Asha, seorang gadis SMA yang gemar membaca, tanpa sengaja menemukan sebuah novel romantis bergenre dark yang langsung menarik perhatiannya. Awalnya hanya iseng, ia mulai membaca kisah kelam penuh obsesi, cinta yang beracun, dan tokoh antagonis yang kejam namun memikat. Tanpa sadar, ia terbawa suasana hingga larut malam.
Namun saat ia terbangun, dunia di sekelilingnya terasa asing.
Asha terkejut ketika menyadari bahwa dirinya bukan lagi berada di dunianya sendiri, melainkan masuk ke dalam novel yang semalam ia baca. Lebih buruk lagi, ia bukan tokoh utama yang memiliki perlindungan plot, juga bukan antagonis yang berkuasa melainkan hanya seorang figuran.
Seorang figuran yang dalam cerita aslinya dikenal karena satu hal: tergila-gila pada sang antagonis.
Dan yang paling mengerikan, Asha tahu persis bagaimana akhir dari karakter itu nasib paling mengenaskan yang bahkan tak layak disebut sebagai akhir bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
"HAHHH?!"
Teriakan Rere dan Rhea kompak menggelegar, membuat seisi kelas kembali menoleh ke arah mereka.
"Elo beneran pacaran sama Thomas, Mel? Seriusan?!" tanya Rere sambil mengguncang bahu Melody, seolah ingin memastikan nyawa sahabatnya itu masih di tempat.
Melody hanya bergumam santai, "Hmm," sambil mengangguk kecil dan mulai menata bunga matahari itu di pojok mejanya dengan sangat telaten.
David yang sejak tadi menyimak dengan wajah penuh tanda tanya akhirnya ikut mendekat. Ia melirik Kaisar yang duduk mematung dengan aura yang makin mencekam, lalu menatap Melody tajam. "Elo beneran kagak suka sama Kaisar lagi? Masa secepet itu?" tanya David menyelidiki.
Gerakan tangan Melody terhenti sejenak. Ia terdiam. Bayangan kejadian di perpustakaan—tentang bagaimana Kaisar menariknya, melumat bibirnya, dan bagaimana sensasi itu masih terasa nyata—mendadak melintas di kepalanya.
Melody mencuri pandang ke arah Kaisar melalui ekor matanya. Cowok itu masih menatap lurus ke depan, namun buku jari tangannya yang mengepal terlihat memutih.
"Dia??" Melody menghela napas panjang, lalu menatap David dengan tatapan yang sulit diartikan. "Masih lah... perasaan nggak bisa ilang dalam semalam kayak sulap."
Suasana kelas mendadak hening. Jigar dan Galen pun ikut mendengarkan.
"Tapi dia bikin hati kecil gue sakit, Vid," lanjut Melody dengan nada suara yang tiba-tiba merendah, terdengar tulus tanpa akting. "Gue nggak sekuat itu buat terus-terusan jadi pengemis perhatian di tengah drama dia sama si Zoya. Gue butuh istirahat, dan Thomas ada buat gue."
Kaisar yang mendengar kalimat itu langsung memejamkan mata rapat-rapat. Rahangnya mengeras hingga urat di lehernya menonjol. Kalimat "hati kecil gue sakit" dari mulut Melody terasa lebih menyakitkan bagi Kaisar daripada hantaman fisik mana pun yang pernah ia terima di dunia bawah.
Melody segera memalingkan wajah, kembali pada mode cerianya yang dibuat-buat. "Udah ah! Jangan bahas es batu terus, ntar gue meriang. Mending bahas mau makan apa kita nanti sore bareng pacar baru gue!"
Sepulang sekolah, Thomas sudah berdiri tegak di depan kelas menunggu Melody. "Mel, pulang bareng yuk?" tanyanya dengan senyum ramah yang selalu terlihat sempurna.
"Aduh, Thomas... sorry banget, besok aja ya? Tadi rencananya gue mau ajak lo makan-makan, tapi ternyata gue kena 'azab' hukuman kemarin," ucap Melody sambil memasang wajah melas. "Gue harus beresin ruang seni dulu sekarang. Elo duluan aja."
