Bagi Arunika Nirmala, mencintai Marsellino adalah luka yang paling dalam. Namun, saat Marsellino memilih wanita lain, sebuah tawaran gila datang dari Thomas Adiputra—kakak Marsel sekaligus CEO dingin bermulut pedas yang selalu menghinanya.
Sebuah kontrak pernikahan disodorkan. Thomas butuh tameng dari perjodohan ibunya, dan Arunika butuh harga diri di depan pria yang membuangnya.
Arunika pikir ini hanya transaksi bisnis dua tahun yang hambar. Ia tidak tahu bahwa bagi Thomas, kontrak ini adalah rencana sepuluh tahun untuk menjerat satu-satunya gadis yang pernah ia cintai dalam diam.
"Hapus sampah itu dari ponselmu, Arunika. Sekarang, kamu adalah milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Pintu penthouse mewah di kawasan pusat Jakarta itu terbuka dengan suara klik yang halus. Aroma sandalwood dan udara dingin dari sistem pemurnian udara langsung menyambut Arunika. Ia berdiri ragu di ambang pintu, tangannya masih memegang erat gagang koper besarnya yang berisi separuh dari kehidupan lamanya.
Namun, belum sempat ia melangkah masuk, sebuah tangan kokoh dengan urat-urat yang menonjol pelan merebut gagang koper itu.
"Eh, Mas! Aku bisa sendiri," protes Arunika refleks. Ia mencoba menarik kembali kopernya, tapi Thomas tidak bergeming.
"Diem," ucap Thomas singkat, padat, dan tidak terbantahkan. Ia menarik koper itu seolah benda seberat dua puluh kilogram itu hanyalah tas jinjing kosong.
"Mas... tapi itu berat," gumam Arunika sambil mengekor di belakang Thomas.
"Hmm.." Hanya itu jawaban Thomas. Pria itu terus berjalan melintasi ruang tamu yang luasnya hampir menyamai luas rumah orang tua Arunika. Desainnya minimalis dengan sentuhan marmer hitam dan furnitur berlapis kulit premium. Sangat maskulin, sangat Thomas.
Arunika memperhatikan punggung tegap itu. Thomas sudah melepas jasnya, hanya menyisakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga ke siku. Ada kesan dominan yang membuat Arunika merasa kecil, tapi di saat yang sama, ia merasa sedikit aman.
"Mas?" panggil Arunika lagi saat Thomas meletakkan koper itu di depan sebuah pintu kamar yang cukup besar.
Thomas menoleh, mengangkat alisnya sedikit. "Apa lagi?"
Arunika meremas jemarinya, menimbang-nimbang kalimatnya. "Kalo Mas kan udah banyak banget kasih permintaan dan syarat di kontrak itu. Aku juga mau punya satu permintaan. Boleh?"
Thomas menyandarkan bahunya di kusen pintu, bersedekap dada sambil menatap Arunika dengan tatapan datarnya yang legendaris. "Apa itu? Jangan yang aneh-aneh. Saya tidak punya waktu untuk drama."
Arunika menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian. "Jangan terlalu formal kalo ngomong. Berasa lagi rapat sama kolega bisnis aja. Aku ini Gen Z, Mas. Kita ini mau nikah, walaupun cuma kontrak. Masa panggilannya kaku banget? Ya, Mas?"
Thomas terdiam. Ia menatap gadis di depannya seolah Arunika baru saja meminta saham mayoritas perusahaannya. "Lalu? Kamu mau saya bicara pakai bahasa gaul yang sering kamu gunakan dengan teman-temanmu? 'Gue-lo'?"
Arunika tertawa kecil, sedikit merasa lucu melihat ekspresi Thomas yang tampak terbebani. "Ya nggak gitu juga. Mas tetangga aku, panggil 'aku-kamu' aja kenapa sih? Biar nggak horor-horor banget kalau lagi ngobrol. Lagian kalau di depan Mami atau Mama nanti kita kaku banget, mereka pasti curiga."
Thomas mendengus, namun matanya tidak menunjukkan kemarahan. "Aku-kamu? Itu terdengar... terlalu personal."
"Memang itu poinnya, Mas Thomas Sayang," goda Arunika dengan nada jahil yang selama ini hanya ia tunjukkan pada Marsel.
Thomas terpaku. Kata 'sayang' yang meluncur dari bibir Arunika—meskipun jelas hanya candaan—membuat sesuatu di dalam dadanya berdesir hebat. Ia berdeham, mencoba menguasai diri.
"Terserah. Asal jangan panggil saya dengan sebutan aneh di depan karyawan kantor," ucap Thomas ketus sambil memalingkan wajah.
Baru saja Arunika ingin membalas, ponsel Thomas yang tergeletak di atas meja marmer bergetar hebat. Thomas melangkah mendekat dan melihat layarnya. Dahinya berkerut.
"Mama kamu," ucap Thomas.
Arunika langsung panik. "Hah? Mama? Aduh, pasti beliau mau tanya soal kepindahan aku. Mas, jangan bilang soal kontrak ya! Bilang aja aku udah di apartemen asisten Mas atau gimana gitu!"
