NovelToon NovelToon
Lagu Yang Tenggelam

Lagu Yang Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Cinta Seiring Waktu / Dark Romance
Popularitas:946
Nilai: 5
Nama Author: Keivanya Huang

Selama sepuluh tahun, Nana tumbuh sebagai manusia di desa nelayan — tanpa tahu bahwa dirinya adalah putri mahkota kerajaan Siren Aequoria. Setiap malam, ia mendengar lagu misterius dari dasar laut, memanggilnya dengan nama.

Jeno, Siren penjaga perairan selatan, telah mengawasinya sejak bayi. Tugasnya sederhana: lindungi Nana sampai waktunya kembali. Tapi sepuluh tahun mengamati dari kejauhan membuatnya jatuh cinta pada lagu dalam darah Nana — dan pada Nana sendiri.

Ketika Nana berubah menjadi Siren untuk pertama kalinya, tak ada jalan kembali. Ia harus belajar mengendalikan kekuatannya, menghadapi bibinya yang merebut takhta, dan memilih antara dunia yang ia kenal — atau cinta yang selama ini menunggu di dasar laut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keivanya Huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Lagu Patah

Ruang latihan itu berada di balik reruntuhan istana bagian timur, tempat dulu para Siren penjaga berlatih lagu perang. Kini hanya tinggal dinding karang berlumut dan lantai pasir yang ditumbuhi bunga laut pucat. Di tengah ruangan, Jantung Aequoria — yang kini bersemayam di dada Nana — berdenyut pelan, menerangi ruangan dengan cahaya biru lembut.

"Ini tempat yang cukup aman," kata Jeno sambil duduk di atas batu karang di sudut ruangan. Ekornya yang panjang menjuntai santai di air, sisik biru gelapnya berkilau samar. "Aramis dan pengikutnya jarang datang ke sini. Mereka menganggap bagian timur istana terkutuk."

Nana terapung di tengah ruangan, masih canggung dengan ekornya. Setiap kali mencoba diam di satu tempat, ekornya bergerak sendiri, membuatnya berputar perlahan seperti daun yang jatuh di air.

"Ini sulit," keluhnya. Rambut hitam panjangnya mengambang di sekeliling wajahnya seperti mahkota yang terbuat dari tinta.

Jeno menyembunyikan senyum di balik tangannya. "Kau terlihat seperti anak ikan yang baru lahir."

"Bukan hiburan yang kuharapkan dari penjagaku."

Jeno tertawa. Suaranya menggema lembut di dinding karang, menciptakan riak-riak kecil di permukaan air di atas mereka. "Baiklah. Mulai dari dasar. Lagu Siren bukan tentang merusak pendengar. Itu tentang membuat mereka merasa apa yang kau rasa."

Nana mengernyit. "Kedengarannya sederhana."

"Kedengarannya sederhana. Tapi coba lakukan." Jeno menyilangkan tangan di dadanya. "Tutup mata."

Nana menurut.

"Sekarang ingat sesuatu. Bukan ingatan tentang darat atau desamu. Tapi ingatan tentang suara yang paling membuatmu sakit."

...***...

Nana menarik napas dalam-dalam — atau gerakan yang setara dengan menarik napas di dalam air. Insangnya terbuka lebar, lalu menutup perlahan.

Ia langsung tahu apa yang harus diingat.

Suara Mira — ibunya di darat — menangis setiap malam.

Bukan karena sedih biasa. Tapi karena ketakutan. Setiap kali Nana kecil mendekati laut, Mira akan memeluknya erat-erat, begitu erat sampai Nana hampir tidak bisa bernapas, dan berbisik dengan suara parau yang basah oleh air mata:

"Jangan pergi, Nana. Jangan pergi. Mereka akan menemukanmu. Mereka akan mengambilmu dariku."

Lalu pada suatu malam, sekitar setahun yang lalu, Mira menghilang.