"Mau dibantu?" tawar Thomas sambil mendekat.
"Gausah, ntar yang ada malah makin lama karena kebanyakan ngobrol," tolak Melody halus.
"Yaudah, gue duluan ya. Bye, Melody." Thomas mengulurkan tangannya, mencoba mengelus kepala Melody. Namun, Melody refleks menghindar sedikit karena merasa risih, meski ia menutupinya dengan tawa canggung. Thomas hanya tersenyum tipis, lalu pergi.
Di Ruang Seni
Melody mulai menyapu dan menata alat-alat lukis. "Aduhh, ini beneran azab kah? Perasaan ruangannya udah kinclong begini, mau dibersihin apa lagi sih?!" keluhnya sambil menyeka keringat di pelipis.
Ia merasa letih luar biasa, pinggangnya yang habis diurut semalam mulai terasa senut-senut lagi. Akhirnya, Melody menyerah dan duduk bersandar di dinding ruangan yang sepi itu.
Cklek.
Pintu terbuka. Melody menoleh dan matanya membelalak melihat siapa yang datang. Kaisar. Cowok itu masuk dengan tangan di saku celana, auranya memenuhi ruangan yang luas itu.
"Kenapa ke sini? Gak pulang?" tanya Melody bertubi-tubi. "Atau... elo sebenarnya pinter main musik ya? Mau konser tunggal di sini?"
Kaisar tidak menjawab. Ia terus berjalan mendekat dengan langkah pelan yang terasa mengancam. Jantung Melody mulai maraton lagi. Ia teringat latar belakang keluarga Luca yang dingin.
"Atau... elo mau bunuh gue?!" tanya Melody panik sambil buru-buru berdiri dan mundur hingga mentok ke dinding. Ia menatap Kaisar dengan raut takut yang tidak dibuat-buat.
Kaisar berhenti tepat di depan Melody. Jarak mereka sangat dekat, hingga Melody bisa mencium aroma parfum maskulin yang kemarin menempel di jaketnya. Kaisar menunduk, menatap dalam ke mata Melody, lalu berbisik dengan suara berat yang penuh penekanan.
"Putusin pacar elo."
"Hah??" Melody melongo, mulutnya terbuka sedikit karena syok. "L-lo ngomong apa tadi?"
"Gue nggak suka mengulang kalimat yang sama, Melody," desis Kaisar. Tangannya kini bertumpu di dinding, tepat di samping kepala Melody, mengurung gadis itu dalam kuasanya. "Putusin dia. Sekarang."
"Gamauu!" sahut Melody sambil mengerucutkan bibirnya berani. Ia mendongak, menantang tatapan elang di depannya. "Baru juga satu hari, masa udah putus aja? Rekor dunia itu mah!"
Kaisar tidak menjauh, ia justru semakin mengikis jarak hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Melody bisa merasakan deru napas hangat pria itu yang terasa berat, seolah sedang menahan amarah yang meledak-ledak di dalam dada.
"Kenapa sih? Apa masalahnya? Thomas baik kok, dia nggak galak kayak kulkas berjalan," ucap Melody, suaranya sedikit melunak, mencoba menjinakkan tatapan tajam yang seolah ingin menelannya hidup-hidup itu.
"Enggak. Dia nggak baik," desis Kaisar pelan namun suaranya terdengar sangat dalam dan penuh peringatan.
Melody terdiam. Pandangannya tanpa sadar turun, menatap bibir tipis Kaisar yang tepat berada di depan matanya. Bayangan ciuman panas di perpustakaan tadi pagi mendadak terputar kembali di otaknya, membuat wajahnya panas dan hatinya berdesir hebat.
Kaisar yang menyadari ke mana arah pandangan Melody, menyeringai tipis. Tanpa memberikan peringatan kedua, ia langsung memiringkan kepala dan kembali membungkam bibir Melody.
