seorang remaja laki-laki berseragam SMA dengan gaya yang sok keren, tangannya memegangi dadanya sendiri. Namanya Rian, cowok ABG desa setempat yang terkenal suka tebar pesona.

​"Aduh... Dokter Nada... tolong saya, Dok. Dada saya sesak sekali, jantung saya rasanya mau copot," keluh Rian dengan nada dramatis, langsung duduk di kursi pasien sambil menatap Denada dengan tatapan mata yang dibuat-buat sayu.

​Denada yang sudah hafal dengan kelakuan remaja di desanya langsung tersenyum geli. Ia mengambil stetoskopnya dan memasangnya di telinga. "Oh ya? Coba Dokter periksa dulu ya, Rian. Sejak kapan dadanya sesak?"

​Denada menempelkan stetoskopnya ke dada Rian. Rian langsung menahan napas, memandangi wajah cantik Denada dari jarak dekat dengan senyum mesem-mesem. "Sejak... sejak saya melihat Dokter jalan kaki ke puskesmas tadi pagi. Detak jantung saya langsung dug-dug-ser, Dok. Ini gejala penyakit apa ya, Dok? Apa penyakit jatuh cinta?" gombal Rian dengan percaya diri.

​Perawat yang berdiri di dekat pintu langsung menepuk jidatnya sendiri mendengar modus murahan itu.

​Denada menjauhkan stetoskopnya, lalu mengetuk dahi Rian dengan ujung pulpennya pelan sambil tersenyum manis—senyuman yang membuat Rian makin meleleh. "Oh, kalau itu sih Dokter tahu diagnosisnya. Ini namanya gejala kurang tugas sekolah, Rian."

​"Lho, kok gitu, Dok?"

​"Iya, makanya otaknya dipakai buat mikirin gombalan, bukan mikirin rumus matematika. Detak jantung kamu normal banget, tapi kadar caper-nya yang stadium empat," gurau Denada sukses membuat Rian tersipu malu, wajahnya memerah instan. "Nih, Dokter resepkan obat paling ampuh buat kamu."

​Denada menulis sesuatu di secarik kertas resep lalu menyerahkannya pada Rian. Rian menerimanya dengan mata berbinar, mengira itu nomor telepon Denada. Namun saat dibaca, tulisan di kertas itu berbunyi: 'Minum air putih yang banyak, lalu kerjakan PR Fisika halaman 50. Jangan bolos sekolah lagi!'

​"Yaaah, Dokter... bukan nomor HP?" keluh Rian lemas.

​"Pulang sana, Rian! Sebelum Dokter suntik pakai jarum yang paling besar!" ancam Denada sambil tertawa kecil.

​Rian pun keluar ruangan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sementara ruang periksa Denada kembali dipenuhi oleh tawa hangat. Di desa terpencil ini, Denada adalah segalanya bagi warga—seorang tabib, seorang kakak, dan malaikat pelindung yang selalu membawa keceriaan bagi siapa saja yang datang kepadanya.

1
Nasya
hadeh kelvin masi aja ingat mantan
Nasya
masa lalu yang tragis
falea sezi
klo abis ne lu jutek 😒 gue timpuk lu empin
Nasya
Wkwkwk kelvin sampai pangling lihat nada, selamat buat pengantin baru
falea sezi
nah loo😕 denada celaka demi lu kevin😒
falea sezi
lanjut klo kevin g bucin q tendang ya🤣🤣 lanjut banyak thor tak kirim kembang sekebon🤣
falea sezi
lanjut q ksih hadiah lagi🤣
falea sezi
klo uda anu2 tp lu masih berat ma katalina siap2 di buang sama nada lu kevin🤭
falea sezi
wah apakah unboxing😒
falea sezi
😒 di kasih berlian kyak nada milih jalang kayak catalina🤣 siap siap gigit jari lu klo nada uda bales dendam dan pergi jauh🤣
falea sezi
q ksih hadiah lagi seruu liat kisah bales dendam. gini asal gk kemakan permainan sendiri aja🤣
falea sezi
lanjut banyakk q kasih hadiah banyakk ya🤣🤣
falea sezi
bner jalang Catalina dan kevin lu emank goblok🤣
falea sezi
fashion thor bukan feshen🤭
zra
balas dendam jdi cinta?atau nanti ada yang lebih baik dari kelvin
zra
pasti nanti catalina menyesal wkwk,thor jangan buat kevin kembali dengan cathalina
zra
bagus
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor✍️👈☺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!