NovelToon NovelToon
Sunyi Yang Berisik Season 2

Sunyi Yang Berisik Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Misteri / Horor
Popularitas:692
Nilai: 5
Nama Author: kucing samge

Jay menikmati hari-harinya yang tenang dan santai—kerja sama rumahnya dengan yayasan berjalan lancar, bersama Malakos dan makhluk dimensi lain. Namun kedatangan Rara mengubah segalanya: batas antar dimensi retak parah, dunia paralel hilang tanpa bekas, dan rumah serta Desa Wening akan ikut lenyap jika tidak dihentikan.

Terpaksa keluar zona nyaman, Jay menjelajahi Titik Diam di seluruh Indonesia dan bertemu orang-orang dengan cara pandang berbeda. Di perjalanan ini, dia menemukan rahasia buku tua yang selalu mengikutinya, serta hubungan kakeknya dengan sang pencipta.

Dengan sikap santainya yang khas, Jay harus membuktikan bahwa berguna tidak selalu perlu kerja keras. Ketika menghadapi sumber Titik Diam yang menyebabkan kekacauan, dia harus memilih: akhiri semua cerita agar tidak ada kehancuran, atau temukan cara agar semua dunia hidup berdampingan—sambil tetap punya waktu buat main game dan makan snack!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kucing samge, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 1: "TITIK DIAM YANG BERGEJALA" part 3

Malam sudah menjelang ketika mereka memasuki rumah kecil milik Dinda—sesaat setelah pintu terbuka, angin dingin menusuk langsung ke tulang dan membuat semua rambut berdiri ria. Udara di dalam ruangan terasa lebih dingin dari luar, dengan aroma tanah basah yang menusuk hidung dan menyelimuti setiap sudut, seolah ada lapisan tanah lembap yang tak terlihat di setiap permukaan. Lantai kayu yang sudah aus mengeluarkan bunyi kresek… kresek… setiap kali mereka melangkah—suaranya seperti suara tulang yang patah yang bergema di setiap ruangan kosong. Di dinding-dinding rumah terlihat simbol-simbol yang dibuat dengan kapur putih—pola melingkar yang sama seperti pagar bambu di luar, hanya saja lebih kecil dan rapi, dengan garis-garis yang melengkung seolah sedang bergerak perlahan, seolah tangan yang terampil namun tanpa nyawa telah mengukirnya dengan cermat.

Mereka masuk ke dalam kamar yang paling dalam, tempat di mana Dinda duduk menggigil di sudut kamar. Ruangan penuh dengan simbol-simbol yang dibuat dengan kapur, tersebar di lantai, dinding, bahkan pada tirai yang sudah lusuh. Seorang anak kecil berusia sekitar 8 tahun dengan rambut pirang kusut duduk menyilang kaki di sudut kamar paling dalam, tubuhnya menggigil sambil menangis sambil berbisik: “Jangan datang dekat… jangan datang dekat…”

Jay melangkah perlahan ke arah anak itu, langkahnya terkesan lambat dan tidak tergesa-gesa, tangan kanannya masih memegang bungkus snack jagung bakar dengan cara yang acuh tak acuh. Rara mengikuti di belakangnya, matanya tetap mengamati setiap gerakan makhluk gaib yang mulai muncul dari celah-celah kayu rumah—sedangkan Jay hanya menyelinap perlahan, seolah melakukan tugas yang bukan keinginannya sendiri, meskipun pandangannya sesekali menyilaukan melihat anak itu menggigil.

“Hai Dinda, namaku Jay. Mau makan snack jagung bakar nggak?” ujar Jay dengan nada lembut, sambil mengulurkan tangan menyodorkan bungkusan kecil berwarna coklat.

Anak itu menunduk rapat, wajahnya masih tersembunyi di antara lututnya yang digenggam erat. “Mereka menggangguku! Aku mau mereka pergi!” ucapnya dengan suara bergetar dan merintih, tanpa mengangkat wajahnya—tubuhnya menggigil semakin erat, napasnya terengah-engah seolah sedang tercekik oleh rasa takut yang melilitnya.

