NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Matahari

Sistem Dewa Matahari

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Aditya Pratama, pemuda yatim piatu yang dihina keluarga angkatnya, bekerja sebagai cleaning service di perusahaan konglomerat Pradipa Group. Hidupnya jungkir balik ketika secara tak sengaja menemukan liontin kuno di ruang rahasia sang pemilik perusahaan—yang ternyata adalah pusaka terakhir dari era dewa-dewa. Liontin itu mengaktifkan "Sistem Dewa Matahari", memberinya kemampuan melampaui nalar manusia. Dengan sistem ini, Aditya bertekad membalaskan dendam keluarganya, menaklukkan panggung dunia, dan menyingkap misteri di balik hilangnya para dewa 10.000 tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Negeri di Balik Mata

Alesha Putri Pradipa bukan wanita biasa. Di usia 27 tahun, ia sudah memimpin 40.000 karyawan dan 23 anak perusahaan. Negosiasi dengan menteri, tekanan dari investor asing, bahkan upaya pembunuhan—semua sudah ia lalui.

Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, ia menatap seorang cleaning service dengan perasaan yang tidak bisa ia definisikan.

Bukan cinta. Bukan kagum.

Tapi... penasaran.

"Jadi," Alesha menyandarkan punggung ke kursi direktur, ujung jarinya mengetuk meja pelan. "Kau ingin aku percaya bahwa ada sistem berbasis... apa? Sihir? Yang tiba-tiba tinggal di kepalamu?"

Aditya berdiri kaku. Pistol sudah ia letakkan di meja, jauh dari jangkauan. "Saya tahu ini sulit dipercaya, Nyonya."

"Coba lihat saya."

Aditya menegakkan kepala. Mata mereka bertemu. Tiga detik.

All-Seeing Eye Teraktivasi.

Nama: Alesha Putri Pradipa

Jabatan: Presiden Direktur Pradipa Group

Kekuatan: 8

Kecerdasan: 42 (Polymath Tersembunyi)

Rahasia: Menderita penyakit degeneratif langka (Sindrom Ashford). Harapan hidup tanpa pengobatan: 2 tahun.

Status Emosi: Penasaran 72%, Curiga 81%, Entah kenapa merasa akrab 15%

Aditya terkesiap dalam hati.

42 kecerdasan? Hampir tiga kali lipat miliknya. Dan penyakit degeneratif? Wanita yang menyelamatkan mereka berdua dengan gertakan brilian ini... sekarat?

"Kenapa kau diam?" suara Alesha memecah keheningan.

"Sistem saya bisa membaca informasi orang," Aditya akhirnya bicara, memilih kejujuran. "Dan saya baru tahu... Anda sakit."

Jemari Alesha berhenti mengetuk meja. Pupil matanya mengecil—nyaris tak terlihat, tapi Aditya menangkapnya.

"Apa maksudmu?" suaranya turun setengah oktaf.

"Nama penyakitnya Sindrom Ashford. Harapan hidup... dua tahun."

Hening.

Lima detik. Sepuluh detik.

Alesha bangkit dari kursinya. Langkahnya terukur, tumit sepatu merk dagangnya berdetak di lantai marmer retak. Ia berhenti tepat satu meter dari Aditya. Cukup dekat untuk melihat urat di leher pemuda itu menegang.

"Siapa yang menyuruhmu, Pratama?" bisiknya. "Ayahku? Paman Edwin? Atau kau mata-mata Lotus Group?"

"Ti-tidak ada yang menyuruh saya, Nyonya."

"Penyakitku dirahasiakan bahkan dari dewan direksi. Dokter pribadiku dibayar 2 miliar sebulan untuk tutup mulut. Bagaimana kau tahu?"

Aditya menelan ludah. Ia mengangkat tangan kanannya—gerakan universal untuk menunjukkan ia tidak berbahaya.

"Nyonya, coba katakan sesuatu tentang diri Anda yang TIDAK MUNGKIN saya ketahui. Sesuatu yang bahkan Google tidak punya jawabannya."

Alesha menyipitkan mata. Pikirannya bekerja—Aditya bisa melihatnya dari cara kerutan di dahi wanita itu muncul dan menghilang.

"Baik," katanya akhirnya. "Apa makanan pertama yang kumakan setelah ayahku meninggal tujuh tahun lalu?"

Pertanyaan spesifik. Personal. Mustahil ditebak.

Aditya menatap mata Alesha lagi. Tiga detik.

Dan informasi itu muncul—bukan sebagai kalimat, tapi sebagai gambar samar, seperti ingatan yang bukan miliknya: seorang gadis 20 tahun duduk sendirian di dapur mansion, air mata jatuh ke piring, sendok menyendok...

"Bubur ayam," Aditya menjawab pelan. "Dibuat oleh Bi Irah, pembantu senior di rumah masa kecil Anda. Anda makan tiga sendok, lalu muntah. Setelah itu Anda tidak makan apa-apa selama dua hari."

