NovelToon NovelToon
Because Of Music We Met

Because Of Music We Met

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Crazy Rich/Konglomerat / Anak Genius
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sandra Yandra

Banyak yang beranggapan bahwa musik hanyalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan. Terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang mampu menciptakan nada indah.

Namun, tidak... Musik tidak sesederhana itu.

Musik jauh lebih kompleks dan dalam daripada apa pun di dunia ini. Musik mengandung kekuatan magis yang mampu membuat seseorang menjadi lebih kreatif, lebih inovatif, lebih peka terhadap rasa, dan bahkan menjadi sosok yang penuh dramatis.

Musik memiliki kekuatan untuk membentuk kehidupan seseorang, namun di saat yang sama, ia juga bisa menjadi alat yang menghancurkan segalanya.

Ketika musik menjadi alasan bagi seseorang untuk memutuskan ikatan emosionalnya dengan orang lain, lalu menutup diri dari dunia...

Maka pertanyaannya kini adalah...

Bisakah musik itu juga menjadi alasan untuk mempersatukan mereka kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyesalan Chandra

Selasa, pukul 09.00..

Suasana kelas sangat tenang, walaupun saat itu tidak ada guru. Sebagian besar dari mereka lebih senang bermain laptop atau ponsel pintar.

Sekolah dengan gaya hidup berkelas itu memang tiada tandingnya. Setiap hari berganti gawai, setiap hari pula mereka pamer. Apalagi makhluk-makhluk yang bernama perempuan.

Di sudut belakang kelas paling kiri, terlihat seorang pemuda sedang memandangi lapangan lewat jendela. Hari itu musim semi, bunga sakura bermekaran indah di halaman sekolahnya. Sungguh pemandangan yang memanjakan mata.

Dia melamun.

Bagaimana mungkin adik yang ditinggalkannya dulu, sekarang muncul kembali di hadapannya. Dunia ini benar-benar kecil, pikirnya.

Dia menatap ponselnya, membuka berkas-berkas lama yang sudah tidak pernah dilihatnya.

Tanpa sengaja dia membuka folder foto lama saat dia masih duduk di bangku SMP. Foto itu bersamanya bersama seorang anak kecil yang sangat lucu dengan gigi kelincinya, hal itu lantas membuatnya tersenyum kecut. Mereka sangat akrab waktu itu. Benar-benar kakak-adik yang sempurna.

"Chandra," tiba-tiba seorang perempuan memanggilnya dengan lembut.

"Y-ya?" jawabnya gugup, dia langsung menutup ponsel dan beralih menatap perempuan itu.

Perempuan itu cantik, berambut sangat hitam dengan mata besar seperti boneka. Dia cemberut saat melihat Chandra akhirnya menjawab panggilannya yang kesekian kali.

"Apa yang kau lakukan? Aku sudah memanggilmu berkali-kali, lho."

"A-ah. Maaf. Aku tidak mendengarmu," jawabnya kikuk, lalu tertawa dengan nada terpaksa.

"Ya, sudahlah. Lupakan. Hmmm, kau ada acara akhir pekan ini?" tanya perempuan itu mulai tersenyum malu. Dia menunduk, wajahnya memerah.

Chandra yang saat itu sedang banyak pikiran tidak terlalu memikirkan perasaan perempuan yang ada di hadapannya. Dia menjawab dengan polos.

"Ya, tentu saja ada. Aku selalu ada acara di akhir pekan," jawabnya tanpa perasaan.

Perempuan itu terkejut bukan main. Dia tidak menyangka Chandra akan menolaknya secepat itu. Setidaknya dengan cara yang lebih halus agar dia tidak malu. Gadis itu pun lagi-lagi cemberut. Dia segera berlari keluar kelas tanpa berkata sepatah kata pun.

Chandra mengernyitkan keningnya.

'Kenapa dia?' pikirnya dalam hati.

"Kau benar-benar pria yang jahat, ya."

Seseorang lagi-lagi muncul dengan tiba-tiba. Dia duduk di atas meja Chandra.

"Aku? Jahat?" Chandra tidak mengerti, dia bertanya sambil menunjuk wajahnya sendiri.

Bima mengangguk.

"Tidak seharusnya kau berkata seperti itu padanya. Kau benar-benar tidak punya perasaan."

"Apa aku salah? Aku hanya menjawab pertanyaannya, bukan?"

"Astaga, kau masih belum mengerti? Bodoh. Aku heran kenapa kau bisa masuk ke sekolah ini, padahal hanya orang-orang pintar yang bisa masuk ke sini."

"Hei hei, siapa yang kau sebut bodoh? Kau mau bukti siapa yang lebih pintar di antara kita, hah?" Chandra meraih kepala Bima dengan cepat, dia menggosok-gosok rambutnya sampai berantakan.

