NovelToon NovelToon
Di Balik Cadar Zoya

Di Balik Cadar Zoya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:26.1k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Aku menikahimu karena terpaksa, jadi jangan pernah berharap ada cinta di rumah ini."

​Bagi Arvin Dewangga, Zoya Alana Clarissa hanyalah orang asing yang dipaksakan masuk ke hidupnya. CEO dingin itu membangun dinding es yang tinggi, namun Zoya tetap bertahan dengan ketenangan dan keteguhan di balik cadarnya.

​Di antara penolakan yang menyakitkan dan rahasia masa lalu yang membayangi, mampukah kesabaran Zoya meluluhkan keangkuhan Arvin? Ataukah perpisahan menjadi satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan masing-masing?

​Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Novel => Di Balik Cadar Zoya.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 26

Pagi itu, suasana di penthouse Arvin Dewangga terasa sedikit lebih tenang. Setelah rentetan ketegangan yang melelahkan, Arvin tampak lebih banyak diam namun tatapannya tak pernah lepas dari Zoya.

Pria itu masih mempertahankan aturan jam malamnya, namun ada gurat penyesalan yang ia sembunyikan di balik wajah datarnya.

Zoya bersiap berangkat ke kampus dengan perasaan sedikit lega karena tugas besarnya telah selesai. Ia mengenakan gamis berwarna nude dengan cadar berbahan sutra yang lembut.

"Tuan, aku berangkat dulu," pamit Zoya pelan sambil meraih tangan Arvin untuk menyalaminya.

Arvin menatap tangan Zoya yang berada dalam genggamannya. "Supir akan menunggumu di lobi kampus. Jangan terlambat satu menit pun, Zoya. Aku tidak ingin kejadian kemarin terulang."

Zoya hanya mengangguk pasrah. Ia tahu, di balik nada otoriter itu, Arvin sedang berusaha menahan kecemasannya sendiri. "Akan aku usahakan, Tuan."

Kampus sedang dalam masa ujian akhir yang sangat krusial. Zoya melangkah menuju ruang administrasi untuk menyerahkan berkas laporan akhirnya sebelum mengikuti ujian jam pertama. Ia tidak menyadari bahwa di sudut koridor, Nadia berdiri dengan senyum licik, memperhatikan setiap gerak-geriknya.

Nadia telah mengatur segalanya. Ia telah menyuap seorang staf administrasi bernama Pak Hendra yang sedang terlilit hutang judi.

Rencananya sederhana namun mematikan bagi reputasi akademik Zoya, menyisipkan lembar kunci jawaban ujian nasional fakultas ke dalam bundel berkas yang diserahkan Zoya.

"Pastikan Dekan menemukannya tepat setelah dia keluar dari ruangan," bisik Nadia pada Pak Hendra melalui sambungan telepon.

Zoya menyerahkan berkasnya dengan senyum di balik cadar, merasa beban studinya akan segera berakhir. Ia tidak tahu bahwa saat ia melangkah keluar, Pak Hendra segera membuka map milik Zoya dan menyelipkan beberapa lembar kertas berkode rahasia di antara halaman tugasnya.

Dua jam kemudian, saat Zoya sedang berada di tengah ujian mata kuliah Ekonomi Makro, seorang pengawas mengetuk mejanya dengan wajah sangat serius.

"Mahasiswi atas nama Zoya Alana? Silakan ikut saya ke ruang Dekanat sekarang juga," ujar pengawas itu dengan suara yang cukup keras hingga membuat seluruh kelas menoleh.

Zoya terpaku. "Maaf, Pak? Tapi ujian saya belum selesai."

"Ini perintah langsung dari Dekan. Sekarang!"

Dengan tangan gemetar, Zoya mengemasi alat tulisnya. Di sepanjang koridor, ia merasakan tatapan sinis dari mahasiswa lain.

Begitu masuk ke ruang Dekanat, Zoya disambut oleh wajah kaku Dekan dan beberapa dewan etik fakultas. Di atas meja, map miliknya terbuka, memperlihatkan lembar kunci jawaban yang sangat rahasia.

"Zoya Alana, bisa Anda jelaskan bagaimana dokumen rahasia universitas ini bisa berada di dalam berkas laporan Anda?" tanya Dekan dengan nada dingin.

Zoya menggeleng kuat. "Saya... saya tidak tahu, Pak. Saya tidak pernah melihat kertas itu sebelumnya."

"Jangan berbohong! Pak Hendra dari administrasi menemukan ini saat sedang merapikan berkas Anda. Ini adalah pencurian kunci jawaban, Zoya. Tindakan ini tidak bisa ditoleransi. Universitas telah memutuskan untuk memproses pemberhentian Anda secara tidak hormat atau Drop Out hari ini juga."

