NovelToon NovelToon
Maduku Teman Kerjaku

Maduku Teman Kerjaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:13.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Bismillah ....

14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya

Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.

Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Malam sudah merambat saat pintu terbuka, dan betapa terkejutnya hati Adinda melihat suami dan keluarganya membawa madunya untuk tinggal bersamanya.

Di rumah ini… rumah hasil jerih payahnya bersama Arya belasan tahun yang lalu. Adinda mengerutkan keningnya heran, seolah menuntut jawaban atas semua ini.

"Mas, kenapa kamu bawa dia ke sini?" tanya Adinda dengan tatapan nanar.

"Din, kita bicarakan nanti ya. Biarkan kita semua masuk," sahut Arya sedikit gugup.

"Maksud kamu, Mas?"

Arya menghembuskan napas pelan. Ia tahu jika istri pertamanya itu merasa keberatan, namun ia tidak punya pilihan lain. Terlebih saat ini Luna sudah melahirkan darah dagingnya yang berjenis kelamin laki-laki.

"Din… maksudku, aku mohon agar kamu bisa menerima Luna. Sekarang dia juga bagian dari keluarga kita."

Deg.

Tubuh Adinda mendadak bergetar hebat mendengar ucapan yang keluar dari mulut suaminya sendiri.

"Mas… setelah apa yang kau lakukan padaku, kamu memintaku untuk menerima dia?" tunjuk Adinda ke arah Luna.

Sementara itu Luna hanya menundukkan wajahnya, seolah terlihat lemah di hadapan Arya dan keluarganya.

"Dinda! Kamu jangan lancang!" bentak Sintia. "Luna ini istrinya Arya. Mau tidak mau kamu harus menghargainya, karena dia bisa memberikan cucu untukku, tidak seperti kamu yang selalu membuatku menunggu lama," imbuhnya kembali.

"Bu, maaf… bukannya anak adalah pemberian dari Tuhan? Lantas kenapa Ibu menyalahkan saya?" sahut Adinda cukup berani.

"Ya makanya sadar diri! Kalau merasa tidak diberi kepercayaan itu berarti kesalahan ada di kamu. Lagian berpoligami itu tidak dilarang, apalagi istri pertama sudah jelas tidak bisa memberikan keturunan!"

Deg.

Hati Adinda terasa hancur berkeping-keping mendengar hinaan demi hinaan yang dilontarkan oleh mertuanya itu. Padahal selama ini, siapa yang menanggung kehidupan beliau kalau bukan Adinda yang dengan tulus rela memberikan separuh gajinya?

"Iya nih si Mbak Dinda lebay banget. Lagian ya Mbak, poligami itu sah-sah saja. Dan perempuan kedua itu bukan hina. Nabi saja istrinya lebih dari satu. Kalau Mbak menganggap Mbak Luna hina, berarti Mbak juga menghina istri nabi."

Adinda terpaku mendengar ucapan adik iparnya itu. Biaya kuliah saja masih ia bantu, namun dengan entengnya ia berbicara seolah menyamaratakan manusia biasa dengan nabi.

"What?" sahut Dinda dengan nada terkejut. "Kamu nggak salah bicara seperti itu?" tanyanya kembali.

"Nggak ada yang salah. Apa yang aku katakan memang kenyataannya," sahut Airin dengan percaya diri.

"Airin, aku jelaskan ya. Memang tidak semua wanita kedua itu salah. Tapi di sini konsepnya, Mas kamu itu selingkuh sampai punya anak. Dan yang kedua… Mas kamu itu bukan nabi. Saya tekankan lagi, bukan nabi."

Adinda menarik napas dalam, berusaha menahan gejolak di dadanya. "Kalau memang ingin berpoligami, setidaknya dibicarakan baik-baik dengan istrinya. Bukan bermain di belakangku seperti ini," jelas Adinda.

"Dan satu hal lagi," tegasnya. Tatapannya berubah tajam. "Semoga nanti kamu tidak mengalami apa yang Mbak rasakan ya."

