NovelToon NovelToon
Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Zhao Fei yang dijuluki Yang Mulia Petir Abadi, tewas ditikam murid kesayangannya sendiri setelah 10.000 tahun berkuasa di Alam Dewa.

Namun ternyata hukum karma memberinya kesempatan kedua. Rohnya dikirim ke dunia bawah, masuk ke tubuh seorang pemuda sampah dari keluarga miskin yang tidak punya bakat, tidak punya harga diri, dan tidak ada wanita yang mau menikahinya.

Kekuatan petirnya lenyap. Akar spiritualnya tertidur dan dirinya harus memulai semuanya dari nol.

Tapi dendam seorang dewa tidak pernah padam. Janji pada pemilik tubuh asli pun juga tidak akan diingkari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Malu Di Bawah Rembulan

Matahari mulai condong ke barat, meninggalka jingga yang memukau di ufuk langit. Pada waktu yang sama indahnya, Zhao Fei menggerakkan sapu lidi dengan batu teras, membersihkan pelataran rumah Tabib Wen dari sisa-sisa kotoran dan daun kering yang berserakan. Setelah seharian penuh dikerumuni oleh lautan manusia yang mengemis kesembuhan, halaman itu akhirnya kembali bersih dan rapi.

Sepasang sudut bibir pemuda itu terangkat, membentuk sebuah senyuman yang jauh lebih lebar dari biasanya, itu berarti mencerminkan kepuasan tinggi.

Tangan kanannya meraba saku jubah demi mengeluarkan sebuah kantong kain yang terasa berat. Dia melempar kantong berisi koin emas itu ke udara, membiarkannya berkilau keemasan diterpa cahaya mentari sore, sebelum kemudian menangkapnya kembali dengan tangkas.

“Hari yang sangat luar biasa,” kata Zhao Fei, berbicara pada dirinya sendiri sembari menatap kantong berharga itu. Seluruh pasien yang datang berkunjung sejak pagi tadi pulang dengan gembira setelah menerima parutan obat dewa miliknya. Keluhan batuk akut mereda, demam tinggi turun seketika, bahkan beberapa luka luar langsung mengering sebelum mereka sempat meninggalkan pelataran.

Beberapa orang kaya yang datang dari kota bahkan memberikan bonus yang sangat berlimpah, memujinya setinggi langit dengan sebutan tabib muda yang ajaib. Keberhasilan hari ini benar-benar bukan sekadar tentang tumpukan emas, malahan bisa dibilang sebagai bentuk fondasi reputasi yang mulai terbangun kokoh.

Zhao Fei kembali melempar kantong koin itu ke atas, menangkapnya, lalu menyimpannya kembali ke balik baju. Ini adalah langkah awal yang sangat krusial, sebuah batu pijakan pertama untuk membawa dirinya kembali menuju puncak tertinggi rantai makanan di dunia kultivasi.

Langkah kakinya kemudian membawa tubuh muda itu masuk ke dalam rumah kayu. Dia meraih sebuah palang kayu tebal di balik pintu, lalu menyelipkannya pada kedua sisi kusen hingga pintu depan terkunci rapat dari dalam.

Setelah itu barulah dia berjalan menuju sebuah gudang kecil yang terletak di bagian paling belakang bangunan. Di atas sebuah rak kayu yang sangat sederhana, pedang Pemutus Awan terbaring dengan tenang di dalam sarung hitamnya yang legam.

Gagang senjata pusaka itu terasa sangat dingin sekaligus berat saat jemari Zhao Fei mencengkeramnya erat, menghadirkan sejenis rasa familier yang telah mendampinginya selama ribuan tahun.

Sebelum memulai agenda berikutnya, dia memfokuskan pikiran pada sisa pil obat yang belum terpakai hari ini. Seketika itu juga, cincin kuno yang melingkar di jarinya memancarkan gelombang hangat yang menjalar cepat. Sisa-sisa pil magis tersebut melayang di udara, mendadak lenyap dalam sekejap mata untuk kembali masuk ke dalam gudang penyimpanan rahasianya di Alam Dewa.

Sistem penyimpanan spasial ini benar-benar sangat praktis, membebaskan dirinya dari keharusan membawa barang-barang berharga yang bisa mengundang kecurigaan orang lain.

Zhao Fei lantas mengambil posisi duduk bersila di atas lantai kayu yang bersih, lalu perlahan memejamkan mata.

