NovelToon NovelToon
Kehilangan Di Hari Pelantikan

Kehilangan Di Hari Pelantikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dark Romance / Balas Dendam
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: linda huang

Nathan Han yang mengejar ambisinya sehingga mengabaikan tunangannya. Pada hari ia terpilih sebagai pemimpin organisasi terbesar di kota itu, tunangannya, Calista Li, ditemukan terjun ke laut dan dinyatakan meninggal. Tanpa pesan. Tanpa alasan.

Lima tahun kemudian, Nathan Han menjadi pemimpin yang ditakuti. Dingin dan tanpa belas kasihan. Suatu malam, saat ia diburu musuh, ia bertemu dengan seorang gadis. Wajah gadis itu sangat mirip dengan Calista yang telah mati.

Siapakah gadis itu sebenarnya? Dan apakah Nathan akan mencintai gadis yang begitu mirip dengan tunangannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Ruang pertemuan itu sunyi, hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar. Tatapan para anggota organisasi saling bertukar, namun tak satu pun berani menyela ketika dua pria itu berdiri saling berhadapan.

Nathan berdiri tegak dengan rahang mengeras. Sorot matanya dingin, tajam seperti pisau.

"Kau sengaja menimbulkan masalah hanya demi menantangku?" tanya Nathan dengan suara rendah, namun penuh tekanan.

Jims tersenyum miring. Ia menyelipkan kedua tangan ke dalam saku celananya, seolah tidak merasa terancam sedikit pun.

"Kenapa? Tidak puas?" balasnya santai, namun nadanya penuh ejekan. "Merebut posisiku dan menjilat ayahku. Kau merasa bangga pada prestasimu yang tidak ada apa-apanya?"

Ia mendekat satu langkah, menatap Nathan dengan penuh kebencian. "Nathan, kau akan tahu rasanya kehilangan itu seperti apa. Ini hanya masalah kecil. Selanjutnya kau harus menyelesaikan semua masalah yang akan aku lakukan."

Kata-kata itu menggantung di udara.

Tanpa peringatan—

Plak!

Tamparan keras mendarat di wajah Jims. Suaranya menggema di ruangan luas itu. Tubuh Jims terhuyung, kepalanya terlempar ke samping.

Beberapa orang tersentak.

Darah merembes dari sudut bibirnya.

"Kau berani memukulku?" teriak Jims, matanya memerah, campuran antara marah dan tidak percaya.

Nathan melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapannya. Tatapannya tetap tenang, namun auranya menekan.

"Kalau kau berguna, mana mungkin posisimu bisa aku rebut?" ucap Nathan dingin. "Coba bertanya pada dirimu sendiri. Apa yang telah kau lakukan untuk organisasi kita selain membuat masalah?"

Jims mengepalkan tangan, wajahnya berubah gelap.

"Nathan Han!" bentaknya penuh amarah. "Kau akan menyesal karena telah memukulku! Aku akan membuatmu hidup menderita. Kau akan disingkirkan dari posisimu saat ini!"

Belum sempat kalimatnya selesai—

Bruk!

Pukulan keras menghantam wajah Jims. Tubuhnya terhempas ke lantai marmer dengan suara berat. Beberapa kursi bergeser akibat benturan itu.

Jims terbaring, napasnya memburu. Darah kini menetes lebih deras dari bibirnya.

Nathan berdiri di atasnya, menatap dengan dingin tanpa sedikit pun rasa ragu.

"Ancaman kosong tidak akan mengubah kenyataan," katanya pelan namun tegas. "Di organisasi ini, yang lemah memang akan tersingkir. Dan kau… sudah lama berada di ujung tanduk."

Nathan mengalihkan pandangannya pada pria yang terkapar akibat ulah Jims. Wajahnya pucat, napasnya tersengal, sementara beberapa staf berdiri kaku tak berani bergerak tanpa perintah.

“Catat semua masalah yang dia lakukan,” perintah Nathan dengan suara tegas dan tanpa emosi. “Dan bayar ganti rugi atas seluruh kerusakan serta biaya rumah sakit.”

“Baik, Tuan!” jawab Marcus sigap. Ia segera memberi isyarat pada dua orang untuk membawa korban keluar dan mengurus administrasi.

Nathan kemudian menoleh pada Jims yang masih berusaha bangkit, wajahnya lebam dan berlumuran darah. Tatapan Nathan tajam, penuh peringatan.

“Jims Fung,” ucapnya perlahan, namun setiap katanya terdengar seperti vonis, “ini peringatan terakhirmu. Kalau kejadian seperti ini terulang lagi, aku tidak akan sungkan mengirimmu ke luar negeri.” Ia melangkah mendekat satu langkah. “Dan jangan lupa… ayahmu telah menyerahkanmu padaku.”

Kalimat itu membuat wajah Jims menegang.

“Artinya,” lanjut Nathan dingin, “aku berhak menentukan masa depanmu.”

Jims mengepalkan tangan, tetapi kali ini ia tidak berani membalas. Amarahnya masih menyala, namun ia tahu—di ruangan ini, kekuasaan sepenuhnya berada di tangan Nathan.

