Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, sang kaisar kehilangan segalanya—takhta, kekuasaan, bahkan nyawanya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjara Daging yang Membatu
Cahaya pagi tidak datang dengan lembut. Bagi Yang Chen, cahaya itu datang seperti jarum-jarum halus yang menusuk kelopak matanya yang bengkak.
Di luar gubuk, ayam jantan milik dapur istana berkokok lantang, sebuah suara arogan yang menandakan bahwa dunia terus berputar tanpa mempedulikan penderitaan satu jiwa di dalam kandang jerami.
Kesadaran Yang Chen kembali perlahan, merambat naik dari kegelapan tidur tanpa mimpi. Namun, saat kesadaran itu utuh, dia berharap bisa kembali pingsan.
Sakit.
Jika semalam rasa sakitnya seperti dipukuli, pagi ini rasanya seperti dikubur hidup-hidup di dalam balok es.
Adrenalin yang semalam memacu tubuhnya untuk membunuh dan menyembunyikan mayat telah habis total. Sekarang, tagihannya datang. Asam laktat menumpuk di setiap serat otot yang telah lama tidak digunakan dan dipaksa bekerja melampaui batas. Luka-luka memar akibat pukulan Pangeran Pertama tiga hari lalu kini meradang hebat, mengirimkan denyutan panas yang kontras dengan suhu tubuhnya yang dingin.
Yang Chen mencoba menggerakkan jari kelingking tangan kanannya.
Hanya sebuah kedutan kecil.
"Sialan..." desisnya dalam hati. Tenggorokannya terlalu kering untuk mengeluarkan suara. Lidahnya terasa seperti sepotong kayu kasar yang menempel di langit-langit mulut.
Dia mengalami apa yang disebut para kultivator sebagai Rigid Body Stagnation—kemacetan tubuh kaku. Ini terjadi ketika tubuh fana tanpa Qi dipaksa mengeluarkan tenaga eksplosif (seperti tusukan jari maut semalam) saat sedang dalam kondisi kritis. Aliran darah tidak lancar, menyumbat persendian.
Dia lumpuh sementara.
Mata Yang Chen terbuka sepenuhnya, menatap langit-langit gubuk yang kini terlihat lebih jelas berkat sinar matahari yang menyusup lewat celah atap. Debu-debu halus menari di dalam sorotan cahaya itu, berputar-putar dengan damai, sangat kontras dengan badai kepanikan yang mulai tumbuh di benaknya.
Bergerak. Kau harus bergerak,perintahnya pada diri sendiri.
Dia tidak bisa membiarkan dirinya ditemukan dalam posisi kaku seperti mayat ini. Jika ada pelayan yang masuk dan melihatnya tidak bergerak sama sekali tapi matanya terbuka melotot, mereka mungkin mengira dia sudah mati dan langsung memanggil pengurus mayat. Atau lebih buruk, mereka akan melihat posisi tidurnya yang aneh, yang tidak wajar bagi orang sakit.
Yang Chen memusatkan seluruh kehendak jiwanya—jiwa seorang Kaisar yang pernah menahan petir surgawi—hanya untuk memutar lehernya ke kiri.
Krek.
Bunyi tulang leher yang bergeser terdengar sangat keras di telinganya. Rasa nyeri menyengat dari pangkal leher hingga ke bahu, tapi dia berhasil. Kepalanya kini menoleh ke kiri.
Pemandangan di sana membuatnya menahan napas.
Di sudut ruangan, tumpukan jerami yang menutupi lubang mayat Kasim Liu terlihat... berantakan.
Dalam keremangan malam dan hujan deras semalam, dia merasa pekerjaannya sudah cukup rapi. Tapi di bawah cahaya matahari pagi yang jujur dan kejam, segalanya terlihat berbeda.
Tumpukan jerami itu terlihat terlalu sengaja. Terlalu tinggi di satu titik. Dan yang paling berbahaya: ada sehelai kain abu-abu kecil—mungkin sobekan dari jubah Kasim Liu—yang menyembul keluar sedikit dari balik jerami, tersangkut di paku lantai yang menonjol.
Ukurannya tidak lebih besar dari ibu jari. Tapi warnanya yang abu-abu kusam sangat kontras dengan jerami yang kuning kecokelatan.
Jika ada yang melihat itu...
Jantung Yang Chen berpacu lagi. Detaknya yang keras menghantam dinding dadanya yang sakit. Dia harus bangun. Dia harus menutupi kain itu.