Wajah Alesha memucat.

Untuk pertama kalinya malam itu, sang CEO kehilangan kata-kata.

"Bi Irah sudah meninggal empat tahun lalu," suaranya nyaris berbisik. "Tidak ada yang tahu soal itu. Bahkan adikku sendiri."

Ia mundur selangkah. Dua langkah. Lalu bersandar di tepi mejanya, kedua tangan mencengkeram kayu jati seolah dunia akan runtuh.

"Sistem macam apa ini?"

"Aku tidak sepenuhnya tahu, Nyonya. Tapi sepertinya sistem ini... seperti perpustakaan. Atau lebih tepatnya, seperti mata yang bisa melihat ke dalam realitas. Bukan cuma informasi permukaan—tapi sejarah, rahasia, bahkan takdir."

"Takdir," Alesha mengulang kata itu dengan nada skeptis. "Kau percaya takdir?"

Aditya menggeleng. "Sejujurnya? Tidak. Tapi sistem ini menunjukkan bahwa saya ditakdirkan menyelamatkan Anda malam ini. Dan saya melakukannya."

Alesha mengangkat dagunya. Warna kulitnya mulai kembali normal—dan bersamaan dengan itu, sikap dominannya juga kembali.

"Baik, Pratama. Kita akan buat kesepakatan."

"Kesepakatan?"

"Kau simpan rahasia penyakitku. Aku simpan rahasia sistemmu. Sebagai gantinya..." ia meraih laci mejanya, mengeluarkan kartu hitam metalik, dan menyodorkannya ke Aditya. "...kau tidak lagi bekerja sebagai cleaning service. Mulai besok, kau adalah asisten pribadiku."

Aditya terbelalak. "A-Asisten pribadi?"

"Jangan senang dulu. Pekerjaan ini lebih berbahaya daripada mengepel toilet. Dua asistenku sebelumnya—satu koma, satu hilang tanpa jejak. Kau akan bekerja langsung di bawah pengawasanku, dan kau akan menggunakan sistemmu itu untuk membantuku mencari tahu siapa di balik semua serangan terhadap keluarga Pradipa."

DING!

Misi Baru: Terima Tawaran Sang CEO.

Hadiah: Pil Penguatan Mental Level 2, 500 Koin Sistem.

Efek Samping: Menjadi musuh prioritas Kartel Lotus, organisasi paling berbahaya di Asia Tenggara.

Aditya membaca hadiahnya. Pil Penguatan Mental—apa itu? Dan 500 koin?

Tapi bagian "Efek Samping" membuat bulu kuduknya berdiri.

Kartel Lotus. Organisasi yang terlibat dalam...

All-Seeing Eye terpicu otomatis. Data muncul:

Kartel Lotus: Didirikan 1978. Spesialisasi: Pembunuhan politik, perdagangan senjata biologis, penyelundupan artefak kuno. Pemimpin: Identitas tidak diketahui. Anggota: 4.200+. Motto: "Di balik setiap tahta, ada bunga yang busuk."

Aditya menatap Alesha. Wanita ini tahu risikonya. Ia tahu dengan menerima tawaran ini, Aditya memasang target di dahinya sendiri.

Tapi—

"Kenapa Anda percaya padaku?" Aditya bertanya. "Kita baru bertemu satu jam."

Alesha tersenyum tipis. Senyum yang lebih mirip luka daripada kebahagiaan.

"Karena sistemmu bilang entah kenapa aku merasa akrab padamu. Dan tidak ada yang tidak bisa dijelaskan yang pernah salah tentang instingku."

Aditya terhenyak. Sistemnya memang menunjukkan itu: Entah kenapa merasa akrab 15%.

Tapi bagaimana Alesha tahu?

"Dan satu hal lagi," Alesha mengambil pistol yang tadi direbut Aditya, mengecek magasinnya dengan gerakan terlatih—sebuah keahlian yang tidak akan dimiliki CEO biasa. "Kau bilang kau tidak percaya takdir, Pratama."

Ia menatap Aditya lekat-lekat.

"Aku juga tidak. Tapi malam ini, takdir tampaknya percaya pada kita berdua."

Di luar jendela, lampu-lampu kota mulai meredup. Kabut dini hari turun menyelimuti gedung-gedung pencakar langit. Aditya tidak tahu apa yang menantinya besok—Kartel Lotus, misi-misi aneh, atau rahasia liontin matahari yang masih berdetak di dadanya.

Tapi satu hal yang ia tahu dengan pasti.

Untuk pertama kalinya dalam 22 tahun hidupnya, Aditya Pratama tidak lagi sendirian.

1
Sebut Saja Chikal
hmmm dipikir" ada yg ilang. hadiah terima tawaran si alesha ko ga dapet. 500 koin + pil
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨
Kak, Bisa Follow kembali, ada hal penting🙏
alexander
bagus ceritqnya
Davide David
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!