Makhluk gaib dengan bentuk lebih kompleks dari yang pernah Jay lihat mulai muncul perlahan dari setiap celah kayu—bayangan mereka pertama-tama menghalangi cahaya bulan, lalu tubuhnya mulai terbentuk jelas: beberapa dengan tubuh yang memanjang seperti kain basah yang bergelombang perlahan, mengeluarkan bunyi gesekan yang menusuk telinga, yang lain dengan bentuk melingkar seperti bola tapi memiliki banyak mata kecil yang berkedip-kedip tanpa jeda. Setiap munculnya mereka disertai dengan aroma tanah tandus dan udara yang semakin dingin—seolah mereka menghisap panas dari seluruh ruangan. Mereka tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menyerang, tapi hanya mengelilingi Dinda dengan pandangan yang penuh kesusahan, bentuk tubuh mereka bergeser-geser tanpa henti dan membuat bayangan aneh berlarian di dinding belakangnya.

“Mereka tidak akan menyakitimu kok Dinda. Mereka cuma mau bicara sama kamu.” Jay duduk perlahan di lantai, tidak terlalu dekat tapi cukup untuk membuat anak itu bisa melihatnya dengan jelas. Dia membuka snack dan mulai memakannya sambil ngobrol seperti biasa. “Kamu tahu nggak, rumahku juga punya pagar sama kaya kamu lho. Jadi kita sama-sama Titik Diam.”

Dinda mengangkat wajahnya perlahan, matanya merah karena menangis tapi mulai memperhatikan Jay. “T-Titik Diam?” tanyanya dengan suara masih bergetar.

“Ya. Titik Diam itu orang yang bisa melihat makhluk gaib dan punya pagar bambu sama kaya kamu. Kamu bukan sendirian lho.” Jay menjelaskan sambil menunjuk ke luar ke arah pagar bambu di halaman rumah itu.

Makhluk gaib yang mengelilingi mulai mendekat perlahan, bentuk mereka menjadi lebih lembut dan tidak terlalu mengerikan. Beberapa di antaranya bahkan mulai menunjukkan bentuk yang lebih jelas—seperti manusia tapi dengan sayap tipis di punggungnya, atau seperti anak-anak kecil yang bermain.

“Lihat Dinda, mereka tidak jahat kok. Cuma kamu terlalu takut jadi mereka terlihat mengerikan.” lanjut Jay sambil memberikan satu bungkusan snack ke arah anak itu.

Dinda meraih snack dengan hati-hati, lalu mulai membuka bungkusan itu dengan cermat. Saat dia mulai memakan snack itu, tubuhnya tidak menggigil lagi dan makhluk gaib di sekelilingnya mulai mendekat dengan lebih tenang.

Jay membuka buku tua yang sudah terbuka sendirinya di mejanya. Halaman baru muncul dengan tulisan yang menyala terang: ꒯ꏂꇙꋬ ꉔꏂꂵꋬꋪꋬ ꉣꏂꋪꋊꋬꁝ ꒻ꋬ꒯꒐ ꓄ꏂꂵꉣꋬ꓄ ꓄꒐ꋊꍌꍌꋬ꒒ ꀘꏂꀘ꒤ꋬ꓄ꋬꋊ ꌦꋬꋊꍌ ꇙꋬꂵꋬ ꇙꏂꉣꏂꋪ꓄꒐ ꀘꋬꂵ꒤, ꒻ꋬꌦ. ꀘꋬꀘꏂꀘꂵ꒤ ꉣꏂꋪꋊꋬꁝ ꁝ꒐꒯꒤ꉣ ꒯꒐ ꇙ꒐ꋊ꒐ ꇙꏂꃳꏂ꒒꒤ꂵ ꉣ꒐ꋊ꒯ꋬꁝ ꀘꏂ ꒯ꏂꇙꋬ ꅐꏂꋊ꒐ꋊꍌ.

“Wah, ternyata kakekku pernah tinggal di sini juga ya?” Jay menoleh ke arah Rara yang kini sudah berdiri di belakangnya.

Rara mengangguk perlahan. “Ya Mas Jaya. Kakek kamu pernah tinggal di sini sebelum pindah ke Desa Wening untuk mencari tempat yang lebih tenang.”