Thomas tidak menggubris kepanikan Arunika. Ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. Suaranya mendadak berubah menjadi jauh lebih lembut dan sopan—sisi yang jarang Arunika lihat.
"Halo, Tante? Iya, ini Thomas."
Arunika mendekatkan telinganya ke ponsel Thomas, mencoba mencuri dengar. Thomas meliriknya tajam dan mendorong dahi Arunika dengan telunjuknya agar menjauh, tapi Arunika tetap bersikeras mendengarkan.
"Thomas, Nak... maaf ya Tante ganggu jam kerjanya. Itu, Arunika sudah sampai di sana? Tante khawatir sekali, soalnya tadi dia pamitnya buru-buru, katanya mau mulai magang dan tinggal di mess karyawan?" suara Mama Arunika terdengar cemas dari seberang sana.
Thomas menatap Arunika yang sedang memberikan isyarat 'tolong bohong' dengan menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Sudah, Tante. Arunika sudah bersama saya," jawab Thomas tenang. "Tante tidak perlu khawatir. Saya yang akan menjaganya secara pribadi. Mess karyawan sedang penuh, jadi sementara Arunika tinggal di... fasilitas perusahaan yang lebih dekat dengan saya agar saya bisa memantau pekerjaannya."
"Oh, syukurlah kalau begitu. Tante titip Arunika ya, Tom. Kamu tahu sendiri anak itu kadang ceroboh. Kalau dia nakal atau nggak benar kerjanya, tegur saja ya? Jangan sungkan-sungkan."
"Pasti, Tante. Dia memang perlu banyak bimbingan," Thomas melirik Arunika dengan senyum miring yang mengejek.
"Oh iya, satu lagi... kemarin Tante dengar dari Marsel kalau kalian sempat ketemu di kampus ya? Marsel bilang Arunika kelihatan sedih. Kalau ada apa-apa, tolong temani dia ya, Tom. Tante tahu dia sangat suka sama adikmu, tapi sepertinya Marsel sudah punya pilihan lain. Tante sedih lihat Arunika begitu terus."
Suasana mendadak menjadi sangat sunyi. Thomas bisa merasakan Arunika yang berdiri di sampingnya membeku saat mendengar nama Marsel disebut. Binar jahil di mata gadis itu meredup seketika.
Thomas mempererat genggamannya pada ponsel. "Tante tenang saja. Arunika tidak akan sedih lagi. Saya pastikan dia akan mendapatkan... hal yang jauh lebih baik daripada apa yang dia kejar selama ini."
Setelah beberapa kalimat basa-basi penutup, Thomas menutup teleponnya. Ia meletakkan ponsel itu kembali ke meja, lalu berbalik menatap Arunika yang kini menunduk, menatap ujung sepatunya.
"Dengar kan?" tanya Thomas rendah. "Ibumu sendiri cemas melihat kamu seperti orang bodoh karena adikku."
Arunika menarik napas dalam, mencoba menahan rasa sesak yang kembali muncul. "Iya, aku tahu. Makanya aku di sini, kan? Melakukan kegilaan ini sama Mas Thomas."
Thomas melangkah mendekat, kali ini tanpa aura intimidasi yang biasanya. Ia berdiri tepat di depan Arunika, memaksa gadis itu mendongak untuk menatapnya.
"Lupakan Marsel, Arunika," ucap Thomas dengan nada yang kali ini benar-benar tidak formal. Ia menggunakan 'aku-kamu' sesuai permintaan gadis itu, dan suaranya terdengar sangat dalam. "Mulai detik ini, di apartemen ini, di hadapan hukum nanti, dan di depan semua orang... hanya ada aku. Kamu nggak perlu lagi lari mengejar orang yang nggak mau menoleh ke belakang."
Arunika tertegun. Ia melihat kejujuran yang begitu intens di mata Thomas—sesuatu yang selama sepuluh tahun ini selalu ia lewatkan karena terlalu sibuk mencari bayangan Marsel.
"Mas..."
"Masuk ke kamarmu. Bereskan barang-barangmu. Besok pagi, kamu mulai kerja sebagai asistenku. Dan ingat, mulai sekarang... panggil aku seperti yang kamu minta tadi. Jangan kaku."
Thomas berbalik, berjalan menuju ruang kerjanya sendiri tanpa menoleh lagi. Ia tidak ingin Arunika melihat bagaimana telinganya memerah hanya karena baru saja mempraktikkan panggilan 'aku-kamu'.
Arunika berdiri terpaku di depan pintu kamarnya. Ia menyentuh dadanya yang berdebar aneh. Untuk pertama kalinya, bukan Marsellino yang membuat jantungnya berdetak kencang, melainkan pria bermulut pedas yang baru saja merebut kopernya.
Di dalam kamar kerjanya, Thomas duduk di kursi kebesarannya, menatap layar monitor yang gelap. Ia menarik napas panjang dan bergumam pada dirinya sendiri.
"Sepuluh tahun, Arunika. Akhirnya kamu ada di bawah atap yang sama denganku. Aku nggak akan biarkan kamu lepas lagi."
gagal
coba lagi dong 🤭