"Biar aku korek isi kepalamu ini, mungkin di dalamnya sudah tidak ada apa-apa."

Chandra masih saja memainkan kepala Bima sambil tertawa terbahak-bahak. Bima berusaha melepaskan diri dari pemuda bertubuh besar itu, tapi dia tidak kuat.

"Sudah hentikan, Chandra. Aku menyerah. Kau membuat rambutku berantakan."

Bima juga ikut tertawa. Beberapa menit mereka seperti itu, hingga akhirnya Chandra berhenti dan duduk kembali di kursinya.

Setelah mengambil napas dalam-dalam, Bima mulai membuka suara lagi.

"Jadi apa sebenarnya yang kau pikirkan?"

Bima menatap Chandra lekat-lekat. Dia tahu sahabatnya itu sedang memikirkan sesuatu.

Chandra yang saat itu merasa tertangkap basah, segera tersenyum.

"Kau memang pintar membacaku, ya."

"Siapapun pasti bisa karena kau mudah sekali dibaca."

"Begitukah?"

Bima mengangguk sekali lagi. "Apakah tentang adikmu itu?"

Chandra kaget, dia merasa tidak pernah menceritakan hal itu pada Bima.

"Jangan kaget begitu. Kemarin Jofan menceritakannya padaku."

"Oh begitu."

Chandra diam lagi. Dia tidak tahu harus mulai dari mana untuk menceritakan tentang adiknya pada Bima.

"Kenapa kau tidak pernah menceritakan tentang adikmu itu pada kami?" tanya Bima menyelidik.

Chandra menggigit bibirnya. Dia merasa sangat malu saat itu.

"Bukannya tidak mau, tapi aku ingin melupakannya."

"Melupakannya? Maksudmu ingin melupakan adikmu sendiri?"

Bima terheran-heran mendengar jawaban dari Chandra. Dia tahu persis kalau Chandra adalah orang yang sangat baik, tapi kenapa dia harus melupakan adiknya sendiri.

Chandra mengangguk.

"Dulu kami adalah keluarga yang sangat bahagia. Ayah dan ibu adalah orang tua yang hebat. Mereka sangat menyayangi kami. Aku juga menyayangi mereka. Begitu pula dengan Judika, dia adalah anak yang sangat manis."

Chandra berhenti sejenak. Dia menghela napas lagi, sepertinya dia butuh banyak tenaga untuk menceritakan hal ini pada Bima.

"Sampai suatu ketika, ayahku bangkrut dan kehilangan semuanya. Ibu masih menerima keadaan itu, dia tetap sabar mendampingi ayah. Dia benar-benar wanita yang kuat. Tapi apa yang dilakukan ayahku? Dia mulai suka mabuk-mabukan. Pulang malam setiap hari, keluyuran tidak jelas. Setiap dia pulang, ibu selalu menangis melihat keadaannya yang menyedihkan."

"Hingga pada suatu malam, ayah menampar dan memukuliku karena berkata kasar padanya. Memang aku sangat keterlaluan waktu itu, tapi aku tidak tega melihatnya terus memarahi ibu dan Judika."

Lagi-lagi Chandra berhenti. Suaranya mulai serak menahan emosi. Saat ini tidak ada yang memperhatikan mereka karena sibuk dengan urusan masing-masing, kecuali Jodha yang dari tadi menguping pembicaraan mereka.

Bima terlihat sangat prihatin, dia mendengarkan Chandra dengan sangat simpati. Dia tahu, tidak mudah bagi Chandra untuk mengingat lagi kejadian menyakitkan itu.

"Pagi-pagi setelah kejadian itu, aku dan ibu diam-diam mengepak barang kami. Kebetulan ayah sedang tidur di luar kamar hingga aku dan ibu bisa bergerak bebas. Aku membawa Judika yang masih tidur, sedangkan ibu membawa barang-barang."

"Tapi sial, aku tidak sengaja menginjak botol minuman keras ayah yang tergeletak di sampingnya. Dia terbangun dan langsung menangkapku. Aku berusaha melepaskan diri, tapi ayah berhasil merebut Judika dari tanganku."

"Tanpa pikir panjang, aku langsung kabur. Ibu ingin menjemput Judika lagi ke dalam rumah, tapi aku menghalanginya. Tepat sekali waktu itu ada mobil seseorang yang lewat, dan kami pun pergi."

Chandra menunduk dalam-dalam. Dia menekan kepalanya menggunakan jari-jarinya, lalu terdiam cukup lama.

"Jadi kau meninggalkan Judika bersama ayahmu? Kau yakin melakukan hal itu, Chandra?" tanya Bima tidak percaya.

Chandra mengangguk pelan. "Karena itulah aku tidak mau mengingatnya lagi. Itu adalah kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan."

"Ya, kau memang sangat keterlaluan, Chandra Wiguna. Benar-benar pengecut."