Saat itu juga, buku itu mulai menampilkan cerita panjang tentang Desa Cemara—cerita tentang bagaimana desa ini pernah menjadi tempat berkumpulnya banyak orang yang bisa melihat makhluk gaib, bagaimana mereka hidup rukun bersama sebelum sesuatu terjadi yang membuat mereka terpencar. Tulisan di buku itu terbaca jelas: ꒯ꏂꇙꋬ ꉔꏂꂵꋬꋪꋬ ꉣꏂꋪꋊꋬꁝ ꒻ꋬ꒯꒐ ꓄ꏂꂵꉣꋬ꓄ ꃳꏂꋪꀘ꒤ꂵꉣ꒤꒒ꋊꌦꋬ ꄲꋪꋬꋊꍌ-ꄲꋪꋬꋊꍌ ꌦꋬꋊꍌ ꃳ꒐ꇙꋬ ꂵꏂ꒒꒐ꁝꋬ꓄ ꂵꋬꀘꁝ꒒꒤ꀘ ꍌꋬ꒐ꃳ. ꂵꏂꋪꏂꀘꋬ ꁝ꒐꒯꒤ꉣ ꋪ꒤ꀘ꒤ꋊ ꇙꋬꂵꉣꋬ꒐ ꇙ꒤ꋬ꓄꒤ ꁝꋬꋪ꒐ ꀘꏂꀘ꒤ꋬ꓄ꋬꋊ ꌦꋬꋊꍌ ꓄꒐꒯ꋬꀘ ꒯꒐ꀘꏂꋊ꒯ꋬ꒒꒐ ꂵ꒤ꋊꉔ꒤꒒ ꒯ꋬꋊ ꂵꏂꂵꃳ꒤ꋬ꓄ ꇙꏂꂵ꒤ꋬ ꓄ꏂꋪ꒻ꋬ꒯꒐꒒ꋬꁝ ꀘꏂꀘꋬꉔꋬ꒤ꋬꋊ.

Dinda mulai makan snack itu dengan perlahan, tubuhnya tidak menggigil lagi. Makhluk gaib di sekelilingnya semakin dekat, bentuk mereka menjadi lebih lembut dan mulai menunjukkan ekspresi yang lebih jelas—seolah mereka sedang ingin berbicara.

“Mereka mau bilang apa ya?” tanya Dinda dengan suara sudah tidak lagi bergetar.

Jay melihat ke arah buku yang kini mulai menyala dengan cahaya ungu. “ꂵꏂꋪꏂꀘꋬ ꃳ꒐꒒ꋬꋊꍌ ꂵꏂꋪꏂꀘꋬ ꓄꒐꒯ꋬꀘ ꇙꏂꋊꍌꋬ꒻ꋬ ꂵꏂꂵꃳ꒤ꋬ꓄ ꀘꋬꂵ꒤ ꓄ꋬꀘ꒤꓄. ꂵꏂꋪꏂꀘꋬ ꁝꋬꋊꌦꋬ ꒐ꋊꍌ꒐ꋊ ꃳꏂꋪ꓄ꏂꂵꋬꋊ ꒯ꋬꋊ ꂵꏂꂵ꒐ꋊ꓄ꋬ ꓄ꄲ꒒ꄲꋊꍌ.”

Dinda mengangguk perlahan, mulai menghampiri Jay dengan hati-hati. “Aku takut… aku takut mereka akan menyakitiku.”

“Tidak akan kok. Kita semua sama-sama, kan?” Jay memberikan satu lagi bungkusan snack ke anak itu. “Nanti kita bisa kumpul sama anak-anak Titik Diam yang lain ya. Bisa cerita dan bermain bareng.”

Makhluk gaib di sekeliling mereka mulai mengelilingi dengan tenang, beberapa bahkan mulai menunjukkan bentuk yang lebih jelas—seperti orang tua yang sedang mengantar anaknya, atau teman yang sedang bermain. Buku tua Jay kembali terbuka dan menampilkan cerita baru tentang Desa Cemara yang ternyata juga pernah menjadi tempat tinggal keluarga besar Jay sebelum mereka pindah.

“Wah, buku ini benar-benar tahu banyak banget ya. Kayaknya lebih pintar dari buku sebelumnya.” ujar Jay dengan tersenyum.

Dinda sudah tidak menangis lagi, dia mulai makan snack sambil menatap ke arah makhluk gaib yang kini sudah terlihat lebih ramah. “Mereka tidak jahat ya?” tanya dia dengan suara sudah lebih tenang.

