NovelToon NovelToon
Sembilan Phoenix Agung : Jalan Kultivasi Terlarang

Sembilan Phoenix Agung : Jalan Kultivasi Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Lin Chen, seorang pemuda yang dianggap sampah karena memiliki Meridian Spiritual rusak, secara tidak sengaja menyentuh Phoenix bayi yang sedang bereinkarnasi. Pertemuan itu justru memberinya warisan terlarang tertinggi — "Sembilan Ikatan Phoenix Abadi".

Teknik kultivasi ini mengharuskan ia menikahi dan melakukan kultivasi ganda dengan Sembilan Phoenix Agung. Semakin banyak Phoenix yang ia taklukkan, semakin kuat ia. Namun, teknik ini dianggap melanggar tatanan langit, sehingga seluruh dunia kultivasi ingin membunuhnya.

"Dunia bilang aku terlarang? Baiklah… aku akan menikahi semua Phoenix dan membakar langit ini hingga hangus!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 : Sesuatu yang Tidak Bisa Diabaikan

Lin Chen mulai menjelaskan semuanya.

Tentu saja, tidak seluruh kisah hidupnya.

Ia bukan tipe orang yang akan membuka semua rahasianya kepada seseorang yang baru dikenalnya beberapa jam.

Ia hanya menceritakan hal-hal yang memang perlu diketahui.

Tentang Phoenix kecil yang ia temukan di Gunung Cang Lei.

Tentang warisan yang diterimanya.

Tentang Teknik Sembilan Ikatan Phoenix Abadi.

Dan tentang delapan Phoenix yang telah bereinkarnasi dan tersebar di berbagai penjuru Benua Tianhuang.

Sepanjang penjelasan itu, Huo Ling'er tidak menyela satu kali pun.

Hal tersebut cukup mengejutkan bagi Lin Chen.

Dari kesan pertama, ia mengira gadis ini adalah tipe orang yang akan memotong pembicaraan setiap kali menemukan sesuatu yang tidak masuk akal.

Namun kenyataannya berbeda.

Huo Ling'er duduk di atas akar pohon besar dengan kedua tangan terlipat di depan dada.

Tatapannya tidak pernah lepas dari Lin Chen.

Ia bukan hanya mendengar.

Ia benar-benar menyimak.

Menganalisis setiap kata yang diucapkan.

Ketika Lin Chen selesai berbicara, suasana kembali sunyi.

Angin berembus pelan di antara pepohonan.

Daun-daun bergesekan menghasilkan suara yang lembut.

Di kejauhan terdengar kicauan burung yang asing.

Sementara sisa asap dari pohon yang terbakar sebelumnya perlahan menghilang.

"Kau benar-benar mempercayai semua itu." Akhirnya Huo Ling'er membuka suara.

Nada bicaranya datar.

Bukan pertanyaan.

Melainkan sebuah kesimpulan.

Lin Chen mengangguk. "Aku mengalaminya sendiri."

Huo Ling'er menyandarkan tubuhnya ke batang pohon. "Mengalami sesuatu dan memahami sesuatu dengan benar adalah dua hal yang berbeda."

"Itu benar." Lin Chen tidak membantah. "Tapi ada satu cara sederhana untuk mengujinya."

Tatapannya bertemu dengan mata Huo Ling'er.

"Selama hidupmu, pernahkah kau merasakan sesuatu di dalam dirimu yang terasa jauh lebih besar daripada dirimu sendiri?"

Huo Ling'er terdiam.

Lin Chen melanjutkan lagi, "Seperti ada api lain yang tersembunyi di balik api yang bisa kau kendalikan."

"Lebih kuat."

"Lebih dalam."

"Tapi tidak pernah benar-benar bisa kau sentuh."

Untuk beberapa saat, Huo Ling'er tidak menjawab.

Namun justru keheningan itu sudah cukup bagi Lin Chen.

Ia melihat perubahan kecil di mata gadis tersebut. Perubahan yang tidak bisa disembunyikan.

Akhirnya, Huo Ling'er menghela napas pelan. "Sejak kecil." Suaranya jauh lebih rendah dibanding sebelumnya.

"Kadang saat bermeditasi."

"Kadang saat bertarung."

Tatapannya sedikit menurun. Seolah sedang mengingat sesuatu yang selama ini tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.

"Selalu ada perasaan aneh."

"Seolah ada sebuah pintu yang terkunci di dalam diriku." Ia mengepalkan tangannya perlahan. "Dan apa pun yang berada di balik pintu itu, jauh lebih besar daripada yang mampu kutampung sekarang."

Lin Chen mendengarkan tanpa menyela.

Kemudian ia berkata pelan, "Aku mungkin adalah kunci untuk membuka pintu itu."

Mata Huo Ling'er langsung menyipit. "Kau cukup percaya diri untuk seorang kultivator Tingkat Kebangkitan Roh."