Nana bangun di pagi hari dan dapur kosong. Tidak ada ikan goreng yang biasa Mira siapkan. Tidak ada suara cerewet Mira yang menyuruhnya mandi. Hanya sepucuk surat di atas meja kayu, tulisan tangan Mira yang gemetar:

"Mereka sudah tahu di mana kau. Ibu pergi dulu. Jangan cari ibu. Jaga dirimu, Nanara."

Nana tidak pernah tahu apakah Mira lari karena takut, atau diculik oleh pasukan Aramis. Yang ia tahu, sejak saat itu, lagu dari dasar laut menjadi semakin keras. Dan ia menjadi semakin sendiri.

Sendirian di dunia yang tidak pernah menginginkannya.

...***...

"Kau menangis," kata Jeno pelan.

Nana membuka mata. Di ujung dagunya, setetes air — bukan air laut, tapi air mata asli — mengambang, bercahaya samar oleh pantulan Jantung Aequoria, lalu pecah menjadi buih kecil.

"Itu bukan pertanyaan," jawab Nana kesal, menghapus wajahnya dengan punggung tangan. Tapi tangannya basah, dan air matanya terus mengalir meski ia sudah berusaha menahannya.

Jeno meluncur dari batu karang dengan gerakan mulus. Dalam sekejap, ia sudah berada di depan Nana — cukup dekat untuk Nana merasakan dinginnya air yang berpindah ketika Jeno bergerak.

"Itu bukan kelemahan, Nana," kata Jeno lembut. "Itu bahan lagumu. Lagu Siren yang paling kuat adalah lagu yang lahir dari luka yang belum sembuh."

Jeno mengangkat tangannya, ragu sejenak, lalu menyeka sisa air mata di pipi Nana dengan ibu jarinya.

Sentuhannya dingin. Tapi dinginnya nyaman.

"Karena hanya luka yang belum sembuh yang masih bisa berdarah," lanjut Jeno. "Dan hanya darah yang masih hangat yang bisa membuat orang lain merasakan."

Nana menatap Jeno. Matanya yang gelap kini bersinar sedikit — efek dari Jantung Aequoria yang mulai merespon emosinya.

"Ajari aku," bisik Nana.

Jeno mengangguk. "Sekarang coba buka mulutmu. Jangan pikirkan nada. Jangan pikirkan teknik. Pikirkan perasaan itu — rasa kehilangan, rasa takut, rasa sendiri yang kau rasakan setiap malam di kamar reyot itu."

Nana menutup mata lagi.

Ia memikirkan Mira. Memikirkan surat yang ditinggalkan tanpa pamit. Memikirkan sepuluh tahun hidup sebagai anak laut — dijauhi, ditakuti, tidak pernah benar-benar dicintai oleh siapa pun.

Ia membuka mulut.

Dan bernyanyi.

...***...

Bukan nada yang indah.

Jujurnya, di awal, suara yang keluar dari mulut Nana lebih mirip ratapan anak kecil yang tersesat di hutan saat malam. Rapuh. Tak tentu arah. Hampir memalukan.

Tapi kemudian sesuatu berubah.

Jantung Aequoria di dadanya berdenyut lebih kencang. Cahaya biru dari dadanya menyebar ke tenggorokannya, ke pita suaranya, ke udara — atau air — yang keluar dari mulutnya.

Dan nadanya menjadi hidup.

Satu nada panjang yang naik turun seperti gelombang laut yang kalut. Samar. Rapuh. Tapi jujur. Jujur seperti luka yang terbuka untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun ditutupi perban.

Dinding karang di sekelilingnya mulai bergetar.

Bunga laut pucat di lantai mendadak mekar, menyala biru — warna yang sama dengan Jantung Aequoria. Pasir di bawah mereka berputar membentuk lingkaran-lingkaran kecil, seperti pusaran yang diciptakan oleh suara itu sendiri.

Dan Jeno?

Jeno terdiam.

Matanya yang biru pucat membesar. Insang di lehernya terbuka lebar, seperti seseorang yang tiba-tiba kehabisan napas — padahal di dalam air, Siren tidak perlu bernapas dengan paru-paru. Seluruh tubuhnya membeku.