"Aku tahu kau akan berkata seperti itu. Karena itulah aku tidak pernah menceritakannya pada siapa pun."

Chandra tersenyum miris, matanya sudah memerah menahan tangis.

1
Himme
Si-Erick si paling nggak terima. Nggak nyadar apa kalau yang dia perbuat itu ngerusak mental orang lain. Padahal akar semua itu salah situ sendiri. Nggak tau diri sumpah.. Judika loe nggak niat ngamuk lagi kah, cuma untuk bocah atu itu.
whiteblack✴️
Chan..loe ...menyesal...sekarang...merasakan penderitaan Dika selama bertahun"...
whiteblack✴️
namanya Erick ya......!! ada Dendamnya ya...mau di hajar Judit...hah
whiteblack✴️
tuw cowok sialan tuw mulutnya minta di plester ya..
sri wahyu
ayo judika kendalikan emosi kamu
sri wahyu
nah udah enak2 tenang tnpa gangguan muncul lagi orang yg pernah bully judika
sabar yg banyak2 judika kamu gak sendiri sekarang
whiteblack✴️
apa yg terjadi di galeri Dika??? apa musuhnya belum disingkirkan...
whiteblack✴️
seperti group Bintang 7 /8 ...pasti seru ada bumbu" pertengkaran tanti
sri wahyu
wahhhhh kesempatan tidak datang dua kali terima aja udah debut semuanya aja bikin grup
sri wahyu: kalo gitu langsung gas aja kak debutkan semuanya
total 2 replies
Himme
Wahhh... Awal baik dan kesempatan emas. Tolong jangan ada pertengkaran antara kalian lagi.
sri wahyu
semoga semua keluarganya selalu di samping judika dan mendukungnya
ayo judika bicarakan pada sahabat dan keluargamu semangat
whiteblack✴️
hemmm...lebih baik seprti itu Dika...bukalah lembaran baru dg musik...agar perasanmu tersampaikan.
Himme
Tolong ini untuk terakhir kalinya. Karena yang sesungguhnya yang judika perlukan pelukan dan dukungan selalu disampingnya. Setia terus disampingnya dan siap ada untuknya. Dan selama Judika bisa mengendalikan diri dan terpenting telah berdamai aku yakin Judit bisa dikontrol. Sosok itu hanya ingin melindungi tuannya dan berharap kedepannya lebih baik lagi.
whiteblack✴️
kalian juga sama saja ...😒...ego kalian sunggu keterlaluan sialan
whiteblack✴️
itulah ego kalian sunggu keterlaluan.
Himme
Sekarang sisanya bagaimana kalian bersikap dan meperbaiki semuanya. Tidak mudah, jangan egois, jangan marah dan jangan memaksa.
Himme
Dari semua ini kebodohan terlihat. Faktanya diantara banyak manusia dari dua keluarga, sahabat bahkan tiga biang kerok. Judika benar-benar sendiri dan kini baru sadar setelah separah ini.
Sandra Yandra: Tiga biang kerok (ibu dan kakaknya Judika) satu lagi siapa 🤭

Disini Judika dekat dengan Devano, walau seluruh anggota keluarga Pratama sayang dan peduli padanya. Sosok Judit keluar untuk pertama kalinya baru yang ini. Pertama keluar saat bersama Devano. Disitu Devano berhasil. Dan sesuai janjinya Judika semakin membaik. Ditambah lagi sikap ayahnya yang berubah menjadi malaikat pelindung. Itu semua juga tak lepas dari kemarahan Devano, walau Juandra masih menyiksa Judika dan berakhir tersadar saat mendapatkan pukulan telak dari dokter Xohan saat Judika SMP. Kan hidup Judika bahagia saat itu.
total 1 replies
Himme
Yah, sesungguhnya Altar Ego terbentuk dari amarah, kesedihan, kecewa, kesendirian dan penderita yang ditahan sendiri. Jika kalian pikir Altar Ego hanya sebuah rekayasa cerita, tapi faktanya benar-benar ada. Dan hanya sedikit dari mereka yang bisa menenangkan dan mengendalikan altar ego dalam diri mereka sendiri. Tujuan altar ego itu untuk melindungi sisi lemah dari tubuh yang sama.
Dan tentu saja altar ego itu terbentuk dalam diri Judika karena apa yg dilakukan ayahnya dimasa lalu dan luka dibuat Chandra serta ibunya. Tidak usah merasa bersalah atau menyesal, karena itu murni kesalahan ketiganya. Dan yang perlu dilakukan bagaimana memperbaiki semua itu tanpa memaksa dua sisi tersebut.
Himme
Ayolah Chandra! Bergerak elah, apa perlu aku seret agar kau kembali peka.
whiteblack✴️
chan sudah paham rasa "Sakit".... lebih menahan Sakit itu Dika !! 😒
setalah tau apa yg akan kamu lakukan ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!