Dunia seolah runtuh bagi Zoya. Impiannya untuk lulus, janjinya pada sang ayah, semuanya hancur karena sesuatu yang tidak ia mengerti. Air mata mulai mengalir deras membasahi cadarnya.

"Tolong, Pak... saya tidak melakukannya. Saya tidak mungkin berbuat curang..."

Di kantor Dewangga Group, Arvin sedang memimpin rapat direksi yang sangat penting. Namun, fokusnya terbelah. Matanya terus melirik ke arah ponsel yang ia letakkan di samping laptopnya.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi dari aplikasi pelacak GPS Zoya muncul.

NOTIFIKASI - *Target berada di lokasi 'Gedung Rektorat/Dekanat' selama 120 menit*.

Dahi Arvin berkerut. "*Lama sekali? Harusnya dia sudah berada di ruang ujian atau kantin*," pikirnya.

Hati Arvin mulai tidak tenang. Ia mencoba menahan diri, namun setelah 15 menit berikutnya posisi Zoya tidak berubah, Arvin tidak bisa lagi berkonsentrasi pada presentasi manajernya.

"Rapat ditunda sepuluh menit," ujar Arvin tiba-tiba, membuat seluruh direksi ternganga.

Ia melangkah ke luar ruangan dan langsung menghubungi nomor Zoya. Telepon pertama tidak diangkat. Telepon kedua baru diangkat di nada kelima.

Begitu panggilan terhubung, Arvin tidak mendengar suara Zoya, melainkan isak tangis yang sangat memilukan.

"Zoya? Kenapa kau menangis?" tanya Arvin, suaranya yang tadi tegas mendadak berubah menjadi cemas yang nyata.

"Tuan..." suara Zoya terdengar sangat kecil dan serak. "Mereka... mereka menuduh aku mencuri kunci jawaban. Dekan ingin mengeluarkan aku hari ini juga. Aku takut, Tuan..."

Rahang Arvin mengeras. Seluruh urat di lehernya menegang. Amarahnya meluap, bukan pada Zoya, melainkan pada siapa pun yang telah berani membuat istrinya menangis di tempat yang seharusnya menjadi tempat belajarnya.

"Tetap di sana. Jangan bicara apa pun lagi pada mereka sampai aku datang," perintah Arvin dengan nada yang sangat protektif dan mengancam. "Jangan biarkan mereka menyentuhmu atau mengeluarkan surat apa pun."

"Tapi Tuan, buktinya ada di map milikku..."

"Aku tidak peduli dengan bukti sampah itu!" bentak Arvin, namun suaranya melunak di akhir kalimat. "Zoya, dengar aku. Aku tahu siapa kamu. Kamu tidak akan merendahkan dirimu untuk sebuah nilai. Tunggu aku."

Arvin menutup telepon. Ia tidak kembali ke ruang rapat. Ia langsung menyambar jasnya dan berjalan dengan langkah lebar menuju lift pribadi.

"Batalkan semua jadwal sore ini!" teriak Arvin pada asistennya yang mengekor panik. "Siapkan pengacara perusahaan. Aku ingin mereka ada di kampus Universitas Indonesia dalam dua puluh menit!"

Di ruang Dekanat, Zoya masih terduduk lemas. Pak Hendra, staf yang disuap Nadia, terus memberikan kesaksian palsu yang menyudutkan Zoya.

"Saya lihat sendiri dia sangat terburu-buru saat menyerahkan berkas tadi, Pak. Mungkin dia takut ketahuan," ujar Pak Hendra pura-pura menyesal.

"Zoya, silakan tanda tangani surat pernyataan pengakuan ini agar prosesnya bisa lebih mudah," ujar Dekan sambil menyodorkan selembar kertas.

Zoya menggeleng. "Saya tidak akan menandatangani kebohongan ini."

"Jika kau keras kepala, kami akan melaporkan ini ke polisi atas tuduhan pencurian dokumen negara!" gertak salah satu anggota dewan etik.

Tepat saat Zoya merasa benar-benar terdesak, pintu ruang Dekanat yang terbuat dari kayu jati tebal itu terbuka dengan bantingan keras.

**BRAK**!

Semua orang di ruangan itu tersentak. Zoya menoleh dan melihat sosok Arvin Dewangga berdiri di sana.

Pria itu tampak sangat berkuasa dengan aura gelap yang menyelimutinya. Di belakangnya, berdiri empat orang pria bersetelan rapi dengan tas kerja, pengacara terbaik yang dimiliki Dewangga Group.

Arvin melangkah masuk, mengabaikan tatapan kaget sang Dekan. Ia langsung menghampiri Zoya, berdiri tepat di belakang istrinya, dan meletakkan tangannya di bahu Zoya dengan posesif.