Bukan karena takut.

Tapi karena merasa.

Ia merasakan apa yang Nana rasakan. Kesepian sepuluh tahun di desa yang tidak pernah menerimanya. Ketakutan setiap kali Mira menangis di malam hari. Luka karena ditinggalkan tanpa penjelasan.

Dan di bawah semua itu — sesuatu yang lebih dalam.

Rasa haus akan cinta.

Bukan cinta romantis. Tapi cinta yang paling dasar: lihat aku. terima aku. jangan tinggalkan aku.

Jeno belum pernah merasakan sakit seperti ini. Bukan karena dia tidak pernah terluka — sebagai Siren perang, ia sudah berkali-kali terluka. Tapi luka ini berbeda. Luka ini tidak berdarah. Luka ini membekap.

Dan dia tidak bisa bergerak.

...***...

"Jeno?" Nana berhenti bernyanyi. Matanya terbuka, masih basah oleh air mata. "Kau baik-baik saja?"

Jeno tidak menjawab.

Bibirnya bergerak-gerak, tapi tidak ada suara yang keluar. Tangannya — yang tadi digunakan untuk menyeka air mata Nana — kini menggenggam erat dadanya sendiri, tepat di tempat jantungnya berdetak.

"Jeno!" Nana panik. Ia meraih bahu Jeno, mengguncangnya pelan. "Jeno, jawab aku!"

Suara Nana — suara bicara biasa, bukan suara nyanyian — akhirnya memecah trance Jeno. Ia tersentak, matanya berkedip cepat, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa menit, ia benar-benar melihat Nana.

"Kau... harus berhenti," bisik Jeno. Suaranya serak dan seperti tercekik. "Lagu itu... jangan dinyanyikan sembarangan."

"Kenapa? Ada yang salah dengan laguku?"

Jeno menggeleng pelan. Tangannya masih memegang dadanya, seperti menahan sesuatu yang ingin meledak dari dalam.

"Tidak ada yang salah dengan lagumu," katanya. "Itu lagu patah. Lagu kesedihan Siren. Seharusnya tidak bisa dinyanyikan oleh pemula. Butuh tahunan latihan untuk mengeluarkan satu nada yang benar."

Dia menatap Nana dengan mata yang gelap — biru pucat itu kini berubah menjadi warna laut saat badai.

"Tapi kau melakukannya. Di percobaan pertamamu. Itu berarti... darah Ratu Ruenna di dalam dirimu terlalu kuat. Dan efek dari lagu patah... tidak bisa aku hindari."

Nana mengernyit bingung. "Efek? Efeknya apa?"

Jeno menutup mata sejenak. Dadanya naik turun cepat, meski Siren sebenarnya tidak perlu bernapas secepat itu.

"Lagu patah Siren," katanya perlahan, seperti seseorang yang mengucapkan sumpah, "tidak mematikan. Tapi itu mengeluarkan keinginan terpendam dari siapa pun yang mendengarnya."

Nana menelan ludah.

"Keinginan terpendammu... apa?"

Jeno membuka mata.

Biru.

Tapi bukan biru pucat yang tenang seperti biasa. Biru ini gelap. Lapar. Seperti lautan yang menelan kapal tanpa meninggalkan jejak.

"Kau."

...***...

Keheningan mengisi ruang latihan.

Air berhenti bergerak. Bunga laut yang tadi mekar perlahan menutup lagi, seperti malu karena menjadi saksi. Pasir yang berputar mulai mengendap. Hanya detak jantung Nana yang terdengar — atau mungkin itu detak jantung Jeno, yang bergetar melalui air di antara mereka.

"Jeno..." Nana berbisik, tidak tahu harus berkata apa.