"Mmph—"
Melody tersentak, tangannya yang tadi berniat mendorong dada Kaisar justru malah berakhir mengalung erat di leher cowok itu. Ia kembali terbuai. Rasanya lebih intens, lebih menuntut. Kaisar melumat bibirnya dengan gairah yang tertahan, membiarkan lidahnya masuk mengabsen setiap sudut mulut Melody yang terasa manis baginya.
Di tengah pagutan itu, Kaisar mencengkeram pinggang Melody dan mengangkat tubuh mungil gadis itu dengan mudah, mendudukkannya di atas meja kayu ruang seni yang tinggi. Melody refleks melingkarkan kakinya di pinggang Kaisar agar tidak terjatuh, membuat posisi mereka semakin intim dan panas.
Suara napas yang memburu memenuhi ruangan yang sunyi itu. Kaisar terus menciumnya seolah-olah ia sedang kehausan di tengah gurun pasir, sementara Melody hanya bisa memejamkan mata erat, membiarkan dirinya tenggelam dalam dominasi sang calon pemimpin mafia tersebut.
"Putusin dia, Melody..." bisik Kaisar di sela-sela ciumannya, suaranya serak dan sangat posesif. "Atau aku sendiri yang akan melenyapkan dia dari pandanganmu."
Melody tak menjawab, lidahnya kelu saat merasakan bibir Kaisar yang tadi melumatnya kini berpindah ke lehernya. Ciuman itu terasa panas dan menuntut, membuat Melody refleks melenguh pelan. "Eunggh..."
Namun, di tengah rasa terbuai itu, bayangan wajah Zoya dan percakapan di kantin tadi mendadak melintas di kepalanya. Rasa sakit yang ia pendam selama ini mendadak membuncah, menghantam kesadarannya hingga ke dasar.
"Stopp..." ucap Melody dengan suara serak.
Ia menggunakan sisa-sisa tenaganya untuk menangkup wajah tegas Kaisar dengan kedua tangannya, memaksa pria itu berhenti dan menatap matanya. Mereka saling mengunci pandangan. Melody bisa melihat mata Kaisar yang menggelap, penuh dengan gejolak emosi dan posesifitas yang liar.
"Inget, Kai... elo sukanya Zoya," ucap Melody dengan nada bicara yang bergetar namun berusaha tetap tenang. "Jangan jadiin gue pelampiasan nafsu atau rasa penasaran lo doang."
Kaisar terdiam, tangannya masih mencengkeram pinggang Melody dengan kuat di atas meja seni.
"Gue juga punya perasaan, lo lupa?" lanjut Melody sambil tersenyum pahit. "Selama ini gue udah berusaha mati-matian buat lo, tapi elo yang nggak pernah mau liat itu. Elo yang selalu buang gue seolah gue sampah. Sekarang, saat gue udah nggak ganggu hidup lo lagi, bukannya lo harusnya seneng? Lo dapet ketenangan lo, dan lo dapet Zoya lo."
Melody melepaskan tangannya dari wajah Kaisar. Ia mendorong dada bidang itu perlahan agar memberinya ruang untuk turun dari meja.
"Jangan bikin gue makin bingung sama sikap lo yang kayak gini," gumamnya pelan.
Melody menyambar tas sekolahnya yang tergeletak di lantai, lalu berjalan menuju pintu tanpa menoleh sedikit pun. Ia tidak ingin Kaisar melihat matanya yang mulai berkaca-kaca.
Kaisar tetap berdiri mematung di tengah ruangan seni yang mulai temaram oleh cahaya senja. Ia tidak mengejar, namun tatapannya terpaku pada pintu yang baru saja tertutup. Ruangan itu mendadak terasa sangat dingin dan kosong.
Tangan Kaisar mengepal di sisi tubuhnya. Kalimat Melody seperti tamparan keras yang menyadarkannya bahwa ia telah melakukan kesalahan besar di masa lalu, dan sekarang, ia mungkin sedang kehilangan sesuatu yang baru saja ia sadari betapa berharganya.
"Gue nggak pernah jadiin lo pelampiasan, Melody..." bisik Kaisar pada keheningan ruangan, namun sosok yang ditujunya sudah jauh melangkah pergi.