"Kamu mengancam anakku, hanya gara-gara kesakitan mu sendiri hah!" sentak Sintia.

Adinda menatap mertuanya itu dengan berani. "Aku tidak mengancam, tapi aku percaya tabur tuai itu nyata," sahutnya.

"Din jangan bicara seperti itu pada ibukku," tegur Arya seolah tidak memikirkan perasaan istrinya.

"Aku disini sendirian Mas, dihadapkan dengan manusia-manusia yang merasa benar seperti ini, jika bukan aku yang membela diriku lantas siapa lagi?" ujarnya setengah menyindir. "Sementara kamu orang yang aku anggap pelindung, ternyata menusukku lebih dulu dari yang lainnya."

Arya menundukkan pandangannya jika sudah seperti ini dirinya tidak mampu menanggapi lagi ucapan istrinya itu.

Sementara adinda langsung melangkah ke kamarnya, wanita itu meninggalkan perdebatan yang tidak mungkin tidak akan ada berhentinya.

Dinda mulai menutup pintunya perlahan, ia menyandarkan tubuhnya, entah kenapa air mata luluh begitu saja, kali ini takdir seolah membuka semua topeng keluarga suaminya yang sejak dulu ia perjuangkan mati-matian.

"Ibu aku pikir engkau merupakan sosok perempuan yang baik, dan aku pikir sayangmu itu tulus, ternyata malam ini ..." kata-kata Adinda seolah menggantung.

Tidak hanya itu saja, bahkan bayangan Airin yang begitu berani, memojokkannya tadi terus menerus bergulir di dalam ingatannya, sejenak tangan Adinda mengepal dengan sendirinya.

Namun diam-diam wanita itu merancang sesuatu dengan sendirinya.

"Mulai detik ini, aku akan menjadi Adinda yang lain, dan jangan salahkan aku jika perubahan ku ini karena ulah kalian," ujarnya dengan tekat yang begitu kuat.

Ia pun langsung melangkah menghampiri meja kecil di samping ranjangnya. Dengan tangan yang masih bergetar ia meraih handphone, lalu mulai mengetik pesan kepada pihak kantor tempatnya bekerja—meminta agar seluruh gajinya dihentikan penyalurannya, baik untuk biaya kuliah maupun transfer ke rekening mertuanya.

☘️☘️☘️☘️☘️

Sementara itu di ruang lain, suasana sedikit hening, setelah percekcokan kecil tadi, di dalam kamar lain Arya sedikit memijat pelipisnya. Luna yang melihat hal itu langsung memberikan perhatian seolah ia menerima dengan situasi ini, padahal diam-diam ia sedang mengincar posisi utama rumah ini.

"Mas, maaf ya gara-gara aku dan Axel kamu dan Mbak Dinda jadi uring-uringan seperti ini," ujarnya dengan nada lembut.

Arya sedikit menarik nafasnya. "Kamu jangan bicara seperti itu, Dinda hanya sedang marah, mungkin esok atau lusa dia akan mulai beradaptasi dengan kamu," sahut Arya.

"Iya Mas, aku paham," ujar Luna dengan senyuman tipis di sudut bibirnya.

Namun detik berikutnya ia mulai menggunakan anaknya yang memang terlihat seperti tidak nyaman tidur di kamar yang ukurannya jauh lebih kecil dari kamar utama.

"Mas, lihat Axel. Dia gerak terus seperti tidak nyaman tidur di kamar ini," ucap Luna terdengar begitu hati-hati.

"Sabar ya, semoga kedepannya kita bisa melebarkan kamar ini," tutur Arya.

"Tapi Mas, bukannya selain kamar ini ada kamar utama, kenapa gak kita tempati saja, bukannya aku ada anak jadi barang-barang dan posisiku membutuhkan tempat yang lebih luas," ujar Luna pelan. "Tapi ini hanya saran aku saja, akupun juga sadar di sini gak bawa apa-apa, tapi apa kamu tega lihat anak kita dalam posisi tidak nyaman seperti ini," tandasnya kembali.