"Jadi..." Arvin memulai pembicaraan dengan suara rendah yang sangat mengancam. "Siapa di ruangan ini yang merasa cukup berkuasa untuk mengancam istriku dengan tuduhan sampah seperti ini?"

Dekan berdiri, wajahnya memucat. "T-Tuan Arvin? Ini... ada masalah akademik yang melibatkan Nona Zoya..."

"Masalah akademik atau masalah konspirasi?" Arvin memotong dengan tajam. Ia mengambil lembar kunci jawaban dari meja dan meremasnya tanpa rasa hormat. "Istriku tidak butuh kunci jawaban untuk lulus dari kampus ini. Jika perlu, aku bisa membeli seluruh universitas ini hari ini juga hanya untuk memastikan dia mendapatkan ijazah yang layak dia dapatkan tanpa fitnah."

Arvin menunduk, menatap Zoya yang masih terisak. Ia mengusap air mata yang merembes di sisi cadar Zoya dengan ibu jarinya. "Berhenti menangis, Zoya. Kau mempermalukanku jika menangis di depan orang-orang rendahan seperti mereka."

Zoya menatap Arvin, merasa sedikit aman namun juga takut akan kemarahan suaminya.

Arvin kemudian menoleh ke arah pengacaranya. "Periksa setiap inci rekaman CCTV, dan pastikan orang yang merancang ini tidak akan pernah melihat cahaya matahari dengan tenang lagi."

Mata Arvin beralih pada Pak Hendra yang mulai gemetar hebat di pojok ruangan. Arvin menyeringai tipis, sebuah seringai yang menandakan bahwa badai besar baru saja dimulai.

"Zoya, ayo pulang," ujar Arvin sambil menggandeng tangan Zoya dengan erat. "Urusan di sini biar diselesaikan oleh orang-orangku. Dan untuk Bapak Dekan... saya sarankan Anda mulai menyiapkan surat pengunduran diri jika bukti yang ditemukan pengacara saya tidak sesuai dengan tuduhan Anda hari ini."

Arvin membawa Zoya keluar dari ruangan itu dengan langkah tegak. Di sepanjang koridor, tidak ada lagi mahasiswa yang berani berbisik. Mereka hanya bisa menatap ngeri pada dominasi pria yang sedang mendekap istrinya itu dengan begitu erat.

Namun di dalam mobil, keheningan kembali tercipta. Arvin menatap Zoya yang masih tertunduk.

"Jangan pernah berpikir untuk menyembunyikan masalah dariku lagi, Zoya," ucap Arvin pelan namun tegas. "GPS itu ada bukan untuk memenjarakanmu, tapi untuk memberitahuku kapan kau butuh diselamatkan."

Zoya hanya bisa terdiam, menyadari bahwa meski ia terlepas dari fitnah kampus, ia kini semakin terikat kuat dalam pelukan posesif Arvin yang tidak akan pernah melepaskannya.

...----------------...

**To Be Continue** ....

1
Anonim
❤️❤️❤️
Anonim
Suka ❤️❤️❤️
mauza SEB
lanjut ka
Tri Hastuti
seneng liatnya klau harmonis ky gt
mauza SEB
lanjut ka
Devi Novita
Arvin setres perlu ke psikolog tuh biar hilang sifat posesif over protectivenya akibat rasa trauma ditinggalkan sehingga merasa kehilangan, awas lama2 kamu bisa kehilangan istrimu Vin karena merasa lelah terkekang dan GK dihargai siap siap aja lu
Fauziah
pergi yg jauh zoya
Fauziah
begini orang yg pintar tp bodoh
Fauziah
dengan cara yg salah
mauza SEB
lanjut ka
ρυтяσ kang'typo✨
Alhamdulillah.... ternyata Arvin bener mau berubah dan belajar menjadi lebih baik lagi, g nyangka banget😭😭🥰jadi terharuuuu
zhelfa_alfira
semangat kk
ρυтяσ kang'typo✨
please..... jangan biar kan momen ini berakhir 🥺🥺🥰🥰
ρυтяσ kang'typo✨
fix ya.... sudahi dramu yang menyebal kan Arvin, sekarang kasih Zoya cinta yang tulus😉
FHR
Ayo Arvin tunjukkan cintamu..
ρυтяσ kang'typo✨
apa akan berjalan mulus cinta yang baru mereka rasakan
ρυтяσ kang'typo✨
semoga u beneran bisa di percaya Arvin
mauza SEB
lanjur kq
mauza SEB
di tunggu kelanjutan nya ka
FHR
Untuk menjadi pasangan yang setara, Arvin harus mempantaskan dirinya dengan Zoya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!