Dalam satu perjalanan malam,
Nara dan Arka dipaksa menghadapi kembali masa lalu yang belum selesai.
Dan kali ini… tidak ada lagi tempat untuk lari.
Karena di antara dua perhentian,
beberapa perasaan tidak pernah benar-benar hilang
hanya menunggu waktu untuk kembali menyakitkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita.mamitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal yang Terlalu Hangat untuk Dilupakan
Kenangan itu datang tanpa permisi.
Tidak peduli seberapa keras Nara berusaha menahannya, malam ini semuanya terasa terlalu dekat. Terlalu nyata. Seolah waktu tidak pernah benar-benar berlalu.
Kereta terus melaju, tapi pikiran Nara justru berjalan mundur.
Kembali ke satu sore yang sederhana.
Hujan turun rintik-rintik di halaman kampus. Tidak deras, tapi cukup membuat orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. Nara berdiri di bawah atap gedung, memeluk buku di dadanya, menunggu hujan reda.
Dia tidak membawa payung.
Seperti biasa.
“Lo nggak pernah belajar ya?”
Suara itu muncul dari samping, santai, sedikit mengejek tapi tidak menyebalkan.
Nara menoleh, sedikit kesal.
“Apaan sih?”
Seorang laki-laki berdiri di sana, memegang payung hitam. Rambutnya sedikit basah di ujung, mungkin karena berlari. Tapi ekspresinya… terlalu santai untuk seseorang yang baru kehujanan.
“Udah tau musim hujan, masih aja nggak bawa payung,” lanjutnya.
Nara memutar mata.
“Bukan urusan lo.”
Laki-laki itu tersenyum kecil.
“Iya sih. Tapi kasian aja liat orang bego kehujanan tiap minggu.”
Nara langsung melotot.
“Lo yang bego.”
Dia berniat menjauh, tapi langkahnya terhenti saat laki-laki itu mengangkat payungnya sedikit.
“Bareng aja.”
Nara mengernyit.
“Apaan?”
“Gue ke parkiran. Kalau searah, ya lumayan. Daripada lo nunggu hujan yang nggak jelas kapan berhentinya.”
Nada suaranya santai. Tidak memaksa. Tapi juga tidak ragu.
Nara menatapnya beberapa detik, menimbang.
Lalu menghela napas.
“Yaudah.”
Mereka berjalan berdampingan di bawah satu payung.
Awalnya canggung. Hanya suara hujan yang menemani.
Sampai akhirnya
“Gue Arka.”
Nara melirik.
“Nara.”
“Gue tau.”
Nara berhenti jalan.
“Tau dari mana?”
Arka mengangkat bahu.
“Lo sering duduk di depan kelas. Susah nggak kenal.”
Nara mendengus kecil.
“Sok tau.”
Tapi ada sesuatu yang aneh.
Dia tidak merasa terganggu.
Justru… sedikit nyaman.
Dari pertemuan sederhana itu, semuanya berkembang terlalu cepat.
Terlalu mudah.
Arka selalu punya cara untuk muncul di hidup Nara, seolah itu kebetulan padahal tidak pernah benar-benar kebetulan.
Di kantin.
Di perpustakaan.
Di lorong kampus.
Dan entah bagaimana… Nara mulai menunggunya.
“Lo nunggu gue ya?” tanya Arka suatu hari, duduk santai di hadapan Nara yang sedang membuka laptop.
“Geer,” jawab Nara cepat.
Arka tertawa.
“Tapi bener kan?”
Nara tidak menjawab.
Karena untuk pertama kalinya… dia tidak punya alasan untuk menyangkal.
Malam-malam panjang mulai diisi dengan percakapan.
Dari hal sepele, sampai hal yang terlalu dalam untuk dibicarakan dengan orang lain.
“Lo pernah takut kehilangan sesuatu nggak?” tanya Nara suatu malam.
Arka berpikir sejenak.
“Pernah.”
“Apa?”
Arka menatapnya. Lama.
“Sekarang?”
Nara terdiam.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
“Lo aneh,” katanya akhirnya.
Arka tersenyum.
“Lo juga.”
Dan anehnya… mereka cocok.
Kebiasaan kecil mulai terbentuk.
Arka yang selalu memastikan Nara sudah makan.
Nara yang selalu mengeluh dingin, dan Arka yang tanpa diminta memberikan jaketnya.
Cara mereka berjalan berdampingan, tanpa perlu banyak bicara.
Semuanya terasa… pas.
Seperti dua orang yang tidak perlu berusaha terlalu keras untuk saling mengerti.
“Kalau suatu hari kita nggak ketemu lagi gimana?” tanya Nara tiba-tiba.
Mereka sedang duduk di tangga kampus, melihat langit sore yang mulai gelap.
Arka mengernyit.
“Kenapa mikir sejauh itu?”
“Cuma nanya.”
Arka diam sebentar, lalu menjawab santai
“Ya berarti gue cari lo lagi.”
“Kalau nggak ketemu?”
Arka tersenyum kecil.
“Ya gue nggak akan berhenti nyari.”
Nara tertawa pelan.
“Yakin banget.”
Arka menoleh padanya.
“Kali ini, iya.”
Dan untuk pertama kalinya… Nara percaya.
Kenangan itu terasa hangat.
Terlalu hangat.
Sampai Nara hampir lupa… bagaimana semuanya berubah.
Kereta berguncang pelan.
Nara membuka mata.
Dia tidak sadar sejak kapan dia terdiam begitu lama, tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Di sampingnya, Arka masih ada.
Nyata.
Bukan sekadar kenangan.
Dan itu justru terasa lebih berat.
Karena sekarang Nara tahu
yang dia rindukan bukan hanya masa lalu…
tapi juga versi dirinya yang dulu, saat semuanya masih sederhana.
Saat mencintai Arka tidak terasa seperti kesalahan.
Nara menatap jendela.
Pantulannya terlihat samar.
Dan di sana… dia melihat seseorang yang berbeda dari dulu.
Lebih kuat.
Tapi juga… lebih lelah.
Perjalanan ini baru dimulai.
Dan kenangan yang muncul barusan…
hanya awal dari sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.