NovelToon NovelToon
Salah Alamat Berujung Di Pelaminan

Salah Alamat Berujung Di Pelaminan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Nayla Putri tidak menyangka kalau niatnya menolong orang yang pingsan di depan pintu rumahnya harus berahir di pelaminan Bagaimana Nayla menjalani pernikahan dadakannya itu ? apakah Nayla akan bahagia ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sidang Tengah Malam

Ruang tamu rumah Pak RT yang biasanya digunakan untuk rapat bulanan warga atau arisan ibu-ibu PKK, malam ini mendadak berubah fungsi menjadi ruang sidang darurat. Suasana di dalam ruangan berukuran empat kali lima meter itu terasa begitu mencekam.

Sebuah kipas angin dinding berputar dengan suara derit yang monoton, mengembuskan angin suam-suam kuku yang sama sekali tidak mampu mendinginkan kepala orang-orang di dalamnya.

Nayla Putri duduk bersimpuh di atas karpet hijau berbulu tipis yang sudah agak pudar warnanya. Kedua tangannya bertumpu di atas paha, meremas ujung blus kerjanya yang kini benar-benar kusut.

Air matanya sudah berhenti mengalir, menyisakan jalur kering dan rasa perih di pipinya. Rasa takut yang menggelayutinya sejak di teras rumah kini telah bermutasi menjadi rasa lelah yang luar biasa dan kemarahan yang tertahan di ujung lidah.

Di sebelahnya, pria asing yang menjadi biang keladi dari seluruh kekacauan ini diletakkan begitu saja dalam posisi setengah bersandar pada sofa kayu jati. Kepalanya terkulai ke samping dengan mulut sedikit terbuka. Dia masih belum sadarkan diri sepenuhnya, meskipun sesekali melenguh pelan dan mengernyitkan dahi ketika suara bapak-bapak ronda meninggi.

"Bagaimana, Pak Ustaz? Ini kalau tidak segera dinikahkan, bisa jadi penyakit bagi kampung kita. Sialnya bisa merembet ke mana-mana," ujar Pak Rohiman yang berdiri di dekat pintu sambil berkacak pinggang. Sarung motif kotaknya kini diikat kencang di pinggang, siap mengawal jalannya eksekusi moral malam itu.

Di hadapan Nayla, duduk Pak RT bersama seorang pria paruh baya mengenakan baju koko putih dan peci hitam. Pria itu adalah Ustaz Mansur, tokoh agama setempat yang sengaja dibangunkan dari tidur nyenyaknya demi mengurus 'aib' tengah malam ini.

Ustaz Mansur tampak mengusap janggutnya yang mulai memutih, menatap Nayla dengan pandangan mata yang sulit diartikan antara iba dan kecewa.

"Mbak Nayla," Ustaz Mansur membuka suara, nadanya tenang namun terasa berat di telinga Nayla. "Pernikahan itu ibadah yang sakral. Namun, dalam keadaan darurat seperti ini, demi mencegah fitnah yang lebih besar di kalangan warga, saya rasa apa yang diusulkan oleh Pak RT dan para petugas ronda ada benarnya. Kamu ini perempuan, tinggal sendirian di rumah kontrakan. Membawa laki-laki yang bukan mahram pada jam sekian ..."

"Saya tidak membawa dia, Pak Ustaz!" potong Nayla dengan suara serak, menolak untuk menyerah begitu saja pada narasi yang menyudutkannya. "Saya berani bersumpah di bawah Al-Qur'an sekarang juga. Saya baru pulang kerja jam setengah satu malam karena bos saya memaksa saya lembur. Begitu saya sampai di teras, orang ini sudah tergeletak di sana. Saya bahkan tidak menyentuh pintu rumah saya sendiri!"

"Lalu kenapa posisi Mbak Nayla tadi bisa sampai menempel begitu di badan si jantan ini?" celetuk salah seorang warga yang berdiri di luar jendela, ikut mengintip jalannya persidangan lewat sela-sela gorden.

Wajah Nayla memerah padam. "Itu karena kalian meneriaki saya dari belakang! Saya kaget, kehilangan keseimbangan, lalu tersandung! Apakah menolong orang pingsan sekarang sudah sah dianggap sebagai tindakan kriminal di kampung ini?!"

"Sudah, sudah! Jangan berteriak-teriak di rumah saya, Mbak Nayla," lerai Pak RT sambil mengetuk meja kayu di depannya dengan buku jari. "Mau bagaimanapun kronologinya, faktanya warga sudah melihat. Mata mereka saksinya. Di zaman sekarang, berita seperti ini menyebar lebih cepat daripada angin. Kalau besok pagi satu kampung tahu ada penggerebekan di rumah kontrakanmu, yang malu bukan cuma kamu, tapi saya sebagai RT juga ikut terbawa-bawa karena dianggap lalai mendidik warga."

