"Dulu aku hanyalah pemuda biasa tanpa bakat, tanpa kekuatan, dan tanpa tujuan. Dunia terasa abu-abu sampai akhirnya aku bertemu dengannya—cahaya yang menerangi hidupku dan mengajarkanku arti cinta."
Namaku Li Yao. Aku tidak memiliki bakat kultivasi, namun cintaku padanya membuatku rela membelah langit dan bumi demi menjadi kuat. Bersamanya, aku merasakan kebahagiaan yang tak terlukiskan, hingga sebuah malam kelam mengubah segalanya.
Mata keparat merenggut nyawanya di hadapanku. Aku tak berdaya. Aku hanya bisa menangis melihat darahnya menetes. Saat napas terakhirnya berhembus, sebuah sumpah setan terucap:
"Aku akan membasmi mereka semua. Walau harus menjadi iblis, walau harus menyeberangi lautan darah, dendam ini akan kubayar lunas!"
Kini, dunia tidak lagi memiliki Li Yao yang lembut. Yang tersisa hanyalah Pendekar Berhati Es, seorang pembunuh dingin yang pedangnya selalu basah oleh darah musuh. Setiap tebasan adalah doa dendam, setiap nyawa yang melayang adalah persembahan unt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 Ketidakberdayaan: Aku Hanya Bisa Menonton Terpaku
Hujan turun semakin deras, seolah langit ingin membasahi seluruh bumi, namun tidak ada air yang cukup untuk membasuh darah yang mengotori tangan dan hati Li Yao.
Waktu seakan melambat menjadi sangat berat. Di pelukannya, tubuh Ling Qingyu terasa semakin dingin, semakin ringan, dan semakin kaku. Cahaya kehidupan yang dulu bersinar terang di matanya kini telah padam, digantikan oleh keheningan abadi yang menakutkan.
Li Yao duduk terpaku di atas tanah yang becek dan berlumpur. Matanya kosong, menatap wajah kekasihnya yang pucat. Mulutnya terbuka sedikit, namun tidak ada suara yang keluar. Ia ingin berteriak, ingin menangis sekencang-kencangnya, tapi tenggorokannya tercekat oleh rasa sakit yang luar biasa.
Di hadapannya, para pembunuh itu berdiri santai. Mereka tidak terburu-buru. Bagi mereka, adegan ini hanyalah tontonan yang menghibur.
"Hahaha, lihatlah wajah bocah itu," cibir salah satu dari mereka sambil tertawa keras. "Ia terlihat seperti orang bodoh. Cinta memang membutakan, ya?"
"Sudah berakhir, bocah," kata Pemimpin Penyerang dengan nada dingin, ia melangkah mendekat, sepatunya menginjak genangan air darah. "Wanita itu sudah mati. Mati karena melindungi orang yang tidak berguna sepertimu."
Kata-kata itu bagaikan palu godam yang menghantam kepala Li Yao berulang kali.
'Tidak berguna...'
'Orang bodoh...'
'Mati karena melindungiku...'
Benar. Mereka benar. Li Yao sadar betul akan hal itu.
Ia ingat betul kejadian sedetik sebelum serangan mematikan itu menghantam. Ia ingat bagaimana ia berdiri di sana, otaknya memerintahkan kaki untuk bergerak, memerintahkan tangan untuk mengangkat pedang, memerintahkan tubuhnya untuk melindungi.
Tapi apa yang terjadi?
Ia tidak bisa bergerak. Ia terlalu lambat. Kekuatannya terlalu menyedihkan. Kecepatannya seperti kura-kura dibandingkan kilat.
Ia hanya bisa menonton.
Menonton dengan mata kepala sendiri bagaimana tubuh ramping itu melesat maju. Menonton bagaimana tubuh itu menerima hantaman maut yang seharusnya ditujukan untuknya. Menonton bagaimana darah segar memuncrat keluar dari mulut orang yang paling ia cintai.
Dan saat itu terjadi, apa yang bisa ia lakukan? Tidak ada. Sama sekali tidak ada.
"Kenapa... kenapa kau melakukan itu..." bisik Li Yao pelan, suaranya serak dan pecah, lebih terdengar seperti rintihan hantu. "Aku yang seharusnya mati... Kenapa kau menggantikannya? Kenapa?!"
Ia mengguncang pelan tubuh tak bernyawa itu, seolah berharap wanita itu akan bangun dan menjawab pertanyaannya seperti biasa. Tapi tidak ada respon. Hanya kebisuan yang mematikan.
"Dasar bodoh," ejek Pemimpin itu lagi, ia menendang sebuah batu ke arah Li Yao, mengenai bahu pemuda itu. "Kau pikir dengan menjadi pahlawan kau bisa menyelamatkannya? Lihat hasilnya? Kau hanya beban. Kau adalah sampah yang tidak bisa melakukan apa-apa selain membiarkan orang lain mati demi dirimu."
"DIAM!!!" Li Yao akhirnya berteriak, suaranya melengking memecah suara hujan. Ia mengangkat kepalanya, matanya kini memerah, penuh dengan darah dan air mata. "Jangan bicara seolah kau mengerti! Kalianlah yang salah! Kalianlah monster!!"
"Monster? Kami hanya orang yang berkuasa," jawab pria itu santai. "Dan kau? Kau adalah kelemahan. Di dunia ini, yang lemah tidak berhak hidup. Dan yang paling menyedihkan bukanlah mati, tapi hidup dengan menyadari bahwa kau tidak mampu melindungi apa pun yang kau sayangi."
Prang!
Kata-kata itu menusuk jauh lebih dalam daripada pedang manapun.
Li Yao menunduk kembali, menatap tangannya sendiri. Tangan yang kasar ini, tangan yang ia banggakan karena bisa mencangkul, tangan yang ia latih keras memegang pedang...
Tangan ini tidak bisa melakukan apa-apa. Tangan ini gagal melindungi. Tangan ini hanya bisa memeluk mayat.
Rasa bersalah itu mulai memakan jiwanya hidup-hidup.
'Aku lemah... Aku benar-benar tidak berguna...' batinnya menjerit keputusasaan. 'Aku berdiri di sana... aku melihat semuanya... tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa selain menonton terpaku...'
Pemandangan Ling Qingyu terlempar, suara tulang patah, bau darah... semuanya terulang terus menerus di kepalanya seperti mimpi buruk yang tak berujung.
"Ambil harta itu dan hancurkan desa ini," perintah Pemimpin itu dingin. "Dan biarkan bocah sampah ini hidup. Biarkan dia merasakan penderitaan seumur hidupnya karena ketidakberdayaannya."
Para pembunuh itu tertawa puas, lalu melesat pergi meninggalkan Li Yao sendirian di tengah hujan dan genangan darah.
Li Yao tetap duduk di sana, memeluk tubuh dingin itu. Dunianya telah hancur. Keyakinannya hancur. Cintanya hancur.
Satu-satunya perasaan yang tersisa di hatinya yang kosong itu... adalah rasa sakit yang tak tertahankan dan kesadaran yang menyakitkan:
Dia terlalu lemah. Dan karena kelemahannya, dia kehilangan segalanya.