Dia mencoba menekuk lututnya. Tidak bisa. Kakinya terasa seperti batang kayu mati.
Dia mencoba mengangkat tangannya. Beratnya seperti memikul gunung.
"Napas..." batinnya menginstruksi. "Gunakan Pernapasan Kura-kura Purba."
Meskipun Dantian-nya hancur dan dia tidak bisa mengumpulkan Qi, teknik pernapasan masih bisa digunakan untuk mengatur aliran oksigen dan menenangkan detak jantung, serta sedikit demi sedikit melancarkan peredaran darah.
Dia mulai menarik napas panjang. Pelan. Dalam. Satu... Dua... Tiga... Tahan. Satu... Dua... Tiga... Hembuskan.
Udara pagi yang dingin dan lembap masuk ke paru-parunya. Dia membayangkan oksigen itu mengalir ke ujung-ujung jarinya, membawa panas, mencairkan kebekuan darahnya.
Satu siklus pernapasan. Dua siklus. Sepuluh siklus.
Dua puluh menit berlalu hanya untuk bernapas.
Akhirnya, dia merasakan kesemutan di ujung jari kakinya. Itu tanda baik. Rasa kesemutan berarti darah mulai mengalir kembali ke jaringan yang mati rasa. Rasa sakitnya meningkat sepuluh kali lipat—rasa seperti ditusuk ribuan jarum—tapi Yang Chen menyambut rasa sakit itu dengan sukacita. Rasa sakit berarti hidup.
Dia menggerakkan tangan kanannya. Kali ini, sikunya bisa ditekuk. Dia menyeret tangannya ke dada, meraba bagian dalam bajunya.
Logam dingin itu masih ada di sana. Keping perak dan lima koin tembaga. Harta karunnya aman.
"Bagus," bisiknya, suaranya terdengar seperti gesekan dua batu amplas.
Sekarang, dia harus duduk.
Yang Chen memiringkan tubuhnya ke kanan. Dia menggunakan bahunya sebagai tumpuan, lalu mendorong lantai tanah dengan tangan kanannya yang gemetar hebat.
Ugh!
Dunia berputar. Kepalanya pening luar biasa karena kekurangan gula darah dan dehidrasi. Pandangannya menjadi gelap sesaat, dihiasi bintik-bintik putih yang menari-nari. Dia menahan posisinya setengah duduk, menunggu vertigo itu mereda.
Saat pandangannya jernih kembali, dia melihat ke lantai, ke tempat di mana dia tadi mengoleskan lumpur untuk menutupi darah.
Lumpurnya sudah mulai mengering. Warnanya berubah menjadi abu-abu terang. Dan sialnya, bercak darah yang dicampur lumpur itu kini terlihat sedikit berbeda teksturnya dibandingkan tanah di sekitarnya. Agak lebih gelap. Agak lebih crusty (berkerak).
Namun, itu masih bisa disamarkan. Itu terlihat seperti tumpahan air kotor biasa. Selama tidak ada yang membungkuk dan mencium baunya, aman. Masalah utamanya adalah bau amis darah yang masih samar-samar tercium di udara, meskipun sekarang mulai tersamar oleh bau kotoran kuda dari kandang sebelah yang terbawa angin pagi.
Yang Chen memaksakan diri untuk merangkak. Bukan berjalan, tapi merangkak. Lututnya terlalu lemah untuk menopang berat badannya.
Dia merangkak menuju tumpukan jerami di pojok. Jarak tiga meter itu kembali menjadi perjalanan epik yang menyiksa. Setiap gesekan lututnya dengan tanah yang tidak rata mengirimkan rasa perih, karena kulit lututnya sudah lecet sejak semalam.
Sesampainya di tumpukan jerami, dia segera meraih sobekan kain abu-abu milik Kasim Liu yang menyembul itu.
Dia menariknya.
Kain itu tersangkut kuat.
"Lepaslah, sialan," umpatnya dalam hati.
Dia menarik lebih keras. Kain itu robek. Potongan kecil itu kini berada di tangannya. Dia meremasnya menjadi bola kecil, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.
Dia tidak punya tempat untuk membuangnya. Dia tidak bisa mengambil risiko menyimpannya di saku. Jadi, dia melakukan hal yang paling ekstrem: dia mengunyah kain kotor bekas mayat itu. Rasanya menjijikkan, campuran rasa keringat kering dan debu, tapi dia memaksakan diri menelannya. Kain kecil itu meluncur turun ke kerongkongannya, bergabung dengan roti sisa semalam.
Bukti telah dimusnahkan.