Nayla terkekeh sumbang, sebuah tawa getir yang lahir dari rasa frustrasi yang mendalam. "Jadi, demi menyelamatkan nama baik kampung dan jabatan Bapak, saya harus mengorbankan masa depan saya dengan menikahi orang asing yang pingsan ini? Begitu?"

Pak RT tampak tersinggung, namun sebelum dia sempat membalas, Ustaz Mansur kembali menenangkan suasana dengan lambaian tangannya. "Mbak Nayla, mari kita kesampingkan dulu ego kita. Sekarang, yang paling penting adalah status hukum kalian berdua di mata warga. Mengenai laki-laki ini ... apakah kita sudah memeriksa kartu identitasnya?"

Pak Rohiman segera melangkah maju, meletakkan sebuah dompet kulit berwarna hitam merek terkenal di atas meja. "Ini, Pak RT, Pak Ustaz. Tadi saya rogoh dari saku celananya saat memapah dia ke sini."

Pak RT membuka dompet tersebut, mengeluarkan selembar kartu plastik tipis dari dalamnya. "Namanya ... Gibran Mahardika. Alamatnya di kawasan perumahan elit Jakarta Selatan. Kelahiran tahun 1998. Status ... belum kawin. Pekerjaan ... swasta." Pak RT membaca informasi di KTP tersebut dengan saksama. "Wah, dari alamat dan dompetnya, sepertinya ini anak orang kaya. Kok bisa terdampar mabuk sampai ke gang senggol kampung kita, ya?"

Nayla melirik sekilas ke arah KTP yang dipegang Pak RT. Gibran Mahardika. Nama yang terdengar terlalu gagah untuk seorang pria yang saat ini sedang tidur mendengkur halus di sampingnya dengan satu sepatu yang hilang.

"Nah, kebetulan kalau begitu. Statusnya belum menikah, Mbak Nayla juga belum," kata Pak Rohiman dengan nada mendesak.

"Apalagi yang mau ditunggu? Pengantin prianya sudah jelas, pengantin wanitanya ada. Pak Ustaz, silakan dimulai saja prosesinya sebelum subuh tiba."

"Tunggu dulu, Pak!" Nayla kembali memprotes, kali ini dia berdiri dari duduknya, membuat semua orang di ruangan itu terkejut. "Pernikahan itu harus ada persetujuan dari kedua belah pihak! Mas Gibran ini sedang pingsan, dia tidak bisa memberikan persetujuan! Bagaimana mungkin pernikahan ini dianggap sah kalau mempelai prianya saja tidak sadar?!"

Ustaz Mansur menghela napas, menatap Gibran yang masih memejamkan mata.

"Secara hukum agama, syarat sah nikah memang memerlukan ijab dan kabul yang diucapkan secara sadar oleh mempelai pria. Kita tidak bisa menikahkan orang yang sedang tidak sadar atau mabuk, karena ucapannya tidak memiliki kekuatan hukum."

Nayla mengembuskan napas lega yang luar biasa. Dia merasa seperti baru saja lolos dari tiang gantungan. ("Terima kasih, Tuhan, ternyata hukum agama masih berpihak pada akal sehat,")pikirnya dalam hati.

Namun, kelegaan Nayla hanya bertahan selama beberapa detik.

Seolah-olah takdir sengaja ingin mempermainkan hidupnya malam itu, Gibran Mahardika mendadak melenguh panjang. Tubuhnya bergerak gelisah, lalu dengan gerakan perlahan yang terasa amat dramatis, kedua kelopak matanya terbuka.

Pria itu mengerjap-erjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya lampu neon yang terang benderang di ruang tamu Pak RT.

"Aduh ... kepalaku..." Gibran memegangi pelipisnya, suaranya serak dan berat khas orang yang baru bangun tidur dengan sakit kepala hebat. Dia melihat sekeliling dengan pandangan linglung. "Ini ... di mana? Kenapa banyak bapak-bapak pakai sarung?"

"Mas! Mas Gibran, Mas sudah sadar?!" Pak Rohiman langsung menghampiri Gibran, menepuk bahu pria itu dengan keras hingga Gibran meringis kesakitan.

"Siapa ... Anda?" Gibran mengerutkan dahi, mencoba memproses situasi di sekitarnya. Pandangannya kemudian beralih ke samping, menatap Nayla yang sedang melotot ke arahnya dengan tatapan horor.

"Lalu ... kamu siapa? Kenapa menangis?

1
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
SANG
Hadi💪👍
falea sezi
lanjut q kasih nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!