Malam akan segera tiba, dan ini adalah waktu yang paling tepat untuk melakukan latihan guna meningkatkan ranah kultivasi tubuh barunya. Seluruh esensi dan jurus pedang tingkat tinggi sebenarnya telah tertanam kuat di luar kepala, mengalir bersama ingatan masa lalunya sebagai seorang penguasa petir. Alih-alih meragukan teori, kendala utama saat ini adalah menyelaraskan ingatan sempurna itu dengan kapasitas fisik barunya yang masih sangat rapuh.

Kelopak matanya kembali terbuka, memancarkan binar tekad yang kuat saat dirinya bangkit berdiri dan melangkah mendekati pintu belakang, membuka palang pengaman, lalu melompat ringan ke halaman belakang. Sebelum benar-benar melangkah pergi meninggalkan area kediaman, dia menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang, menatap bangunan kayu yang sepi itu.

“Tabib Wen, aku pamit pergi sebentar untuk berlatih.”

Tentu saja tidak ada satu pun jiwa yang menanggapi, mengingat sang pemilik rumah asli sedang melakukan perjalanan jauh. Kendati demikian, entah mengapa ada sebersit keinginan dalam benak Zhao Fei untuk sekadar mengucapkan kalimat pamit tersebut.

Langkah kakinya membawa tubuh kerempengnya itu berjalan cukup jauh menembus kelebatan hutan, melewati hamparan kebun herbal yang tertata rapi serta barisan semak-semak berduri. Setelah berjalan sekitar lima ratus meter, dia akhirnya menemukan sebuah lapangan kecil yang dikelilingi oleh pepohonan rimbun. Area ini memiliki permukaan tanah yang cukup rata serta bebas dari bebatuan besar, menjadikannya lokasi yang sangat ideal untuk menguji kemampuan.

Tempat ini dirasa sudah sangat cukup.

Zhao Fei mengatur napasnya sedemikian rupa, menurunkan pusat gravitasi tubuh, sementara tangan kanannya menggenggam erat gagang Pemutus Awan.

Setelah merasa cukup, dia menarik bilah pedang itu keluar dari sarungnya dengan satu gerakan cepat.

Kilatan cahaya biru tipis yang menyerupai sambaran petir langsung memelesat di udara, menerangi area sekitar yang mulai remang-remang.

Dia pun mengayunkan senjata tersebut satu kali, mengeksekusi gerakan dasar yang paling sederhana dalam kurikulum ilmu pedangnya. Pada masa kejayaannya dahulu, ayunan santai seperti ini biasanya hanya digunakan untuk merontokkan dedaunan atau memotong ranting pohon yang mengganggu jalan.

Namun, kalkulasinya kali ini meleset total karena gelombang energi qi berwarna biru pekat melesat horizontal dari ujung bilah pedang, melebar dengan kecepatan yang luar biasa hingga menghantam deretan vegetasi di hadapannya.

Akibatnya puluhan pohon berukuran besar tumbang seketika dalam hitungan detik. Batang-batang kayu yang kokoh terbelah menjadi dua bagian dengan rapi, lalu roboh menghantam tanah hingga menimbulkan suara gemuruh dahsyat yang menggetarkan permukaan bumi.

Zhao Fei terpaku di tempatnya berdiri, dengan bibir yang sedikit terbuka karena rasa terkejut yang tidak terduga.

Sepasang matanya menatap nanar ke arah tumpukan kayu yang bertumbangan, lalu beralih menatap bilah pedang di genggamannya, sebelum akhirnya kembali memandang kehancuran di depannya.

“Wah,” cetus pemuda itu dengan lirih.

Dia menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal, lalu meringis canggung saat menyadari skala kerusakan yang ditimbulkannya. Daya rusak senjata dewa ini rupanya terlalu masif untuk ukuran dunia bawah yang memiliki stabilitas ruang sangat rapuh. Alhasil, dia harus ekstra waspada dan tidak boleh lagi sembarangan melepas energi penuh bilamana tidak ingin meratakan seluruh isi hutan ini.

Sejak petang hingga malam merayap naik, Zhao Fei terus menghabiskan waktu dengan melakukan repetisi gerakan.