Arya sedikit merenung entah apa yang terpikirkan di dalam isi pikirannya, tapi satu hal kecil yang membuat dirinya dilema.

Jika ia mengikuti cara Luna maka, harus siap-siap berhadapan dengan istri pertamanya yang bahkan sampai sekarang pun belum menerima pernikahan keduanya.

Akan tetapi jika dia mengabaikan keinginan Luna, dadanya merasa sesak jika harus melihat anak laki-lakinya tidur diatas ranjang berukuran kecil itu.

"Ah .... kenapa harus dihadapkan dengan situasi pelik seperti ini," geramnya di dalam hati.

Bersambung.

Selamat pagi semoga suka ya.

1
cinta semu
penasaran yg ngasih info sm Bu Sintia sapa ya🤔mg bkn Naya saja ...Krn hampir mirip kode ny
Sugiharti Rusli
ah semakin degdeg an gatuh menunggu ke mana Adinda akan bergerak dan gimana dia mencegah usaha musuh" nya nanti
Sugiharti Rusli
sepertinya Adinda juga harus bersikao waspada yah, apalagi dia memiliki ibu mertua yang disinyalir bagian dari orang yang turut mencelakainya dulu
Sugiharti Rusli
tapi Adinda sekarang juga tidak aman dalam penyelidikannya, bahkan mungkin itu saudara tirinya juga sudah menebar ancaman dengan mengikuti pergerakannya
Sugiharti Rusli
makanya dia membuat pertahanan demi kebaikan sang putri dan juga cucunya sih, meski belum tahu apa yang direncanakan oleh istrinya,,,
Sugiharti Rusli
ternyata sang ayah sudah tahu kelemahan putrinya yang mudah dikendalikan yah ini
Oma Gavin
ternyata hidup adinda dilingkungan toxic dan haus harta semoga semua dilancarkan sampai semua hak adinda didapatkan
Suanti
apa jgn2 naya sekongkol dgn mereka 🤭
Sugiharti Rusli
ah penasaran sama berkas yang ditunjukan oleh asisten ayahnya itu, kira" tentang apa yah kalo bukan tentang perusahaan,,,
Sugiharti Rusli
jadi penasaran apa yah maksud ayah Adinda agar dia dijauhkan sementara dari semuanya saat dia tidak ingat masa itu🙄
Sugiharti Rusli
kalo si Sintia sampai pura" mendekati Adinda, itu malah bagus kan bagi Adinda bergerak tanpa dia sadari,,,
Sugiharti Rusli
memang bisa dilihat perubahan strategi yang Adinda lakukan sih terhadap suami dan keluarganya, meski mereka juga ada curiga tapi tidak tahu apa
Sugiharti Rusli
karena sepertinya ibunya si Sinta belum sekali buka mulut ke putranya,,,
Sugiharti Rusli
si Arya tidak/belum berubah karena memang dia tidak tahu sama sekali atau menyembunyikan sesuatu yah,,,
Nar Sih
kira,,apa isi dlm map itu yaa ,lanjutt kak
Nar Sih
lsnjutt kakk👍
Nana Geulise
jangan yang telp sama sintia adalah naya..🤔🤔🤔.jadi naya juga terlibat cuma naya mau tahu dinda simpan hartanya sama siapa🤔...kalau naya terlibat hancurkan srmuanya dinda jangan kasih ampum/Panic/
Ayumarhumah: bukan Kak ...
total 1 replies
Sugiharti Rusli
apalagi si Arya juga tidak tahu kalo istrinya pernah hamil dan melahirkan anaknya, yang di sana warisan itu sangat besar kalo dia tahu,,,
Sugiharti Rusli
dan dia malah ikut menjadi orang yang membiarkan menantunya tidak ingat periode dia hamil dan melahirkan
Sugiharti Rusli
logikanya yah dia membuat si Dinda tidak ingat pernah hamil dan melahirkan cucunya, yang notabene itu jalan tol kalo dia tahu,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!