Nada suaranya kembali tajam. Namun kali ini tidak sepenuhnya bernada sinis.

Lin Chen hanya tersenyum tipis. "Aku hanya menyampaikan apa yang diwariskan kepadaku."

"Dan kau berharap aku percaya begitu saja?" Huo Ling'er berdiri perlahan. "Percaya pada warisan yang berasal dari seekor Phoenix yang hampir mati?"

Ia menggeleng kan kepalanya pelan. "Kau sadar betapa mustahilnya itu terdengar?"

"Sangat sadar." Jawaban Lin Chen tetap tenang. "Tapi kau juga sadar ada sesuatu yang berbeda sejak kita bertemu, bukan?"

Huo Ling'er terdiam.

Lin Chen melanjutkan lagi, "Sebelum melihat apiku."

"Sebelum aku berbicara."

"Kau sudah merasakan sesuatu."

Kali ini Huo Ling'er benar-benar tidak bisa langsung membantah.

Karena itu memang benar.

Sejak pertama kali melihat Lin Chen keluar dari balik pepohonan, ada sesuatu yang bergetar di dalam dirinya.

Perasaan yang tidak bisa dijelaskan.

Seolah ada bagian dari dirinya yang mengenali Lin Chen jauh sebelum mereka benar-benar bertemu.

Dan itulah yang membuatnya tidak nyaman.

Karena ia tidak memahami asal-usul perasaan tersebut.

"Aku tidak pernah mempercayai sesuatu hanya karena seseorang mengatakannya."

Akhirnya Huo Ling'er berbicara.

Tatapannya kembali tajam.

"Aku juga tidak akan mengikuti siapa pun hanya berdasarkan cerita."

Lin Chen mengangguk. "Aku tidak memintamu mengikutiku."

Jawaban itu membuat Huo Ling'er sedikit terkejut.

Lin Chen berdiri dan menepuk debu debu di pakaiannya.

"Aku hanya meminta satu hal."

"Apa?"

"Jangan menolak kemungkinan, hanya karena kau belum bisa menerimanya."

Ia menatap ke arah timur.

Tempat anggota Sekte Tengkorak Perak melarikan diri.

"Sampai kau menemukan alasan yang lebih kuat daripada sekadar tidak ingin percaya."

Huo Ling'er mengikuti arah pandangannya. Wajahnya kembali serius.

Ia tahu Lin Chen benar.

Masalah mereka belum selesai.

Sekte Tengkorak Perak tidak akan menyerah begitu saja. Terutama setelah mengetahui keberadaannya.

Mereka pasti akan kembali, dan kali ini dengan persiapan yang lebih matang.

Huo Ling'er menggigit ujung bibirnya dengan pelan. Kebiasaan kecil yang muncul setiap kali ia sedang berpikir keras.

Beberapa saat kemudian, ia akhirnya mengambil keputusan. "Aku menemukan sebuah gua dua hari yang lalu."

Lin Chen menoleh.

"Cukup tersembunyi. Lumayan aman untuk bersembunyi sementara." Huo Ling'er mulai berjalan tanpa menunggu jawaban.

"Kalau mau ikut, ikut."

"Kalau tidak, terserah."

Lin Chen memperhatikan punggung gadis itu selama beberapa detik.

Lalu senyum tipis muncul di wajahnya.

Karena ia tahu satu hal. Huo Ling'er mungkin belum mempercayainya. Namun ia juga tidak lagi menganggapnya orang asing dan itu sudah lebih dari cukup untuk saat ini.

Tanpa berkata apa-apa, Lin Chen melangkah mengikuti gadis berambut merah tersebut.

Di tengah hutan yang mulai diselimuti senja, dua sosok berjalan berdampingan menuju tempat persembunyian sementara mereka.

Sementara jauh di belakang, roda takdir terus berputar tanpa henti.

Membawa mereka semakin dekat kepada rahasia yang telah tersembunyi selama ribuan tahun.

1
Green Boy
ayo lanjut lagi thor🙏🙏
Daryus Effendi
bosan bacanya terlalu lambat alzrnya.bertele tele
Hadi Hadi
up up 👍
Hadi Hadi
up up 😍😍
Anonymous
lanjut thor seru ceritanya🙏
Si Suka Baca
Vote meluncur
Ihwan12
mantap lanjut lagi thor💪💪👍👍
Xiao Lin—Gold Author
satu mawar 🌹
Xiao Lin—Gold Author
niceeeee👍👍👍
Xiao Lin—Gold Author
Mantap👍👍👍
Xiao Lin—Gold Author
Suyin mungkin udah ketagihan sama pedang ajaib Wei Hao🤔/Sly//Doge/
Celestial Quill: /Facepalm/
total 1 replies
Xiao Lin—Gold Author
Mantap👍
Shu Qing
Luar biasa
Fatih Al
awal yang bagus👍👍
Green Boy
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!