"Aku sudah menahan ini selama sepuluh tahun," bisik Jeno. Suaranya pecah di tengah-tengah, seperti karang yang terkikis ombak. Dia tidak mendekat, tapi juga tidak menjauh. "Sepuluh tahun, Nana. Setiap malam aku datang ke perairan desamu. Setiap malam aku mendengar detak jantungmu dari kejauhan — thump-thump, thump-thump — begitu kecil, begitu rapuh, tapi begitu hidup."

Tangannya — yang masih di dadanya sendiri — perlahan turun.

"Dan setiap malam aku berkata pada diriku sendiri: 'Dia masih anak kecil. Tunggu. Jangan sentuh. Jangan.' Lalu kau tumbuh. Dan aku masih berkata: 'Tunggu. Dia belum siap. Dia tidak tahu siapa dirinya. Jangan.'"

Jeno tersenyum pahit.

"Tapi kau tahu kapan aku sadar bahwa aku sudah terlalu jauh jatuh?"

Nana menggeleng pelan. Tenggorokannya terasa sesak.

"Saat kau berusia lima belas tahun," kata Jeno. "Kau jatuh dari pohon kelapa di belakang rumah Mira. Lututmu berdarah. Dan kau menangis — bukan karena sakit, tapi karena kau kesal pada dirimu sendiri karena ceroboh."

Nana terkejut. "Kau... melihat itu?"

"Dari dalam sumur," kata Jeno. "Aku bisa melihat permukaan air dari bawah. Dan kau... kau duduk di pinggir sumur itu, membersihkan lututmu yang berdarah, dan kau berkata pada dirimu sendiri: 'Nana, dasar ceroboh. Nanti ibu marah lagi.'"

Jeno tertawa kecil, tapi tawanya pahit.

"Waktu itu aku hampir keluar dari air. Hampir. Aku ingin membalut lututmu. Aku ingin memberitahumu bahwa tidak apa-apa jatuh. Tapi aku tidak bisa. Karena kalau aku keluar... aku tidak akan bisa kembali."

...***...

Nana tidak tahu persis kapan ia mulai bergerak.

Mungkin saat Jeno berkata "aku tidak akan bisa kembali". Mungkin saat ia melihat mata biru itu — yang biasanya begitu tenang, begitu dingin — kini basah oleh sesuatu yang mirip dengan air mata. Atau mungkin sejak awal, sejak pertama kali Jeno mengulurkan tangannya di malam pertama, Nana sudah tahu bahwa pada suatu titik, ia harus memutuskan untuk datang atau pergi.

Kali ini, ia memilih datang.

Nana meraih wajah Jeno dengan kedua tangannya. Kulit Jeno dingin — lebih dingin dari air di sekitarnya — tapi Nana tidak melepaskan.

"Jeno," bisiknya. "Kau bilang kau sudah menunggu sepuluh tahun."

Jeno mengangguk pelan, dagunya bergerak di antara telapak tangan Nana.

"Sekarang aku di sini," kata Nana. "Aku tidak akan pergi."

Mata Jeno membesar. Ada getaran di air di sekitar mereka — getaran yang tidak berasal dari lagu, tapi dari sesuatu yang lebih tua dan lebih liar. Mungkin dari jantung mereka yang berdetak bersamaan untuk pertama kalinya.

"Nana..."

Nana tidak menunggu Jeno menyelesaikan kalimatnya.

Ia menarik Jeno mendekat.

Lalu menciumnya.

...***...

Di dalam air sedingin itu, bibir mereka bertemu.

Pertama kali, hanya singgung — seperti dua ekor ikan yang saling menyapa di arus, ragu, mencoba-coba, tidak yakin apakah ini nyata atau hanya mimpi di dasar laut. Bibir Nana hangat. Bibir Jeno dingin. Dan di antara hangat dan dingin itu, ada percikan kecil — listrik dari dunia yang berbeda bersatu.

Tapi kemudian Jeno merespon.

Tangannya yang sedari tadi kaku di sisi tubuh, tiba-tiba bergerak. Satu tangan merangkul pinggang Nana dengan erat, menarik tubuh Nana sampai tak ada jarak di antara mereka. Tangan satunya menyusup ke rambut Nana yang mengambang di air, jari-jarinya menyisir lembut, menahan kepala Nana di tempatnya seolah takut Nana akan lenyap jika ia melepaskan.