“Tentu saja tidak. Mereka cuma butuh teman dan tempat tinggal yang aman.” Jay menjawab sambil melihat ke sekeliling ruangan yang kini sudah terasa lebih hangat.

Rara yang sudah berdiri di pintu kamar tersenyum. “Terima kasih Mas Jaya. Kamu berhasil membuat Dinda lebih tenang.”

Jay mengangguk lalu melihat ke arah buku yang kini mulai menyala dengan cahaya hijau yang tenang. “Bukunya juga sudah tahu dong. Dia yang paling pintar kan?”

Di halaman buku itu, tulisan baru muncul dengan sendirinya: ꇙꏂꂵ꒤ꋬ ꓄꒐꓄꒐ꀘ ꒯꒐ꋬꂵ ꇙꋬ꒒꒐ꋊꍌ ꓄ꏂꋪꁝ꒤ꃳ꒤ꋊꍌ. ꒯ꏂꇙꋬ ꉔꏂꂵꋬꋪꋬ ꓄꒐꒯ꋬꀘ ꇙꏂꋊ꒯꒐ꋪ꒐, ꒯꒐ꋊ꒯ꋬ ꒻꒤ꍌꋬ ꓄꒐꒯ꋬꀘ ꇙꏂꋊ꒯꒐ꋪ꒐.

Cahaya kebiruan dari buku itu menyebar ke seluruh kamar, menerangi wajah Dinda yang kini sudah tidak lagi takut—mata anak itu bahkan mulai bersinar dengan kilau yang sama seperti cahaya dari buku. Tulisan di buku itu semakin terang, setiap hurufnya terpancar dengan jelas dan menyala seperti lilin yang tidak pernah padam, seolah ingin menyampaikan pesan yang telah tersembunyi selama bertahun-tahun.

Dinda mulai mendekat ke arah Jay, tangan kecilnya meraih buku tua itu dengan hati-hati. Saat jarinya menyentuh permukaan kertas, buku itu mulai menampilkan gambar kecil dari Desa Cemara masa lalu—gambar orang-orang yang hidup rukun bersama makhluk gaib, dan di tengahnya tampak sosok yang mirip dengan kakek Jay muda.

“Ini… ini kakek kamu kan?” tanya Dinda dengan suara sudah tenang dan jelas.

Jay mengangguk, senyumnya semakin lebar. “Ya Dinda. Dan sekarang kita juga bisa hidup rukun seperti mereka dulu.”

Saat itu juga, makhluk gaib di sekeliling mereka mulai mengeluarkan suara nyanyian yang lembut dan merdu. Cahaya dari buku semakin terang, menerangi seluruh rumah dengan warna kebiruan yang hangat. Di luar rumah, pagar bambu mulai menyala dengan cahaya samar, seolah menyambut awal dari sesuatu yang baru.

1
EvhaLynn
Lari Mbak🏃‍♀️
EvhaLynn
oh pantesan🤭
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
baik benar Jay
リズキ・サントソ
👍👍
リズキ・サントソ
santoso 🗿
T28J
gimana nyanyinya, hihihihihi....
Pengabdi Uji
tp klo g galak gpp jg
Pengabdi Uji
kumpulan paracenayang khh🫣
Pengabdi Uji
hmm pantess trnyta?emg ky spesial itu
Pengabdi Uji
hooh pantes ajaa ya trnyta g mngancam
Pengabdi Uji
ini knp dy?? apa di pngaruhi
Tati Hartati
keren banget kak
M. T🌻
keren thor👍
Jing_Jing22
Seperti reuni makhluk halus dan para tuannya.
Jing_Jing22
Cantik loh tulisannya.
Jing_Jing22
Kalau kamu kan udah terbiasa Jay berbeda dengan Dinda
Sishrye
takut nya kalau tetiba makhluk itu berubah jadi jahat
~SasMaya ✧
Thor, baca adegan ini .. jadi inget film Shinbi house ... pemberantas makhluk-makhluk
Sishrye: oh iya bener juga ya kak. btw aku juga sering liat film itu di net tipi😂
total 1 replies
~SasMaya ✧
aelah si Jay, cikinya pasti ga ketinggalan 😂
Mingyu gf😘
mereka ini orang jawa ya ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!