Nathan berbalik tanpa menunggu jawaban. Langkahnya mantap meninggalkan ruangan, sementara para anggota organisasi otomatis menundukkan kepala memberi jalan.

Tak satu pun berani bersuara.

Beberapa saat kemudian…

Setelah meninggalkan hotel, Nathan langsung menuju sebuah gedung apartemen mewah di pusat kota.

Mobil mewahnya berhenti tepat di depan lobi. Mesin masih menyala, tetapi Nathan belum juga keluar. Ia duduk diam di kursi belakang, menatap ke arah jendela apartemen di lantai atas.

Sorot matanya tak lagi setajam saat di hotel—kini terselip kegelisahan yang sulit disembunyikan.

“Tuan, bagaimana kalau saya menghubungi Nona Li?” tanya Marcus hati-hati dari kursi depan, memperhatikan perubahan ekspresi atasannya melalui kaca spion.

Nathan terdiam sesaat.

"Sudah lama dia tidak menghubungiku… Tidak biasanya seperti ini. Terakhir kali kami bertemu, sepertinya dia sedang ada masalah."

Ingatan itu membuatnya khawatir.

Tanpa menjawab Marcus, Nathan mengambil ponselnya dan menekan nomor Calista. Nada sambung tidak terdengar.

Panggilan gagal.

Ia mencoba sekali lagi.

Tetap tidak terhubung.

Nathan menatap layar ponselnya beberapa detik lebih lama dari biasanya.

“Dia tidak pernah mematikan nomornya,” ucapnya pelan.

Nathan membuka pintu mobil dengan cepat.

“Aku akan masuk ke dalam. Kau tunggu di luar saja!” perintahnya tegas.

“Baik, Tuan!” jawab Marcus segera.

Nathan melangkah keluar, jas hitamnya berkibar ringan tertiup angin malam. Langkahnya panjang dan cepat, seolah firasat buruk mendorongnya untuk segera bergerak.

Sementara itu, ponsel Marcus bergetar.

Ia melihat layar ponselnya dan menerima informasi dari seseorang. Sebuah berita darurat muncul, disertai foto yang membuat darahnya seakan membeku.

Foto seorang gadis terpampang jelas di layar.

Calista Li.

“Jasad Calista Li…?” gumam Marcus dengan mata membulat besar. Tangannya sedikit gemetar.

Tanpa berpikir panjang, ia langsung keluar dari mobil.

“Tuan! Ada berita buruk!” serunya, menghentikan langkah Nathan yang sudah hampir memasuki lobi.

Nathan berhenti.

Ia menoleh perlahan. Wajahnya tetap tenang, tetapi tatapannya berubah tajam.

“Apa?” tanyanya singkat.

Marcus menelan ludah, lalu menunjukkan layar ponselnya.

“Tuan… Nona Calista ditemukan tidak bernyawa.”

Udara malam terasa membeku.

Untuk pertama kalinya, ekspresi Nathan berubah.

Tatapannya terpaku pada layar itu. Jantungnya berdetak keras, tetapi wajahnya justru semakin tanpa ekspresi—terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mendengar kabar kematian.

1
Kinara Widya
jadi perawat Nathan selamanya..liora
Fortu
Tanda tanda ingatan mulai pulih ini
Fortu
semoga musuh Nathan tidak menyakiti Liora lagi
Fortu
syukurlah kalau tes DNA
dan semoga tidak menjadi korban lagi sebab musuh Nathan banyak
Fortu
ketemu ehh
Fortu
Ternyata hilang ingatan
Fortu
lalu ceritanya gimana identitas Calista bisa ada dimayat satunya, apakah ada orang yang memindahkan??
trus yang nolong Calista kerumah sakit itu siapa??
Fortu
bener kan si pak Tua ini
ckckck
Fortu
wahhhh tragedi berdarah
apakah Calista korban juga dari james
Fortu
licik juga Tuan James

btw apakah jims pelaku utama kekerasan terhadap Calista???

wah Nathan main halus ini
Fortu
Apakah james ayahnya jims yang melakukan itu🤔🤔
Fortu
Pasti diperkosa oleh Jims🤔🤔🤔
Fortu
Apa dia dapat kekerasan dari jim??
Fortu
Masalah Calista Li apa ya sampai buruh diri
Fortu
Yang ditemukan dilaut itu ada dua ya🤔
yang pertama ditemukan nelayan masih hidup
terus yang ditemukan polisi Calista Li
Apa identitas tertukar???
Fortu
mampir
Kinara Widya
iya...itu namamu Liora...
Kinara Widya
Nathan d lawan
Dini Anggraini
Marcus maaf salah tadi bunda🙏
Dini Anggraini
Nathan saat kamu menemui calista sebaiknya kamu dan Marco menyamar menjadi cewek atau apapun itu jadi saat kalian ke rumah sakit tidak ada yang mengenali kalian jangan sampai musuh2 mu menargetkan calista dan kamu kehilangan calista untuk kedua kalinya. 🙏🙏😍😍😍
Dini Anggraini: q kasihan calista bila jadi incaran musuhnya nathan kakak author dulu dia masih punya kesempatan kedua hidup lagi bila sekarang di incar kelemahan nathan q gak tahu lagi bagaimana jadi calista nanti kak. 👍👍👍😂😂😂
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!