Ciuman kedua lebih dalam.

Mulut Jeno dingin, tapi lidahnya hangat saat menyapu bibir bawah Nana — meminta izin, dan Nana memberikannya. Nana mendengar suara kecil — bukan lagu, tapi rintihan pelan yang keluar dari tenggorokannya sendiri. Atau mungkin itu suara Jeno. Di dalam air, di antara desiran ombak kecil yang mereka ciptakan sendiri, semua suara menyatu.

Jantung Aequoria di dada Nana berdenyut kencang — bukan memberi peringatan, tapi bernyanyi. Lagu lama yang sudah tidur selama sepuluh tahun kini bangun, melingkari mereka berdua dalam cahaya biru lembut.

Ketika akhirnya mereka berpisah, dahi masih saling menempel, Jeno tersenyum.

Senyum yang tidak pernah Nana lihat sebelumnya — lembut, nyaris rapuh, dan penuh dengan sesuatu yang tidak bisa ia beri nama. Mungkin rumah. Mungkin pulang. Mungkin akhir dari sepuluh tahun menunggu.

"Itu bukan efek lagu patah," bisik Nana, suaranya serak, napasnya — meski di dalam air — terasa hangat di wajah Jeno. "Itu aku. Sungguhan."

Jeno menutup mata sejenak. Ketika membuka lagi, warna biru di matanya sudah kembali menjadi pucat dan tenang — tapi ada kilau baru di sana, seperti cahaya bintang yang terperangkap di kedalaman laut.

"Kalau begitu," bisik Jeno, jemarinya masih bermain di rambut Nana, "aku adalah Siren paling beruntung di tujuh samudra."

Nana tertawa kecil — suara tawa yang anehnya terdengar seperti lonceng di dalam air. "Puisi sekali."

"Kau yang mengajariku," kata Jeno. "Karena lagumu."

Ia mengecup kening Nana — lembut, singkat, tapi penuh makna.

"Jangan pernah berhenti bernyanyi, Nanara Ciel Aequoria."

...***...

Di balik celah dinding karang ruang latihan, seekor belut laut kecil melesat pergi.

Matanya bersinar merah.

Bukan mata belut. Tapi mata Ratu Aramis yang menjelma menjadi makhluk laut paling kecil dan paling tidak mencurigakan.

"Jadi begini rupanya," bisik suara Aramis di dalam air, getarannya terlalu halus untuk didengar oleh Siren biasa. "Penjaga kerajaan jatuh cinta pada putri mahkota. Ciuman di ruang latihan. Aku bisa menggunakan ini untuk menghancurkan kalian berdua."

Belut itu berenang cepat menembus kegelapan laut, meninggalkan jejak cahaya merah yang segera lenyap ditelan arus.

Di kejauhan, di Palung Hitam, Ratu Aramis tersenyum di singgasananya dari tulang paus. Di tangannya, belati tulang paus berdenyut dengan sihir hitam yang haus akan darah.

"Jeno," bisiknya pelan. "Kau pikir kau bisa melindunginya? Kau pikir ciuman di tempat tersembunyi cukup untuk menyelamatkannya? Kau lupa satu hal, penjaga."

Ia berdiri.

"Di kerajaan ini, cinta adalah kelemahan terbesar."

Dari bayang-bayang di belakang singgasananya, puluhan pasang mata merah menyala — pasukan Siren Hitam yang selama sepuluh tahun hanya menunggu perintah.

"Bersiaplah," kata Aramis. "Kita akan memisahkan mereka. Bukan dengan kekerasan. Tapi dengan kebenaran yang lebih menyakitkan dari pedang mana pun."

Ia tertawa.

Dan tawa itu bergema di Palung Hitam, membuat para Siren Hitam bergidik ketakutan.

1
hrarou
seruuu!! Lanjut yaaa 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!