Dia berfokus penuh untuk meredam daya hancur ayunan pedang, mengontrol aliran qi agar tidak meluap, serta menyesuaikan setiap jurus dengan batas ketahanan fisik tubuh fana ini. Setiap tebasan dan pergeseran langkah dia pelajari kembali dari dasar, memaksa otot-otot barunya untuk menghafal ritme pertempuran yang sesungguhnya.

Latihan yang intens itu terus berjalan tanpa henti, memeras peluh hingga membasahi seluruh pakaian yang dikenakannya. Langkahnya baru berhenti ketika matahari telah tenggelam sepenuhnya, digantikan oleh kehadiran sang dewi malam yang memancarkan cahaya perak murni dari langit tertinggi.

Zhao Fei lantas memilih sebuah pohon paling besar di tepi lapangan, lalu melompat ringan menuju salah satu dahan yang cukup tinggi. Dia mengambil posisi duduk bersila di atas dahan tersebut, bertengger dengan santai layaknya seekor burung hantu yang tengah menikmati kesejukan angin malam.

Dari titik elevasi itulah, pandangannya bisa menjangkau area latihan yang kini dipenuhi oleh batang pohon yang bertumbangan, serta siluet rumah Tabib Wen yang memancarkan cahaya lampu minyak di kejauhan.

Segala urusan mendasar di dunia ini tampaknya mulai berjalan ke arah yang benar. Penyakit ibu dari pemilik asli tubuh ini telah disembuhkan, akses masuk menuju Sekte Garuda Putih sudah berada di tangan, bahkan sebagian kekuatan lamanya telah berhasil diakses kembali melalui cincin spasial.

Jemari tangannya perlahan bergerak meraba permukaan cincin yang melingkar di jari manis.

Sekarang, tinggal tersisa satu amanat terakhir yang belum sempat diwujudkan.

Yaitu mencarikan sosok pendamping hidup yang tepat untuk tubuh muda ini, seorang wanita yang tulus dan bersedia menerima keberadaan Zhao Fei apa adanya.

Dia tersenyum tipis, namun kali ini guratan di wajahnya tampak sedikit canggung dan dipenuhi rasa sangsi. Dibandingkan dengan urusan menembus batas kultivasi atau mengalahkan ribuan musuh, urusan asmara seperti ini justru terasa jauh lebih rumit untuk diselesaikan.

Benaknya tiba-tiba teringat akan tawaran yang diajukan oleh tetua sekte mengenai rencana perjodohan dengan Liu Xue.

Gadis itu terkenal memiliki watak yang sangat dingin bagaikan es abadi, serta tidak menunjukkan keramahan sama sekali kepada siapa pun. Namun pemuda itu justru menghela napas panjang, menatap rembulan yang mulai tertutup oleh pergerakan awan tipis di langit malam.

Gadis itu setidaknya tidak memiliki niat jahat di balik sikap ketusnya, dan hal itu sudah lebih dari cukup sebagai sebuah modal awal.

Baru saja membatin, Zhao Fei mendadak menolehkan kepala ke arah timur setelah mendengar suara benturan keras yang mengguncang keheningan malam. Jarak sumber suara itu diperkirakan tidak terlalu jauh, mungkin hanya sekitar setengah mil dari posisinya saat ini.

Suara ledakan energi itu terdengar berturut-turut hingga tiga kali, mengindikasikan adanya aktivitas yang tidak biasa di dalam hutan sedalam ini. Apakah ada kultivator lain yang sedang melakukan latihan malam, ataukah ada seekor binatang buas tingkat tinggi yang mengamuk?

Rasa penasaran yang membubung membuat dia segera melompat turun dari dahan pohon, lalu berjalan mengendap-endap menuju arah datangnya suara.

Dia bergerak selembut mungkin mendekati pusat kegaduhan, lalu menyembunyikan seluruh hawa keberadaannya di balik rimbunnya semak-semak belukar untuk mengintip.

Kemudian di sebuah area terbuka yang tidak terlalu luas, tampak seorang wanita sedang melakukan latihan fisik dengan intensitas yang sangat liar sekaligus mengerikan.

Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan terurai bebas, bergerak acak mengikuti setiap pergerakan tubuhnya yang gesit dan agresif. Penampilan ini sungguh bertolak belakang dengan citra rapi dan anggun yang biasa ditunjukkannya saat berada di lingkungan sekte. Sosok itu tidak lain adalah Liu Xue, yang saat ini tampaknya sedang dikuasai oleh kemarahan yang meluap-luap.

Wanita itu menghajar habis batang pohon di depannya dengan menggunakan telapak tangan yang dilapisi qi. Batang kayu itu bergetar hebat, merontokkan ratusan daun hijau ke tanah.

Tidak puas sampai di situ, dia melayangkan satu tendangan memutar ke arah sebuah batu besar hingga objek tersebut terlontar sejauh beberapa meter dan menghancurkan semak-semak di seberangnya.

“Aku benar-benar menolak perjodohan konyol ini!” umpat Liu Xue dengan suara yang bergetar hebat karena emosi, menggema di antara keheningan hutan. “Aku tidak akan pernah bersedia menikah dengan pemuda asing yang sama sekali tidak aku kenal!”

Dia kembali melayangkan pukulan beruntun ke arah pohon lain hingga kulit kayunya terkelupas hancur sebelum akhirnya tumbang.

“Ayah, Ibu... mengapa kalian harus pergi meninggalkan aku secepat ini? Sekarang Kakek bahkan berniat menjual masa depanku demi kepentingan sekte!”

“Aku sangat membenci situasi ini!” pekiknya lagi, menumpahkan seluruh rasa frustrasi yang selama ini dipendamnya rapat-rapat di depan publik.

Zhao Fei yang mengamati dari balik perlindungan semak-semak tanpa sadar menelan ludah, merasakan atmosfer intimidasi yang cukup kuat. Gadis di depannya ini memang memiliki paras yang sangat jelita, namun siapa sangka jika di balik wajah sedingin es itu tersimpan sebuah gunung berapi yang siap meledak kapan saja.

Dia terus memaku pandangannya pada figur Liu Xue yang belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti melepaskan emosinya. Setiap gerakan dan teriakan yang lolos dari bibir gadis itu memperlihatkan sebuah luka batin yang sangat dalam.

Rasa empati mendadak terbersit di dalam hati Zhao Fei, karena dia tahu betul bagaimana rasanya terjebak dalam situasi yang tidak bisa dikendalikan oleh diri sendiri.

Akibat terlalu hanyut dalam pemikiran dan fokus mengamati emosi Liu Xue, Zhao Fei tidak menyadari bahwa posisi tubuhnya telah terlalu condong ke arah depan. Titik berat badannya bergeser secara signifikan, membuat keseimbangan fisiknya goyah.

Dahan pohon tempatnya bertumpu mendadak mengeluarkan suara yang tidak bersahabat.

Sepasang mata pemuda itu seketika membulat sempurna saat menyadari situasi buruk yang mengancamnya.

Kayu penopang itu patah sepenuhnya.

Tubuh Zhao Fei langsung meluncur jatuh bebas ke bawah, kehilangan seluruh wibawanya sebagai seorang mantan dewa. Alih-alih melakukan pendaratan estetik dengan jungkir balik yang anggun, dia jatuh layaknya sekarung jerami yang dilempar dari atas loteng.

“Aduh!”

Punggungnya menghantam permukaan tanah dengan bunyi yang sangat tidak elegan, menyebabkan tumpukan daun kering beterbangan dan mengotori rambutnya. Rasa nyeri yang lumayan tajam segera menjalar di sepanjang tulang belakangnya.

Dia hanya bisa terbaring telentang di atas tanah, menatap hampa ke arah hamparan bintang di langit malam dengan perasaan campur aduk.

Sedangkan di area terbuka itu, seluruh aktivitas latihan dan suara teriakan Liu Xue mendadak berhenti total. Langkah kaki yang ringan namun waspada terdengar mendekat, sebelum akhirnya sebuah bayangan tubuh ramping berdiri tepat di atas kepala Zhao Fei yang masih terbaring.

“Kamu, kan... ?”

Zhao Fei perlahan memejamkan mata, merutuki nasib sialnya yang harus ketahuan dalam kondisi paling memalukan seperti ini.

1
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
maaf Thor numpang komen,seorang dewa begitu mudahnya tewas di tikam tanpa ada penjelasan pake pusaka apa...supaya ada alasan logis koq bisa tewas begitu saja 🙏🙏🙏🙏
DanaBrekker: Terimakasih atas masukannya. ikuti terus perjalanan Zhao Fei ya... biar nanti ketemu alasannya 😄👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!